NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Jamur Bulan

Gerbang kokoh Kota Lumin perlahan tertutup rapat di belakang punggung Haruto, meninggalkan hiruk-pikuk pasar dan suara riuh penduduk yang perlahan lenyap berganti kesunyian. Di pundaknya tergantung tas kain kecil berisi bekal dan perlengkapan sederhana pemberian Daichi, sementara kartu petualang berwarna perunggu tersimpan rapi di saku pinggang—sebuah bukti nyata bahwa ia kini bukan lagi sekadar pengamat, melainkan bagian dari dunia yang dulu hanya ia baca dalam buku.

Pochi memantul ringan di bahunya, tubuh kenyalnya membal irama langkah kaki Haruto. "Pyoo! Pyoo!" suaranya terdengar ceria, seolah turut merasakan getaran semangat yang sama dengan sahabatnya.

Haruto tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Napas yang ia hembuskan terasa begitu ringan, seolah beban keraguan yang sempat membelenggunya kini luruh sepenuhnya. "Akhirnya... ini benar-benar misi pertamaku sebagai petualang sungguhan!"

Meski tugasnya hanya sekadar mengumpulkan dua puluh Jamur Bulan yang terdengar sepele, baginya ini adalah langkah pertama menuju impian yang ia jaga sejak masih di dunia asalnya. Setiap langkah yang ia ambil terasa penuh makna, seolah mengukir jejak baru yang tak akan terhapus.

Tak lama berlalu, batas tepian Hutan Lumin sudah terlihat jelas. Pepohonan raksasa dengan batang yang berlekuk-lekuk menjulang tinggi, dedaunan lebat menyaring sinar matahari menjadi berkas-berkas keemasan yang menari-nari di permukaan tanah berlumut. Udara di sini terasa lebih sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang samar, menciptakan suasana damai yang seolah mengundang siapa saja untuk beristirahat.

Haruto mengeluarkan gulungan misi yang tersimpan rapi, lalu membacanya kembali di bawah cahaya remang hutan: “Jamur Bulan biasanya tumbuh di tempat yang lembap, dekat bebatuan atau akar pohon besar. Bentuknya bulat sempurna, berwarna putih kebiruan, dan memancarkan cahaya lembut meski tak terkena sinar matahari.”

Ia melipat kembali kertas itu dan menyimpannya. "Baiklah. Kita mulai dari sana."

Pochi mengangguk mantap, lalu melompat sedikit ke udara. "Pyoo!"

 

Menit berganti jam, Haruto berjalan perlahan sambil menunduk teliti, memeriksa setiap celah di balik akar pohon yang menjulur ke tanah, sela-sela batu besar, hingga gumpalan tanah yang lembap. Ia menemukan jamur berwarna merah menyala, jamur kuning berbentuk seperti payung terbuka, bahkan jamur kecil yang bergerak pelan saat tersentuh angin—namun tak satu pun yang sesuai dengan deskripsi.

"Bukan ini..." gumamnya pelan setiap kali menemukan jenis jamur lain, lalu kembali melangkah maju.

Hingga akhirnya, matanya menangkap sesuatu yang berbeda di balik sebuah batu granit besar yang tertutup lumut hijau. Jantungnya berdegup lebih kencang.

"Itu dia!"

Di sana, berjejer rapi tujuh buah jamur kecil yang berwarna putih bersih berpadu semburat biru samar. Meski berada di tempat teduh, permukaannya memancarkan cahaya lembut yang perlahan berdenyut pelan, persis seperti cahaya bulan yang jatuh ke bumi.

"Jamur Bulan!" Haruto segera berlutut, lalu mengulurkan tangan dengan sangat hati-hati. Ia memetiknya perlahan, memastikan tidak merusak bagian batang atau tudung jamur yang halus. "Satu... dua... tiga..."

Pochi ikut membantu dengan cara caranya sendiri: melompat ringan menunjuk ke arah jamur yang tersembunyi di balik rerumputan, seolah memberi isyarat pada Haruto. "Pyoo!"

"Wah, terima kasih, Pochi! Kau memang teman terbaik!"

Tak sampai satu jam berlalu, tumpukan Jamur Bulan yang utuh dan bersih sudah mencapai jumlah dua belas buah di dalam tasnya. Haruto tersenyum puas, menghela napas lega. "Ternyata tidak sesulit yang kukira. Kalau begini, aku bisa selesai sebelum matahari condong ke barat."

Namun kata-kata itu baru saja terucap...

Kraak!

Suara ranting kering yang patah terdengar nyata dari balik semak belukar yang rimbun, memecah keheningan hutan yang damai.

Haruto langsung menghentikan gerakannya. Telinganya menangkap suara itu dengan tajam. "Hm?"

Pochi ikut menoleh ke arah sumber suara, matanya yang bulat berkilau waspada. "Pyoo?"

Kraak... Kraak... Bruk...

Suara itu berulang, kali ini lebih berat dan semakin mendekat. Tanah di bawah telapak kaki Haruto mulai bergetar pelan, seolah ada sesuatu yang besar melangkah mendekat dengan sengaja.

Haruto perlahan mundur selangkah, tangannya menggenggam erat ujung tas. "Jangan bilang..."

Dari balik pepohonan ek yang lebat, sesosok makhluk raksasa melangkah keluar dengan gerakan yang berat namun menggetarkan. Itu adalah seekor beruang hutan setinggi hampir tiga meter, bulu hitam pekatnya tumbuh tebal dan kasar, cakar di keempat kakinya sebesar pedang pendek yang diasah tajam, dan sepasang taring panjang yang terlihat jelas saat ia menggeram menampakkan amarahnya.

"GRRRAAAHHH!!"

Auman itu menggema membelah hutan, membuat dedaunan bergetar dan burung-burung yang bersarang beterbangan ketakutan ke segala arah.

Haruto membeku sejenak, napasnya tercekat. "Be... beruang?"

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan buku panduan monster pemberian guild. Matanya bergerak cepat menyusuri tulisan di halaman yang dituju:

Beruang Hutan (Forest Bear)

Tingkat Ancaman: E

Monster yang sangat kuat secara fisik dengan kulit yang tebal. Tidak disarankan dilawan oleh petualang pemula sendirian. Serangan utamanya berupa ayunan cakar dan gigitan yang mampu menghancurkan batu.

Haruto menelan ludah yang terasa pahit. "...Aku... aku petualang Kelas F."

Beruang itu kembali mengaum lebih keras, menginjak tanah dengan cakar depannya seolah menantang. "ROOOAAARRR!!"

Tanpa sadar, Haruto mengambil posisi bertahan. Jari-jarinya mulai merasakan aliran mana yang berputar di dalam tubuhnya, mengingat kembali setiap kata yang pernah diajarkan Mizuna.

Tenang. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu. Air akan mengalir sesuai kehendak hatimu.

Pochi melompat turun ke tanah, berdiri tegak di samping Haruto meski tubuhnya begitu kecil dibandingkan monster di hadapan mereka. "Pyoo..." suaranya kali ini terdengar rendah dan serius.

Haruto melirik sekilas, lalu menggeleng pelan. "Tidak, Pochi. Kali ini biar aku yang menghadapinya dulu. Kau tetap di belakang."

Pochi seolah mengerti maksud itu, langsung diam namun tetap waspada.

Belum sempat Haruto menyusun rencana, beruang itu tiba-tiba melesat maju.

Bruk! Bruk! Bruk!

Setiap hentakan kakinya menggetarkan tanah di sekitarnya. Tubuh raksasa itu melompat dengan kecepatan yang tak disangka-sangka bagi ukurannya, lalu mengayunkan cakar kanannya ke arah Haruto.

"Datang!"

Haruto mengangkat tangan kanannya seketika. Bola air yang padat terbentuk di telapak tangannya, lalu melesat cepat menuju kepala beruang.

Byur!

Air menghantam sisi wajah monster itu, namun beruang itu hanya menggelengkan kepalanya sekilas seolah baru terkena rintik hujan. Tak ada jejak luka, tak ada tanda terganggu yang berarti.

"Hah?!" Haruto terbelalak tak percaya. "Kulitnya sekeras itu?"

Belum sempat ia mencari celah lain, cakar raksasa itu kembali melayang, kali ini lebih cepat dan ganas.

Wussh!

Haruto melompat ke samping sekuat tenaga, nyaris menyentuh ujung cakar itu.

BRAK!

Pohon besar di belakang tempat ia berdiri sejenak lalu terbelah dua, tumbang dengan suara dentuman yang mengerikan.

Keringat dingin mulai membasahi pelipis Haruto. Jika ia terlambat sedetik saja... pikirannya tak sanggup melanjutkan kalimat itu.

Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan jantungnya yang berpacu kencang. Tenang... air mengikuti hati yang tenang. Aku tidak perlu mengalahkannya. Aku hanya perlu mencari celah untuk menjauh.

Saat membuka mata kembali, tatapannya tak lagi penuh ketakutan—melainkan fokus dan tajam.

Namun tepat saat ia hendak mencari jalan keluar...

GRRRAAAHHH!!

Auman lain yang sama dahsyatnya terdengar dari arah samping.

Haruto perlahan menoleh, dan wajahnya seketika berubah pucat pasi.

Dari balik rimbunnya semak, muncul seekor beruang hutan kedua. Tubuhnya bahkan lebih besar, bulunya lebih gelap, dan sorot matanya lebih tajam dari yang pertama.

Kini mereka terjebak di antara dua monster yang siap menerkam kapan saja. Haruto menggenggam tangannya erat, merasakan aliran mana yang siap ia gunakan namun tahu betul bahwa peluang bertarung nyaris tak ada.

Ia menghela napas panjang yang bercampur rasa takjub sekaligus gentar.

"Sepertinya..." bisiknya pelan, "misi pertamaku benar-benar tidak akan semudah yang kubayangkan."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!