Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Sedangkan dirumah Melisa dia duduk dengan gelisah karena tidak tahu harus berkata apa, dia kini berada kamar sang anak dan berusaha untuk tidak mengatakan apapun pada sang suami walau pun dia sedang berantem dengan dirinya sendiri.
"Bagaimana caranya untuk mengelabui mas Reza kalau begini caranya".
Dia tidak menyangka suaminya pulang dari dinas secara mendadak, dia khawatir jika suaminya tahu permasalahan ini.
Keesokan harinya, Melisa mematung melihat suaminya yang kini berada didepan pintu rumah.
"Mas sudah pulang?, kok pulangnya mendadak?". Tanyanya mengambil barang suaminya .
Revan sang suami hanya menatap datar sang istri, sejak dia tiba wajahnya sudah tak sedap dipandang ditambah lagi dia bahkan tidak mengucapkan salam
Dia langsung masuk kedalam rumah dengan langkah yang seperti menahan amarah.
Melisa menelan ludahnya kasar, sikap suaminya membuatnya ketakutan setengah mati.
"Apa yang kamu lakukan pada Nurbiah dan anak-anaknya?". Tanyanya dengan dingin dan tajam.
Matanya memerah menahan emosi sejak tadi, tapi dia berusaha mengendalikan suaranya agar tidak meledak.
"Nurbiah siapa mas?, aku tidak kenal". Jawabnya sambil kebingungan.
Dia memang tidak mengenal nama itu, itu sebabnya dia bingung karena suaminya menanyakannya.
"Dia istri dari Hasan dan ipar dari Harun sahabatku, dia tadi meneleponku dan mengatakan apa yang kamu dan Romi lakukan pada ketiga anaknya". Bentaknya dengan penuh emosi.
Emosi yang sejak tadi mati-matian dia tahan akhirnya meledak juga.
Perkataan Biah yang memberitahunya tentang kelakuan istri dan anaknya membuatnya meradang, dia bahkan mengirimkan video bagaimana putra dan istrinya lakukan sebagai buktinya.
Melisa tersentak terkejut atas bentakan suaminya itu, selama mereka menikah suaminya bahkan tak pernah membentak apalagi meneriaki dirinya seperti ini dan hanya karena orang yang dia tidak kenal membuatnya mendapatkan bentakan.
"Aku tidak mengenalnya mas, memang siapa sih mereka sampai membentak aku seperti ini". Ucapnya menahan tangis.
Revan menatap nyalang istrinya yang seakan pura-pura tidak tahu padahal jelas-jelas dia melakukan hal yang memalukan disekolah tadi.
"Dia bunda Umar Istri dari Hasan dan Tante dari Ukasyah putra Harun sahabat ku yang kamu tampar karena membela kakaknya padahal dia hanya menolong kakaknya karena anakmu membully nya".
Matanya melotot dan menatap istrinya dengan berang, nafasnya memburu dan siap ingin memakannya.
Nafas Melisa tertahan, dia tidak menyangka jika suaminya adalah sahabat dari anak dan perempuan yang dia hina.
"Mereka bukan orang miskin seperti yang kau hinakan pada mereka, bahkan jika bukan karena bantuan dari ayah Biah aku tidak akan pernah bisa jadi tentara berpangkat seperti ini, kamu membuatku malu dan tidak punya muka berhadapan dengannya ". Teriaknya dengan penuh emosi.
Dia bahkan mencengkram pundak sang istri dengan tenaga yang besar dia miliki untuk melampiaskan amarahnya.
Melisa meringis merasakan cengkraman kuat suaminya pada pundaknya, dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya
"Maafin aku mas, aku tidak tahu". Cicitnya ketakutan.
Mata Revan melotot, dia tidak pernah berpikir jika istri nya suka menghina dan membedakan orang hanya karena dia berasal dari kalangan berada.
"Asal kamu tahu, Biah itu lahir dari keturunan tentara dan aparat negara bahkan PNS tingkat atas, kamu bukan tandingan mereka tapi bedanya mereka tidak pernah menampakkan apa yang dimiliki apalagi penuh kesombongan seperti mu, kamu mengajari anakku menjadi sampah masyarakat seperti mu".
Dia meninju kaca didepannya sehingga berhamburan, emosinya tidak bisa dia kendalikan karena perbuatan istrinya.
Melisa mundur selangkah dengan ketakutan, suaminya bisa mengamuk seperti ini akan sangat bahaya.
"Sekarang ikut aku kerumah Biah untuk meminta maaf kalau perlu bersujud didepannya jika tidak akan ku kembalikan kamu kepada orangtua mu". Ucapnya menarik paksa tangan sang istri.
"Romi". Teriaknya dengan suara menggelegar.
Nafasnya memburu bahkan dadanya naik turun, wajahnya memerah .
Romi yang mendengar teriakan sang ayah langsung keluar kamarnya dan langsung pucat melihat amarah yang berkobar dimata sang ayah.
"Iya yah". Jawabnya dengan takut-takut.
Dia berjalan mendekati sang ayah tapi tangannya langsung di cengkram dengan kasar
"Ikut ayah sekarang, pastikan kamu dan ibumu mendapatkan maaf dari Ukasyah dan Umar beserta ibunya jika tidak maka akan ku usir kamu dari rumah ini bersama ibumu".
"Tapi yah". Protesnya.
"Jangan membantah ayah, kamu tidak akan pernah menikmati fasilitas mewah seperti ini jika bukan karena kakek Umar dan Ukasyah yang membiayai sekolah ayah, bahkan ayah tidak akan pernah bisa membalas jasa mereka pada ayah selama ini tapi kalian berdua malah menghina, merendahkan dan juga menganiaya mereka". Bentaknya dengan suara menggelegar
Romi menunduk mendapatkan bentakan dari ayahnya itu, ini pertama kalinya dia merasakan dibentak dan dimarahi oleh sang ayah dan itu semua karena Umar dan keluarga nya.
"Aku akan membalas kalian nanti, karena kalian ayahku memarahi bahkan membentak aku seperti ini". Ucapnya dengan tangan mengepal
"Mas". Protesnya kepada sang suami.
"Apa?, ini semua gara-gara kamu yang tidak bisa mendidik anak dengan benar sampai bertingkah laku seperti orang tidak punya etika dan suka merendahkan orang, Biah bahkan bukan sainganmu". Ucapnya dengan tatapan tajam
"Kenapa mas begitu membelanya, masalah bayaran uang sekolah mas kan bisa kita bayar kembali tidak perlu membentak dan memarahi kami seperti ini". Jawabnya tidak terima.
Mendengar perkataan istrinya wajah Revan semakin memerah, bahkan urat-urat pada lehernya ikut menyembul karena amarahnya.
"Apa kamu bilang?, ini bukan hanya perkara uang dan dibayar tapi itu adalah hutang Budi yang tidak akan bisa dibayar dengan uang dan asal kamu tahu saja, Nurbiah lah yang menyelamatkan nyawa ibuku saat kecelakaan itu, andai dia tidak menyelamatkannya, Biah pasti sudah jadi dokter, dia kehilangan cita-cita yang dia inginkan karena menolong seorang wanita parubayah, apa kamu tidak punya otak? ".
Kini suaranya bahkan lebih besar dari yang tadi, emosinya semakin meledak karena istrinya sangat meremehkan dan merendahkan kebaikan orang lain.
"Mas aku". Cicitnya ketakutan.
Tubuh keduanya bergetar hebat karena ketakutan melihat amarah itu.
"Bukan hanya ibuku tapi adikku juga sudah dia tolong untuk bisa masuk kedokteran berkat kepintarannya, dan ayahnya membantuku saat itu untuk sekolah TNI karena beliau seorang Jendral, kamu pikir kau yang hanya PNS biasa bisa setara dengan keluarganya?".
Melisa menunduk, dia tidak tahu jika yang dia lawan adalah orang yang berpengaruh, dia salah mencari masalah jika seperti ini.
"Maafin aku mas, aku akan minta maaf padanya". Ucapnya mengalah.
Dia tidak mau rumah tangganya hancur karena kesalahan dirinya sendiri.
"Tentu saja kamu harus minta maaf dan kalian berdua harus mendapatkan maaf mereka, jika tidak akan akan mengusir kalian berdua dari sini, aku tidak mau punya anak dan istri tidak tahu etika dan suka menghina orang".