NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Amarah Sang Anak Haram

"Berhentilah bersandiwara, Nara," potong Han-Seol tegas. "Aku sudah mengenalimu sejak kau mengancam leherku dengan kaki kepiting."

Nara terdiam. Ia melepaskan aktingnya, matanya menatap Han-Seol dengan tajam. "Bagaimana mungkin? Bahkan Do-Kwang yang agung mengira aku sudah mati. Tidak ada tanda biru di leherku!"

Han-Seol melangkah mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci. "Tanda pemindahan jiwa biasanya ada di leher. Tapi kau unik. Tandamu tidak ada di kulit, melainkan tersembunyi di dalam matamu."

Han-Seol menyalakan korek api kecil, mendekatkannya ke wajah Nara. "Jika diperhatikan di bawah cahaya tertentu, ada pendar biru sekilas di pupil matamu saat kau emosi. Itulah alasan kau tidak ketahuan dalam raga gadis buta ini. Bagi orang lain matamu terlihat mati, tapi bagiku, matamu justru sangat hidup dengan energi pemindahan jiwa."

Nara terpaku. Pemuda yang dianggap "cacat sihir" ini ternyata memiliki mata yang lebih tajam dari penyihir mana pun.

"Jadi... apa maumu?" tanya Nara dingin.

"Menyerahkanku pada Seo-Jun? Atau kau ingin memeras kekuatanku?"

Han-Seol menggeleng. "Aku tidak butuh perhiasan, dan aku tidak butuh pengakuan keluargaku. Aku hanya ingin satu hal: Bantu aku membuka gerbang energiku yang disegel ayahku. Sebagai imbalannya, aku akan menjadi pelindungmu dan membantumu mengambil kembali pedang serta jasadmu dari tangan para penyusup itu."

Nara menatap Han-Seol lama, mencari tanda-tanda pengkhianatan. Namun, yang ia temukan hanyalah rasa haus yang sama akan kebebasan. Di dalam gudang yang gelap itu, di jantung Cheon-gi Won, sebuah aliansi terlarang antara Sang Pembasmi Penyihir dan Sang Anak Haram resmi terbentuk.

****

Di tengah kesunyian gudang logistik Cheon-gi Won yang pengap, Han-Seol menatap Nara dengan tatapan yang seolah menembus waktu.

Ingatannya mendadak terlempar jauh ke belakang, pada sebuah hari yang paling kelam dalam sejarah hidupnya—hari di mana takdirnya dikunci oleh tangan ayahnya sendiri.

Dua Puluh Tahun yang Lalu: Tragedi di Kediaman Han

Udara di kediaman keluarga Han terasa menyesakkan, penuh aroma pahit obat-obatan dan isak tangis yang tertahan di balik kelambu.

Seo-Yoon—istri dari sang penyihir agung Han-Gyeol—tengah berjuang di antara hidup dan mati. Tepat saat tangisan bayi laki-laki pecah membelah kesunyian malam, napas Seo-Yoon pun terhenti. Ia mengembuskan napas terakhir tepat setelah melihat wajah putranya untuk pertama dan terakhir kali.

"Nyonya... Nyonya Seo-Yoon!" jerit para pelayan histeris.

Oh Myung-Ja yang saat itu masih muda, mendekap bayi mungil itu dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh membasahi kain bedung sang bayi.

Namun, pintu kamar dibanting terbuka hingga menghantam dinding. Han-Gyeol masuk. Langkahnya berat, wajahnya lebih kaku dari mayat istrinya sendiri. Ia tidak menoleh sedikit pun pada jasad Seo-Yoon. Matanya tertuju lurus pada bayi di pelukan Myung-Ja—bayi yang di dalam darahnya mungkin mengalir benih pengkhianatan mendiang Raja Go-Yoon.

Tanpa sepatah kata pun, Han-Gyeol merenggut bayi itu dengan kasar.

"Tuan! Apa yang Anda lakukan? Bayi ini butuh kehangatan!" jerit Myung-Ja, mencoba menahan lengan Han-Gyeol.

"Dia tidak butuh kehangatan," suara Han-Gyeol rendah dan bergetar karena kebencian.

"Dia hanya butuh dikunci."

Han-Gyeol melangkah keluar menuju pusat kekuatan sihir Niskala: Altar Batu Cheon-gi Won.

Matahari tepat berada di atas kepala saat Han-Gyeol berdiri di tengah altar yang melingkar. Dengan tangan kiri ia mendekap sang bayi, sementara tangan kanannya menarik pedang panjang dari sarungnya. Logam perak itu berkilau tajam, seolah haus akan darah.

SREKK!

Han-Gyeol menghujamkan pedang itu ke lantai batu dengan kekuatan penuh. Seketika, getaran hebat menjalar ke seluruh kompleks.

Cahaya biru elektrik melingkar keluar dari titik pedang, membentuk formasi sihir kuno *Giseol-J*ae—Segel Pintu Energi.

Han-Gyeol meletakkan bayi itu tepat di tengah pusaran cahaya. Ia mulai merapalkan mantra terlarang yang menggetarkan udara.

"Dengan darah yang terbagi, dengan raga yang terhina... aku segel pintu energimu! Kau tidak akan pernah menyentuh langit, kau tidak akan pernah memanggil naga air!"

Do-Kwang, yang saat itu masih menjadi penyihir muda, berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. Ia segera menyambar bayi itu tepat setelah cahaya ritual memudar.

"Han-Gyeol! Apa yang kau lakukan pada putramu sendiri?!" teriak Do-Kwang dengan napas tersengal. Ia meraba dada sang bayi, namun tak merasakan sedikit pun getaran energi naga yang seharusnya ada di sana.

"Kau baru saja menutup seluruh gerbang energinya secara permanen! Kau membunuh bakatnya sebelum ia sempat bernapas!"

Han-Gyeol menyarungkan pedangnya dengan dentingan yang dingin dan kering. Ia menoleh perlahan, menyunggingkan senyum miring yang penuh kepahitan. "Putraku? Aku hanya memastikan bahwa benih tiran tidak akan pernah tumbuh memiliki taring di negeri ini," desis Han-Gyeol.

"Biarkan dia hidup sebagai manusia rendahan. Itulah satu-satunya cara agar dia tetap hidup. Itu adalah kasih sayang terakhir yang bisa kuberikan padanya."

Tahun-tahun berlalu, dan Han-Seol tumbuh menjadi pemuda yang parasnya setampan fajar namun jiwanya sekosong malam.

Setiap kali ia mencoba memanggil energi sihir, tubuhnya tidak merespons dengan cahaya, melainkan dengan rasa sakit yang luar biasa—seperti ribuan jarum yang menusuk nadinya dari dalam. Ia adalah lelucon abadi di antara para bangsawan penyihir Niskala.

Lima Tahun yang Lalu: Aula Kehampaan

Suatu sore yang kelabu, Han-Seol remaja yang berusia lima belas tahun mendatangi Do-Kwang di kantor pusat Cheon-gi Won. Di pinggangnya, ia membawa pedang perak milik ayahnya yang ia curi dari ruang senjata—sebuah upaya putus asa untuk mencari resonansi energi.

"Paman Do-Kwang... hamba mohon," Han-Seol berlutut, kepalanya menunduk hingga menyentuh lantai batu yang dingin.

"Hamba tahu Anda berada di sana saat fajar itu. Anda melihat bagaimana ayahku mengunci gerbang energiku. Hamba mohon, lepaskan segel ini. Biarkan hamba menjadi penyihir. Biarkan hamba membuktikan bahwa hamba adalah putra keluarga Han yang sah!"

Do-Kwang terdiam di kursinya yang tinggi, menatap Han-Seol dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara belas kasihan dan ketakutan.

"Segel itu bukan sekadar mantra, Seol," suara Do-Kwang menggema dingin. "Itu dikunci dengan darah dan nyawa ibumu yang dikorbankan demi kelahiranmu. Membukanya berarti menantang otoritas Han-Gyeol dan hukum alam Niskala. Pulanglah. Terimalah takdirmu sebagai orang biasa. Itu jauh lebih aman bagimu."

Han-Seol mendongak. Matanya yang merah menahan tangis kini mulai berkilat oleh amarah yang telah mencapai titik didih. Harapan terakhirnya baru saja dihancurkan oleh pria yang selama ini ia anggap sebagai pelindung.

"Aman?" Han-Seol berdiri perlahan, suaranya bergetar hebat.

"Apa menurut Paman hidup seperti mayat berjalan ini aman? Dihina sebagai anak haram dan dianggap sampah oleh ayahku sendiri... apakah itu takdir yang harus kuterima?"

Ia menarik pedang ayahnya dari sarungnya. Logam perak itu berkilat, namun di mata Han-Seol, pedang itu tampak seperti ular berbisa yang melilit hidupnya. "Jika takdirku adalah menjadi sampah karena ketakutan ayahku sendiri, maka aku menolak takdir itu!"

PRANG!

Dengan teriakan frustrasi, Han-Seol melempar pedang agung itu ke lantai. Logam berharga itu berdenting keras, memecah kesunyian aula.

Tak puas, ia menendang pedang itu hingga terlempar ke pojok ruangan yang gelap.

"Jika tidak ada satu pun guru di negeri ini yang berani membantuku karena takut pada nama besar Han-Gyeol, maka aku sendiri yang akan menemukan caranya!" teriak Han-Seol dengan air mata yang mulai menderas di pipinya.

Ia menunjuk ke arah kediaman ayahnya di kejauhan. "Suatu hari nanti, aku sendiri yang akan menghunus pedang ini—bukan untuk melayani keluarga Han, tapi untuk menghancurkan segel ini dan setiap orang yang mencoba menghalangiku! Jika aku tidak bisa menyentuh langit, maka aku akan menyeret seluruh Niskala ke dasar neraka bersamaku!"

Han-Seol berbalik dan melangkah keluar dari Cheon-gi Won tanpa menoleh lagi. Hari itu, pemuda yang penuh harapan itu mati, dan yang tersisa hanyalah jiwa yang haus akan pembalasan dendam.

Kembali ke masa sekarang...

Di dalam gudang yang remang, Han-Seol menatap lurus ke dalam manik mata Nara. Di balik bayang-bayang, ia melihat kilatan biru safir yang berpendar halus di pupil itu—sebuah sisa energi ritual yang belum tenang.

"Aku mengenalimu karena matamu, Guru," bisik Han-Seol.

"Tanda di leher bisa dipalsukan, tapi cahaya jiwa di mata tidak bisa berbohong. Ajarkan aku cara menghancurkan segel yang mengunci energiku."

Nara mendengus sinis. "Jangan pernah memanggilku Guru. Aku tidak sudi berbagi ilmu dengan keturunan Han-Gyeol."

Dengan gerakan secepat kilat, ia mengeluarkan pisau dapur kecil yang sempat ia curi dan menekannya ke urat nadi Han-Seol. "Biarkan aku pergi, atau raga ini akan menjadi saksi kematianmu malam ini."

Han-Seol tidak bergeming, bahkan saat ujung pisau mulai menggores kulitnya. Namun, derap langkah kaki berwibawa menghentikan mereka. Baek Seo-Jun mendekat.

Seo-Jun menggeser tirai koridor. Matanya yang tajam menangkap sosok gadis yang membelakanginya.

Saat Seo-Jun hendak melangkah masuk, Han-Seol bergerak lebih cepat. Ia menarik Nara ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu erat ke dadanya.

Nara tersentak, mencoba berontak, namun Han-Seol membisikkan sesuatu di ubun-ubunnya.

"Diamlah. Matamu masih biru. Jika dia melihatnya, kau mati."

"Siapa di sana?" suara Seo-Jun waspada, pedangnya sedikit terhunus.

Han-Seol perlahan memutar tubuh tanpa melepaskan dekapannya. Setelah pendar biru di mata Nara meredup menjadi hitam kecokelatan, ia melonggarkan pelukan.

"Ini aku, Seo-Jun," ucap Han-Seol datar.

Seo-Jun menurunkan pedangnya, tampak terkejut. "Han-Seol? Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa gadis ini bisa ada di sini bersamamu?"

"Dia pelayan pribadiku, Seol-Ah. Dia ketakutan karena kekacauan tadi, jadi aku membawanya bersembunyi," jawab Han-Seol sembari menepuk bahu Nara pelan.

Tak lama, Do-Hyun dan Park Ji-Hoon datang dengan napas terengah.

"Han-Seol! Kau tidak apa-apa?" seru Do-Hyun. Ia menatap Seol-Ah sejenak, lalu wajahnya cerah.

"Astaga, akhirnya kau punya pelayan! Aku lega melihatmu tidak sendirian lagi."

Seo-Jun, merasa bersalah, maju selangkah dan membungkuk canggung ke arah Nara. "Maafkan aku, Nona Seol-Ah. Aku telah salah paham padamu."

Menatap Seo-Jun dari jarak sedekat itu, jantung Nara berdenyut pilu. Ingatannya kembali ke belasan tahun silam—saat Seo-Jun remaja menemukannya yang tersesat dan jatuh ke jebakan hewan. Seo-Jun adalah satu-satunya kenangan indah di masa lalunya yang kelam.

"Mari kita kembali ke Paviliun Rahasia," ajak Ji-Hoon.

Mereka berjalan menuju meja batu tempat jasad Nara disimpan, yang kini kosong melompong.

"Apa mungkin Nara benar-benar memindahkan jiwanya?" tanya Do-Hyun sembari mengerutkan kening.

"Melihat jasadnya hilang tepat setelah ritual, kemungkinannya sangat besar," ucap Ji-Hoon.

Do-Hyun mendengus kasar. "Jika benar, kita harus segera menemukannya sebelum monster itu membunuh lebih banyak orang. Dia hanyalah mesin pembunuh tanpa jiwa."

"Cukup, Do-Hyun!" potong Seo-Jun tajam. Suasana seketika membeku.

"Jangan menyebutnya monster. Kalian tidak mengenalnya. Kalian hanya melihat apa yang ingin kalian lihat."

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!