Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Papan Bursa
Lantai perdagangan Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada pertengahan tahun 2006 masih dipenuhi oleh gemuruh suara para pialang saham yang berteriak di depan papan pergerakan harga elektronik raksasa.
Aroma kopi instan yang pekat bercampur dengan kepulan asap rokok dari ruang merokok khusus menciptakan atmosfer yang pengap, tegang, dan penuh dengan spekulasi mentah.
Di sudut galeri investasi publik milik salah satu sekuritas swasta, Doni Salman duduk tenang di depan sebuah komputer tabung berlayar cembung.
Penampilannya sangat kontras dengan para pria berjas rapi di sekitarnya; ia hanya mengenakan kemeja flanel kotak-kotak sederhana dan celana jins yang sedikit longgar.
Namun, sorot mata Doni yang sedalam sumur tua memancarkan otoritas seorang konglomerat papan atas yang sedang mengamati kolam pancingnya sendiri.
Di dalam rekening sekuritas cangkang yang baru dibukanya atas nama korporasi logistik bayangan, dana sebesar sepuluh setengah miliar rupiah hasil dari anomali sistem Bank Nusa Sentosa semalam telah mengendap dengan sempurna.
Angka-angka digital itu berkilau di pojok kanan atas layar monitor, siap dilepaskan ke dalam sistem perdagangan saham nasional.
Doni mengarahkan kursornya ke arah baris kode saham yang menjadi incaran utamanya: BUMI (PT Bumi Resources Tbk).
Saat ini, harga per lembar saham perusahaan tambang batu bara raksasa tersebut sedang bergerak lesu di kisaran Rp820 hingga Rp830 per lembar.
Para analis keuangan di televisi dan surat kabar bisnis nasional sejak satu minggu terakhir terus-menerus merilis ulasan negatif,
memprediksi bahwa saham komoditas energi akan segera ambruk akibat kejenuhan pasar global dan perlambatan ekonomi di beberapa negara sekutu.
Doni terkekeh sangat pelan, sebuah tawa dingin yang sarat akan ejekan terhadap kebodohan analisis pasar konvensional masa kini.
"Mereka menyebut saham ini sebagai sampah yang harus dihindari,"
bisik Doni pada kesunyian bilik komputernya.
"Mereka tidak tahu bahwa dalam waktu kurang dari sembilan puluh hari ke depan, badai musim dingin ekstrem di Eropa Utara akan memicu kelangkaan gas alam cair,"
"Dan China akan menandatangani kontrak impor batu bara terbesar sepanjang sejarah dengan korporasi ini."
"Harga sampah ini akan melesat menembus angka ribuan rupiah."
Dengan presisi seorang ahli strategi militer yang tidak mengenal rasa takut, Doni mulai mengeksekusi order pembelian.
Ia tidak langsung melemparkan seluruh dana sepuluh setengah miliar rupiah sekaligus ke dalam pasar.
Tindakan ceroboh seperti itu akan memicu alarm sistem pengawasan bursa (Bapepam) karena adanya lonjakan volume transaksi yang mencurigakan dari satu akun baru pada saham yang sedang sepi.
Jari-jemari muda Doni bergerak dengan sangat tenang dan berirama di atas kibor.
Ia memecah pesanan pembelian menjadi lot-lot kecil berkisar antara lima puluh juta hingga seratus juta rupiah, lalu menyebarkannya melalui beberapa sekuritas sekunder yang berbeda sepanjang pagi hari.
Setiap kali ada investor ritel yang panik dan menjual rugi saham BUMI mereka di harga Rp820, sistem komputer Doni langsung menyerapnya tanpa suara, ibarat seekor paus raksasa yang sedang menelan ribuan ikan teri di dasar samudra yang gelap.
Hingga jeda istirahat siang bursa pukul dua belas tepat, Doni telah berhasil mengamankan hampir sembilan puluh persen dari total alokasi dananya ke dalam portofolio saham tersebut.
Rata-rata harga pembelian yang didapatkannya berada di angka Rp822 per lembar saham.
Di atas kertas, ia kini menguasai jutaan lembar saham BUMI tanpa membuat riak sekecil apa pun di permukaan pasar modal nasional.
Doni bangkit dari kursi plastiknya, meregangkan otot-otot punggung mudanya yang terasa sedikit kaku.
Ia melangkah keluar dari gedung bursa menuju ke sebuah kedai kopi tenda di pinggiran jalan jendral Sudirman untuk mengisi perutnya yang mulai berbunyi.
Sambil mengunyah sepotong roti murah dan meminum segelas es teh manis, pikiran Doni kembali berputar melintasi waktu.
Di kehidupan pertamanya dulu, pada periode tahun 2006 ini, ia adalah pemuda naif yang bahkan tidak mengerti arti dari kata capital gain atau dividend yield.
Saat itu, ia hanya tahu cara bekerja memeras keringat di gudang PT Mitra Kilat, pulang dengan tubuh berbau solar, lalu menghabiskan akhir pekan bersama Zahra di taman kota sambil menghitung sisa uang di dompet yang jarang menyentuh angka seratus ribu rupiah.
Kenaifan itulah yang membuatnya sangat mudah diperdaya oleh Amanda Santoso ketika wanita iblis itu masuk ke dalam hidupnya dengan kemewahan palsu dan janji-janji kesuksesan finansial yang ternyata adalah sebuah jebakan maut berdarah.
"Kali ini, jalurnya berbeda, Amanda,"
gumam Doni, matanya menatap tajam ke arah deretan mobil mewah yang melintas di depannya.
"Kalian menggunakan uang untuk menindas orang-orang kecil."
"Aku akan menggunakan uang untuk mencabut seluruh fondasi eksistensi kalian."
Tepat pukul satu siang, Doni kembali ke bilik komputernya di galeri sekuritas untuk menyelesaikan sisa transaksi pembelian sahamnya.
Saat pasar bursa saham Jakarta resmi ditutup pada pukul empat sore, seluruh dana sepuluh setengah miliar rupiah telah sepenuhnya terkonversi menjadi aset digital yang sah.
Langkah pertama dari manipulasi finansial jangka pendeknya berjalan dengan sangat mulus tanpa ada kesalahan satu milimeter pun.
Sekarang, yang ia butuhkan hanyalah waktu dan kesabaran untuk menunggu gulungan amunisi ini beranak-pinak menjadi tumpukan modal raksasa yang akan ia gunakan untuk mendirikan entitas bisnis pertamanya: Salman Group yang baru.
Doni mematikan monitor komputer, mengambil tas ransel usangnya, dan melangkah keluar meninggalkan gedung Bursa Efek dengan kepala tegak.
Di bawah langit senja Jakarta yang mulai meredup, Doni merasakan gelombang energi yang luar biasa besar di dalam tubuh mudanya.
Ia bukan lagi buruh operasional lapangan yang tidak punya masa depan.
Di dalam sistem komputer bursa modal terbesar di negeri ini, sebuah bom waktu finansial bernilai miliaran rupiah telah ia tanam dengan tangannya sendiri, dan ia adalah satu-satunya orang yang memegang kendali atas tombol pemicunya.
Perjalanan balas dendamnya kini telah memiliki mesin penggerak yang tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun, termasuk keluarga Santoso.