Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Memicu Kegaduhan
Tepat pukul setengah delapan pagi, atmosfer di kediaman Mahesa terasa begitu pengap. Rian terbangun dengan kepala yang berdenyut pening akibat sisa tamparan Sintia semalam dan kurang tidur. Saat ia memeriksa sisi ranjangnya, kain seprai itu sudah mendingin. Suci tidak ada di sana. Ketika ia turun ke lantai bawah, ibunya, Anne, sedang mengomel di ruang makan karena mendapati menantu barunya itu lenyap tanpa sepatah kata pun sejak subuh.
"Wanita tidak tahu sopan santun! Pagi-pagi sudah keluyuran entah ke mana, meninggalkan anaknya yang harus sekolah!" gerutu Anne dengan wajah ditekuk, kacamata tebalnya naik turun seiring dengan helaan napasnya yang gusar.
Rian tidak menanggapi omelan ibunya. Pikirannya sudah buntu, beralih pada kehancuran bisnisnya yang tinggal menunggu waktu. Dengan sisa-sisa kesabaran yang menipis, ia memandikan Arka, memakaikan seragam sekolah bocah itu, dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mengantar Arka ke sekolah dasar swastanya, Rian hanya diam mematung, mengabaikan celoteh polos anaknya yang mencoba mencairkan suasana.
Setelah menurunkan Arka di gerbang sekolah, Rian memacu mobil Honda Civic-nya menuju kantor pusat PT Mahesa Perkasa. Jalur yang ia lalui pagi ini adalah jalur protokol yang padat. Otaknya terus berputar mencari celah bagaimana cara menghadapi gugatan rekonvensi Sintia dua minggu lagi. Pengacara yang ia sewa semalam terus-menerus mengirimkan pesan instan, mengatakan bahwa posisi hukum mereka sangat lemah jika aliran dana dari rekening Sintia tidak bisa dibantah.
"Sial! Bagaimana aku bisa mengembalikan lima miliar itu?!" umpat Rian, memukul kemudi mobilnya dengan keras hingga klakson berbunyi nyaring.
Mobilnya merayap lambat di tengah kemacetan, tepat di depan pelataran luas Hotel Grand Hutama yang dipenuhi oleh karangan bunga papan ucapan selamat berukuran raksasa. Karpet merah membentang dari lobi hingga ke pinggir jalan, dijaga ketat oleh puluhan petugas keamanan bersetelan jas hitam. Para wartawan dari berbagai media cetak, televisi, dan daring sudah berkerumun di balik barikade besi, menyiapkan kamera-kamera mereka dengan lensa panjang untuk mengabadikan momen kedatangan sang konglomerat muda, Kenzi Hutama.
Mata Rian yang merah dan kuyu menyapu kerumunan itu dengan tatapan kosong. Namun, saat mobilnya melintas tepat di depan gerbang masuk hotel, pandangannya mendadak terkunci pada sesosok wanita yang sedang berdiri di dekat baris terdepan pembatas wartawan.
Wanita itu mengenakan gaun brokat putih gading yang sangat anggun, dengan rambut yang disanggul modern, menampilkan leher jenjangnya yang putih. Ia sedang berbicara dengan salah satu staf hotel dengan senyuman manis yang teramat familiar di mata Rian.
Suci Wahyuni.
Jantung Rian mendadak berhenti berdetak selama satu detik sebelum akhirnya bertalu hebat bagai dihantam gada besi. Seluruh darah di dalam tubuhnya mendidih seketika, mengalirkan rasa panas yang membakar hingga ke ubun-ubun. Rasa cemburu, curiga, dan murka yang semalam belum sepenuhnya padam kini kembali meledak dengan daya hancur yang jauh lebih besar.
Apa yang dilakukan Suci di peresmian hotel milik Kenzi Hutama pagi-pagi begini?! batin Rian berteriak jahanam.
Tanpa memikirkan keselamatan pengguna jalan lain, Rian menginjak rem secara mendadak hingga ban mobilnya berdecit keras di atas aspal. Mobil-mobil di belakangnya membunyikan klakson bertubi-tubi disertai makian para pengemudi, namun Rian tidak peduli. Ia membanting stir ke arah tepi jalan, memarkirkan mobilnya secara asal di atas trotoar, lalu menyentak pintu mobil hingga terbuka lebar. Pria itu melangkah lebar, membelah kerumunan dengan mata yang mendelik jantan penuh amarah, langsung mengarah pada sosok istri sirinya yang sedang bersiap melancarkan aksi penggodaannya.
****
Suci sedang membetulkan posisi tas tangannya, sesekali melirik jam tangan kecilnya dengan cemas. Skenario di kepalanya sudah tersusun rapi: begitu mobil Kenzi tiba, ia akan sengaja menjatuhkan diri di dekat karpet merah, membiarkan pria itu menolongnya, lalu ia akan membisikkan bahwa ia adalah korban ancaman Rian yang membutuhkan perlindungan hukum.
Namun, belum sempat mobil mewah yang ia nantikan muncul di tikungan jalan, sebuah cengkeraman yang teramat kasar menyentak bahu kanannya dari belakang hingga tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat.
"Suci! Apa-apaan kamu di sini?!"
Suara bariton yang menggelegar penuh amarah itu membuat Suci terperanjat setengah mati. Sepasang matanya membelalak sempurna saat mendapati Rian berdiri di hadapannya. Wajah suaminya tampak begitu mengerikan—merah padam, napasnya memburu kasar dengan bau keringat dingin, dan cengkeraman tangannya di bahu Suci begitu kuat hingga menembus kain brokat gaunnya.
"Mas... Mas Rian?!" Suci terbata, seluruh pasokan kata-kata manis di kepalanya mendadak lenyap. Rasa terkejut dan panik merayapi dinding dadanya. "Kenapa... kenapa Mas bisa ada di sini?"
"Harusnya aku yang bertanya padamu, wanita ular!" bentak Rian, suaranya yang melengking tinggi di pinggir jalan langsung memotong kebisingan lalu lintas sekitar. Pria itu tidak lagi bisa mengontrol emosinya. Ego yang terluka karena ditampar semalam membuat kewarasannya terbang entah ke mana. "Pagi-pagi buta kamu pergi tanpa pamit, dandan seperti wanita panggilan, dan berdiri di depan hotel milik pria yang bersama Sintia semalam?! Mau menggoda Kenzi Hutama, hah?! Mau melacurkan dirimu pada pria kaya itu setelah tahu perusahaanku terancam bangkrut?!"
"Jaga bicaramu, Mas Rian!" Suci ikut berteriak, panik karena menyadari mereka sedang berdiri hanya beberapa meter dari kerumunan wartawan yang haus akan berita. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rian dari bahunya, namun Rian justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Suci, menarik tubuh wanita itu mendekat dengan paksa.
"Aku kurang apa padamu, Suci?! Tujuh tahun aku menyembunyikanmu dari Sintia! Aku membelikanmu rumah, mobil, memenuhi semua kemauanmu sampai melahirkan Arka! Dan sekarang, saat aku jatuh, kamu mau meninggalkanku dan melompat ke ranjang pria lain?! Jawab aku, Suci!" teriak Rian histeris, air mata kemarahan dan frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya yang kuyu.
"Lepas, Rian! Sakit!" jerit Suci, wajah cantiknya berkerut menahan sakit fisik sekaligus rasa malu yang teramat sangat. "Kamu itu sudah mau gembel! Kamu pikir aku tidak tahu kalau rumah dan perusahaanmu itu milik Sintia?! Aku tidak sudi hidup melarat bersamamu dan ibumu yang bermulut racun itu! Lepaskan aku!"
****
Pertengkaran yang teramat dramatis dan emosional itu, dengan kata-kata seperti "melacur", "Kenzi Hutama", "Sintia", dan "bangkrut", langsung bertindak bagai madu di tengah sekumpulan lebah.
Salah seorang fotografer dari media gosip terkemuka menoleh dengan cepat ke arah mereka. Begitu ia mendengar nama "Kenzi Hutama" disebut-sebut dalam drama domestik di pinggir jalan itu, matanya langsung berbinar jahanam.
"Woi! Lihat di sebelah sana! Ada drama selingkuhan bawa-bawa nama Pak Kenzi!" teriak fotografer itu pada rekan-rekannya.
Dalam hitungan detik, barikade besi wartawan seolah tidak lagi memiliki fungsi. Puluhan fotografer, kamerawan televisi, dan jurnalis media daring langsung berbalik arah, berlarian menghampiri posisi Rian dan Suci yang sedang saling cengkeram di tepi jalan. Lampu kilat kamera mulai menyala bergantian, menciptakan kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata secara bertubi-tubi.
Cret! Cret! Cret! Cret!
Suara jepretan lensa kamera yang ritmis dan berisik langsung mengepung mereka berdua. Mikrofon dengan logo-logo stasiun televisi terkenal disodorkan secara paksa ke depan wajah Rian dan Suci yang sedang memerah karena emosi dan malu.
"Mbak! Mbak dengan Mas ini ada hubungan apa dengan Pak Kenzi Hutama?!" cecar seorang wartawan wanita dengan agresif.
"Mas! Apakah betul wanita ini selingkuhan Pak Kenzi atau ada kaitannya dengan sengketa bisnis Hutama Group?!" sahut wartawan lain, memburu jawaban dengan pertanyaan yang menjebak.
Suci panik setengah mati. Ia menutupi wajahnya dengan tas tangan mahalnya, berusaha menghindari sorot kamera yang terus mengejarnya. Skenario indahnya tentang menjadi korban yang anggun kini hancur lebur; ia justru terekam kamera sebagai wanita yang sedang dicaci maki oleh suaminya sendiri di tempat umum dengan tuduhan yang sangat memalukan.
"Bukan! Ini tidak ada hubungannya dengan Pak Kenzi! Mas Rian, hentikan! Jangan bikin malu di sini!" jerit Suci, suaranya pecah oleh rasa frustrasi yang mendalam. Ia menghentakkan kakinya, air mata riasan matanya mulai luntur karena keringat panas, merusak keanggunan yang ia bangun sejak subuh tadi.