Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Aliansi Karyawan Pembuat Boncos
Budiman menoleh ke arah Anto. Sebuah senyum iblis perlahan terukir di sudut bibirnya.
"Anto," panggil Budiman, suaranya terdengar berat dan berwibawa.
"Iya, Da?"
"Kamu kan sudah menjadi suami dari adik Uda. Berarti kamu harus bertanggung jawab pada Imar. Jadi, mulai hari ini, Uda resmi mengangkatmu menjadi General Manager Utama Operasional Seluruh Cabang Budiman Mart!"
Anto langsung melongo, "G-General ... apa itu, Da? Semacam jenderal perang?"
"Lebih tinggi dari itu! Kau yang mengatur segalanya!" Budiman menepuk bahu Anto dengan penuh rencana.
"Dan untuk itu, Uda akan memberi gaji, Satu Juta Rupiah per hari! Langsung dibayar tunai tiap malam dari kas toko!"
"HAH?! SATU JUTA SEHARI, DA?!" Pekik Anto parau, matanya mendadak melotot seukuran jengkol matang.
"Ondeh ... ambo bisa beli motor Ninja cash tiap dua bulan itu, Da!"
Elimar di sampingnya langsung mencubit lengan Anto sambil ikut kegirangan.
Budiman tertawa jahat dalam batinnya. "Tidak hanya itu, Imar juga begitu pandai dalam perancangan dan perencanaan, Imar langsung Uda jadikan Asisten Manager Anto. Nanti gajinya kita sama ratakan," ucap Budiman lebih bersemangat lagi.
'Hahaha! Gaji enam puluh juta sebulan buat dua karyawan gak berguna! Belum lagi biaya lainnya! Pengeluaran tetap awak, pasti akan langsung boncos!'
Namun, langkah pertama Budiman bukan cuma mengangkat kedua adiknya itu sebagai karyawan. Ia juga harus segera membuka lowongan kerja secara kilat untuk toko utamanya ini dengan kriteria teraneh dalam sejarah ritel modern:
Dicari calon karyawan yang paling pemalas dan paling tidak ramah lingkungan.
Hanya dalam waktu beberapa jam, Budiman berhasil menyaring dua kandidat "terbaik" yang diyakininya akan menjadi senjata pemusnah massal bagi reputasi Budiman Mart.
Karyawan pertama untuk bagian floor staff bernama Nana. Badannya subur, berwajah sangar tanpa senyum, dan memiliki bakat alami mengintimidasi orang.
Sejak menit pertama bekerja, tugas Nana hanya duduk di kursi plastik dekat rak sambil mengunyah kuaci. Kalau ada pembeli yang bertanya di mana letak barang, Nana akan melotot dan membentak.
"Punya mata ya dipake! Cari sendiri! Jangan manja!"
Karyawan kedua untuk bagian kasir bernama Roni. Hobinya adalah tidur. Roni bisa tidur dalam posisi apa pun yaitu saat berdiri, duduk, bahkan sambil memegang barcode scanner. Bahkan, ia tidak akan sadar saat gempa besar melanda ketika ia tidur.
Budiman berdiri di sudut toko, menatap kedua karyawan barunya dengan kepuasan yang hakiki.
'Hahaha! Sempurna! Ada kasir hobi tidur yang kalau laci uangnya dicuri pun dia ndak bakal sadar, ditambah staf galak yang siap memaki setiap pelanggan! Siapa yang sudi belanja di sini lagi?!' batin Budiman menari-nari girang.
Namun, dunia internet memang sudah gila.
Hanya dalam waktu satu hari, seorang TokToker lokal dengan pengikut jutaan iseng berbelanja ke Budiman Mart. Dia merekam momen saat dibentak oleh Nana dengan tulisan: "Kalian punya nyali? Cobain belanja di Budiman Mart, adu adrenalin sama Kak Nana, Ras Terkuat di Bumi!"
Video itu meledak gila-gilaan! Dalam hitungan jam, tagar #AduAdrenalinKakNana viral nasional.
Bukannya sepi, Budiman Mart malah mendadak berubah menjadi arena uji nyali bagi para kreator konten. Ratusan anak muda berbondong-bondong datang memadati toko, sengaja menanyakan barang-barang aneh hanya demi mendapatkan semprotan amarah dari Nana.
Semakin keras Nana membentak, semakin girang para TokToker itu merekamnya sambil tertawa-tawa.
Sementara itu, di meja kasir, antrean pembeli mengular panjang menunggu Roni yang sedang mendengkur pulas. Alih-alih marah karena dicuekin, netizen malah menganggap itu bagian dari "tantangan belanja."
Mereka dengan sukarela memindai sendiri barang belanjaan mereka, menghitung totalnya sendiri, lalu meletakkan uang tunai pas di samping kepala Roni yang sedang mengorok, bahkan beberapa kali melebihkan uang kembalian sebagai "uang tips" karena kasihan melihat Roni yang tampak kelelahan.
[ Ding! ]
[ Strategi 'Customer Experience Unik' Berhasil! Toko Utama Mengalami Lonjakan Omzet 300%! ]
[ Saldo Kas Toko Utama Meningkat Drastis! ]
Budiman nyaris menggigit meja kasir melihat lautan manusia yang memenuhi tokonya demi mendapat makian Nana.
'Awak cari orang pemarah biar kedai jadi sepi, kenapa kalian malah ketagihan dimaki-maki?! Dasar netizen gilo!' jerit Budiman frustrasi di dalam hati.
Melihat toko utama malah makin makmur, Budiman langsung mengalihkan fokusnya ke rencana cadangan yang jauh lebih ekstrem: Ekspansi Cabang Baru.
"Anto! Elimar! Sini kalian!" panggil Budiman dengan napas memburu, memanggil Manajer baru beserta asistennya ke ruang tengah.
"Iya, Da? Ada perintah perang baru?" tanya Anto yang sekarang selalu memakai kacamata hitam di dalam ruangan berkat gaji satu juta sehari.
"Kita tidak boleh cuma fokus di kampung ini. Menggunakan dana konversi emas dan kebun sawit kemarin, kita langsung buka Dua Cabang Sekaligus di Kota Padang!" tegas Budiman, matanya berkilat-kilat penuh ambisi kehancuran.
"Dan Uda sendiri yang sudah menentukan lokasinya setelah riset paling terkutuk eh maksud Uda paling hebat sejagat raya!"
Elimar langsung membuka buku tulisnya, bersiap mencatat.
"Cabang Kedua," Budiman mengetuk peta di layar ponselnya. "Akan kita bangun tepat di tengah-tengah Area Pekuburan China di kaki Gunung Padang!"
"Ha? Di pekuburan Tionghoa, Da? Siapa yang mau belanja malam-malam ke sana? Setan?!" Anto merinding, kacamata hitamnya hampir merosot.
"Biarin! Konsepnya swalayan mistis! Jangan membantah!" gertak Budiman. Dalam hati, dia bersorak kegirangan.
'Mana ada manusia waras yang mau mendaki kompleks pemakaman gelap gulita cuma buat beli sabun cuci piring atau mi instan! Cabang ini pasti zonk dan pasti akan bangkrut total!'
"Lalu Cabang Ketiga di mana, Da?" tanya Imar dengan tangan agak gemetar.
"Cabang Ketiga, kita bangun di Atas Bukit kawasan Sitinjau Lauik yang kemarin habis dihantam jalur banjir bandang dan tanah longsor!" jawab Budiman dengan senyum kemenangan yang tak bisa disembunyikan.
Suasana ruangan mendadak hening seketika. Anto meneguk ludah, bulu kuduknya berdiri.
"Uda ... di sana kan medannya ekstrem sekali? Jalannya curam, tanahnya masih labil dan rawan longsor susulan bekas bencana kemarin."
"Buat membawa semen, pasir, sama besi pondasi ke atas sana saja, biaya transportasi dan logistiknya bisa bengkak lima sampai sepuluh kali lipat, Da! Belum lagi kalau akses jalannya putus lagi karena hujan!"
Budiman hampir saja kelepasan melompat dan memeluk Anto saking bahagianya.
'Justru itu yang awak cari, Anto! Medannya mustahil! Aksesnya sulit dijangkau! Biaya pembangunan bakal meledak gila-gilaan hanya untuk bikin pondasi penahan longsor!'
'Hahaha, uang bermiliar-miliar dari Sistem bakal amblas tertimbun batu dan tanah longsor sebelum tokonya bahkan sempat berdiri dan menjual satu butir telur pun!'
"Kau ndak usah banyak protes, Anto! Tugas seorang General Manager bergaji satu juta sehari adalah melaksanakan perintah tanpa tapi!" hasut Budiman dengan wajah yang dibuat seolah-olah penuh ketegasan mulia.
"Biaya mahal bukan masalah bagi Budiman Mart! Yang penting kita membantu menggerakkan roda ekonomi dan membuka lapangan kerja di daerah yang ekstrem dan terisolasi!"
Anto langsung terenyuh. Matanya mendadak berkaca-kaca menatap abang iparnya yang dia anggap sangat berjiwa sosial tinggi.
"Ondeh ... Uda Budiman beneran malaikat tak bersayap. Rela rugi miliaran rupiah demi membangun daerah bekas bencana dan menghidupkan suasana kuburan ... Siap, Da! Besok Ambo langsung sewa ekskavator, buldozer, dan ratusan kuli angkut buat hantam itu bukit dan kuburan!"
Begitu Anto dan Elimar keluar dari ruangan dengan semangat membara untuk menghamburkan uang modal, Budiman langsung bersandar di dinding kamar sambil tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.
‘Hahaha! Toko utama diurus kasir pelor dan staf galak harusnya hancur, tapi taruhlah kalau netizen masih gila, dua cabang baru ini pasti akan menguras habis semua modal awak!'
'Cabang kuburan sepi pembeli! Cabang atas bukit hancur dimakan medan ekstrem! Ditambah gaji Anto dan Elimar yang terus mengalir tiap malam! Sistem sialan ... kali ini kau tidak akan punya celah lagi buat bikin awak untung!'
'Bersiaplah mentransfer kompensasi kerugian 650 miliar milikku pengganti 25miliar yang hilang! Hahaha!’
Namun, tepat di tengah tawa jahat Budiman yang menggema di dalam ruangan, layar hologram biru di depannya mendadak berkedip-kedip merah dengan intensitas cepat, memunculkan sebuah logo baru bermotif tameng emas yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
[ Ding! ]
[ Sistem mendeteksi rencana ekspansi agresif Pengguna di area 'Low-Competition, High-Aesthetic' (Pekuburan China) dan 'Zona Stimulus Pembangunan Pasca-Bencana Pemprov' (Atas Bukit). ]
[ Mengalkulasi potensi dampak sosial dan lingkungan ... ]
[ Protokol 'Kearifan Lokal, Dark Tourism, dan CSR Korporat Skala Nasional' RESMI DIAKTIFKAN! ]
"Hah? Protokol Dark Tourism apa lagi itu?! Woi, Sistem! Jangan main-main kau ya!" Budiman mendadak merinding, firasatnya langsung anjlok bebas ke tingkat yang paling dasar.
[ bersambung ]