NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 11

Pagi hari di Jakarta selalu datang bersama riuh rendah klakson kendaraan dan kepulan polusi yang menyengat, namun di dalam kediaman megah keluarga Dirgantara, waktu seolah bergerak dalam ritme yang berbeda. Sunyi, dingin, dan steril.

Amerta menyergap matanya perlahan saat alarm di ponselnya berdering nyaring tepat pukul enam pagi. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa entah mengapa sangat lelah, seolah-olah ia baru saja melakukan perjalanan jauh di dalam tidurnya. Sensasi aneh itu kembali lagi—perasaan familiar yang samar tentang kehangatan yang mendesak di bibirnya, serta aroma sandalwood bercampur mint yang samar-samar masih melekat di udara kamarnya.

Amerta duduk di tepi ranjang, menyentuh bibir bawahnya dengan ujung jari telunjuk. "Hanya mimpi," gumamnya pada diri sendiri, mencoba mengusir kabut aneh yang menggelayuti pikirannya. "Itu pasti hanya sisa-sisa mimpi buruk yang aneh."

Gadis itu segera bangkit, menyambar handuknya, dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Hari ini ia memiliki jadwal kuliah pagi di Universitas Indonesia yang tidak boleh ia lewatkan. Namun, takdir tampaknya memiliki rencana lain untuk mengusik ketenangan yang selama ini mati-matian ia pertahankan.

Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Amerta kembali ke kamar dengan pakaian kuliah yang kasual: celana jin denim dan kemeja flanel longgar. Saat ia membungkuk di dekat tepi tempat tidur untuk mengambil salah satu buku diktatnya yang terjatuh ke lantai, matanya menangkap sesuatu yang asing di bawah kolong tempat tidur, tepat di bawah lipatan sprei pastelnya yang menjuntai.

Sebuah benda kecil berkilau memantulkan bias cahaya lampu kamar.

Amerta berlutut, mengulurkan tangannya ke bawah kolong ranjang, dan memungut benda tersebut. Detik berikutnya, jantungnya seakan berhenti berdetak selama satu ketukan penuh.

Itu adalah sebuah kancing baju.

Bukan sembarang kancing plastik murah, melainkan sebuah kancing eksklusif yang terbuat dari kerang mutiara hitam (black mother of pearl) dengan pinggiran perak yang dipahat sangat halus. Di bagian tengah kancing tersebut, terdapat ukiran grafir berbentuk huruf 'D' yang sangat kecil namun tegas. Sebuah inisial yang sangat ia kenal.

Dirgantara.

Amerta membalikkan kancing itu di atas telapak tangannya. Napasnya mendadak menjadi pendek dan tidak teratur. Pikirannya langsung melayang pada memori visual malam-malam sebelumnya, atau lebih tepatnya, pada satu-satunya orang di rumah ini yang selalu mengenakan kemeja khusus pesanan penjahit lokal ternama dengan detail inisial keluarga di setiap kancingnya.

Mahesa.

"Tidak mungkin..." bisik Amerta, suaranya bergetar di dalam keheningan kamar.

Kancing ini adalah bagian dari kemeja sutra hitam milik Mahesa. Amerta pernah melihat kemeja itu tergantung di ruang jemur khusus setelah dicuci oleh pelayan rumah, dan ia ingat betul betapa mewahnya detail kancing tersebut. Pertanyaannya adalah: bagaimana bisa sebuah kancing kemeja formal milik kakak tirinya berada di bawah kolong tempat tidurnya? Di dalam kamarnya yang selalu terkunci rapat dari dalam setiap malam?

Rasa dingin yang mencekam mendadak merayap naik dari ujung kakinya menuju tengkuk. Kecurigaan yang selama beberapa minggu ini ia pendam dalam-dalam—yang selalu ia rasionalkan sebagai 'efek kelelahan kuliah' atau 'mimpi yang terlalu realistis'—kini meledak menjadi sebuah kepastian yang mengerikan.

Seseorang telah masuk ke kamarnya. Dan orang itu adalah Mahesa Dirgantara.

Amerta mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyembunyikan kancing hitam itu di dalam saku celananya. Dengan langkah yang gemetar namun dipenuhi determinasi yang membara, ia keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan. Ia membutuhkan jawaban. Sekarang juga.

------------------------------

Di lantai bawah, atmosfer ruang makan masih sama seperti biasanya. Mahesa sudah duduk di kursi kebesarannya di ujung meja panjang. Laki-laki itu tampak luar biasa tampan, sekaligus mengintimidasi, dalam balutan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap yang lengannya digulung rapi hingga siku. Di hadapannya terdapat secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis dan sepiring roti panggang yang nyaris tidak disentuh.

Mendengar suara langkah kaki Amerta yang tergesa-gesa, Mahesa tidak mengalihkan pandangannya dari tablet bisnis di tangannya. Mata birunya yang sedingin es tetap terpaku pada grafik saham yang bergerak naik-turun. Ia mengabaikan eksistensi Amerta secara mutlak, persis seperti hari-hari biasanya.

Namun kali ini, Amerta tidak akan membiarkan dirinya diperlakukan seperti pajangan kaca yang transparan.

Amerta berjalan mendekat, tidak duduk di kursinya yang biasa, melainkan berdiri tepat di sisi meja dekat Mahesa. Tangannya merayap ke dalam saku celana, mengeluarkan kancing hitam mutiara itu, lalu meletakkannya dengan bunyi thud kecil yang disengaja di atas meja marmer, tepat di samping cangkir kopi Mahesa.

"Ada yang menjatuhkan ini di kamarku semalam," kata Amerta, suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada debaran jantungnya yang menggila.

Mahesa menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi begitu pekat, seolah-olah oksigen ditarik paksa keluar dari sana. Perlahan, sangat perlahan, Mahesa menurunkan tabletnya dan melirik ke arah kancing yang tergeletak di atas meja.

Tidak ada kepanikan di wajah tegas itu. Tidak ada keraguan, tidak ada kilat rasa bersalah. Wajah Mahesa tetap datar, seperti sebuah patung marmer yang dipahat tanpa emosi.

"Lalu?" tanya Mahesa, suaranya bariton, rendah, dan sangat acuh tak acuh. Ia kemudian mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat Amerta. Tatapan mata birunya begitu tajam, seolah-olah ia sedang melihat seekor serangga kecil yang mencoba mengusik singa yang sedang tidur. "Kenapa kamu menunjukkannya padaku?"

Amerta mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menahan diri agar tidak gemetar di hadapan pria dominan ini. "Ini kancing kemejamu, Kak Mahesa. Kemeja sutra hitam milikmu. Jangan berlagak tidak tahu. Bagaimana bisa benda ini ada di bawah kolong tempat tidurku?"

Mahesa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menyilangkan kaki panjangnya dengan gerakan yang teramat santai namun penuh kuasa. Sebuah senyuman sinis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat, terukir di sudut bibirnya.

"Amerta," sebut Mahesa, dan cara laki-laki itu melafalkan namanya selalu berhasil mengirimkan sensasi aneh yang menggelitik di bawah kulit Amerta. "Rumah ini luas. Para pelayan mondar-mendir setiap hari untuk membersihkan kamar, mencuci pakaian, dan merapikan barang. Jika sebuah kancing baju terlepas saat proses cuci atau saat pelayan merapikan kamarmu, apakah itu menjadi urusanku?"

"Jangan memutarbalikkan fakta!" serang Amerta, selangkah lebih maju, menantang dominasi pria di depannya. "Pelayan tidak akan membawa kemejamu ke kamarku! Dan yang paling penting... aku selalu mengunci pintu kamarku setiap malam dari dalam. Tapi belakangan ini, aku selalu bangun dengan perasaan aneh. Aku mencium bau parfummu di kamarku saat pagi hari, Mahesa!"

Mendengar tuduhan yang begitu spesifik, kilat di mata biru Mahesa berubah sejenak. Intensitas obsesi yang ia sembunyikan di malam hari hampir saja mengintip keluar, namun dengan kontrol diri yang luar biasa, ia berhasil menekannya kembali ke dasar kesadarannya.

Mahesa bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar—hampir mendekati 190 sentimeter—seketika menenggelamkan Amerta dalam bayang-bayangnya. Ia melangkah memutari meja, mendekati Amerta hingga jarak di antara mereka terpangkas habis. Amerta ingin mundur, namun harga dirinya melarangnya untuk menunjukkan kelemahan.

"Kamu sedang menuduhku masuk ke kamarmu di malam hari, begitu?" bisik Mahesa, mencondongkan tubuhnya ke depan. Aroma sandalwood dan mint yang tajam langsung menyerang indra penciuman Amerta, mengonfirmasi dengan sangat akurat bau yang selalu ia rasakan setiap subuh.

"Y-ya," jawab Amerta, sedikit terbata karena intimidasi fisik yang begitu kuat. "Kancing ini buktinya."

Mahesa terkekeh rendah, suara tawa yang dingin dan tanpa beban. Ia mengulurkan tangannya, melewati pipi Amerta yang mendadak merona panas, lalu mengambil kancing hitam di atas meja dengan dua jarinya.

"Kamu terlalu banyak menonton drama, Amerta. Atau mungkin..." Mahesa menjeda kalimatnya, menatap bibir mungil Amerta yang bergetar kecil sebelum beralih kembali ke matanya. "...kamu yang terlalu terobsesi padaku? Hingga memungut kancing bajuku yang terjatuh di ruang cuci, membawanya ke kamarmu, dan menciptakan fantasi gila seolah-olah aku mendatangi ranjangmu setiap malam?"

"Apa?!" Amerta terbelalak, tidak percaya dengan manipulasi psikologis yang sedang dilakukan kakak tirinya. "Aku tidak gila! Aku tahu apa yang kurasakan!"

"Kenyataannya, kamu tidak punya bukti apa pun selain sebutir kancing yang bisa saja berpindah tempat karena kelalaian pelayan," potong Mahesa dengan nada suara yang kembali mendingin seolah-olah pembicaraan ini adalah hal yang paling membosankan di dunia. Ia menjatuhkan kancing itu ke dalam saku celananya sendiri. "Fokuslah pada kuliahmu. Jangan biarkan ilusi bodoh merusak otakmu. Di siang hari, kamu tidak lebih dari sekadar orang asing yang menumpang di rumah ini. Ingat itu baik-baik."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Mahesa menyambar tas kerjanya dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah tegap, menyisakan keheningan yang mencekik dan Amerta yang berdiri terpaku dengan kemarahan serta kebingungan yang membuncah di dadanya.

------------------------------

Amerta tidak bisa fokus sepanjang hari di kampus. Kuliah Teori Komunikasi yang biasanya ia ikuti dengan antusias hanya berlalu begitu saja seperti angin lalu. Pikirannya dipenuhi oleh bantahan Mahesa yang begitu meyakinkan, namun tubuhnya menolak untuk percaya. Logikanya mengatakan ada yang salah, sangat salah, dengan apa yang terjadi di rumah itu saat malam tiba.

“Jika dia memang tidak masuk ke kamarku, kenapa dia tidak terlihat terkejut sama sekali?” batin Amerta sambil berjalan menyusuri koridor kampus menuju halte busway. “Dan kenapa tatapan matanya tadi pagi... rasanya sangat mirip dengan bayangan misterius dalam mimpiku?”

Amerta memutuskan untuk mengambil tindakan ekstrem. Ia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian. Jika Mahesa memang bermain peran di belakangnya, maka ia harus menjebak laki-laki itu dengan tangannya sendiri.

Sore itu, sepulang dari kampus, Amerta tidak langsung pulang ke rumah. Ia mampir ke sebuah toko elektronik kecil di kawasan Salemba. Di sana, ia membeli sebuah kamera pengawas (spy cam) berukuran mikro yang berbentuk seperti pengisi daya dinding (charger adapter) biasa. Kamera itu dilengkapi dengan sensor gerak dan fitur night vision yang bisa merekam dalam kegelapan total, serta terhubung langsung ke aplikasi di ponselnya.

"Kita lihat saja nanti malam, Mahesa Dirgantara," gumam Amerta dengan tatapan penuh tekad saat ia menyimpan kotak kamera pengawas itu ke dalam tasnya. "Kalau kamu memang monster yang masuk ke kamarku, aku akan merekam setiap incinya."

Malam kembali menjemput Jakarta. Pukul sebelas malam, rumah mewah itu sudah kembali sunyi. Amerta berada di kamarnya, melakukan persiapan dengan sangat hati-hati.

Ia memasang kamera pengawas mikro itu di stopkontak yang terletak di sudut meja belajarnya, sebuah posisi strategis yang mengarah langsung ke pintu kamar dan seluruh area tempat tidurnya. Setelah memastikan sudut pandang kamera di aplikasi ponselnya sudah sempurna dan tidak terhalang apa pun, Amerta menarik napas dalam-dalam.

Malam ini, ia sengaja tidak mengunci pintu kamarnya dari dalam.

Jika Mahesa selama ini memiliki kunci cadangan untuk masuk—atau menggunakan cara lain—Amerta ingin mempermudah jalannya malam ini agar laki-laki itu tidak menaruh curiga bahwa dirinya sedang dijebak. Amerta mematikan lampu utama, hanya menyalakan lampu tidur pastelnya yang temaram, lalu merebahkan diri di atas kasur.

Ia memeluk gulingnya erat-erat, memejamkan mata, dan berpura-pura tidur. Namun, alih-alih membiarkan dirinya tenggelam ke alam mimpi, Amerta mengerahkan seluruh energinya untuk tetap terjaga, mendengarkan setiap desis angin dan detak jarum jam di dinding.

Satu jam berlalu... dua jam berlalu... hingga waktu menunjukkan pukul 02.15 dini hari.

Suasana rumah begitu hening hingga suara detak jantung Amerta sendiri terdengar berpacu cepat. Matanya yang terpejam rapat mendadak menangkap perubahan sensoris di sekitarnya.

Cklek.

Suara itu sangat halus, nyaris tak terdengar jika Amerta tidak sedang dalam tingkat kewaspadaan penuh. Gagang pintunya bergerak turun. Pintu kamar terbuka perlahan, membiarkan aliran udara dingin dari koridor luar berhembus masuk, membawa serta sebuah aroma yang kini sangat Amerta kenali.

Aroma sandalwood dan mint.

Amerta menahan napasnya semaksimal mungkin, menjaga agar ritme dadanya tetap naik-turun dengan teratur seolah-olah ia sedang tertidur pulas. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia bisa merasakan kehadiran sebuah siluet besar yang kini sudah melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya.

Langkah kaki itu tidak bersuara, bergerak seringan kapas di atas karpet bulu. Detik berikutnya, Amerta merasakan berat kasurnya sedikit berubah. Seseorang baru saja mendudukkan diri di tepi tempat tidurnya.

Jantung Amerta berdegup begitu kencang di dalam dadanya hingga ia takut suara degupannya akan membongkar sandiwara ini. Kehadiran pria itu begitu pekat, begitu mendominasi, dan dipenuhi oleh aura posesif yang sangat kuat—sangat berbeda dengan Mahesa yang dingin dan acuh tak acuh di siang hari.

Sebuah tangan yang besar dan dingin perlahan menyentuh wajah Amerta. Ujung-ujung jemari tangan itu mengusap pipinya dengan kelembutan yang teramat sangat, menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Sentuhan itu terasa begitu memabukkan sekaligus mengerikan di saat yang bersamaan.

Amerta mati-matian menahan diri untuk tidak membuka matanya atau berteriak. Ia harus membiarkan ini terjadi agar kamera pengawas di sudut ruangan menangkap seluruh bukti yang ia butuhkan.

Pria itu kemudian mencondongkan tubuhnya. Amerta bisa merasakan embusan napas hangat pria itu mengenai permukaan kulit wajahnya. Jarak di antara mereka telah terkikis habis. Dan kemudian, kehangatan yang familiar itu kembali menyentuh bibirnya.

Sebuah kecupan yang dalam, posesif, dan penuh penekanan yang seolah ingin mengklaim seluruh jiwa dan raga Amerta.

Di dalam kegelapan dan kepura-puraannya, Amerta menyadari satu hal yang mengerikan: Mahesa tidak sedang bermimpi, dan dirinya pun tidak sedang berhalusinasi. Laki-laki yang mengabaikannya seperti debu di siang hari, kini sedang mengurungnya dalam obsesi yang tak terlihat di kegelapan malam.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!