NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Miris

"A, jangan diem aja! bantuan pasang terpalnya ini atuh." Seru Ara sedikit berteriak karena Ziano malah bertolak pinggang sambil mengamati sekitar, sementara dirinya kesulitan memasang tenda biru sebagai pelindung tambahan atap untuk gerobaknya.

Taman tempatnya berjualan adalah alun-alun kecamatan yang tak bergitu luas tapi sangat ramai. Siang hari area itu akan sangat sepi karena panas, tapi begitu sore menjelang berubah menjadi sangat ramai. Apalagi malam minggu seperti ini. Di tepi lapang terbentang tulisan nama desa dengan lampu yang menyala, sederhana tapi cukup menarik bagi warga. ALUN-ALUN BANJARSARI. Lampunya berwarna merah terang, tepat di depannya menjadi area parkir motor dan mobil.

Bagian tengah alun-alun adalah area favorit balita dan anak-anak. Aneka wahana bermain ada disana, mulai dari arena mancing ikan plastik, masak-masakan, melukis, hingga mobil-mobilan repot bahkan tranpolin serta rumah balon yang lengkap dengan mandi bola juga tersedia disana.

Bagian sisi-sisi alun-alun dipenuli oleh pedagang kaki lima, Ara adalah salah satunya. Tak kalah dari berbagai area bermain yang tersedia di alun-alun, aneka makanan ringan hingga berat pun ada disana. Dari ujung dimulai oleh tukang minuman, bakso, area cimol dan makaroni, batagor, pecel lele hingga aneka makanan lainnya.

"A Ano!" teriak Ara sekali lagi. Awal bertemu ia canggung dan malu-malu, tapi makin kesini lelaki yang numpang hidup di rumah ayahnya itu makin ngeselin. Awalnya lumayan kagum karena wajah yang lumayan menyegarkan mata, kini malah jadi kesal karena selalu punya alasan supaya tak kerja.

"Nggak usah teriak-teriak gue juga denger kok!"

"Denger tapi nggak nyaut sama sekali dipanggil dari tadi." Gerutu Ara, "tolong iket ke tiang sebelah sini, aku nggak nyampe." Ara memberikan ujung tenda birunya.

Untung Ziano pernah ikut ekskul pramuka dulu, setidaknya urusan tali menali tak sulit. "Udah. Abis ini apa lagi? gue haus ini. Tukang minuman sebelah sana kayaknya rame banget. Yang pake batang itu." Zianu menunjuk salah satu penjual es tebu.

"Mau?"

"Ya. Pinjem dulu lima puluh ribu." Ziano menadahkan tangan.

Ara memberikan keresek berisi terigu, "kerja dulu, nanti aku beliin es nya."

"Es nya dulu lah. Gue udah cape banget yah dari tadi."

Ck! Ara berdecak lirih. "Cape apa sih, A?" tangannya cekatan membuka dua bungkus tepung terigu kemasan satu kilo.

"Aa kan belum ngapa-ngapain. Baru juga bantuin ngiket tenda doang. Ini kita belum apa-apa loh. Liat dagangan aku aja belum diolah satu pun." kali ini Ara menunjuk wadah berisi sayuran yang sudah ia iris dari rumah.

"Ra..."

"Apa? Aa mau bilang pinjem uang terus diganti sepuluh kali lipat?" tebak Ara.

"Behubung lo udah tau jadi gue nggak usah basa-basi yah. Dua juta aja, Ra." jawab Ziano seraya tersenyum.

"Nggak ada!" tegas Ara.

"Tolong angkatin galon, tuang airnya kesini. Dikit-dikit, kalo aku bilang stop, Aa berhenti." lanjutnya memerintah.

"Ra, kok lo jadi nyuruh-nyuruh gue sih?"

"Bebas lah, A. Kan aku bos Aa. Abah sama A Yudi bisa nyerah sama Aa, tapi kalo aku nggak akan. Aku pastiin A Ano bisa jadi orang yang berguna. Punya skill, biar nggak nipu terus. Aku pastiin A Ano kembali ke jalan yang benar." jelas Ara panjang lebar.

"Nipu apa sih, Ra? gue nggak ada nipu yah."

"Udah lah, A. Jangan debat mulu, angkatin galonnya!"

Ziano tercegang, gadis malu-malu kucing di depannya ini sudah berubah jadi galak. Padahal pas awal ketemu saat dirinya bangun dari pingsan begitu anggun dengan senyum teduh, kenapa sekarang jadi ngegas gini?

"A! Cepetan!"

"Iya-iya sabar..." Ziano pasrah. Ia mengangkat galon tanpa merek itu dan menuangkannya ke dalam baskom sesuai instruksi Ara.

"Oke Stop!" tangan Ara begitu cepat mengaduk campuran air dan terigu, ia lalu menambahkan kubis iris, wortel, bawang daun dan aneka bumbu.

"Oke udah pas." ucapnya sambil mencicipi sedikit adonan.

Ziano tak bergeming melihatnya, bisa-bisanya adoan mentah masuk begitu saja ke mulut Ara. Ia lebih geleng-geleng kepala saat melihat gadis bertubuh kecil itu kuat mengangkat baskom besar berisi adonan.

"Aa pasti nggak bisa goreng kan?"

"Ya. Gue nyuci piring aja nggak pernah, apalagi masak." jawab Ziano, "soalnya di rumah ada bibi yang kerjain semua."

Ara mengabaikan jawaban Ziano, baginya itu hanya alasan supaya dirinya tak kerja.

"Hari ini Aa nggak usah ngegoreng, biar aku aja. Hari fokus liatin cara aku kerja, perhatiin baik-baik, meskipun nggak pake cetakan ukurannya harus sama." jelas Ara.

Malas, tapi Ziano tetap memperhatikan bagimana Ara mengerjakan semuanya. Dari mulai menggoreng, membalik, mengangkat, hingga melayani pembeli. Semua dilakukan sendiri dan baginya sangat luar biasa.

"Aa nggak mau bantuin?" tanya Ara saat pembeli kian ramai.

"Katanya hari ini gue fokus belajar?"

"Bercanda." ralatnya cepat saat Ara melotot.

Ziano berdiri di samping Ara, mengambil keresek putih kecil dan mulai memasukan gorengan kedalamnya. "ini sepuluh ribu dapat berapa?" tanya Ziano. Tangannya sudah memengang capitan gorengan.

"Lima ribu dapat empat." jawab Ara tanpa mengalihkan padangan dari bakwan yang sedang ia goreng.

Pembeli silih berganti datang. Dari yang beli lima ribu, sepuluh ribu, terbanyak dua puluh ribu. Ziano melayaninya dengan semaksimal mungkin meskipun dimata Ara kinerjanya masih sangat lambat, tapi setidaknya ia tak membuat masalah seperti di warung abah.

Ziano beberapa kali hendak duduk untuk istirahat tapi tak pernah ada waktu. Kadang baru mau duduk pembeli sudah datang, alhasil ia berdiri terus dan sialnya makin malam malah makin ramai. Barulah setelah tiga jam berlalu akhirnya ia bisa duduk dengan santai. Dagangan mereka sudah habis, kondisi taman bagian tengah juga sudah mulai sepi karena anak-anak sudah pulang. Tersisa remaja tanggung yang masih asik ngopi dengan layar HP miring di pinggir taman.

"Cape?" tanya Ara yang tengah memindahkan uang dari dalam laci gerobak ke dalam tas.

"Lumayan. Lo tiap malem kayak gini?" tanya Ziano.

"Nggak lah, A. Aku kan sekolah. Kalo libur aja." jawab Ara. Gadis itu kemudian mengacungkan dua jari ke tukang es tebu. Tak lama dua gelas es tebu sudah ready di gerobak mereka lengkap dengan dua mangkuk baso makanan berkuah yang baru pertama kali Ziano lihat.

"Minum, A. Tadi katanya pengen es."

"Udah nggak pengen lah, kelamaan." tolak Ziano, "ini apaan? cilok? baso? aneh." lanjutnya yang hanya menganduk-aduk makanan di depannya.

Ara menyantap makanan jatahnya, "cilok cinta, cobain deh, A. Enak."

"Apaan? cilok cinta?" cibir Ziano. Mendengar namanya saja sudah membuatnya ilfil.

Kesal dengan tampang Ziano yang mencela makanan, Ara langsung menyendokkan satu butir cilok dan menyuapkannya.

"Enak kan?"

Rasanya sungkan untuk mengakui, tapi jujur makanannya enak. Ziano tak banyak bicara, ia meminum es dan melahap cilok kuah lengkap dengan soun dan sayur di hadapannya. Rasanya ini makanan terenak yang pernah ia makan setelah tinggal di rumah Abah hampir satu minggu.

"Lagi?" tawar Ara.

"Nggak deh."

"Kenapa? bisa mati kalo makan makanan kayak gitu?" ledek Ara.

Ziano tersenyum getir. Bisa-bisanya ia diledek bocah bau kencur.

"Udah kenyang."

"Masa satu porsi aja udah kenyang? biasanya Mar-" Ara langsung menampong mulutnya sendiri. Hampir saja ia keceplosan bilang kalo biasanya saja Marcel habis tiga porsi. Bisa gawat kalo karyawan barunya ini sampai dengar dan ngadu ke abah.

"Udah kenyang gue. Perut gue nggak bisa nerima banyak-banyak makanan yang aneh." Ziano beralasan, padahal selama melayani pembeli tadi, dia juga sambil nyemilin gorengan karena lapar.

"Ya udah kalo gitu, malah hemat." Jawab Ara.

"Sekarang saatnya gajian. Aku lumayan seneng nih sama kerjaan Aa, meskipun lelet tapi lumayan lah." Ara mengambil empat lembar uang lima ribuan.

"Gaji pertama...." Ara mengipas-ipaskan uang itu kemudian memberikannya pada Ziano.

Ziano melongo, menatap empah uang lusuh berwaran cokelat di tangannya. "Ini lo nggak salah itung, Ra?"

Ara menggeleng.

"Lo dapat duit banyak loh. Lima ratus ribu ada kayaknya."

"Terus?"

"Ya masa gue cuma dua puluh ribu, Ra?" protes Ziano.

"Ya kan Aa kerjanya juga cuma ngiket tali sama ngewadahin gorengan doang." jawab Ara. Gadis itu mengeluarkan uang lima ribuan dua lembar lagi.

"Ya udah deh aku tambahin sepuluh ribu lagi nih." lanjutnya seraya meletakan uang itu ke tangan Ziano.

"Minggu depan harus lebih rajin dan semangat lagi yah kerjanya." kata-kata motivasi pun tak lupa ia berikan.

Ziano menatap miris enam lembar uang di tangannya. Hanya tiga puluh ribu ditambah embel-embel harus lebih rajin bekerja. Ia beralih menatap Ara dan uang di tangannya bergantian. Tiga jam berdiri, pegal, panas dan melayani membeli cuma dapat tiga puluh ribu? astaga! bahkan untuk beli kopi di cafe langganannya saja masih kurang banyak.

1
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
Vike Kusumaningrum 💜
Jahat banget kamu Cel, masalah hati g ada yang bisa maksa euy. masih untung dibiarin ketemuan sm Ano g diaduin ke Aki, malah ngelunjak kamu.
Shee_👚: marcel dah di kasih susu malah balas tuba🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!