Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Bayangan yang Masuk ke Kelas
Pagi itu SMA Wijaya terasa… berbeda.
Bukan karena acara sekolah.
Bukan karena ujian.
Tapi karena sesuatu yang tidak terlihat, namun bisa dirasakan.
Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum badai besar turun.
Anya duduk di bangkunya seperti biasa.
Kacamata bulat.
Buku sosiologi terbuka.
Rambut dikepang.
Topeng yang sempurna.
Namun jarinya tidak benar-benar membalik halaman.
Dia tidak membaca.
Dia sedang mendengar.
“Pergerakan Arsen meningkat,” suara Tulus masuk lewat earpiece kecil di telinganya.
Anya tetap menatap buku.
“Detail.”
“Dia tidak lagi hanya mengakses data,” lanjut Tulus. “Dia mulai mengikuti pola.”
Anya berhenti.
“…pola apa?”
“Pola pergerakan kamu, Queen.”
Sunyi.
Satu detik.
Dua detik.
Anya tersenyum tipis.
“Dia jadi stalker sekarang?”
Tulus tidak tertawa.
“Dia terlalu cepat belajar.”
Di sisi lain sekolah.
Arsen berdiri di lorong lantai dua.
Tidak di ruang OSIS.
Tidak di kelas.
Dia hanya berdiri.
Mengamati.
Setiap langkah siswa.
Setiap arah gerakan.
Setiap jeda kecil sebelum seseorang belok.
Matanya mencatat semuanya.
Baskoro berdiri di belakangnya.
“Tuan… ini sudah melewati batas pengawasan normal.”
Arsen tidak menoleh.
“Aku tidak sedang mengawasi sekolah.”
Ia berhenti.
“Aku mengamati satu orang.”
Baskoro menegang.
“Anya Clarissa?”
Arsen mengangguk kecil.
Di kelas.
Anya menutup bukunya pelan.
“Dia di dalam sekolah sekarang,” bisik Tulus.
Anya berdiri.
“Di mana?”
“Lantai dua. Lorong barat.”
Anya melangkah keluar kelas.
Langkahnya tetap tenang.
Tapi sekarang…
topengnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Koridor.
Arsen masih berdiri.
Sampai akhirnya—
langkah itu muncul.
Pelan.
Sederhana.
Tidak mencolok.
Tapi langsung dikenali.
Anya.
Arsen menoleh sedikit.
Dan mereka bertemu lagi.
Bukan di ruang bisnis.
Bukan di reruntuhan masa lalu.
Tapi di sekolah.
Tempat paling berbahaya bagi rahasia.
Arsen melangkah pelan mendekat.
“Sepertinya kamu sering keluar kelas belakangan ini.”
Anya mengangkat buku di tangannya.
“Aku dipanggil guru.”
“Tidak ada jadwal pemanggilan hari ini,” jawab Arsen cepat.
Hening.
Anya tersenyum kecil.
“Kak Arsen menghitung jadwal semua murid?”
Arsen menatapnya.
“Tidak.”
Ia berhenti.
“Hanya orang tertentu.”
Udara di antara mereka terasa berubah.
Lebih tajam.
Lebih sempit.
Anya menatapnya balik.
“Kenapa aku?”
Arsen tidak langsung menjawab.
Matanya turun sedikit ke buku di tangan Anya.
Lalu kembali ke wajahnya.
“Karena kamu selalu muncul di tempat yang tidak sesuai dengan datamu.”
Anya diam.
Untuk sepersekian detik.
Lalu ia tertawa kecil.
Pelan.
Ringan.
“Terlalu banyak berpikir bisa bikin capek, Kak.”
Arsen melangkah satu langkah lebih dekat.
“Aku tidak sedang berpikir.”
Ia menatap langsung.
“Aku sedang memastikan.”
Jarak mereka kini terlalu dekat untuk dianggap kebetulan.
Tapi tidak cukup dekat untuk disebut aman.
Dari ujung koridor.
Selene muncul.
Dan untuk pertama kalinya…
dia tidak langsung bicara.
Dia berhenti.
Melihat.
Ada sesuatu yang berbeda antara Arsen dan Anya.
Bukan konflik.
Bukan bully.
Tapi ketegangan yang tidak bisa dia pahami.
Selene mengepalkan tangan.
“Kenapa dia?” bisiknya pelan.
Di dalam kepala Selene, sesuatu mulai retak.
Bukan rasa benci.
Tapi rasa takut kehilangan posisi.
Kembali ke Anya dan Arsen.
Arsen akhirnya berkata pelan:
“Aku ingin kamu menjawab satu hal.”
Anya menatapnya.
“Kalau aku bilang tidak akan?”
Arsen tidak tersenyum.
Tapi matanya lebih dalam dari sebelumnya.
“Kamu akan tetap menjawab.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya—
Anya tidak langsung punya jawaban cepat.
Karena ada sesuatu yang berbeda sekarang.
Arsen tidak lagi hanya mencurigai.
Dia sudah masuk terlalu dalam.
Anya menghela napas pelan.
“Pertanyaannya apa?”
Arsen menatapnya lurus.
“Siapa yang menyelamatkanmu dari kebakaran itu?”
Dunia terasa berhenti.
Suara siswa di ujung koridor menghilang.
Langkah kaki menjauh.
Bahkan angin pun terasa diam.
Anya tidak bergerak.
Tidak bereaksi.
Tapi matanya…
sedikit berubah.
Pelan.
Sangat pelan.
“Aku sudah bilang,” jawabnya akhirnya.
“Tidak semua yang selamat… ingin diingatkan.”
Arsen mengangguk kecil.
“Dan tidak semua yang bertanya akan berhenti.”
Sunyi.
Dari kejauhan, Tulus bersuara di earpiece Anya.
“Queen… sistem pengawasan Arsen aktif di area kamu.”
Anya tetap menatap Arsen.
“Biarkan.”
Arsen menyipitkan mata.
“Apa?”
Anya tersenyum kecil.
“Kamu ingin memastikan, kan?”
Ia melangkah setengah langkah mundur.
“Silakan.”
Arsen terdiam.
Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung bergerak.
Karena ini bukan penolakan.
Ini… undangan yang berbahaya.
Anya berbalik.
Namun sebelum pergi, ia berkata pelan tanpa menoleh:
“Tapi kalau kamu terlalu dekat…”
“…kamu akan mulai melihat hal yang tidak bisa kamu ‘unsee’ lagi.”
Dan dia pergi.
Arsen berdiri diam.
Baskoro mendekat.
“Tuan… kita ikuti?”
Arsen menatap punggung Anya yang menjauh.
Lalu berkata pelan:
“Tidak.”
Baskoro terkejut.
“Tidak?”
Arsen mengangguk kecil.
“Mulai sekarang…”
Ia berhenti.
“…aku tidak mengejar.”
Ia menatap koridor kosong.
“Aku menunggu dia membuka sendiri.”
Dan di saat itu—
di antara lorong sekolah yang biasa saja—
permainan berubah bentuk lagi.
Bukan lagi pengejaran.
Bukan lagi investigasi.
Tapi dua orang yang saling menunggu siapa yang lebih dulu retak.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏