Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Tanda di Dahi
Kerajaan Kencana benar-benar megah. Bobon tidak pernah membayangkan ada tempat seindah ini. Jalanan terbuat dari batu halus yang berkilauan. Rumah-rumah penduduk teratur dengan taman-taman kecil di depannya. Pedagang-pedagang menjajakan barang dagangan dengan ramah. Suasana kota terasa hidup dan damai.
Tapi Bobon tidak punya banyak waktu untuk menikmati pemandangan. Dua orang penjaga istana mengantarnya melewati jalanan kota menuju istana yang terletak di pusat kerajaan. Istana itu sangat besar, dengan menara-menara menjulang tinggi dan atap berlapis emas.
"Masuklah," kata penjaga itu. "Raja sudah menunggumu di aula utama."
Bobon melangkah masuk. Pintu istana terbuka lebar menyambutnya. Di dalam, semua terbuat dari marmer putih dan emas. Tiang-tiang besar menghiasi ruangan. Di ujung ruangan, ada singgasana yang dihiasi permata berkilauan.
Di atas singgasana itu duduk seorang pria berwibawa dengan jubah emas. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis. Matanya tajam namun penuh kebijaksanaan. Itu pasti Raja Arya Kencana.
Di samping raja, ada seorang wanita cantik dengan senyum lembut. Ratu Mawar Kencana. Di sisi lain, ada dua pemuda tampan dan seorang gadis remaja. Mereka pasti putra-putri raja.
Bobon membungkuk seperti yang diajarkan Rara. "Hamba Bobon menghadap Yang Mulia."
Raja Arya tersenyum. "Angkat kepalamu, Bobon. Kau bukan hamba. Kau adalah tamu istimewa."
Bobon mengangkat kepalanya dan menatap raja. Ada kehangatan di mata raja itu. Kehangatan yang mengingatkannya pada Nenek Mira.
"Kami sudah mendengar tentangmu," kata Raja Arya. "Kami mendengar tentang keberanianmu melindungi desamu. Kami mendengar tentang perjalananmu melintasi hutan dan gunung. Kami mendengar tentang pertempuranmu melawan Jenderal Assassin."
"Yang Mulia tahu tentang semua itu?"
"Kami memiliki mata dan telinga di mana-mana. Dunia persilatan adalah dunia yang kecil, Bobon. Semua orang saling terhubung."
Raja Arya turun dari singgasananya dan mendekati Bobon. Dia mengamati Bobon dari dekat, memperhatikan tanda-tanda segel di tubuhnya.
"Tujuh segel," gumam raja. "Seperti yang kukira. Kau memang Pendekar Dewata yang hilang."
"Aku tidak ingat, Yang Mulia. Aku hanya ingat sepuluh tahun terakhir. Itupun hanya sedikit."
"Tidak apa-apa. Ingatanmu akan kembali seiring waktu. Yang penting kau ada di sini sekarang. Kau aman."
Ratu Mawar Kencana mendekat dan memeluk Bobon dengan lembut. "Kau pasti lelah dan lapar. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu."
Mendengar kata makanan, mata Bobon berbinar. "Aku lapar, Yang Mulia."
Ratu tertawa. "Aku tahu. Ayo, ikut aku."
Bobon dibawa ke ruang makan istana. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan. Nasi, daging, ikan, sayuran, buah-buahan, dan kue-kue manis. Bobon tidak bisa menahan diri. Dia langsung menyantap semuanya dengan lahap.
Putri Laras, gadis remaja yang duduk di sampingnya, tersenyum melihat cara makan Bobon. "Kau benar-benar suka makan, ya."
"Suka sekali," jawab Bobon dengan mulut penuh.
"Namaku Laras. Putri bungsu raja. Senang bertemu denganmu."
Bobon menelan makanannya dan tersenyum. "Aku Bobon. Senang bertemu denganmu juga."
"Kau lucu, Bobon. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."
"Orang sepertiku?"
"Orang yang bisa makan sebanyak itu dan masih tetap tersenyum."
Bobon menggaruk kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku hanya suka makan dan tersenyum."
Putri Laras tertawa. Tawanya riang dan menular. Bobon ikut tertawa meskipun tidak mengerti apa yang lucu.
Pangeran Bima, putra mahkota, mendekati Bobon setelah makan. "Aku dengar kau bisa bertarung dengan baik, Bobon."
"Aku tidak tahu, Pangeran. Tubuhku bergerak sendiri."
"Aku ingin melihatnya. Besok pagi, aku akan mengajakmu ke arena latihan. Kau mau?"
Bobon mengangguk. "Mau. Tapi aku harus sarapan dulu."
Pangeran Bima tertawa. "Tentu. Kau bisa sarapan sebanyak yang kau mau."
Sementara itu, Pangeran Sakti, putra kedua raja, memperhatikan Bobon dari kejauhan. Matanya penuh kecurigaan.
"Kau benar-benar percaya dia Pendekar Dewata?" bisik Pangeran Sakti pada ayahnya.
"Tanda segel di tubuhnya tidak bohong," jawab Raja Arya. "Dia adalah Pendekar Dewata."
"Tapi dia hanya bocah gendut yang bodoh. Tidak mungkin dia bisa menyelamatkan kerajaan."
Raja Arya menatap putranya dengan mata tajam. "Jangan menilai buku dari sampulnya, Sakti. Kekuatan sejati tidak selalu terlihat dari penampilan."
Pangeran Sakti mendengus. Dia tidak percaya. Tapi dia diam.
Malam harinya, Bobon diberi kamar yang nyaman di istana. Tempat tidurnya empuk dan bersih. Ada makanan ringan di meja samping tempat tidur. Bobon memakan semuanya sebelum tidur.
Tapi dia tidak bisa tidur. Pikirannya penuh dengan kenangan yang mulai muncul. Wajah-wajah asing. Suara-suara yang tidak dikenal. Rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.
Dia bangkit dan berjalan ke balkon kamarnya. Di bawah, taman istana terlihat indah di bawah sinar bulan. Bunga-bunga bermekaran dan air mancur mengalir lembut.
Bobon memegang kain biru di tangannya. Kain itu sudah menjadi teman setianya. Setiap kali dia merasa takut atau sedih, dia memegangnya dan merasa tenang.
"Kenapa kain ini membuatku tenang?" gumam Bobon.
Dia melihat bayangan di air mancur. Bayangan itu berubah. Sejenak, dia melihat wajah pria tampan dengan rambut panjang dan pedang di tangannya. Pria itu tersenyum padanya.
Lalu bayangan itu menghilang. Bobon mengucek matanya. Mungkin dia mengantuk.
Dia kembali ke tempat tidur dan mencoba tidur. Tapi di dalam tidurnya, dia bermimpi.
Dia bermimpi tentang seorang gadis kecil yang menangis. Gadis itu memanggil namanya. "Bobon, tolong aku!" Gadis itu berlari ke arahnya, tapi setiap kali dia mendekat, gadis itu menjauh.
Dia bermimpi tentang seorang pria tua dengan jubah putih. Pria itu berkata, "Kau harus mengingat, Bobon. Kau harus mengingat siapa dirimu."
Dia bermimpi tentang Nenek Mira. Nenek Mira tersenyum dan berkata, "Aku bangga padamu, Nak. Teruslah berjalan."
Bobon terbangun dengan air mata di pipinya. Dia duduk di tempat tidur dan memandangi langit malam di luar jendela.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan mulai mencari jawaban."
Di pagi hari, Bobon sarapan dengan lahap seperti biasa. Pangeran Bima datang menjemputnya ke arena latihan. Arena itu besar, dengan berbagai senjata tergantung di dinding dan boneka latihan di sudut-sudutnya.
"Aku ingin melihat kemampuan bertarungmu," kata Pangeran Bima. "Kau bisa melawanku."
"Aku tidak mau menyakiti Pangeran."
"Kau tidak akan menyakitiku. Aku sudah berlatih sejak kecil."
Bobon ragu. Tapi Pangeran Bima sudah mengambil pedang kayu dan bersiap.
"Ayo, Bobon. Tunjukkan padaku."
Bobon mengambil pedang kayu juga. Tangannya terasa aneh memegangnya. Seperti ada ingatan di jari-jarinya. Tanpa sadar, dia mengangkat pedang itu dengan posisi yang sempurna.
Pangeran Bima terkejut. "Kau tahu cara memegang pedang."
"Aku tidak tahu. Tanganku bergerak sendiri."
Pangeran Bima menyerang. Gerakannya cepat dan terukur. Tapi Bobon menghindar dengan mudah. Pedang kayunya berputar dan menangkis setiap serangan.
"Luar biasa!" seru Pangeran Bima. "Kau sangat cepat!"
"Aku hanya mengikuti, Pangeran."
Pangeran Bima menyerang lebih keras. Bobon terus menghindar. Dia tidak pernah menyerang balik. Dia hanya bertahan.
"Kenapa kau tidak menyerang?" tanya Pangeran Bima.
"Aku tidak mau menyakiti Pangeran."
"Aku kuat, Bobon. Seranglah!"
Bobon menghela napas. Dia mengayunkan pedangnya perlahan. Tapi pukulan itu mengenai pedang kayu Pangeran Bima dan membuatnya terlempar dari tangan sang pangeran.
Pangeran Bima terkejut. "Kau... kau mendisarmku dengan satu gerakan."
"Maaf, Pangeran. Aku tidak sengaja."
Pangeran Bima tertawa. "Tidak apa-apa! Ini luar biasa! Kau benar-benar Pendekar Dewata!"
Bobon menggaruk kepalanya dengan malu. Dia tidak mengerti mengapa semua orang begitu terkesan.
Tapi di sudut arena, Pangeran Sakti mengamati mereka. Matanya penuh iri dan kemarahan. Dia melihat bagaimana ayahnya memperhatikan Bobon dengan bangga. Dia melihat bagaimana Pangeran Bima memuji Bobon.
"Anak itu akan merebut takhtaku," bisik Pangeran Sakti. "Aku harus melakukan sesuatu."
Pangeran Sakti pergi diam-diam. Dia tidak tahu bahwa Bobon melihatnya pergi. Bobon tidak mengerti apa yang ada di pikiran Pangeran Sakti, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Bobon tidak nyaman.
"Pangeran Sakti," gumam Bobon. "Dia tidak menyukaiku."
Pangeran Bima mendengarnya. "Jangan khawatir tentang Sakti. Dia hanya... iri. Tapi dia bukan orang jahat."
"Aku percaya pada Pangeran."
Malam harinya, Bobon duduk di kamarnya dan memandangi dahi di cermin. Ada tanda aneh di sana. Tanda berbentuk lingkaran dengan garis-garis melingkar.
"Ini segel pertamaku," gumam Bobon. "Nenek Mira bilang segel ini sudah retak total."
Dia menyentuh tanda itu. Rasa hangat menjalar dari ujung jarinya. Tiba-tiba, dia melihat kilasan.
Seorang pria tua dengan jubah putih mengajarinya jurus. "Ingat, Bobon. Kekuatan sejati datang dari hati, bukan dari otot."
Pria itu tersenyum. Lalu tiba-tiba, pria itu berlumuran darah. Tubuhnya robek. Dia jatuh di depannya dan tidak bergerak.
"GURU!"
Bobon berteriak. Dia tersadar dari kilasannya. Air mata mengalir di pipinya. Dia menangis tanpa tahu mengapa.
Tapi sekarang dia tahu. Dia punya guru. Dan gurunya mati.
"Segel pertama," bisik Bobon. "Ini adalah kenangan tentang guruku."
Bobon memeluk lututnya dan menangis. Di luar jendela, bulan bersinar terang. Burung hantu berbunyi di kejauhan.
Tapi di antara tangisannya, ada tekad yang tumbuh. Tekad untuk mengingat semuanya. Tekad untuk menjadi kuat. Tekad untuk melindungi orang-orang yang dicintainya.
"Aku tidak akan menyerah," bisik Bobon. "Aku akan mengingat semuanya. Aku akan menjadi Pendekar Dewata sejati."
Dan di dinding kamarnya, bayangan Bobon berubah. Untuk sesaat, bayangan itu bukanlah bocah gemuk, melainkan seorang pendekar gagah dengan pedang di tangannya.
Pendekar Dewata yang Terlupakan mulai bangkit.