NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Keesokan paginya, suasana mansion jauh lebih sibuk dari biasanya.

Viren sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Rambutnya disisir rapi, dasi terpasang sempurna, dan sepatu hitamnya mengilap tanpa noda.

Di ruang tamu, Vincent berdiri sambil memeriksa jam tangan.

Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat berwibawa. Dasi berwarna gelap berpadu dengan kemeja putih yang tersetrika rapi. Seperti biasa, tak ada sedikit pun kesan berantakan pada dirinya.

Daniel telah menyiapkan mobil di depan mansion.

"Sudah pukul setengah delapan," ujar Vincent singkat.

Viren ikut melirik ke arah tangga. "Tante Serina belum selesai?"

Baru beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar menuruni anak tangga.

Semua mata beralih ke arah yang sama. Serina muncul mengenakan gaun selutut berwarna abu-abu muda dengan potongan sederhana. Riasan tipis membuat wajahnya tampak segar tanpa berlebihan. Ia hanya mengenakan jam tangan dan bros kecil sebagai pelengkap. "Maaf, aku terlambat." Langkahnya berhenti ketika melihat Vincent dan Viren sudah menunggunya.

Viren berkedip beberapa kali. Entah mengapa, penampilan wanita itu berbeda dari biasanya. Rapi. Anggun. Dan... cantik.

Namun, gengsi membuatnya segera membuang muka. "Hmph." Ia melipat kedua tangan di dada. "Kamu memakai gaun apa pun tetap saja terlihat biasa."

Serina terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum kecil.

"Begitu, ya?"

"Iya."

"Kalau begitu, berarti selera berpakaian Tante memang belum bisa membuat Tuan Muda terkesan."

Viren mendengus pelan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Padahal, sejak Serina muncul dari tangga, ia hampir tidak bisa mengalihkan pandangan.

Vincent yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya angkat bicara. "Kalau sudah selesai bicara, kita berangkat."

Seketika Viren langsung berdiri tegak. "Siap, Ayah."

Serina hanya mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Vincent menuju mobil. Dimas segera membukakan pintu mobil.

Beberapa saat kemudian, sedan hitam itu meluncur meninggalkan mansion, membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan.

Sepanjang perjalanan, Viren beberapa kali melirik ke luar jendela. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Vincent yang sibuk membaca laporan di tablet, sementara Serina memilih menikmati pemandangan tanpa mengganggu keduanya.

Tak sampai tiga puluh menit, mobil perlahan mengurangi kecepatan.

"Sudah sampai, Tuan," ujar Dimas.

Sedan itu memasuki halaman sekolah. Suasana sekolah tampak jauh lebih meriah dibanding hari-hari biasa.

Balon warna-warni menghiasi gerbang. Di halaman, guru-guru berdiri menyambut setiap keluarga dengan senyum hangat. "Selamat pagi, Pak Vincent. Selamat pagi, Bu Serina. Selamat pagi, Viren."

Serina membalas salam itu dengan ramah. Sementara Vincent hanya menganggukkan kepala.

Beberapa wali murid diam-diam melirik ke arah mereka. Penampilan Vincent yang rapi dengan jas hitam membuatnya tampak mencolok di antara para orang tua lain yang mengenakan pakaian santai.

"Silakan berkumpul di aula. Acara akan segera dimulai."

Di dalam aula, kepala sekolah memberikan sambutan singkat. "Hari ini bukan tentang siapa yang paling hebat. Hari ini adalah kesempatan bagi anak-anak menciptakan kenangan bersama keluarga." Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Acara pertama dimulai. Lomba Menyusun Puzzle Keluarga. Setiap anak harus menyusun puzzle bersama orang tua atau walinya.

Viren langsung duduk di depan meja. "Ayah di sini." Vincent duduk di sampingnya. Serina mengambil posisi di seberang.

"Mulai!"

Begitu peluit dibunyikan, Viren bergerak cepat.

Potongan demi potongan puzzle berpindah tangan. Vincent ikut membantu mencari bagian tepi. Serina menyusun bagian tengah. Tanpa mereka sadari, ketiganya bekerja sama dengan sangat kompak.

"Lima menit!" Suara guru terdengar.

Puzzle mereka menjadi salah satu yang paling cepat selesai.

"Wah... Kelompok Viren selesai lebih dulu!" Tepuk tangan terdengar dari berbagai arah.

Viren tersenyum bangga. Tanpa sadar, ia menggenggam lengan jas Vincent. "Ayah, kita berhasil."

Vincent menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Kerja bagus."

Permainan berikutnya adalah Estafet Memindahkan Bola.

Anak berada di tengah, sementara kedua orang tua memegang kain sebagai penyangga bola.

Viren tampak ragu. "Kalau bolanya jatuh bagaimana?"

Serina tersenyum. "Kalau jatuh, kita ambil lagi."

Vincent menatap putranya. "Fokus ke depan."

"Iya, Ayah."

Peluit berbunyi. Mereka melangkah perlahan.

Beberapa kali bola hampir terjatuh. Namun setiap kali itu terjadi, Serina selalu mengingatkan. "Pelan... jangan terburu-buru." Akhirnya mereka berhasil mencapai garis finis. Meski bukan juara, tawa Viren terdengar lepas.

Guru-guru yang melihatnya saling berpandangan.

"Baru kali ini Viren terlihat sesantai itu."

"Biasanya dia selalu serius."

Pembawa acara melangkah ke depan sambil membawa sebuah kotak kayu kecil. "Baik, Ayah, Bunda, dan anak-anak. Kita sampai pada permainan terakhir."

Anak-anak langsung bersorak.

"Permainan ini bernama Berburu Harta Karun Keluarga." Beberapa guru segera menyebar ke berbagai sudut sekolah.

"Masing-masing keluarga akan mendapatkan petunjuk. Ikuti petunjuk itu hingga menemukan enam kartu bergambar. Setiap kartu memiliki makna tentang sebuah keluarga."

Seorang guru menghampiri Viren. "Nah, ini petunjuk pertama." Viren menerima secarik kartu bergambar bunga.

Guru membacakannya. "Aku berada di tempat yang membuat kupu-kupu senang datang."

Viren mengernyit. Serina menatap sekeliling.

"Taman bunga."

Vincent mengangguk singkat. "Ayo." Mereka bertiga berlari kecil menuju taman.

Di balik salah satu pot bunga, Viren menemukan kartu pertama. "Ayah! Ketemu!" Ia mengangkat kartu bergambar hati.

Guru yang mengikuti mereka tersenyum.

"Bagus. Hati berarti kasih sayang." Guru menyerahkan petunjuk kedua. "Carilah tempat yang paling sering dipenuhi tawa."

"Taman bermain!" seru Serina.

Viren langsung menarik tangan Vincent. "Cepat, Ayah!"

Vincent mengikuti langkah kecil putranya.

Sesampainya di taman bermain, sebuah kartu tampak terselip di atas perosotan. Viren berjinjit.

"Tidak sampai."

Tanpa berkata apa-apa, Vincent mengangkat tubuh Viren dengan kedua tangannya. "Nah. Sekarang ambil."

Jari-jari kecil Viren berhasil meraih kartu itu.

"Dapat!" Ia tertawa puas.

Di samping mereka, Serina mengabadikan momen itu menggunakan ponselnya. Tanpa sengaja... Vincent menoleh.

Klik.

Wajah dinginnya ikut terekam dalam foto bersama Viren. Serina buru-buru menurunkan ponselnya. "Maaf... refleks."

Vincent tidak mengatakan apa-apa. Mereka melanjutkan pencarian.

Petunjuk ketiga membawa mereka ke perpustakaan mini. Petunjuk keempat menuju kolam ikan. Petunjuk kelima tersembunyi di balik papan nama kelas.

Kini tinggal satu kartu lagi. Guru membacakan petunjuk terakhir. "Baik, kartu terakhir sedikit lebih sulit. Kalian harus menemukannya dalam waktu lima menit."

Semua keluarga mulai berpencar. Viren yang sejak tadi paling bersemangat langsung berlari lebih dulu.

"Tunggu, Viren!" seru Serina.

"Aku tahu tempatnya!" balas Viren tanpa menoleh. Vincent mengikuti dari belakang dengan langkah tenang.

Namun, beberapa keluarga lain ikut memenuhi halaman sekolah. Anak-anak berlarian ke segala arah.

Dalam hitungan detik... Sosok kecil Viren tertutup kerumunan.

Serina mempercepat langkah. "Viren!" Tak ada jawaban. Ia menoleh ke kanan. Ke kiri. "Viren!"

Masih tidak ada. Wajah Serina mulai pucat. "Tuan..." Suaranya bergetar. "Viren tidak ada."

Vincent yang semula tampak tenang langsung menghentikan langkahnya. Tatapannya menyapu seluruh halaman sekolah. "Viren!" Tidak ada sahutan.

Guru-guru mulai menyadari sesuatu. "Anak siapa yang hilang?"

"Viren!"

Suasana yang semula penuh tawa mendadak berubah ricuh. Beberapa guru berlari menuju taman. Yang lain memeriksa ruang kelas. Daniel spontan menyisir area parkir.

Sementara Vincent... Ia berdiri mematung selama beberapa detik. Rahangnya mengeras. Tatapannya berubah tajam. "Semua pintu gerbang ditutup." Suaranya rendah. Namun cukup membuat seluruh halaman sekolah terdiam.

Serina menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras. Kalau terjadi sesuatu pada Viren... Ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!