Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Abu di Ujung Bandara
Deru mesin pesawat yang lepas landas dan mendarat bersahutan di balik dinding kaca besar Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Riuh rendah langkah kaki para calon penumpang yang berlarian mengejar jadwal penerbangan menjadi latar belakang dari sebuah perpisahan yang teramat berat.
Satu minggu telah berlalu bagai kedipan mata yang menyiksa. Proyek dokumentasi Pesantren Al-Anwar telah rampung dikerjakan oleh tim dari London. Mark dan James sudah berjalan lebih dulu melewati pintu pemeriksaan imigrasi setelah menjabat erat tangan Gus Arsalan dan mengucapkan beribu terima kasih atas keramahan pihak pesantren.
Kini, di sudut ruang tunggu yang agak lengang, menyisakan dua anak manusia yang dunianya pernah menyatu namun kini dipaksa terpisah oleh bentangan takdir yang tak searah. Gus Arsalan berdiri bersedekap dada, menatap kosong ke arah hamparan landasan pacu. Di sampingnya, Evelyn berdiri dengan koper kecil berwarna perak, pasmina moka setianya melilit longgar di leher, membingkai wajah blasterannya yang hari ini tampak begitu pucat dan sendu.
Suasana di antara mereka mendadak begitu mencekam, dipenuhi oleh untaian kalimat yang tak sempat terucap selama seminggu penuh kepura-puraan di pesantren.
"Arsalan..." panggil Evelyn, suaranya bergetar tipis, memecah keheningan yang menyiksa di antara mereka.
Arsalan menoleh perlahan. Sorot mata elangnya yang biasa dingin dan angkuh kini meredup, menyiratkan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng seorang Gus. "Ya, Eve?"
Evelyn menatap lurus ke dalam manik mata pria yang selama empat tahun ini menguasai seluruh hatinya di London. Air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata, kini mulai menggenang, membuat pandangannya mengabur.
"Apakah ini benar-benar akhir dari kita?" tanya Evelyn lirih. Kalimat itu meluncur seperti sembilu yang langsung mengiris dada Arsalan. "Satu minggu aku berada di rumahmu, melihatmu berjalan berdampingan dengan wanita lain, melihatmu berpura-pura bahagia di depan orang tuamu... rasanya seperti mati perlahan, Alan. Hatiku hancur berkeping-keping."
Arsalan mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana. Rahangnya mengeras, menahan sesak yang teramat sangat yang mendadak menghantam ulu hatinya. "Eve... kamu tahu persis situasiku. Pernikahan ini... ini adalah perintah Abah. Aku tidak punya pilihan."
"Pilihan?!" Evelyn terkekeh getir, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang pias. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, menatap Arsalan dengan pandangan penuh tuntutan dan rasa frustrasi yang mendalam. "Kamu selalu bilang tidak punya pilihan, Alan! Tapi kamu memilih untuk melepaskan tanganku! Kamu memilih untuk pulang dan menikahi gadis pilihan orang tuamu! Kamu membiarkan aku sendirian di London, memeluk dinginnya malam sambil mengenang semua janji manis yang pernah kita bangun di bawah langit Inggris!"
"Lalu aku harus bagaimana, Evelyn?!" bentak Arsalan tertahan, suaranya naik satu oktav penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Matanya memerah sempurna, berkaca-kaca menahan air mata ego seorang pria. "Apakah kamu pikir aku bahagia?! Apakah kamu pikir aku menikmati setiap detik hidup dalam kepalsuan ini?! Demi Allah, Eve, setiap kali aku melihat wajah Humaira di kamar tidurku, jiwaku menjerit! Aku merasa seperti pengkhianat terbesar karena ragaku bersamanya tapi jiwaku, pikiranku, dan seluruh cintaku masih tertinggal di flat kecil kita di London!"
Kalimat pengakuan Arsalan yang teramat jujur itu bergema di sudut bandara, menyiratkan egoisme dan kepedihan yang teramat pekat. Pria itu menyugar rambutnya dengan frustrasi, napasnya memburu tak beraturan.
"Setiap malam aku terpaksa tidur di sofa, memunggungi wanita yang statusnya adalah istri sahku," lanjut Arsalan, suaranya mendadak melemah, serak dipenuhi rasa putus asa yang menyayat hati. "Aku bahkan mencap usahanya untuk mendekatiku sebagai tindakan yang 'murahan' hanya karena aku tidak sudi mengkhianati rasaku padamu, Eve! Aku menyakitinya, aku menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang Ning, demi menjaga kesetiaanku pada hubungan kita yang sudah mati ini! Apakah itu belum cukup membuktikan seberapa tersiksanya aku?!"
Mendengar penuturan Arsalan, tangis Evelyn semakin pecah. Ia membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak mengundang perhatian orang-orang sekitar. Hatinya tersayat melihat pria yang ia cintai menjelma menjadi sosok yang begitu kejam dan penuh penderitaan akibat cinta mereka yang terlarang oleh tembok perbedaan budaya dan agama.
Namun, di balik rasa bersalahnya, ego seorang wanita yang terbuang tetap bergejolak di dalam dada Evelyn.
"Kalau kamu memang tersiksa, Alan... kenapa kamu tidak melepaskannya?!" tangis Evelyn pecah, jemarinya mencengkeram lengan kemeja Arsalan dengan erat, mengguncang tubuh tegap pria itu dengan sisa-sisa kekuatannya. "Kenapa kamu harus mengorbankan tiga hati sekaligus?! Kamu menyiksa dirimu sendiri, kamu menghancurkan aku, dan kamu menumbalkan gadis suci seperti Humaira yang tidak tahu apa-apa! Dia tidak bersalah, Alan! Dia berhak mendapatkan suami yang mencintainya secara utuh, bukan pria pengecut yang jiwanya tertinggal di masa lalu!"
"Aku tidak bisa, Eve! Aku tidak bisa menceraikannya!" sahut Arsalan dengan suara bergetar, air matanya perlahan menetes, membasahi pipinya yang kaku. Keangkuhan sang Gus runtuh sepenuhnya di ujung bandara ini. "Jika aku menceraikan Humaira, aku tidak hanya menghancurkan martabat keluarganya, tapi aku juga akan membunuh Abah dan Umi secara perlahan dengan rasa malu. Aku terikat pada kewajiban moral yang mencekik leherku sendiri."
Evelyn perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan Arsalan. Ia mundur satu langkah, menatap Arsalan dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa kecewa yang teramat dalam dan kepasrahan yang dingin. Air matanya terus mengalir tanpa suara, membasahi blus putihnya.
"Panggilan terakhir untuk penumpang pesawat tujuan London..." suara mesin pengeras suara bandara kembali menggema, seolah menjadi lonceng kematian bagi sisa-sisa harapan di antara mereka berdua.
Evelyn menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga diri yang ia miliki sebagai seorang wanita mandiri. Ia menatap wajah tampan Arsalan untuk yang terakhir kalinya, mencamkan setiap garis wajah pria yang mungkin tidak akan pernah bisa ia sentuh lagi seumur hidupnya.
"Pesawatku sudah mau berangkat, Alan," ucap Evelyn, suaranya mendadak terdengar sangat tenang, namun ketenangan itulah yang justru terasa paling mematikan bagi hati Arsalan. "Terima kasih untuk empat tahun yang indah di London. Terima kasih telah menunjukkan padaku bagaimana rasanya dicintai dengan begitu hebat... sebelum akhirnya dibuang dengan begitu tragis."
Deg.
Kalimat 'dibuang dengan begitu tragis' itu menghantam dada Arsalan layaknya hantaman peluru tajam yang menembus jantungnya. Perih, sesak, dan hancur berantakan.
"Mulai detik ini, lepaskan aku dari pikiranmu, Arsalan," bisik Evelyn dengan tatapan mata yang mengunci pergerakan mantan kekasihnya. "Jangan pernah lagi menghubungiku di sepertiga malam. Jangan pernah lagi mengirimkan pesan-pesan penuh kerinduan yang hanya akan menambah dosa dalam pernikahanmu. Belajarlah untuk melihat wanita yang ada di sampingmu. Humaira... dia terlalu berharga untuk disandingkan dengan pria yang hatinya cacat seperti kamu."
Evelyn berbalik. Tanpa menunggu balasan dari Arsalan, ia menarik kopernya dan melangkah lebar menuju pintu boarding gate, memunggungi masa lalunya dengan tubuh yang bergetar menahan tangis yang kian membuncah.
Arsalan hanya bisa berdiri mematung di tempatnya. Kakinya serasa terpaku ke lantai bandara yang dingin, tak mampu melangkah satu senti pun untuk mengejar atau menahan wanita yang perlahan menghilang di balik kerumunan penumpang. Air matanya menetes deras tanpa suara, meratapi hilangnya separuh jiwanya yang kini benar-benar telah terbang melintasi samudra luas, meninggalkannya sendirian di tanah air dalam sangkar pernikahan yang ia bangun dengan fondasi luka dan air mata. Pagi itu, di ujung bandara, benteng es di hati Arsalan tidak runtuh karena cinta, melainkan hancur berkeping-keping menjadi abu penderitaan yang membakar jiwanya sendiri.