Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: JEJAK KAKI DI BAWAH PINTU
Kegemaran Raga tidak kunjung reda meskipun suara hiruk-pikuk di luar sana perlahan mulai mereda. Gamelan yang tadi menderu keras kini kembali menjadi samar, lalu perlahan hilang ditelan kesunyian malam, seolah-olah rombongan gaib itu sudah berjalan menjauh menuju ke tempat lain. Namun, ketenangan itu bukanlah kedamaian, melainkan keheningan yang sarat dengan ketegangan, seperti napas yang tertahan di dada.
Raga masih terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding tembok yang dingin. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, membasahi kaos oblong yang ia kenakan. Tangannya masih gemetar hebat, jantungnya berdegup kencang seperti genderang yang sedang ditabuh, dughhh... dughhh... dughhh... suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri.
Matanya tak lepas dari pintu utama rumah itu. Pintu kayu jati yang tebal dan kokoh itu kini terlihat seperti benteng pertahanan terakhir yang memisahkan dirinya dari sesuatu yang mengerikan. Di balik pintu itu, ia tahu ada sesuatu yang masih ada di sana. Sesuatu yang belum pergi sepenuhnya.
"Kau tidak apa-apa, Nak?"
Suara itu membuat Raga tersentak kaget. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Di sana, di ambang pintu kamar, berdiri sosok tua yang memegang lilin kecil. Cahaya api lilin itu menerangi wajah keriput Mbah Joyo yang tampak begitu serius dan penuh kekhawatiran.
Raga menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tak karuan. "Kek... Kakek belum tidur?"
"Bagaimana bisa tidur kalau angin malam membawa begitu banyak gangguan?" jawab Mbah Joyo pelan sambil berjalan mendekat. Lelaki tua itu duduk di lantai tepat di hadapan cucunya. Ia menaruh lilin di meja kecil di samping mereka, membuat bayangan-bayangan aneh menari-nari di dinding rumah.
"Mereka datang, Kek..." bisik Raga terbata-bata. "Mereka benar-benar datang. Suaranya... suara Ibu, Kek. Begitu nyata. Hampir saja aku membuka pintu itu."
Mbah Joyo mengangguk pelan, wajahnya tampak muram. "Aku tahu. Aku mendengar semuanya dari dalam kamar. Mereka memang ahli mempermainkan perasaan. Mereka tahu titik lemah mu. Mereka tahu siapa yang paling kau rindukan, siapa yang paling kau takuti, dan siapa yang paling kau cintai. Itu senjata mereka."
Lelaki tua itu menatap pintu depan dengan tatapan tajam. "Syukurlah kau tidak membukanya. Kalau pintu itu terbuka walau hanya sedikit saja, malam ini bisa jadi malam terakhir kita bernapas."
Raga mengusap wajahnya kasar, mencoba menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang. "Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari kita, Kek? Kenapa mereka se agresif itu? Apa karena darah kita?"
Pertanyaan itu membuat Mbah Joyo terdiam lama. Ia menatap nyala lilin yang bergoyang-goyang ditiup angin yang masuk dari celah ventilasi. Ada rahasia besar yang selama ini ia simpan rapat-rapat, rahasia yang diturunkan dari leluhur ke leluhur. Dan mungkin, malam ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya pada Raga, agar cucu nya itu mengerti posisi mereka sebenarnya.
"Dulu, lebih dari seratus tahun lalu," Mbah Joyo mulai bercerita dengan suara rendah dan berwibawa, "Desa ini bukan lah tempat yang layak huni. Tanahnya gersang, airnya sulit, dan warganya sering sakit-sakitan. Leluhur kita, Eyang Noto, adalah orang yang memiliki ilmu tinggi. Ia berusaha mencari cara agar desa ini bisa makmur dan selamat."
Mbah Joyo berhenti sejenak, menelan ludah seolah ada sesuatu yang berat di tenggorokannya.
"Untuk itu, Eyang Noto membuat sebuah perjanjian. Sebuah sumpah setia dengan para penguasa alam gaib yang mendiami wilayah ini. Ia meminta keselamatan dan kemakmuran untuk penduduk desa, dan sebagai gantinya..."
"Sebagai gantinya apa, Kek?" tanya Raga tidak sabar.
"Sebagai gantinya, keluarga kita—keturunan Eyang Noto—bersedia menjadi penjaga batas. Menjadi jembatan. Kita yang bertugas menjaga keseimbangan, dan kita juga yang menjadi 'tuan rumah' bagi mereka setiap kali malam-malam tertentu tiba."
Raga terbelalak. "Jadi... kita ini semacam tawanan perjanjian?"
"Bukan tawanan, tapi penanggung jawab," koreksi Mbah Joyo lembut. "Mereka menghormati kita karena kita memegang janji, tapi mereka juga akan menuntut jika kita melanggar. Dan malam Jumat Kliwon adalah malam di mana ikatan perjanjian itu terasa paling kuat. Energinya naik ke puncak. Mereka bisa merasakan keberadaan kita dengan sangat jelas, sama seperti kita bisa merasakan keberadaan mereka."
"Berarti selama ini... kita hidup berdampingan dengan mereka?"
"Selamanya, Ga. Selama desa ini masih berdiri, selama tanah ini masih ada, mereka akan selalu ada di sana. Dan keluarga kita lah yang menjadi tamengnya."
Perbincangan itu membuat suasana di dalam rumah terasa semakin berat. Raga kini mengerti mengapa kakeknya begitu ketat dalam menjaga adat dan kepercayaan. Bukan karena takut yang tidak jelas, tapi karena ada tanggung jawab besar yang membebani pundak mereka.
Tiba-tiba, mata Raga tertuju pada bagian bawah pintu. Celah antara lantai dan daun pintu itu cukup lebar, sekitar dua jari.
Awalnya ia tidak memperhatikan apa-apa. Namun karena cahaya lampu dari dalam rumah yang terang, ia bisa melihat bayangan di luar sana.
"Kek..." panggil Raga pelan, jari telunjuknya menunjuk ke arah kebawah pintu. "Lihat itu."
Mbah Joyo mengikuti arah pandang cucu nya. Matanya yang tajam menyipit, mencoba melihat dengan jelas.
Di sana, di balik celah pintu yang gelap, terlihat sesuatu.
Ada bayangan hitam yang menutupi celah itu. Bukan bayangan tanah atau bayangan pohon. Itu adalah bayangan sesuatu yang berdiri tepat di depan pintu. Sesuatu yang sangat tinggi, karena bayangan nya menutupi hampir seluruh bagian bawah pintu dari kiri ke kanan.
Dan yang paling mengerikan... Raga dan Mbah Joyo bisa melihatnya dengan jelas.
Sepasang kaki.
Kaki itu tidak memakai alas kaki. Kulitnya tampak pucat keputihan, hampir kebiruan, dan terlihat kering seperti keriput kertas. Jari-jarinya panjang, saaangat panjang, dan kuku-kukunya hitam, panjang, dan runcing tajam.
Namun yang membuat bulu kuduk mereka berdiri bukanlah bentuk kakinya, melainkan posisinya.
Kaki itu tidak berdiri rata menapakkan telapak kaki ke tanah seperti manusia biasa. Kaki itu berdiri jinjit... sangat tinggi jinjitnya. Hanya ujung jari-jarinya saja yang menyentuh tanah, membuat tumitnya menggantung tinggi di udara.
Dan di bawah ujung jari-jarinya yang menapak itu... ada cairan merah kental yang perlahan menetes ke tanah.
Tes.... Tes..... Tes......
Suaranya pelan, tapi terdengar begitu jelas di tengah keheningan. Itu darah. Darah segar yang masih basah.
"Mereka... belum pergi," bisik Raga dengan suara yang nyaris tak terdengar. Napasnya tertahan, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Ia takut sosok di balik pintu itu menyadari bahwa mereka sedang mengamatinya.
Mbah Joyo segera mengangkat tangan kanan nya, membentuk mudra tertentu, dan mulai melantunkan doa-doa penolak bala dengan suara berbisik yang dengan sangat cepat. Wajahnya tampak tegang, keringat mulai menetes dari pelipisnya.
"Jangan menatap terlalu lama, Ga. Alihkan pandangan. Jangan biarkan mereka tahu bahwa kita melihat mereka. Itu akan membuat mereka semakin penasaran," bisik Mbah Joyo cepat.
Raga segera menundukkan kepalanya, jantungnya rasanya mau copot. Bayangkan, hanya terpisah oleh satu lapis kayu tipis, ada makhluk mengerikan yang berdiri tepat di depan muka mereka, berdiri jinjit dengan kaki berdarah, seolah sedang mengendus-endus keberadaan mereka di dalam.
Apakah mereka sedang melihat ke dalam melalui celah pintu? Apakah mata mereka ada di situ, mengintip ke dalam kegelapan rumah?
Raga membayangkan wajah apa yang mungkin ada di balik pintu itu. Wajah yang mungkin melongo dengan mata melotot tanpa kelopak, atau mulut yang terbelah sampai ke telinga. Pikiran itu membuat perutnya terasa mual.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam. Mereka berdua duduk diam mematung, berdoa dalam hati agar sosok itu segera pergi.
Selama hampir satu jam, suasana begitu mencekam. Kadang terdengar suara gesekan pelan di luar, seolah makhluk itu sedang menggeser kaki nya. Kadang terdengar suara napas panjang yang berat dan basah, Hhhhhuuuuuuu... yang terdengar tepat di balik kayu pintu.
Hingga akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang aneh. Cprattt... Cprittt... Cpruttt... Seperti langkah kaki yang menginjak genangan air atau lumpur cair.
Bayangan kaki di bawah pintu itu perlahan bergeser ke kiri, lalu ke kanan, lalu perlahan menghilang. Sosok itu sedang berjalan mundur.
Raga menghela napas lega sebesar-besarnya. Dadanya terasa sesak karena terlalu lama menahan napas.
"Pergi..." desisnya pelan.
"Belum tentu," jawab Mbah Joyo waspada. "Mereka mungkin hanya berpindah posisi, mengintip dari jendela belakang atau dari dapur."
Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pelan dari arah dapur. Tok... tok... tok... Lambat, teratur, dan menakutkan. Lalu berpindah ke jendela kamar. Tok tok tok. Seolah mereka sedang berkeliling memeriksa seluruh sudut rumah, mencari celah yang mungkin terbuka.
Malam itu benar-benar malam yang paling panjang dalam hidup Raga. Ia tidak berani memejamkan mata sedikitpun. Ia dan Mbah Joyo duduk berjaga sepanjang malam, ditemani oleh cahaya lilin dan doa yang tak putus-putus.
Setiap kali terdengar suara ranting patah, atau bayangan lewat, mereka tersentak. Raga menyadari satu hal yang sangat menyedihkan dan menakutkan: Di rumah sendiri, di tempat yang seharusnya paling aman, mereka justru merasa seperti tahanan yang dikepung oleh musuh yang tak terlihat.
Waktu terus berlalu. Perlahan tapi pasti, warna hitam pekat di luar jendela mulai berubah menjadi kelabu pucat. Suara ayam jantan mulai berkokok bersahutan dari kejauhan. Kukuruyuuuk... Kukuruyuuuk... Suara itu terdengar seperti musik penyelamat.
Sinar pertama matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah dinding. Seiring dengan datangnya sang fajar, suasana di luar sana berubah drastis. Suasana mencekam itu perlahan menguap. Angin malam yang dingin dan menusuk digantikan oleh udara pagi yang segar.
Gangguan-gangguan itu akhirnya berhenti total.
"Sudah pagi, Rag," kata Mbah Joyo dengan suara lelah namun lega. "Matahari sudah naik. Mereka harus kembali ke alamnya."
Raga mengusap wajahnya. Ia merasa sangat lelah, tulang-tulangnya terasa pegal semua, seolah baru saja mengangkat beban berat semalaman.
"Ayo kita lihat," ajak Mbah Joyo sambil berdiri dibantu tongkatnya. "Lihat apa yang mereka tinggalkan."
Dengan hati-hati, Raga berjalan mendekati pintu depan. Tangannya gemetar saat memutar kunci gembok yang berat itu. Krek...
Pintu dibuka perlahan.
Sinar matahari pagi menyilaukan mata mereka. Aroma tanah basah dan bau dedaunan menyapa hidung. Namun, ada bau lain yang tercium samar. Bau anyir. Bau darah.
Mata Raga terbelalak melihat apa yang ada di depan pintu rumahnya.
Di tanah yang masih becek itu, tercetak jelas jejak kaki. Bukan jejak kaki biasa. Jejak itu besar, panjang nya hampir satu meter. Bentuknya seperti kaki manusia tapi tidak proporsional, dengan jejak jari-jari yang panjang dan runcing.
Dan yang paling mengerikan, jejak kaki itu tidak menapak penuh. Hanya ujung jarinya saja yang meninggalkan bekas dalam di tanah.
Dan di setiap bekas jejak kaki itu... terdapat noda darah yang mengering. Jejak itu berderet dari arah hutan, berhenti tepat di depan pintu mereka, lalu berbelok mengelilingi rumah, dan menghilang kembali ke arah hutan jati yang lebat.
Mereka benar-benar ada di sana. Mereka benar-benar berkeliling rumah semalaman.
Mbah Joyo memandangi jejak-jejak itu dengan wajah pucat. "Mereka tidak hanya mengintip, Rag. Mereka menandai rumah ini. Mereka menandai kita."
"Artinya apa, Kek?" tanya Raga cemas.
"Artinya," Mbah Joyo menatap cucunya dengan mata yang dalam, "Malam ini hanya permulaan. Mereka tidak akan berhenti hanya karena satu kali gagal. Mereka akan datang lagi. Dan lain kali... mereka mungkin tidak akan hanya mengetuk pintu."
Angin pagi berhembus, menggoyangkan dedaunan. Namun bagi Raga, angin itu terasa seperti bisikan ancaman. Perang antara dunia nyata dan dunia gaib baru saja dimulai, dan ia terjebak tepat di tengah-tengahnya.