Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Sesampainya di kamar, Rafael mendorong kursi roda Freya hingga merapat ke sisi ranjang. Suasana canggung dari dapur tadi masih menyelimuti mereka berdua.
"Bisa naik sendiri?" tanya Rafael, suaranya melembut, kontras dengan nada perintah yang biasa ia gunakan.
Freya menatap ketinggian ranjang, lalu melirik kakinya yang masih lemas. "Bisa. Aku sering latihan dengan Dokter Diana."
Freya mencengkeram lengan kursi roda, mencoba mengangkat tubuhnya menggunakan kekuatan kedua tangannya. Namun, tumpuannya meleset. Tubuhnya limbung ke depan.
"Ah!"
Sebelum tubuhnya menghantam lantai, Rafael dengan sigap menangkap pinggang Freya. Tubuh bagian atas mereka bertabrakan, membuat Freya kembali bersandar di dada bidang Rafael yang masih terasa hangat dan sedikit lembap oleh keringat.
Jantung Freya berdegup kencang. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Freya bisa merasakan napas hangat Rafael berembus di keningnya.
"Jangan keras kepala, Freya. Jika jatuh, jahitannmu bisa robek," bisik Rafael rendah.
Tanpa menunggu jawaban, Rafael menyelipkan satu tangannya di bawah pundak dan tangan lainnya di bawah lutut Freya. Ia mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah, lalu membaringkannya di atas kasur dengan sangat hati-hati.
Freya segera menarik selimut hingga sebatas dada, menutupi rasa salah tingkahnya yang semakin menjadi-jadi. "Terima kasih. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan pakai bajumu."
Rafael tidak langsung pergi. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Freya dengan intensitas yang membuat wanita itu enggan membalas tatapannya.
"Besok aku akan meminta Dokter Diana menambah porsi latihan otot tanganmu," ucap Rafael, mencoba mencairkan suasana. "Kau butuh tenaga lebih jika ingin mandiri."
"Aku tahu," sahut Freya pendek. "Aku akan melakukan apa saja agar bisa cepat pergi dari sini."
Mendengar kata 'pergi', kilat dingin sempat melintas di mata elang Rafael, namun ia berhasil menekannya. Ia mengulas senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Kita lihat saja nanti, Freya. Apakah kau benar-benar bisa lepas dariku."
Rafael melangkah menuju pintu. Sebelum mematikan lampu utama, ia menoleh kembali. "Selamat malam, Freya."
"Malam," jawab Freya pelan, hampir menyerupai bisikan.
Klik.
Lampu utama padam, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan. Setelah mendengar suara pintu tertutup, Freya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Ia menyentuh dadanya yang masih berdebar tidak karuan.
Kenapa aku harus gugup di depannya? Dia pria yang berbahaya, batin Freya menyangkal perasaannya sendiri.
*****
Pagi harinya, sinar matahari menerobos jendela paviliun. Bi Sofi baru saja meletakkan nampan sarapan di meja dapur, tepat di depan Freya yang sudah duduk di kursi roda elektriknya. Tak lama kemudian, Rafael melangkah masuk dengan setelan jas formal yang rapi, siap untuk berangkat ke kantor. Pria itu langsung duduk di hadapan Freya, menyesap kopi hitamnya dalam keheningan.
Freya menunduk, mengaduk buburnya perlahan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak beberapa hari lalu. Ia ingin tahu, namun gengsi dan rasa benci pada pria di depannya membuat ia ragu.
"Rafael," panggil Freya pelan, memecah keheningan. Nadanya tetap dingin, namun ada keraguan yang samar di matanya.
Rafael meletakkan cangkir kopinya, menatap Freya intens. "Ya?"
"Perusahaan ayahku... Dirgantara Group. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa masih bisa diselamatkan?" tanya Freya. Tatapannya menuntut jawaban, walau ia berusaha menyembunyikan rasa cemasnya.
Rafael bersandar pada sandaran kursi, wajahnya tetap datar. "Dirgantara Group sudah berpindah tangan, Freya."
Freya tertegun, tangannya yang memegang sendok menegang. "Maksudmu?"
"Leticia bergerak lebih cepat dari yang kau duga. Beberapa minggu sebelum ayahmu wafat, dia memanipulasi dokumen dan membalik nama seluruh kepemilikan perusahaan atas namanya sendiri. Dan saat ini, Bianca yang memimpin perusahaan itu," jelas Rafael dengan nada suara yang tenang namun dingin.
Kring.
Sendok di tangan Freya terlepas, berdenting di atas mangkuk. Wajahnya seketika pias. Ia menatap kedua kakinya yang tertutup kain di bawah meja, lalu meremas jemarinya sendiri.
"Bianca... memimpin perusahaan Ayah?" bisiknya hampa.
Freya terdiam seribu bahasa. Rasa sesak kembali menghimpit dadanya. Ia sadar betul, dengan kondisinya yang lumpuh dan tidak berdaya seperti ini, mustahil baginya untuk menuntut keadilan atau merebut kembali warisan ayahnya dari tangan dua wanita licik itu. Dia tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi sekarang.
Rafael memperhatikan perubahan ekspresi Freya yang mendadak rapuh. Sifat oportunis dalam dirinya seketika bangkit. Ia menggeser kursinya lebih dekat ke arah kursi roda Freya, lalu menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja, mengikis jarak di antara mereka.
"Kau tahu kau tidak akan pernah bisa melawan mereka sendirian dalam keadaan seperti ini, Freya," ucap Rafael. Suaranya berat dan penuh kuasa, memanfaatkan situasi untuk masuk lebih dalam ke celah kerapuhan Freya.
Freya mendongak tajam, mencoba mempertahankan benteng permusuhan di matanya. "Aku tahu aku lumpuh. Kau tidak perlu memperjelasnya di depanku, Rafael."
"Aku tidak sedang mengejekmu, aku hanya menyatakan realita," balas Rafael, matanya mengunci manik mata Freya tanpa ampun. "Leticia dan Bianca memiliki pengacara yang kuat. Tanpa sokongan kekuasaan yang besar, kau hanya akan menjadi bahan tertawaan mereka di pengadilan."
"Lalu apa maumu?" sahut Freya sinis, meski di dalam hati ia sangat ingin tahu kelanjutan kalimat pria itu.
Rafael memajukan wajahnya sedikit lagi, membuat Freya bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang kuat.
"Aku bisa merebut kembali Dirgantara Group untukmu dalam sekejap. Aku bisa menghancurkan Leticia dan Bianca sampai mereka mengemis di depan kursi rodamu," bisik Rafael, nadanya terdengar sangat memikat namun berbahaya. "Tapi, tidak ada yang gratis di dunia ini, Freya."
Jantung Freya berdesir mendengar tawaran yang begitu menggiurkan itu. Namun, ia tahu pria di depannya ini adalah seorang pengusaha ulung yang tidak akan bergerak tanpa keuntungan.
"Apa syaratnya?" tanya Freya menantang, mencoba menolak pesona intimidasi Rafael.
Rafael tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang dingin. "Sederhana. Berhentilah bersikap seolah aku ini musuhmu. Turuti permintaanku, tetaplah di sisiku, dan jadilah milikku sepenuhnya. Jika kau setuju, seluruh dunia akan kubuat berlutut di bawah kakimu, termasuk Dirgantara Group."
*
*
*