Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alara Melabrak Preman Pasar (Gaya Intel Kamtibmas)
Tiga preman berseragam prajurit itu sedang asyik tertawa terbahak-bahak setelah menendang mangkuk milik pedagang tua pemilik kedai.
Namun, tawa mereka mendadak terhenti saat melihat seorang gadis desa berpakaian cokelat tanah berjalan mendekat dengan gaya santai, sembari menenteng sebuah teko tanah liat berisi kuah sup ikan yang masih mengepulkan uap panas.
"Heiss! Perempuan lancang! Mau apa kau ke mari? Mau menjadi penjamin kedai tua ini, hah?!" bentak pemimpin preman yang memiliki tompel besar di pipinya.
Alara menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan mereka. Dia tidak gemetar, tidak juga menangis. Sebaliknya, dia menatap ketiga pria kekar itu dengan pandangan malas yang sangat menghina harga diri premanisme mereka.
"Mbak Tompel dan kawan-kawan yang terhormat," ucap Alara dengan nada tenang namun mematikan. "Saya ke sini cuma mau menyampaikan nota keberatan. Pertama, suara kalian berisik banget, merusak kenyamanan publik dan mengganggu proses pencernaan bebek maksud saya ayam panggang saya. Kedua, soal penagihan pajak sepuluh keping perak itu."
Alara memiringkan kepalanya, menatap sinis golok besar di tangan si pemimpin. "Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pemerasan Kekaisaran Pasal 368 eh maksud saya, berdasarkan Dekrit Agung Kekaisaran Ruelle Nomor 45 tentang Regulasi Pajak Daerah, seluruh pungutan retribusi pasar sungai untuk pedagang mikro itu maksimal cuma dua keping perunggu per bulan. Dan itu pun harus menyertakan kwitansi resmi dengan cap basah dari kantor gubernur utama!"
Ketiga preman itu saling berpandangan sejenak, lalu meledak dalam tawa yang meremehkan. "Dekrit? Cap basah? Hahaha! Bocah ingusan ini kebanyakan membaca buku dongeng rupanya! Di kota selatan ini, kata-kata Deputi Gubernur adalah dekrit langit! Persetan dengan aturan pusat!"
"Oh... jadi kalian mengakui kalau kalian sedang melakukan pungutan liar, pemerasan di bawah ancaman senjata, dan makar terhadap aturan Kaisar pusat?" Alara tersenyum manis, sepasang matanya berkilat berbahaya. "Kalau begitu, proses eksekusi lapangan bisa langsung kita mulai."
"Kurang ajar! Cari mati kau ya?!"
Si pemimpin preman yang merasa dihina langsung mengayunkan tangan kirinya untuk mencengkeram kerah baju Alara. Namun, Alara bukanlah Selir Alara yang dulu lemah lembut.
Otak modernnya yang penuh dengan video tutorial bela diri praktis digabung dengan tubuh barunya yang kini bertenaga berkat asupan daging premium langsung beraksi.
*SET!'
Alara mengelak ke samping dengan kelincahan seorang penari. Di saat yang sama, tangan kanannya yang memegang teko sup ikan asam pedas mendidih melesat maju.
*SPLASHHH!!!'
"AGHHH!!! MATAKU!!! PANASS!!!"
Kuah sup yang penuh dengan minyak cabai merah, air perasan jeruk nipis kuno, dan rempah-rempah pedas mendidih itu sukses mendarat telak tepat di seluruh wajah si pemimpin preman. Pria bertubuh raksasa itu langsung menjatuhkan goloknya, berlutut di tanah sambil memegangi wajahnya yang memerah dan menjerit-jerit histeris seperti anak kecil yang kehilangan balonnya.
"Bos?!" dua anak buahnya melotot syok. Melihat bos mereka tumbang dalam satu detik, keduanya langsung mengangkat golok dan menerjang Alara bersamaan. "Dasar pelacur liar! Mati kau!"
"Tuan Kai! Tontonan gratis nih, jangan lupa kasih nilai ya!" seru Alara sempat-sempatnya menoleh ke belakang sekilas ke arah Kaivan yang masih duduk tenang di pojok kedai.
Saat golok preman pertama menebas angin ke arah lehernya, Alara merunduk rendah. Menggunakan kaki kanannya, dia melakukan gerakan sapuan bawah dengan tenaga penuh yang menghantam pergelangan kaki preman tersebut.
*BRAKK!'
Preman pertama tumbang dengan posisi telentang, kepalanya membentur lantai kayu kedai dengan bunyi yang cukup keras hingga dia langsung tidak sadarkan diri dengan mata mendelik ke atas.
Preman kedua yang melihat temannya KO dalam sekejap mendadak menciut nyalinya. Tangannya yang memegang golok mulai gemetar.
Alara tidak memberi ampun; dia melangkah maju dengan cepat, merebut golok dari tangan preman tersebut, memutarnya di udara dengan gaya pamer estetis, lalu menodongkan ujung mata pisau yang tajam itu tepat di bawah dagu si preman kedua.
"S-ampun, Nona! Ampun!" preman kedua langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di udara, lututnya lemas dan dia langsung jatuh berlutut di atas lantai.
"Nah, gitu dong. Kooperatif kan enak," Alara menepuk-nepuk pipi preman itu menggunakan sisi datar golok dengan gaya intimidasi yang sangat preman.
"Sekarang, ambil semua keping uang yang sudah kalian peras dari para pedagang pagi ini, letakkan di atas meja saya, lalu seret dua teman kalian yang tidak berguna ini keluar dari kedai sebelum saya memutuskan untuk menguliti wajah kalian satu per satu."
Tanpa menunggu hitungan kedua, preman itu dengan gemetar mengeluarkan seluruh kantong uang di pinggangnya, meletakkannya di atas meja Alara, lalu buru-buru memanggul temannya yang pingsan dan menuntun bosnya yang masih buta kelabakan karena kuah cabai, lari terbirit-birit keluar dari pasar seperti dikejar setan reog.
Suasana di dalam kedai mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya pedagang tua pemilik kedai keluar dari balik meja kasir dan langsung bersujud di depan Alara sambil menangis haru.
"Terima kasih, Nona Pahlawan! Terima kasih banyak! Jika tidak ada Anda, kedai tua warisan leluhur hamba ini pasti sudah hancur..."
"Aman, Kek. Bangkit, Kek, gak usah sujud begitu," Alara buru-buru membantu kakek itu berdiri. Dia kemudian mengambil kantong uang rampasan tadi dan menyerahkannya ke tangan pedagang tua itu. "Ini uang kalian, bagi-bagikan kembali ke pedagang lain yang sudah diperas. Dan tenang saja... setelah hari ini, saya jamin Deputi Gubernur kalian yang serakah itu bakal dapet surat panggilan dinas langsung dari pusat."
Alara kemudian berjalan kembali ke mejanya dengan senyuman puas, bersiap melanjutkan makan bagian sayap ayamnya yang sempat tertunda.
Namun, begitu dia duduk, dia menemukan Kaisar Kaivan sedang menatapnya dengan satu alis yang terangkat tinggi dan sepasang mata elang yang memancarkan rasa kagum yang luar biasa mendalam.
"Sapuan kaki yang bagus," ujar Kaivan dengan suara baritonnya yang rendah dan renyah.
"Dan... Dekrit Agung Nomor 45? Seingatku, aku baru mengeluarkan total empat puluh tiga dekrit sejak naik takhta. Dari mana kau mengarang dua nomor tambahannya, Alara?"
Alara yang sedang mengunyah ayam langsung nyengir kuda tanpa rasa bersalah. "Ah, Tuan Kai... di dunia tipu-tipu jalanan begini, nama institusi pusat itu harus digoreng agak heboh sedikit biar pasarnya dapet efek kejut psikologis. Lagian kalau saya sebut Dekrit Nomor 43, kurang estetik dan kurang membawa hoki di telinga mereka!"
Kaivan tidak bisa menahan diri lagi. Dia mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut kepang satu milik Alara dengan gemas hingga ikatannya agak longgar.
"Kau benar-benar rubah kecil yang licik sekaligus berbahaya, Alara Villin."
"Licik-licik begini, tapi asisten kesayangan Anda kan, Tuan Kai?" goda Alara dengan kedipan mata yang super usil, membuat wajah es sang Kaisar kembali merona merah samar di bawah naungan kedai remang-remang kota selatan.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪