Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kedua
Pagi Hari kembali menjelang..
Ibu Alisa sudah sibuk di dapur membuat sarapan setelah membangunkan Alif dan Diantha, sementara Pak Alfian sibuk berlari pagi di sekitar kompleks rumah.
Pak Alfian memang selalu menyempatkan lari atau jalan pagi, ia juga sekaligus memberi makan pada kucing kucing liar di jalanan, sehingga di kantong celana joggingnya selalu ada makanan kucing..
Pagi itu, suasana di kediaman Pak Alfian dan Ibu Alisa sudah terasa hidup.
Aroma harum nasi goreng dan dadar telur menyeruak dari dapur, tempat Ibu Alisa sedang dengan cekatan menata sarapan.
Di meja makan, Alif dan Diantha yang masih sedikit mengantuk setelah dibangunkan, duduk menanti..
Tidak lama kemudian, Pak Alfian masuk ke rumah dengan wajah segar dan keringat yang bercucuran setelah berlari pagi.
Kantong celana jogging-nya yang tadinya kembung berisi makanan kucing, kini sudah kempes, menandakan kawanan kucing liar di sekitar kompleks sudah mendapatkan jatah sarapan mereka.
"Ayo, sarapan dulu semua supaya semangat sekolahnya," ujar Ibu Alisa sambil menghidangkan makanan.
Mereka berempat pun menikmati sarapan bersama, diselingi obrolan ringan tentang rencana hari itu. Begitu selesai, Alif dan Diantha segera berpamitan, menyalami kedua orang tua mereka, lalu bergegas berangkat ke sekolah.
Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah, Diantha pun turun dari mobil , sebenarnya ia bisa saja turun bersamaan dengan Alif adiknya, tetapi ia terlalu malas untuk berjalan kaki bahkan jika itu hanya untuk beberapa meter , Diantha tida
Plak! Sebuah telapak tangan mendarat di kusen pintu kelas.
Itu Althaf..
Anak itu membungkuk sambil memegangi lututnya, ngos-ngosan seperti habis lari maraton..
Ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Rambutnya yang biasa rapi kini tampak acak-acak akibat terpaan angin, dan seragamnya sedikit kusut karena dipakai dengan terburu-buru. Di pundaknya, tas sekolah tergantung miring, hampir saja melorot jika ia tidak segera membetulkan posisinya..
Althaf pun duduk di bangku sebelah Diantha, setelah menaruh tasnya, ia pun berusaha mengatur kembali nafasnya..
Diantha tidak diam saja , ia memberikan botol air minumnya kepada Althaf..
Tak butuh waktu lama, Althaf segera mengambil air minum yang di berikan Diantha, setelah meneguk air itu hingga setengahnya, Althaf mengusap dahi..
"Gara-gara kucing liar di dekat rumahku. Semalam ada anak kucing yang terjebak di dalam saluran air dan terus mengeong. Aku dan ayahku butuh waktu sampai tengah malam untuk mengeluarkannya. Alhasil, alarm pagiku sama sekali tidak terdengar."
Mendengar cerita itu, Diantha langsung teringat pada Papahnya pagi tadi yang juga sibuk mengurus kucing-kucing liar di kompleks perumahan mereka sebelum mereka sarapan bersama. Tampaknya, hari ini memang menjadi hari yang sibuk bagi para pencinta kucing..
"Setidaknya kamu terlambat karena alasan yang baik," ucap Diantha sambil tersenyum tipis.
Tepat setelah kalimat itu terucap, bel sekolah berbunyi dengan nyaring, menggema ke seluruh penjuru ruangan dan memutus obrolan mereka seketika..
Riuh langkah siswa siswi yang berlomba untuk segera masuk ke kelas menjadi tontonan bagi murid lain yang sudah duduk santai di dalam kelas sedari tadi..
Tap.. Tap.. Tap..
Langkah kaki Pak guru terdengar jelas mendekati ruang kelas X-1 , ruang kelas Diantha dan Althaf..
" Selamat pagi semua , bagaimana hari ini ?" Sapa Pak Gunawan setelah duduk di kursinya..
"Selamat pagi, Pak!" jawab seisi kelas kompak, meski beberapa suara masih terdengar agak malu-malu karena belum saling kenal dekat..