Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PUKUL 07:00
Suara itu selalu sama. Dengung rendah listrik statis, diikuti oleh sentakan kasar yang mengguncang tulang punggung.
Vero tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit gerbong kereta yang terbuat dari logam kusam dan penuh goresan. Napasnya tertahan di tenggorokan, seolah-olah dia baru saja ditarik keluar dari dalam air.
"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir Stasiun Pusat. Mohon periksa kembali barang bawaan Anda."
Suara penyiar wanita dari pengeras suara terdengar cempreng dan sedikit pecah. Vero mengerjapkan mata, mencoba mengusir kabut tidur yang anehnya terasa berat. Dia menegakkan punggung, merasakan keringat dingin menetes di pelipisnya.
Dia melirik jam tangan analog di pergelangan tangan kirinya. Jarum detik berdetak monoton.
07:00:05
"Mimpi buruk lagi?"
Vero menoleh ke samping. Seorang wanita tua dengan keranjang anyaman berisi sayuran duduk di sebelahnya. Wajahnya keriput tapi ramah, tersenyum memamerkan gigi yang tidak rata. Vero hanya mengangguk kaku, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya... sepertinya begitu, Bu," gumam Vero. Suaranya serak.
Kereta Commuter Line itu penuh sesak. Aroma khas pagi hari di Jakarta—campuran parfum murah, keringat, minyak rambut, dan bau logam berkarat—menyeruak masuk ke hidungnya. Di depannya, seorang pelajar SMA sedang tertidur sambil berdiri, memeluk tas ranselnya. Di pojok, seorang pria berjas rapi sibuk mengetik di ponselnya dengan alis berkerut.
Semuanya tampak normal. Terlalu normal.
Vero mencoba mengingat apa yang dia lakukan semalam. Lembur di kantor? Minum kopi di kedai langganan? Ingatannya terasa kabur, seperti file komputer yang corrupt. Yang dia tahu pasti hanyalah dia harus sampai di kantor sebelum pukul 08:30 untuk rapat penting dengan klien.
Kereta melaju, membelah kepadatan kota. Gedung-gedung pencakar langit berkelebat di balik jendela yang berdebu, bergantian dengan permukiman kumuh di pinggiran rel. Irama deg-deg-jes roda kereta di atas rel besi menjadi satu-satunya musik latar.
Pukul 07:15.
Vero mengeluarkan ponselnya, mengecek email. Ada tiga pesan masuk dari bosnya, menanyakan presentasi. Rutinitas yang membosankan. Dia membalas singkat, lalu membuka aplikasi berita. Tidak ada yang menarik. Politik, selebriti, cuaca panas.
Pukul 07:30.
Kereta berhenti di Stasiun Manggarai. Gelombang manusia bertukar tempat. Yang masuk lebih beringas daripada yang keluar. Vero terhimpit ke arah pintu. Dia merasakan sikut seseorang menekan rusuknya.
"Woy, santai dong!" teriak seseorang di belakang.
"Ya maju, jangan diem di pintu!" balas yang lain.
Vero menghela napas. Hanya hari biasa di neraka ibu kota, batinnya.
Pukul 07:45.
Perasaan tidak enak mulai merayap di perut Vero. Bukan karena mual, tapi sebuah insting purba yang mendadak menyala. Dia merasa diawasi. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh gerbong. Orang-orang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tapi ada ketegangan aneh di udara. Seperti listrik statis sebelum badai petir.
Dia melihat seorang pria di ujung gerbong, mengenakan jaket hoodie hitam tebal meski udara di dalam kereta cukup panas. Pria itu memeluk sebuah tas ransel olahraga berbahan kanvas hijau tentara. Matanya gelisah, terus-menerus melihat ke arah jam digital di dinding gerbong.
Vero mengerutkan kening. Mencurigakan? Atau cuma paranoid?
Pukul 07:55.
Kereta mulai melambat, mendekati Stasiun Pusat. Pengumuman kembali terdengar.
"Sesaat lagi kita akan tiba di Stasiun Pusat..."
Pria berjaket hitam itu berdiri. Dia tidak bergerak menuju pintu. Dia justru bergerak ke tengah gerbong, meletakkan tasnya di lantai, tepat di antara kaki-kaki penumpang yang berjejalan.
Jantung Vero berdegup kencang. Kenapa dia menaruh tas itu di sana?
"Hei!" Vero berseru, suaranya tenggelam oleh derit rem kereta.
Dia mencoba menerobos kerumunan. "Permisi! Minggir!"
Orang-orang menggerutu, mendorongnya balik. Vero tidak peduli. Matanya terkunci pada tas hijau itu. Pria berjaket hitam itu mundur, wajahnya pucat pasi, bibirnya komat-kamit memanjatkan doa—atau kutukan.
Pukul 07:58.
Vero berhasil mendekat, hanya berjarak dua meter dari tas itu. Dia melihat ada cahaya merah berkedip dari sela ritsleting yang sedikit terbuka.
Itu bukan laptop.
"BOM!" Vero berteriak sekuat tenaga. "ADA BOM!"
Kepanikan tidak terjadi seketika. Ada jeda satu detik di mana semua orang menatapnya dengan tatapan bingung, mengira dia orang gila.
Lalu pria berjaket hitam itu berteriak, "SEMUA AKAN MATI!"
Kekacauan pecah. Penumpang berteriak histeris, saling dorong, mencoba menjauh dari tas itu. Tapi di dalam gerbong yang padat, tidak ada tempat untuk lari. Vero terdorong jatuh, wajahnya membentur lantai besi yang dingin. Dia melihat angka digital pada perangkat di dalam tas itu melalui celah ritsleting.
00:05
00:04
Vero mencoba merangkak, menggapai tas itu, entah untuk apa. Mungkin membuangnya keluar? Jendela tertutup rapat. Pintu belum terbuka.
00:03
00:02
Dia menatap pria berjaket hitam itu. Pria itu menangis, tapi matanya kosong.
00:01
Vero menutup matanya.
Ini tidak mungkin.
00:00
Dunia berubah menjadi putih menyilaukan.
Tidak ada rasa sakit. Hanya panas yang absolut, diikuti oleh kehampaan. Suara teriakan, derit logam, dan ledakan itu lenyap dalam sekejap mata, ditelan oleh keheningan abadi.
Sentakan kasar.
Vero tersentak bangun. Paru-parunya menyedot udara dengan rakus, seolah dia baru saja tenggelam. Jantungnya memalu rongga dada dengan kecepatan yang menyakitkan.
Dia meraba tubuhnya. Utuh. Tidak ada api. Tidak ada darah.
Dia melihat sekeliling. Langit-langit gerbong logam yang kusam. Goresan yang sama.
"Stasiun Pusat. Pemberhentian terakhir Stasiun Pusat. Mohon periksa kembali barang bawaan Anda."
Suara penyiar wanita itu. Cempreng. Sedikit pecah. Sama persis.
Vero menoleh ke kiri dengan patah-patah, lehernya kaku karena teror yang masih tersisa.
Wanita tua dengan keranjang sayuran itu ada di sana. Tersenyum. Gigi yang tidak rata.
"Mimpi buruk lagi?" tanya wanita tua itu.
Vero tidak menjawab. Dia menunduk, menatap jam tangannya dengan tangan gemetar hebat. Jarum detik berdetak monoton.
07:00:05
Vero belum tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti: Dia baru saja mati. Dan sekarang, dia kembali.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔