NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Great Tomb of Nazarick. Lantai Sepuluh. Ruang kerja Demiurge.

Meja kayu besar di tengah ruangan dipenuhi tumpukan dokumen, peta, dan catatan keuangan yang mulai menguning di bagian tepinya. Lilin-lilin di atas kandil tembaga menyala redup, membuat bayangan di dinding batu bergerak perlahan mengikuti tarian api. Udara di ruangan itu terasa hangat, jauh berbeda dari lorong-lorong Nazarick yang dingin dan lembap. Demiurge menyukai kehangatan karena membantunya berpikir lebih jernih.

Iblis itu duduk di kursi bersandaran tinggi sambil menatap lembaran perkamen di hadapannya. Jari-jarinya yang berkuku tajam menekan laporan berisi angka-angka defisit yang terus membengkak. Mata merahnya tidak berkedip sedikit pun.

Konsumsi scroll meningkat tiga puluh persen dalam dua minggu terakhir.

Persediaan potion penyembuhan yang biasanya cukup untuk tiga bulan kini diperkirakan hanya bertahan dua minggu lagi.

Belum lagi biaya pemanggilan monster penjaga otomatis yang terus menguras cadangan emas YGGDRASIL dengan kecepatan yang semakin sulit diterima akal.

Demiurge mendorong kacamatanya pelan. Kilatan cahaya sesaat memantul dari lensa bundar yang dikenakannya.

"Ini tidak bisa dibiarkan berlanjut," gumamnya.

Ia menarik selembar perkamen kosong lalu mulai menulis. Pena di tangannya bergerak cepat, mengisi lembaran itu dengan angka, diagram, dan berbagai perhitungan yang tersusun rapi dalam bahasa iblis yang hanya dipahami segelintir penghuni Nazarick.

Judul yang ditulisnya berada tepat di bagian atas.

Proyek Pemanenan Massal.

Target: sepuluh persen populasi manusia di negara-negara aliansi.

Lokasi prioritas: Holy Kingdom.

Alasan: konflik internal yang sedang berlangsung akan mempermudah operasi dan mengurangi risiko terdeteksi.

Metode: penculikan malam hari menggunakan Shadow Demon dan unit infiltrasi lainnya.

Hasil yang diharapkan: bahan baku dalam jumlah besar untuk produksi scroll dan potion guna menutup defisit logistik selama tiga bulan ke depan.

Setelah selesai, Demiurge meletakkan penanya.

Ia membaca ulang seluruh isi proposal tersebut dengan teliti. Tidak ada kesalahan angka. Tidak ada perhitungan yang meleset. Semua kemungkinan sudah diperhitungkan dan disesuaikan dengan kondisi Nazarick saat ini.

Namun satu pertanyaan tetap mengganggunya.

Apakah Ainz-sama akan menyetujui rencana ini?

Tuannya tidak pernah menyukai tindakan brutal yang dilakukan tanpa alasan yang jelas.

Meski begitu, bukankah alasan kali ini cukup jelas?

Mempertahankan Nazarick adalah prioritas utama.

Tanpa sumber daya, pertahanan akan melemah.

Jika pertahanan melemah, ancaman terhadap Nazarick akan meningkat.

Dan jika Nazarick sampai terancam...

Demiurge tidak melanjutkan pikirannya.

Ia berdiri, merapikan dokumen-dokumen di atas meja, lalu melipat proposal itu dengan hati-hati hingga menjadi persegi kecil yang pas di telapak tangannya.

Sudah waktunya meminta keputusan dari Ainz-sama.

Di Ruang Takhta Nazarick, Ainz duduk di Throne of Kings dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Cahaya merah di rongga matanya menatap Demiurge yang berdiri tegak di hadapannya sambil membawa proposal tersebut.

Beberapa Shadow Demon berdiri diam di sudut ruangan, nyaris menyatu dengan bayangan di balik pilar-pilar batu. Mereka tidak bergerak dan tidak bersuara, hanya mengawasi.

"Ainz-sama," kata Demiurge sambil membungkuk hormat. "Hamba ingin menyampaikan usulan terkait krisis logistik yang sedang kita hadapi."

Ainz mengangguk pelan.

"Lanjutkan."

Demiurge membuka lipatan perkamen dan mulai menjelaskan.

"Konsumsi sumber daya Nazarick meningkat drastis sejak status kewaspadaan tertinggi diberlakukan. Scroll, potion, dan biaya pemanggilan unit penjaga otomatis telah menguras perbendaharaan dengan kecepatan yang tidak berkelanjutan."

Ia berhenti sesaat untuk mengamati reaksi tuannya.

Tidak ada perubahan.

"Hamba telah melakukan perhitungan. Jika situasi ini terus berlanjut tanpa perubahan strategi, cadangan emas YGGDRASIL diperkirakan akan habis dalam waktu empat puluh hari."

Ainz tetap diam.

Hanya cahaya merah di rongga matanya yang berdenyut perlahan.

"Hamba memiliki sebuah solusi."

Dengan suara tenang dan terukur, Demiurge mulai memaparkan rencananya. Nada bicaranya terdengar seperti seorang akademisi yang sedang menyampaikan hasil penelitian, bukan seorang iblis yang mengusulkan penculikan massal.

Ia menjelaskan target operasi, wilayah prioritas, metode infiltrasi, hingga estimasi hasil yang akan diperoleh.

"Operasi akan dilakukan pada malam hari di daerah yang minim pengawasan. Konflik internal Holy Kingdom akan menyulitkan pihak setempat untuk mendeteksi aktivitas kami. Shadow Demon akan dibagi ke dalam unit-unit kecil dan ditugaskan di desa maupun pemukiman pinggiran."

Ia melanjutkan tanpa ragu.

"Dengan satu operasi skala besar, Nazarick dapat memperoleh bahan baku yang cukup untuk memproduksi scroll dan potion dalam jumlah besar. Berdasarkan perhitungan hamba, hasil tersebut akan mampu menutup defisit logistik selama kurang lebih tiga bulan."

Setelah selesai berbicara, Demiurge menutup proposalnya dan menundukkan kepala.

Ruangan itu menjadi sunyi.

Ainz tidak segera menjawab.

Di balik wajah tengkorak yang tidak menunjukkan emosi apa pun, Suzuki Satoru merasakan beban yang tidak ringan.

Penculikan massal.

Sepuluh persen populasi manusia.

Mengubah manusia menjadi bahan baku.

Dari sudut pandang efisiensi, rencana itu hampir sempurna.

Namun sebagian kecil dirinya masih mengingat kehidupan lamanya sebagai manusia biasa.

Di YGGDRASIL, semua hanya data.

NPC hanyalah program.

Korban hanyalah angka.

Tetapi New World berbeda.

Manusia di dunia ini benar-benar hidup. Mereka memiliki keluarga, teman, dan kehidupan masing-masing.

Meski begitu, Nazarick tetap lebih penting.

Tempat ini adalah peninggalan terakhir teman-temannya.

Ia tidak bisa membiarkan semuanya runtuh hanya karena keraguan.

Cahaya hijau berdenyut di rongga dadanya.

Perasaan yang muncul sesaat itu segera mereda.

Ainz mengembuskan napas panjang.

"Demiurge."

"Ya, Ainz-sama."

"Rencanamu masuk akal."

Demiurge mengangkat kepala.

Mata merahnya sedikit menyala lebih terang.

"Laksanakan," lanjut Ainz. "Namun pastikan operasi ini tidak terdeteksi. Aku tidak ingin negara-negara aliansi mencurigai Nazarick sebelum Theocracy dihancurkan."

Demiurge segera membungkuk hormat.

"Hamba mengerti. Operasi akan dilaksanakan secara diam-diam dan tidak akan meninggalkan jejak yang mengarah kepada Nazarick."

"Berapa lama persiapannya?"

"Tiga hari, Ainz-sama. Paling lambat empat hari."

Ainz mengangguk.

"Lakukan."

"Perintah diterima."

Demiurge berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah mantap.

Sementara itu, Ainz kembali menatap peta yang berada di samping singgasananya.

Ia tidak menyukai keputusan ini.

Namun ia juga tidak melihat alternatif lain yang lebih baik.

Untuk saat ini, itulah pilihan yang harus diambil.

Jauh di Holy Kingdom, Slamet sedang tidur nyenyak di tenda logistik para relawan.

Dengkurnya menggema di dalam ruangan sempit yang dibatasi kain tenda tipis. Beberapa relawan yang sedang berjaga malam sempat saling melirik, tetapi tidak ada yang berkomentar. Mereka sudah terbiasa mendengar suara itu setiap malam.

Di samping tumpukan karung goni, sandal jepit miliknya tergeletak begitu saja.

Tali karetnya mulai aus dan mengelupas di beberapa bagian. Hanya tinggal sedikit bagian yang masih menahannya tetap utuh.

Cepat atau lambat sandal itu pasti putus.

Namun Slamet belum memikirkan masalah itu.

Kaki kirinya yang telanjang terlihat sedikit membiru di bagian ujung jari. Lecet yang kemarin ia dapatkan sudah mulai mengering, meskipun rasa panas di dalam kakinya belum sepenuhnya hilang.

Mungkin karena terlalu lama berjalan di atas salju.

Mungkin karena kelelahan.

Atau mungkin ada penyebab lain yang tidak ia ketahui.

Slamet tidak terlalu memedulikannya.

Besok pagi ia hanya perlu bangun, mengambil kotak kayu, lalu mengantar paket ke pos berikutnya sesuai instruksi Neia.

Selama masih ada makanan, semuanya baik-baik saja.

Slamet membalikkan tubuhnya ke sisi kiri.

Dengkurnya berubah ritme.

Grrrkkkhhh...

Hufff...

Grrrkkkhhh...

Di luar tenda, salju tipis kembali turun perlahan.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!