⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 7
Pagi itu, Lucy sengaja tidak datang ke sekolah lebih awal.
Biasanya, dia sudah tiba sebelum bel pertama, duduk di bangkunya dengan buku terbuka dan siap mengamati. Tapi hari ini berbeda. Hari ini adalah acara ulang tahun sekolah, dan dia ingin memberikan kejutan. Kejutan itu bukan hanya untuk Ren, melainkan untuk semua orang yang selama ini
menganggapnya sebagai Lucy si kutu buku yang tidak layak diperhatikan.
"Kau yakin tidak ingin bertemu Ren dulu?" tanya Lili dari atas meja rias.
Lucy berdiri di depan cermin, mengagumi hasil kerja kerasnya selama beberapa hari terakhir. Produk dari kastilnya benar-benar ajaib. Kulitnya kini putih bersih, lembut, serta bercahaya seolah diterangi dari dalam. Lingkaran hitam di bawah matanya hilang total, sementara bibirnya yang dulu pucat kini berwarna pink alami.
"Tidak," jawabnya sambil menyisir rambutnya yang kini hanya sebahu. Dia memotongnya dua hari lalu untuk mengucapkan selamat tinggal pada kepang kembar kusam itu.
"Biarkan dia melihatku nanti di atas panggung, tepat saat aku bernyanyi." Dia memasang softlens hitamnya, lalu mengenakan kacamata tipis. Rambut hitam sebahu itu dibiarkannya tergerai dengan tekstur yang lembut dan berkilau.
Dia mengoleskan lip balm tipis, lalu tersenyum pada bayangannya.
Gasis di cermin itu bukan lagi Lucy si kutu buku. Dia adalah seseorang yang mulai mekar secara perlahan, pasti, dan mematikan.
"Laporan tentang Kaito," katanya seraya meraih sekantong anggur dari meja. "Aku sudah malas menyelidiki sendiri. Ceritakan padaku."
Lili menghela napas panjang karena kucing itu sebenarnya sudah menunggu perintah ini.
"Aku sudah menyiapkan datanya."
Sebuah layar hologram muncul di depan Lucy. Dia lalu duduk di sofanya yang lusuh sambil menyuapkan anggur ke mulutnya.
Data Latar Belakang: Kaito Fujiwara
Keluarga Fujiwara adalah konglomerat properti yang sangat besar. Ayah Kaito, Daiki Fujiwara, memiliki dua istri. Ibu Kaito yang merupakan istri pertama, dinikahi bukan karena cinta, melainkan karena perjodohan bisnis. Ketika Daiki menikahi istri keduanya, seorang wanita muda yang benar-benar dia cintai, Ibu Kaito perlahan-lahan kehilangan kewarasannya.
Dan pelampiasannya adalah Kaito.
Sejak usia lima tahun, Kaito sudah dipukul. Hal itu terjadi bukan karena dia nakal atau karena dia bodoh, tetapi karena dia tidak cukup sempurna di mata ibunya. Ibunya percaya bahwa jika Kaito menjadi anak yang sempurna dalam bidang akademis, penurut, dan berprestasi, suaminya akan kembali menyayanginya. Jadi setiap kali Kaito gagal, setiap kali nilainya turun, atau setiap kali dia memilih basket daripada buku, hukuman kejam selalu menanti.
Piagam dan piala basketnya sebenarnya lebih banyak daripada sertifikat akademiknya. Tapi ibunya tidak peduli. Wanita itu merobek beberapa piagam tersebut, menghancurkan trofi, lalu menjerit bahwa Kaito hanya membuang-buang waktunya.
"Itu sebabnya dia benci perempuan," gumam Lucy.
"Bukan benci," koreksi Lili. "Dia tidak percaya. Setiap perempuan yang mendekatinya menginginkan sesuatu, entah itu status, uang, atau ketenaran. Tidak ada yang tulus."
"Lalu dia bertemu Hana Himura."
"Ya. Hana yang polos, yang tidak tahu siapa dia, serta yang tersesat di dekat lapangan basket. Gadis itu terasa berbeda, setidaknya di mata Kaito."
"Tapi Hana memilih Ren."
"Dan itu menghancurkannya."
Lili melanjutkan laporannya. Di novel asli, Kaito yang patah hati berubah menjadi sosok yang gelap. Dia membunuh ayahnya sendiri dan saudara tirinya untuk memperebutkan warisan dengan cara meracuni mereka menggunakan zat yang tidak terdeteksi, sehingga membuatnya terlihat seperti bunuh diri. Dia lolos karena memiliki koneksi dengan seorang bos mafia yang membantunya membersihkan jejak. Ibunya yang sudah tidak stabil, akhirnya hampir membunuh seseorang saat mendengar kematian suaminya, lalu dikirim ke rumah sakit jiwa.
Kaito mengambil alih perusahaan hingga menjadi pria yang kaya, berkuasa, namun hampa.
Di akhir cerita, tingkat kejahatannya mencapai 99%. Dia merencanakan untuk meledakkan kapal pesiar yang digunakan untuk reuni alumni SMA demi membunuh Ren. Tapi di atas kapal, dia melihat sosok perempuan yang mirip Hana dan langsung mengejarnya, meninggalkan posisi amannya. Kapal itu meledak. Ren dan Hana sudah lebih dulu keluar, sementara Kaito tidak pernah ditemukan.
"Bodoh," kata Lucy, memasukkan anggur ke mulutnya.
Lili terdiam dan menatap Lucy "Bodoh?"
"Dia tampan, kaya, dan atletis. Perempuan akan mengantre untuknya. Tapi dia malah terobsesi dengan satu perempuan yang sudah menjadi milik orang lain." Lucy menggelengkan kepala.
"Begitu banyak jiwa yang bisa dia pilih dan begitu banyak tubuh yang bisa dia nikmati. Tapi dia memilih untuk menghancurkan dirinya sendiri."
"Itu karena dia tidak mau sembarang perempuan. Dia mau yang tulus."
"Dan dia pikir Hana adalah satu-satunya." Lucy mendesah pelan. "Manusia memang selalu terjebak dalam pikirannya sendiri." (namanya juga manusia, kalau udah. cinta ya buta)
Dia menutup layar hologram, lalu bangkit dan meraih gitarnya. Itu adalah gitar baru yang dia beli dengan sedikit bantuan dari simpanannya di kastil.
Gitar itu terbuat dari kayu mahoni yang dipoles halus, memiliki senar berkualitas tinggi, serta menghasilkan suara yang kaya dan dalam. Dia mengelus permukaannya sambil memikirkan lagu yang akan dia nyanyikan nanti.
Ponselnya bergetar. Ada panggilan dari Nao. "Halo?"
"Lucy! Kamu udah siap?!" Suara Nao meledak dari speaker. "Kita mau nonton basket dulu! Ayo ikut! Klub musik tampilnya di akhir acara, jadi masih ada waktu!"
Lucy tersenyum. "Basket? Tim sekolah kita?"
"Iya! Kaito main! Ayo dong! Kamu belum pernah nonton pertandingan kayak gini kan?!"
Aku pernah, pikir Lucy. Tapi tidak ada salahnya menonton lagi.
"Baiklah. Aku akan datang."
"YES! Pakai baju cantik ya! Ini acara resmi, bukan sekolah biasa! Bebas!"
Lucy menutup teleponnya dan berjalan ke lemarinya. Dia sudah menyiapkan pakaian sejak tadi malam.
Pilihan jatuhnya pada gaun biru muda selutut dengan potongan sederhana tapi elegan. Ada pita biru senada untuk rambutnya dan sepatu flat putih karena dia tidak mau repot dengan heels. Tidak lupa, dia membawa tas selempang kecil berwarna krem.
Dia mengoleskan lip balm sekali lagi, lalu berdiri di depan cermin.
"Cantik," bisiknya pada bayangannya sendiri.
"Tapi masih ada yang kurang."
"Apa?" tanya Lili.
"Waktu." Lucy tersenyum misterius. "Aku belum menunjukkan warna asliku. Tapi untuk hari ini, ini sudah cukup."
SMA Seiran berubah total hari ini.
Gerbangnya dihiasi balon-balon dan spanduk besar bertuliskan "Hari Jadi SMA Seiran ke-30." Murid-murid membanjiri halaman dengan pakaian bebas seperti gaun, kemeja kasual, bahkan beberapa datang dengan cosplay sederhana. Stand makanan dan permainan berjajar di sepanjang koridor utama, sementara di lapangan, sebuah panggung besar sedang dipersiapkan untuk pertunjukan nanti.
Lucy tiba sendirian. Begitu dia melangkah melewati gerbang, percakapan di sekitarnya mendadak melambat.
"Eh... itu siapa?"
"Cantik banget..."
"Itu Lucy? Yang kutu buku itu?!"
"Serius? Nggak mungkin... rambutnya dulu kepang dua, kan?"
"Tapi mukanya mirip..."
Lucy tidak menoleh sama sekali. Dia terus berjalan dengan langkah yang ringan. Sebagai Dewi, dia sudah terbiasa dengan tatapan kagum, bisik-bisik, dan mulut yang ternganga. Itu adalah reaksi alami terhadap kecantikan yang tidak biasa. Dia tidak akan berpura-pura malu hari ini. Hari ini, dia adalah Lucy versi baru yang imut, polos, dan sedikit misterius.
"LUCY?!"
Suara itu berasal dari Nao, yang berdiri bersama Rina dan Mika di dekat pintu masuk aula basket. Ketiga gadis itu membeku dengan mata membulat dan mulut terbuka.
"KAMU... KAMU... ITU KAMU?!" Rina berlari menghampirinya, lalu memegang kedua bahu Lucy. "ASTAGA! KAMU CANTIK BANGET!"
"Rambut kamu dipotong?! Putih banget kulit kamu?! Pipi kamu..." Mika bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena terlalu takjub.
Nao hanya berdiri dengan tangan menutup mulut. "Kita yang selama ini mendandani kamu, dan sekarang kamu malah lebih cantik dari kita..."
Lucy tersenyum. Itu bukan senyum pemalu yang dulu, melainkan senyum manis yang tulus. "Kalian yang mengajariku. Terima kasih."
Ketiga temannya saling pandang, lalu secara bersamaan memeluk Lucy dengan erat.
"Kamu harus sering-sering begini!"
"Iya! Buang aja kacamata itu!"
"Nggak, kacamata itu malah bikin dia keliatan imut! Kayak anak perpustakaan tapi versi cantik!"
Lucy tertawa kecil, dan kali ini tawa itu terasa asli. "Ayo. Bukankah kita mau nonton basket?"
Tribune ruang basket sudah penuh sesak. Ini adalah salah satu pertandingan paling dinanti dalam acara tahunan ini, yaitu tim basket SMA Seiran melawan tim basket SMA Raizen yang merupakan rival bebuyutan mereka. Spanduk penyemangat dibentangkan dan yel-yel mulai terdengar riuh.
Lucy dan ketiga temannya berhasil menemukan tempat duduk di tribune tengah, posisi yang cukup tinggi untuk melihat seluruh lapangan dengan jelas.
"Kaito! Kaito! Kaito!" Rina sudah berteriak meskipun pertandingan belum dimulai.
Di bawah sana, para pemain mulai berbaris. Tim basket Seiran mengenakan jersey biru navy dengan nomor punggung masing-masing.
Kaito berdiri di paling depan mengenakan nomor 7 dengan tangan di pinggang. Posturnya tinggi, membuat otot-otot lengannya terlihat jelas di balik jersey tanpa lengan. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tidak peduli dengan kerumunan yang histeris meneriakkan namanya.
Pertandingan pun dimulai.
Sejak menit pertama, intensitasnya sudah sangat tinggi. Raizen bermain agresif, tapi Seiran tidak kalah tangguh. Kaito memimpin timnya dengan presisi yang memukau. Setiap operan, setiap lompatan, dan setiap lemparannya selalu tepat sasaran.
"AYO KAITO! KAMU BISA!" Nao berteriak sambil melambaikan tangan.
"MASUKIN BOLANYA! YESSS!" Rina hampir melompat dari kursinya.
Bahkan Mika yang biasanya paling pendiam kini ikut berteriak.
"SEIRAN! SEIRAN!"
Di tengah keributan itu, Lucy duduk dengan tenang. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya mengikuti arah bola, tetapi mulutnya tidak ikut berteriak. Bukan karena dia tidak tertarik karena pertandingannya cukup seru, melainkan karena statusnya sebagai Dewi. Berteriak-teriak seperti itu jelas tidak sesuai dengan harga dirinya.
"Kau bisa pura-pura bersorak, tahu," goda Lili dalam kepalanya.
"Aku tidak berpura-pura untuk hal yang tidak perlu."
Babak pertama berakhir dengan skor 34-30 untuk Seiran. Babak kedua dimulai, dan Raizen mulai mengejar. Di menit-menit terakhir, saat skor imbang 56-56, Kaito langsung mengambil alih permainan.
Dia menerima bola dari rekannya, menggiringnya melewati satu pemain, lalu dua pemain. Dia melompat, berputar di udara, dan...
SWOOSH.
Bola masuk tepat saat peluit panjang berbunyi. Tribune seketika meledak oleh sorak-sorai.
"AAAAAAHHH KAITOOOOO!!"
"GILA! GILA! GILA!"
"SEIRAN MENAAAANG!"
Rina, Nao, dan Mika berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan. Seluruh tribune bergemuruh hebat. Di lapangan, tim Seiran mengerumuni Kaito, menepuk punggungnya, dan meneriakkan namanya. Tapi Kaito hanya mengangguk kecil, menyeka keringat di dahinya, lalu mendongak ke arah tribune.
Matanya menyapu kerumunan besar itu, dan mendadak berhenti di satu titik.
Lucy sedang berdiri untuk merapikan rok gaunnya saat ketiga temannya masih sibuk berpelukan. Dia sendiri, di tengah kerumunan yang riuh itu, terlihat sangat tenang dan hampir tidak tersentuh oleh kekacauan di sekitarnya.
Kaito menatapnya tajam. Dia ingat gadis ini. Gadis yang sama yang duduk sendirian di tribune saat latihan beberapa hari lalu; gadis yang asyik membaca buku dan tidak memedulikannya. Tapi hari ini, dia terlihat sangat berbeda.
Gaun biru muda, pita biru di rambut sebahu, kulit putih bersih, serta kacamata tipis itu berpadu sempurna, membuatnya terlihat pintar sekaligus imut dalam satu waktu.
Seseorang menepuk bahu Kaito. "Fujiwara! Bagus! Ayo, kita harus..."
Kaito menoleh sebentar. Namun saat dia kembali menatap tribune, gadis itu sudah berbalik pergi. Dia hanya bisa melihat punggungnya yang dihiasi rambut hitam sebahu dan pita biru, berjalan menuruni tangga diikuti ketiga temannya.
Siapa dia?
Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalanya, dan Kaito tidak tahu kenapa dia mendadak jadi peduli.
Lucy keluar dari ruang basket diikuti ketiga temannya yang masih bersemangat membahas jalannya pertandingan.
"Kaito keren banget tadi!"
"Dunk terakhir itu... aku bisa pingsan!"
"Eh, Lucy, kamu kok diem aja? Nggak seru?"
Lucy tersenyum kecil. "Seru kok. Aku menikmatinya."
"Terus... kamu sekarang mau ke mana?" tanya Nao. "Kita udah selesai nonton. Mau ke stand makanan?"
"Aku harus ke klub musik untuk persiapan terakhir."
"Oh iya! Kalian tampil nanti!" Rina menepuk dahinya menyadari kelalaiannya. "Ya udah, kita anter sampe depan!"
"Tidak perlu." Lucy menggeleng halus. "Aku bisa sendiri. Kalian nikmati saja acaranya."
Ketiga temannya ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya mereka setuju. Mereka melambaikan tangan lalu berbaur kembali ke dalam kerumunan.
Lucy berjalan sendirian menyusuri koridor. Langkahnya terasa ringan, membuat pita birunya bergerak-gerak cantik. Dia bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya, lengkap dengan bisik-bisik yang sama seperti tadi pagi. Tapi ada satu tatapan yang berbeda. Satu tatapan tajam yang dia rasakan langsung dari arah belakang.
Dia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik tatapan itu.
Kaito Fujiwara. Kau melihatku kan? Itu bagus.
Dia terus berjalan hingga menghilang di balik pintu gedung utama, meninggalkan sang antagonis pria yang berdiri kaku di pintu keluar ruang basket sambil terus menatap ke arah tempatnya menghilang.
"Eh, Kaito! Ayo! Kita selebrasi!" Salah satu anggota Five Shadows menepuk pundaknya.
Kaito menggelengkan kepala. "Sebentar."
"Ada apa?"
Dia tidak menjawab pertanyaan temannya. Dia hanya berdiri di sana, menatap lurus ke arah pintu gedung utama, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat gadis itu sebelumnya.
Dia sekelasku, pikirnya akhirnya saat ingatan itu berputar. Dia.... Siapa namanya? Lucy? Kalau tidak salah namanya Lucy.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kaito Fujiwara mengingat dengan jelas nama seorang perempuan.