NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: KETIKA DINDING AKU DAN KAMU MENIPIS

Sebelum jarum jam dinding bergeser menyentuh angka lima pagi, keajaiban dari ketulusan dan metode darurat itu akhirnya membuahkan hasil. Suhu tubuh Arkan yang semula membakar perlahan-lahan mulai mendingan dan berangsur turun ke angka 37,5 derajat Celcius. Walaupun masih dikategorikan hangat dan belum sepenuhnya pulih ke batas normal, setidaknya rona pucat di wajah bocah kecil itu perlahan sirna, digantikan oleh semburat merah alami yang mulai kembali menghiasi bibir mungilnya. Napasnya kini terdengar teratur, pertanda ia telah masuk ke fase tidur yang jauh lebih nyenyak dan berkualitas.

Melihat kondisi Arkan yang sudah mulai stabil, Kolonel Victor perlahan mengurai dekapannya. Dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik kenyamanan tidur sang anak kecil, ia merebahkan kembali tubuh Arkan ke atas kasur, lalu menarik selimut kain untuk membungkus dada kecil putranya Ayu. Victor kemudian beranjak berdiri di tepi ranjang. Ia meraih kemeja seragam harian lorengnya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya kembali satu per satu, mengancingkannya dengan gerakan tegap tanpa menimbulkan suara.

Di sudut kamar yang temaram, Ayu berdiri terpaku. Sepanjang sisa malam tadi, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata walau hanya sedetik. Bagaimana mungkin ia bisa tidur jika jiwanya sedang diaduk-aduk oleh rasa cemas sebagai seorang ibu, sekaligus rasa bersalah yang teramat besar sebagai seorang bawahan?

Ayu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia tahu, tata krama militer dan harga dirinya menuntut sebuah penyelesaian yang elegan. Ia harus meminta maaf atas sikap tidak sopan yang ia tunjukkan tadi malam—ketika ia menutup pintu dengan kasar tepat di hadapan sang komandan—sekaligus mengucapkan terima kasih yang mendalam atas segala hal luar biasa yang telah Victor lakukan untuk menyelamatkan putranya.

Namun, mengabaikan fakta masa lalu di antara mereka ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ayu sama sekali tidak berani menatap langsung ke dalam sepasang manik mata kelam milik Victor. Jadi, wanita itu hanya bisa berdiri tertunduk dalam sembari mulai berbicara dengan nada suara yang diusahakan sebaring dan seprofesional mungkin.

"Komandan... saya... saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan dan sikap tidak sopan saya tadi malam saat Anda mengantarkan Arkan pulang. Dan... terima kasih banyak atas bantuan darurat yang Anda berikan untuk putra saya. Saya benar-benar berutang budi," ucap Ayu berbisik lirih, matanya terpaku pada laras sepatu bot milik Victor.

Victor yang mendengar penuturan itu tidak langsung menjawab. Meskipun ia bukan seorang perwira korps intelijen seperti Ayu, Victor memiliki jam terbang lapangan yang teramat tinggi, ia adalah seorang komandan yang sanggup membaca isi pikiran dan gejolak emosi seseorang hanya lewat satu sorotan mata saja. Itulah alasan mendasar mengapa Ayu memilih untuk terus menundukkan kepalanya, wanita itu terlalu takut jika topeng kepura-puraannya akan telanjang bulat di hadapan Victor.

Secara perlahan dan tanpa suara, langkah kaki tegap Victor mulai bergerak mendekati posisi Ayu. Langkahnya begitu intimidatif namun penuh pesona, membuat insting pertahanan diri Ayu mendadak aktif. Merasa jarak di antara mereka terkikis berbahaya, Ayu melangkah mundur satu tapak, lalu satu tapak lagi, hingga akhirnya punggung wanita itu membentur permukaan dingin dari dinding tembok kamar. Ia terhimpit, tak lagi memiliki ruang untuk melarikan diri.

Victor berhenti tepat di depan Ayu, menyisakan jarak yang begitu dekat hingga Ayu bisa merasakan embusan napas bariton sang Kolonel yang menerpa pucuk kepalanya.

"Ayu, coba lihat aku. Dan berterimakasihlah dengan benar," ucap Victor dengan suara rendah yang bergetar penuh penekanan.

Ayu menahan napas. Ia tahu wanita di depannya ini tengah menyembunyikan badai rasa yang luar biasa di balik wajahnya yang tenang. Dalam kepanikan yang tersembunyi, Ayu menelan salivanya dengan secepat kilat untuk meredakan kerongkongannya yang mendadak kering. Gerakan sekecil itu—prediksi refleks dari rasa gugup—sebenarnya berlangsung sangat cepat, namun mata tajam Victor berhasil menangkap gerak-gerik tersebut dengan sangat sempurna.

Sebelum Ayu sempat membangun kembali benteng pertahanannya, tiba-tiba tangan kanan Victor yang besar dan hangat bergerak dengan sendirinya tanpa bisa dicegah. Jemari kekar komandan itu terulur menyentuh dahi Ayu, dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh penyayangan, ia merapikan beberapa helai anak rambut yang berantakan di bagian dahi hingga menyisipkannya ke belakang pelipis telinga Ayu.

Sentuhan fisik yang begitu intim dan tak terduga itu seketika membuat jantung Ayu berdebar tak karuan, berpacu hebat laksana genderang perang yang bertalu-talu di dalam dadanya. Seluruh badannya menegang, namun ia mati-matian memaksa dirinya untuk tetap berdiri profesional dan tenang. Di kamar tidur yang sunyi ini, mereka berdua sesungguhnya adalah dua orang pemain peran yang sangat handal dalam menyembunyikan perasaan; namun di atas segalanya, semua orang tahu bahwa Victor adalah sang pemegang tahta tertinggi yang tak tertandingi.

Setelah merapikan anak rambut Ayu, tangan Victor tidak langsung menjauh, melainkan berhenti beberapa senti di dekat pipi Ayu. Pria itu menatap Ayu dengan sorot mata yang dipenuhi oleh perpaduan antara rasa cinta yang mati, rasa perih, dan kemarahan yang mendalam atas ketidakberdayaan wanita yang dipujanya.

"Katakan padaku, Ayu... berapa mahal biaya waktu yang bisa suamimu beli dengan uang administrasi kantornya itu, agar dia mau meluangkan sedikit saja waktunya hanya sekedar untuk bertanya bagaimana kabar putranya sendiri di perantauan?"

Pertanyaan telak yang sarat akan sarkasme dan kebenaran pahit itu lolos begitu saja dari bibir Victor, seketika menghantam pertahanan Ayu hingga berkeping-keping. Kalimat itu berhasil mengalihkan fokus Ayu sepenuhnya. Karena merasa terhina sekaligus tertampar oleh kenyataan, Ayu secara refleks langsung mendongakkan kepalanya, menatap lurus tepat ke dalam kornea mata Victor dengan pandangan yang bergetar hebat.

Sejenak, keheningan yang mencekam mengunci sepasang mata yang saling mengunci rasa itu. Tatapan Victor meremang, perlahan turun menatap bibir tipis Ayu yang mungil.

"Andai aku tidak takut dosa dan tidak memikirkan batasan hukum, Ayu... aku sudah mencium rakus bibirmu subuh ini," bisik Victor dengan suara serak yang begitu dalam, menyuarakan gejolak purba dan rasa rindu setengah mati yang telah ia pendam sendirian selama lima tahun terhitung sejak perpisahan mereka.

Kalimat gila itu membuat pasokan oksigen di sekitar Ayu seolah menguap. Belum sempat Ayu menguasai keterkejutannya atau membuka mulut untuk melayangkan pertanyaan atau protes atas kelancangan sang komandan, Victor dengan sangat taktis dan cepat langsung menarik kembali tangannya, mengubah atmosfer intim itu kembali ke dalam mode formal kedinasan dalam sekejap mata.

Victor mundur satu langkah, mengembalikan jarak aman di antara mereka, lalu membetulkan letak baret dan tanda pangkatnya dengan wibawa mutlak seorang Danpusdikmil.

"Istirahatlah. Hari ini kamu saya berikan dispensasi, kamu diliburkan dari seluruh kegiatan staf Satdik. Jaga Arkan baik-baik di rumah," ucap Victor dengan nada suara yang kembali datar dan otoriter. "Tapi ingat satu hal, Bu Pasi Intel... kalau sampai saya mendengar anak ini sakit lagi karena kelalaian pengasuh atau kurangnya perhatianmu, saya sendiri yang akan turun tangan menyuruhmu berlari keliling lapangan makosat sebanyak 50 kali tanpa jeda. Paham?"

Sebelum Ayu sempat memberikan jawaban atas perintah itu, Victor kembali mengulurkan tangannya, mengusap pelan dan singkat pucuk kepala Ayu yang masih terbalut mukena dengan sisa-sisa kelembutan seorang pria yang sangat mencintai wanitanya. setelah itu, Victor membalikkan tubuh tegapnya dengan cepat, melangkah lebar keluar dari dalam kamar tidur.

Ayu hanya bisa berdiri mematung di dekat dinding, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu depan rumah dinasnya. Samar-samar, Ayu mendengar suara derit pintu depan yang ditutup dengan rapat dari luar oleh Sertu Johan yang sejak tadi malam setia berdiri tegak berjaga di pelataran depan guna memastikan tidak ada satu pun rumor tak sedap yang bisa mengotori nama baik sang Kapten. Di dalam keheningan fajar yang mulai menyingsing, Ayu perlahan merosot ke lantai, menyentuh dadanya yang masih bergemuruh hebat, menyadari bahwa bayang-bayang Victor kini telah kembali merajai seluruh ruang di hatinya.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!