"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Mendapat Pekerjaan
Kenan menyandarkan punggungnya di kursi, lalu mengembuskan napas panjang. Tatapannya menerawang, mengingat kembali jawaban yang diberikan Alena saat wawancara.
"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Pak. Tapi, saya bisa menjamin bahwa saya melamar di perusahaan ini karena saya benar-benar membutuhkan pekerjaan. Mungkin, saya bisa meminta posisi di perusahaan suami saya, tetapi saya memiliki alasan sendiri mengapa saya tidak melakukannya. Dan, saya mohon maaf karena tidak bisa menjelaskan alasannya karena itu adalah urusan pribadi."
Doni yang berdiri di depan meja akhirnya membuka suara.
"Semua sudah saya lakukan sesuai instruksi Anda, Tuan. Jadi, apakah Anda akan menerima Nona Alena bekerja di perusahaan ini?"
Kenan kembali menghela napas. "Aku belum tahu," jawabnya pelan.
"Tapi, dari yang saya lihat, sepertinya Nona Alena memang tidak memiliki maksud tertentu. Atau... jangan-jangan masalah pribadinya berhubungan dengan perselingkuhan suaminya?"
Kenan mengangkat pandangannya.
Ya, kemungkinan besar memang itu alasannya. Namun, ia tetap penasaran. Ada sesuatu dalam diri Alena yang membuatnya ingin tahu lebih jauh. Tidak mungkin wanita itu bekerja hanya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.
"Tuan, saya masih tidak mengerti," ujar Doni lagi. "Kenapa Anda sampai repot-repot melakukan semua ini?"
Kenan meliriknya dengan tatapan datar. "Karena aku tidak suka berutang budi."
"Kalau begitu, beri saja dia uang. Bukankah itu lebih mudah?"
"Ck." Kenan mendecakkan lidah. "Tidak semudah itu. Kemarin, dia bahkan mengira aku pria miskin hanya karena melihatku memakai seragam sampel pekerja lapangan."
Doni langsung menahan tawanya. "Benarkah, Tuan?"
Tatapan tajam Kenan membuat senyum di wajah Doni seketika menghilang.
"Saya hanya bercanda," ucapnya cepat.
Kenan kembali menyandarkan tubuhnya. "Entahlah. Aku bahkan sempat meragukan kalau dia benar-benar istri Arsen karena tidak mengenalku."
Ia terdiam sejenak, teringat kejadian kemarin. Saat itu, Alena justru menyuruhnya menggunakan uangnya untuk biaya pengobatan sang kakek daripada menghabiskannya di restoran mahal.
Mengingat hal itu, tanpa sadar sudut bibir Kenan terangkat membentuk senyum tipis.
"Baju sampel itu ternyata cukup berguna untuk melihat sifat asli seseorang," gumamnya pelan.
Doni mengernyit. "Maksud Anda?"
Kenan menggeleng kecil. "Tidak ada."
Ia lalu merapikan posisi duduknya sebelum kembali menatap Doni. "Sepertinya, aku sudah menemukan posisi yang cocok untuk Alena."
"Maksud Anda, dia diterima?"
"Segera hubungi dia dan katakan, dia diterima bergabung dengan perusahaan kita."
Wajah Doni langsung berbinar. "Baik, Tuan."
***
Alena pulang dengan langkah gontai. Tidak ada lagi semangat yang tadi pagi memenuhi dirinya saat berangkat untuk wawancara.
Awalnya, ia begitu percaya diri dan yakin kali ini akan berhasil. Namun, ketika pihak pewawancara mulai menanyakan tentang suaminya, harapannya perlahan runtuh. Ia kembali merasa bahwa dirinya pasti akan ditolak.
Begitu memasuki rumah, Alena berniat langsung menuju kamar dan beristirahat. Namun, langkahnya terhenti saat suara tajam Hana terdengar dari ruang tengah.
"Wah, wah, wah... Hebat sekali kamu, Alena. Sudah hampir sore baru pulang."
Nada sindiran itu membuat Alena mengembuskan napas pelan. Ia memilih untuk tidak menanggapi dan kembali melangkah.
"Tunggu!" bentak Hana. "Mama belum selesai bicara!"
Alena menghentikan langkahnya. Dengan wajah lelah, ia berbalik menatap mertuanya.
"Ada apa lagi, Ma? Aku lelah dan ingin istirahat."
"Lelah?" Hana mengulang dengan nada mengejek. "Memangnya, apa yang kamu lakukan di luar sana? Kamu sudah mengabaikan keluargamu, mengabaikan tugasmu sebagai istri. Apa kamu ingin membuat nama baik Arsen hancur?"
Senyum sinis terbit di bibir Alena.
Kali ini, ia tidak berniat lagi berpura-pura menjadi menantu yang penurut. Terlebih, Hana kini terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Lalu, Mama maunya apa?" tanya Alena datar. "Arsen sudah dewasa. Apa dia tidak bisa menyiapkan semuanya sendiri?"
"Kamu...!"
"Lagipula, ini baru pertama kalinya aku tidak membantunya bersiap, bukan? Kenapa Mama bicara seolah-olah aku selalu mengabaikan tugasku?"
Wajah Hana memerah karena marah. "Kamu benar-benar keterlaluan!" desisnya. "Lihat saja nanti! Mama akan menyuruh Arsen menceraikan mu."
"Silakan!"
Jawaban singkat itu membuat Hana terdiam.
Alena menatap mertuanya tanpa gentar. "Asal Mama tahu, perusahaan Arsen dibangun dengan uangku. Jika aku mau, aku bisa meminta semuanya kembali, lengkap dengan bunganya. Dan rumah ini..." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "akan menjadi milikku."
Hana melotot tidak percaya. "Kamu benar-benar sudah gila, Alena!"
Alena hanya tersenyum tipis. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan kembali melangkah menuju kamarnya tanpa takut dengan ancaman mertuanya karena ia tahu, keluarga itu tidak takut kehilangan dirinya. Tapi, mereka hanya takut kehilangan harta dan jatuh miskin.
Sementara itu, Hana menggeram kesal. Dengan gerakan cepat, ia meraih ponselnya dan segera menghubungi Arsen.
Tidak lama kemudian, panggilannya tersambung.
"Halo, Ma. Ada apa? Kenapa menelepon?" tanya Arsen dari seberang sana.
"Arsen, ini gawat! Alena benar-benar sudah berubah," seru Hana dengan nada panik, membuat Arsen langsung mengernyit.
"Memangnya, ada apa?"
"Mama hanya menegurnya karena baru pulang di jam seperti ini. Tapi, dia berani membantah dan melawan Mama. Bahkan, saat Mama mengancam akan menyuruhmu menceraikannya, dia sama sekali tidak takut."
"Apa?" Arsen tersentak.
"Iya! Dia berbeda sekali dari Alena yang dulu. Dia bahkan mengatakan kalau rumah ini akan menjadi miliknya dan menuntut uang yang dipakai untuk membangun perusahaan, lengkap dengan bunganya."
Untuk beberapa saat, Arsen terdiam.
"Mama tenang dulu. Nanti aku akan bicara dengannya."
"Baiklah. Kamu harus segera menyadarkannya, Arsen. Mama khawatir dia benar-benar kehilangan akal."
"Aku mengerti."
Panggilan pun berakhir.
Hana menurunkan ponselnya dan menatap ke arah lantai atas, tepat ke kamar Alena berada.
"Huh, berani sekali melawanku," gumamnya sambil mendengus kasar.
Sementara itu, Alena yang baru saja masuk ke kamar langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Aku harus mencari pekerjaan di mana lagi?" gumamnya lirih.
Ia memejamkan mata. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai pikiran dan kekhawatiran.
Tiba-tiba, suara dering ponsel mengejutkannya. Ia menghela napas dan, meraih tasnya dengan gerakan malas. Dia lalu mengambil ponsel yang terus berdering.
"Halo?" sapa nya pelan.
"Halo, Nona Alena. Saya dari bagian HRD WIN Group."
Alena langsung membuka matanya.
"Kami menghubungi Anda untuk menyampaikan bahwa Anda diterima bekerja di perusahaan kami."
Seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Alena refleks bangun dan duduk tegak.
"A-apa? Saya... diterima?" tanyanya terbata-bata.
"Iya, Nona. Selamat bergabung dengan keluarga besar WIN Group."
Beberapa detik, Alena hanya terdiam. Dadanya berdebar kencang, sementara matanya perlahan memanas.
Ia benar-benar diterima.
"Terima kasih. Terima kasih banyak," ucapnya dengan suara bergetar.
"Sama-sama, Nona. Besok pagi pukul delapan, silakan datang untuk menandatangani kontrak kerja dan memulai orientasi."
"Baik. Saya akan datang tepat waktu."
Setelah panggilan berakhir, Alena masih memandangi layar ponselnya dengan tak percaya.
Perlahan, senyum lebar terukir di wajahnya dan merasa hidupnya kembali memiliki secercah harapan.
Tanpa sadar, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
"Aku berhasil," bisiknya pelan. "Aku akhirnya mendapatkan pekerjaan."
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...