Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlari Tanpa Alas Kaki di Bawah Hujan Deras
Gemuruh guntur membelah langit malam, disusul oleh kilatan petir yang menerangi pelataran Terminal Bus Pasar Turi selama sepersekian detik. Hujan turun semakin beringas, seolah-olah seluruh pasokan air dari langit ditumpahkan sekaligus untuk menenggelamkan kota. Alessa terus memacu kedua kakinya melewati selasar terminal yang mulai sepi. Langkahnya tak beraturan, goyah, dan dipenuhi kepanikan yang mencekik dada.
Namun, petaka baru datang tanpa mengetuk pintu. Saat dia mencoba melompati sebuah kubangan air setinggi mata kaki di dekat trotoar pintu keluar bus, ujung sepatu kanvasnya yang sudah robek tersangkut pada jaring kawat pembatas saluran air yang mencuat tajam.
Srettt!
Tubuh Alessa terjerembab ke depan. Dia jatuh tersungkur di atas aspal jalanan yang kasar dan dingin. Kedua lututnya menghantam permukaan jalan dengan keras, menimbulkan lebam baru seketika. Sialnya lagi, sentakan kasar saat dia jatuh membuat kedua sepatu kanvas tuanya terlepas sepenuhnya, tersangkut di dalam jaring kawat dan langsung tergenang air selokan yang hitam.
Alessa merangkak perlahan, mencoba meraih sepatunya kembali. Namun, dari arah belakang, sayup-sayup di antara deru hujan, dia mendengar suara teriakan Rian yang menggelegar bersama langkah kaki beberapa orang preman yang tampaknya baru saja bergabung untuk mengejarnya.
"Itu dia! Jangan biarkan anak sialan itu lolos! Kejar ke arah gerbang luar!" Raungan Rian terdengar begitu dekat, mungkin hanya berjarak lima puluh meter di belakangnya.
Panik melumpuhkan akal sehatnya selama satu detik. Alessa tahu dia tidak punya waktu untuk membebaskan sepatunya dari jeratan kawat. Jika dia berhenti selama sepuluh detik saja, rantai besi preman pelabuhan akan langsung mengunci lehernya. Dengan keputusan darurat yang lahir dari insting bertahan hidup yang liar, Alessa meninggalkan sepatu kanvasnya begitu saja di dalam kubangan.
Dia berdiri kembali. Dan kini, Alessa berlari tanpa alas kaki.
Kedua telapak kakinya yang polos langsung bersentuhan dengan dinginnya aspal jalanan malam yang kasar dan tajam. Setiap kali kakinya menghentak bumi, kerikil-kerikil jalanan, pecahan kaca kecil, dan kasarnya permukaan aspal terasa menusuk langsung ke dalam daging telapak kakinya. Rasa sakitnya luar biasa instan, menjalar naik melewati betis hingga membuat lututnya gemetar.
Namun, rasa sakit di telapak kakinya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan neraka yang sedang membakar punggungnya. Guncangan akibat berlari kencang tanpa redaman alas kaki membuat balutan kain gorden di dadanya terus bergeser secara agresif. Kain itu, yang kini sudah basah kuyup oleh campuran air hujan dan darah, bertindak laksana ampelas kasar yang terus-menerus menggosok luka sabetan baru di atas luka lamanya yang belum kering. Darah segar kembali merembes, mengalir turun ke pinggang, menembus serat-serat kemeja biru pudar milik mendiang ayahnya hingga warna birunya berubah menjadi merah gelap yang mengerikan di bawah siraman lampu merkuri.
Setiap tarikan napas Alessa terasa laksana menghirup serpihan kaca. Rusuk kirinya yang tadi terkena tendangan sepatu bot Rian berdenyut sangat kencang, membatasi volume udara yang bisa masuk ke paru-parunya. Pandangannya mulai buram, bukan hanya karena air hujan yang terus menghantam wajahnya, tetapi karena vertigo hebat kembali menyerang kepalanya. Bumi terasa berputar miring, dan langkah kakinya mulai sempoyongan ke kanan dan ke kiri laksana orang mabuk.
Kesedihan yang teramat mendalam kembali datang merayapi jiwanya yang compang-camping di bawah guyuran hujan deras. Dia merasa seperti seonggok sampah yang sedang dibuang oleh takdir. Berlarian di tengah malam, tanpa alas kaki, dikejar oleh kakak kandung sendiri, berdarah-darah, dan tidak tahu harus menuju ke mana. Kehilangan figur orang tua terasa seribu kali lebih menyakitkan malam ini.
“Ibu... Ayah... Alessa sakit banget,” ratap batinnya, air matanya menyatu dengan air hujan yang mengalir di pipinya yang lebam. “Kenapa jalan yang harus aku lewati sesakit ini? Apa salah Alessa sampai harus berlari bertelanjang kaki di atas aspal dingin ini hanya untuk menyambung nyawa?”
Amarah yang pekat ikut membakar dadanya. Amarah kepada dunia yang tidak pernah berpihak padanya, amarah kepada Rian yang telah merampas seluruh martabat kemanusiaannya, dan amarah kepada takdir yang memperlakukannya sekejam ini. Rasa frustrasinya telah mencapai batas tertinggi; dia ingin sekali berhenti, merebahkan tubuhnya di atas aspal, dan membiarkan air hujan menghanyutkannya sampai mati.
Tetapi, tepat ketika mentalnya berada di ambang kehancuran total dan fisiknya hampir menyerah pada gravitasi, sekring komedi tragis di dalam otaknya kembali memercikkan api gaib. Mekanisme pertahanan psikologis sarkasme radikal miliknya mengambil alih kemudi kesadaran, mengunci paksa pusaran depresi yang melumpuhkan itu.
Alessa terus mengayunkan kaki telanjangnya yang kini mulai mati rasa akibat dingin dan luka goresan kerikil. Dia mendengus parau di tengah napasnya yang tersengal-sengal. sebuah tawa getir nan gila lolos dari tenggorokannya yang kering.
"Hebat... bener-bener estetik," bisik Alessa pada dirinya sendiri dengan nada suara yang dipaksakan datar penuh ironi. "Sekarang gue resmi naik level dari protagonis drama menderita menjadi aktris film aksi laga kasta rendah. Berlari tanpa alas kaki di bawah hujan deras... Kurang totalitas apa lagi coba gue malam ini? Ini kalau ada produser film Hollywood yang lihat, mereka pasti langsung kontrak gue buat jadi pemeran utama film Die Hard versi kearifan lokal."
Dia meringis saat telapak kaki kirinya menginjak sebuah kerikil tajam yang langsung merobek kulit tipisnya, meninggalkan jejak darah yang langsung terbasuh air hujan.
"Aduh! Porco diavolo! Kerikilnya gak punya sopan santun banget," umpat Alessa dalam bahasa Italia, matanya melotot menahan linu. "Ini aspal kota bener-bener kaya akan tekstur alami ya. Ada sensasi pijat refleksi kuno bercampur terapi tusuk jarum gratis dari alam semesta. Bedanya, kalau pijat refleksi biasa bikin sehat, yang ini bikin gue selangkah lebih dekat menuju pintu gerbang rumah sakit jiwa."
Sarkasme konyol itu, meskipun terdengar gila di tengah situasi hidup dan mati, adalah satu-satunya cara Alessa untuk tetap sadar. Dengan menertawakan kemalangannya, dia menolak untuk diposisikan sebagai korban yang lemah. Dia mengubah rasa sakitnya menjadi bahan lelucon internal, sebuah bukti bahwa jiwanya yang merdeka tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh balok kayu Rian maupun kekejaman aspal terminal.
Namun, suara langkah kaki di belakangnya kembali merenggut fokusnya. Rian dan para preman itu tampaknya mulai kesulitan mengejarnya karena terminal yang luas dan gelap, namun mereka belum menyerah. Suara teriakan mereka masih terdengar di kejauhan, menggema di antara deru mesin bus-bus malam yang mulai bergerak keluar dari peron.
"Uang... uang dari Ko Alung," ingat Alessa tiba-tiba.
Sambil tetap berlari dengan kaki telanjang yang berlumuran darah dan lumpur, tangan kanan Alessa meraba saku kemeja biru pudarnya. Jemarinya menyentuh bungkusan plastik kecil berisi seikat uang tunai itu. Uang itu masih ada di sana, aman dari basahan air hujan. Keberadaan uang itu memicu kembali sisa-sisa tekad dingin di dalam matanya.
"Gue harus dapet bus malam ini. Gue harus keluar dari kota ini sekarang juga," tegas Alessa dalam hati.
Dia mengarahkan pandangannya ke depan. Di ujung pelataran terminal, sebuah bus malam kelas ekonomi dengan lampu ekonomi berwarna kuning redup sedang berjalan lambat menuju gerbang keluar. Di kaca depannya, tertera papan trayek tujuan kota metropolitan terbesar di pulau itu: Jakarta. Bus itu adalah kesempatan terakhirnya.
Alessa mempercepat larinya, mengabaikan seluruh sinyal bahaya yang dikirimkan oleh sistem saraf di telapak kaki, rusuk, dan punggungnya. Setiap langkahnya kini murni digerakkan oleh silsilah adrenalin dan keinginan mutlak untuk bebas. Kain gorden di punggungnya sudah terasa sangat lengket oleh darah, dan kemeja biru pudarnya kini menempel ketat di kulitnya yang terluka, namun Alessa terus melesat menembus tirai hujan laksana hantu malam yang memburu cahaya.
"Pak! Tunggu, Pak!" teriak Alessa dengan sisa suara parau yang dimilikinya. Suaranya tenggelam dalam deru mesin diesel bus dan hantaman hujan, namun dia tidak berhenti melambaikan tangannya yang gemetar.
Kernet bus yang berdiri di pintu belakang yang terbuka samar-samar melihat siluet seorang gadis berantakan yang berlari mengejar bus tanpa alas kaki, dengan baju yang bernoda merah gelap di bawah siraman hujan. Sang kernet terbelalak panik, mengira melihat penampakan makhluk halus, namun saat melihat gerakan tangan Alessa yang panik, dia menyadari itu adalah manusia hidup yang sedang dalam kondisi darurat.
"Sopir! Sopir! Rem sebentar! Ada penumpang nekat di belakang!" teriak kernet itu sambil memukul bodi bus dua kali.
Cisss!
Suara rem angin bus berbunyi nyaring. Bus ekonomi itu berhenti tepat beberapa meter sebelum gerbang keluar terminal. Pintu belakangnya terbuka sedikit lebih lebar.
"Ayo cepat, Mbak! Cepat naik!" seru kernet itu sambil mengulurkan tangannya ke luar pintu.
Alessa mengerahkan seluruh sisa kekuatan kosmik di dalam otot kakinya untuk melakukan lompatan terakhir. Telapak kakinya yang telanjang dan terluka menghantam tangga besi bus yang kasar dan dingin. Dia meraih tangan kernet itu dengan genggaman yang sangat kencang, lalu menarik tubuh ringkihnya naik ke dalam kabin bus.
Begitu kedua kakinya menapak di atas lantai karet bus yang kotor, kekuatan Alessa seolah lenyap seketika. Dia ambruk terduduk di atas lantai di dekat lorong kursi belakang, napasnya memburu laksana lokomotif tua yang kehabisan bahan bakar. Sekujur tubuhnya basah kuyup, meninggalkan genangan air bercampur noda merah darah di lantai bus.
"Astaga, Mbak... Kamu kenapa? Kok berdarah-darah begini? Sepatunya mana?!" tanya kernet itu dengan wajah pucat pasi melihat kondisi Alessa yang sangat mengenaskan—wajah lebam coret-moret, baju basah kuyup bernoda darah, dan sepasang telapak kaki polos yang dipenuhi luka robek serta lumpur hitam.
Alessa tidak segera menjawab. Dia menoleh ke belakang melalui kaca jendela belakang bus yang buram karena uap air. Di luar sana, di bawah guyuran hujan deras di dekat gerbang terminal, dia melihat siluet Rian dan dua orang preman pelabuhan baru saja sampai di gerbang. Mereka berdiri tegak di bawah hujan, menatap ke arah bus yang mulai berjalan maju kembali. Rian menghantamkan balok kayunya ke tiang listrik dengan frustrasi gila, menyadari bahwa buruannya telah lolos dari cengkeramannya tepat di detik terakhir.
Melihat pemandangan itu, rasa lega yang luar biasa masif seketika mengalir ke seluruh sudut hati Alessa, meruntuhkan seluruh ketegangan yang mengikatnya sepanjang hari. Pelariannya tanpa alas kaki di bawah hujan deras telah membuahkan hasil. Dia telah berhasil menghancurkan neraka buatan kakaknya.
Topeng sarkasme Alessa kembali terpasang untuk terakhir kalinya di malam berdarah itu. Dia mendongak menatap kernet bus yang masih berdiri kebingungan di depannya. Dengan tangan yang gemetar, Alessa meraba saku kemeja biru pudarnya, mengeluarkan seikat uang tunai dari Ko Alung, lalu menyerahkannya pada kernet tersebut.
Sebuah senyuman kaku, namun kali ini memancarkan kebebasan yang mutlak, muncul di sudut bibirnya yang pecah.
"Kagak apa-apa, Mas..." desis Alessa dengan suara parau yang tersengal-sengal. "Ini... ini cuma konsep tren fasyun terbaru dari Italia Utara, Mas. Namanya gaya Barefoot Gorden Berdarah Edisi Darurat. Memang agak ekstrem penampilannya, tapi dijamin anti-mainstream dan bikin semua orang di terminal pada melongo. Ini ongkosnya ke Jakarta, tolong ambil saja kembaliannya buat beli kopi."
Kernet bus itu melongo menatap uang di tangannya, lalu menatap Alessa yang kini mulai memejamkan matanya perlahan karena vertigonya telah mencapai batas maksimal. Bus malam itu terus bergerak maju, meninggalkan lampu-lampu Terminal Pasar Turi dan bayangan gila Rian di belakang, membawa Alessa melaju menembus kegelapan malam menuju selembar halaman baru dalam buku takdirnya yang masih misterius.