Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.Tangan Hangat yang Mengulurkan Racun dan Umpan di Lapangan Bela Diri
Pagi hari berikutnya bergulir dengan sisa kabut tipis yang menyelimuti area asrama Akademi Shenglan. Di dalam kamarnya, Nie Li duduk di tepi ranjang kayu dengan ringisan tertahan. Sepasang lingkaran hitam samar menghiasi kelopak matanya, buah dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur nyenyak. Setiap kali dia mencoba menggeser posisi duduk, rasa panas dan linu yang menusuk dari pantatnya akibat cambukan rotan sang ayah semalam langsung memicu sensasi berdenyut yang menguji ketahanan batinnya.
Namun, rasa sakit fisik itu segera ditepis oleh arus pemikiran dewasanya yang kembali berputar taktis.
*'Sial, pukulan Ayah benar-benar tanpa ampun. Bahkan setelah semalaman diselimuti energi spiritual dasar, memar ini belum juga mereda,'* Nie Li membatin sembari perlahan berdiri dengan tumpuan kaki yang agak kaku. *'Tapi fokusku tidak boleh teralih. Aku harus segera mencari celah untuk mengakses catatan akademik dan riwayat kultivasi Kakak Xiao Xuan. Jika aku bisa memancingnya untuk memperlihatkan esensi Teknik Kultivasi serta jenis Roh Iblis yang bersemayam di dalam lautan jiwanya, aku akan bisa memastikan satu hal terbesar... Apakah Xiao Xuan di garis waktu ini adalah sosok agung yang sama dengan Sang Penguasa Aula Naga Leluhur yang melegenda dalam ingatan masa laluku?'*
Rasa penasaran yang berpadu dengan secercah harapan membuat sudut bibir Nie Li terangkat tipis. Tentu saja, ambisi besarnya itu harus berjalan beriringan dengan dua agenda domestik yang mendesak hari ini: memulihkan memar di tubuhnya, dan memastikan posisinya di akademi tetap aman tanpa memicu kecurigaan faksi klan lain.
Dengan langkah kaki yang terpincang-pincang menahan linu, Nie Li perlahan melangkah memasuki ruang Kelas Prajurit Pemula. Kehadirannya yang babak belur dengan beberapa gigi depan yang tanggal sontak menjadi pusat perhatian, tak terkecuali bagi Shen Yue yang telah menunggu dengan senyum meremehkan di barisan depan.
"Heh, lihat siapa yang datang," Shen Yue mengejek dengan nada melengking, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh seisi kelas. "Nie Li, ada apa dengan gaya berjalanmu yang pincang itu? Wajah bengkak dan gigi yang ompong... harus kuakui, melihat pemandangan menyedihkanmu hari ini benar-benar membuat suasana hatiku sangat benderang!"
Nie Li memilih untuk menutup indranya, berjalan melewati meja pemuda klan suci itu tanpa membalas sepatah kata pun. Sikap acuh tak acuh itu justru memicu kedengkian Shen Yue yang lebih dalam. Pria muda itu memiringkan tubuhnya, berbisik dengan nada menekan yang sarat ancaman moral.
"Nie Li, demi leluhur, kau benar-benar makhluk kelas rendah yang diberkahi keberuntungan anjing," bisik Shen Yue, matanya berkilat dingin. "Asal kau tahu, Wakil Kepala Sekolah Ye Sheng awalnya telah memegang perkamen resmi untuk menendangmu keluar dari gerbang akademi ini. Namun, Kakak Xiao Xuan menunjukkan kelasnya sebagai pria dewasa yang agung. Beliau tidak menyimpan dendam setitik pun, bahkan berdiri di depan meja wakil kepala sekolah untuk membelamu dan membiarkan sampah sepertimu tetap menghirup udara di tempat ini. Tapi ingat peringatanku, bersikaplah tahu diri mulai sekarang. Ada beberapa sosok di dunia ini yang auranya bahkan tidak boleh kau tatap. Kau sudah masuk dalam daftar pengawasan ketat, jadi berhati-hatilah agar tidak membuat kesalahan sekecil apa pun di depanku."
Nie Li tetap melangkah menuju mejanya tanpa memedulikan gertakan politik anak-anak tersebut. Bagi seorang pria yang telah melintasi batas kematian laksana dirinya, sanksi akademik atau gertakan Shen Yue tidak lebih dari riak air dangkal. Selama dia diizinkan untuk tetap tinggal di dalam sangkar akademi ini, dia sangat yakin bahwa dengan mengandalkan akumulasi pengalaman ratusan tahun dari kehidupan masa lalunya, dia akan membalikkan keadaan dan memaksa seluruh tetua klan memandangnya dengan rasa hormat yang baru.
Belum sempat Nie Li mengeluarkan kitab batinnya, sebuah bayangan jubah hitam yang elegan bergerak mendekat, membawa aroma wewangian kayu cendana yang menenangkan udara di sekelilingnya. Xiao Xuan berdiri di samping meja Nie Li dengan raut kedewasaan yang penuh kehangatan, sepasang mata indigonya memancarkan kepedulian yang teramat tulus.
"Nie Li, ternyata kau sudah berada di kelas. Aku telah menghabiskan waktu pagi ini untuk mencarimu di paviliun luar," Xiao Xuan membuka suara, nadanya mengalun rendah dan ramah. Dia mengulurkan tangannya, meletakkan sebuah botol pualam hijau murni yang memancarkan pendaran hawa spiritual hangat di atas meja kayu. "Ini, bawa kotak obat ini untukmu. Mintalah tabib asrama untuk mengoleskan esensi Pil Obat ini pada luka memarmu."
Nie Li tertegun sejenak, menatap botol pualam itu sebelum mendongak dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru. "Kakak Xiao Xuan... saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih atas kemurahan hati Anda."
"Ada apa dengan ekspresi canggungmu itu, Nak? Jangan bersikap terlalu formal dan plin-plan di hadapanku. Ambil saja," Xiao Xuan mengulas senyum tipis yang hangat, menepuk pundak Nie Li dengan gestur seorang kakak pelindung, meski di dalam kepalanya, setiap detail gestur tubuh Nie Li sedang dipetakan secara dingin. "Jika dipikirkan kembali dengan kepala dingin, jika bukan karena kesalahpahaman spiritual di kelasku pagi itu, kau tidak akan menjadi sasaran kemarahan murid faksi luar, dan kau juga tidak perlu menerima cambukan disiplin dari Paman Nie Ming semalam. Pamanmu adalah seorang pria tua yang dihormati, tidak pantas bagi pemuda sepertiku untuk mengintervensi otoritas domestik keluargamu. Maafkan aku karena tidak bisa menahan pukulan tongkatnya semalam."
"Bagaimana mungkin saya memiliki pikiran picik seperti itu, Kakak?" Nie Li menyahut dengan cepat, nadanya dipenuhi ketulusan yang pekat. "Saya sangat mengerti bahwa posisi dan tindakan Kakak semalam justru telah menyelamatkan muka keluarga kami dari kehancuran sosial."
"Kalau begitu, cepat konsumsi dan larutkan pil obat itu sekarang juga," Xiao Xuan sengaja memasang wajah datar, beralih pada nada bercanda khas pria dewasa yang memiliki selera humor tipis. "Jika kau menolaknya, itu sama saja dengan tidak memberi penghormatan batin pada kakak kelasmu sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa keluar dan membangun pengaruh di dunia luar kelak jika memperlakukan rekan sendiri saja tidak mampu?"
Nie Li terkekeh pelan, rasa sungkannya runtuh oleh pendekatan hangat tersebut. "Baiklah, Kakak Xiao Xuan, dengan penuh rasa hormat saya akan menerimanya."
"Bagus. Jika kau membutuhkan sumber daya atau menghadapi jalan buntu dalam hal apa pun di akademi ini, pintu paviliun pribadiku akan selalu terbuka untukmu," kata Xiao Xuan, memberikan tepukan ramah terakhir di bahu kurus pemuda itu sebelum membalikkan tubuhnya.
Namun, begitu siluetnya membelakangi pandangan Nie Li dan melangkah menyusuri lorong bangku kelas, senyuman hangat di wajah Xiao Xuan menguap tanpa bekas, menyisakan sepasang mata yang sedingin es utara dan penuh dengan perhitungan matang.
*'Nie Li... kuharap kau bisa mempertahankan tatapan penuh rasa syukur dan kepatuhan naif itu untuk waktu yang lama, bahkan di saat seluruh jaring perangkap batin yang sedang kurancang ini perlahan-lahan mulai memutus urat takdirmu,'* Xiao Xuan mencibir di dalam lubuk batinnya yang paling gelap.
Ketika lonceng penanda berakhirnya kelas sore berdentang memenuhi udara akademi, Nie Li segera bangkit dari duduknya. Dengan langkah yang sudah sedikit lebih ringan berkat pengaruh obat dari Xiao Xuan, dia bergegas mencegat sang maestro muda di koridor paviliun utama.
"Kakak Xiao Xuan, tunggu sebentar," Nie Li memanggil, langkahnya bergegas hingga menyisakan sedikit rasa canggung di wajah remajanya. "Saya memiliki sebuah permohonan pribadi yang teramat besar... Apakah Kakak memiliki waktu luang setelah ini?"
Xiao Xuan menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh dengan keanggunan jubah hitamnya yang berdesir pelan. Sepasang alisnya terangkat dengan ekspresi kedewasaan yang penuh rasa ingin tahu. "Nie Li? Ada apa? Katakan saja tanpa ragu. Selama permohonan itu berada di dalam batas jangkauan pengaruhku, aku tidak akan pernah melontarkan kalimat penolakan pada rekan satu angkatan."
Nie Li menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam sepasang mata indigo Xiao Xuan dengan keseriusan seorang pria yang menyembunyikan identitas besar. "Kakak Xiao Xuan, jika demikian... aku ingin meminta Anda untuk melakukan sesi latihan tanding batin bersamaku di lapangan bela diri. Dan aku memohon dengan sangat... agar Kakak mengerahkan seluruh kapasitas energi spiritual dan kemampuan murni Anda tanpa ada yang disembunyikan."
"Apa?" Xiao Xuan membelalakkan matanya sesaat, menampilkan ekspresi terkejut tiruan yang teramat natural, seolah dia benar-benar menganggap permintaan itu sebagai lelucon remaja yang nekat. "Kau ingin melakukan latihan tanding fisik denganku, Nie Li? Apakah kau benar-benar yakin bahwa ini adalah bentuk bantuan yang kau butuhkan dari seorang kultivator yang lautan jiwanya berada di tingkatan yang berbeda darimu?"
Namun, di balik topeng keterkejutan itu, sebuah tawa dingin yang sarat akan kepuasan taktis meledak di dalam benak Xiao Xuan.
*'Hahaha! Rangkaian modifikasi memori takdir yang ditanamkan oleh sistem benar-benar tidak mengecewakan ekspektasiku!'* Xiao Xuan mencibir bengis di dalam batinnya. *'Apakah kau begitu tidak sabar dan putus asa untuk menyelidiki apakah struktur energi duniaku selaras dengan Sang Penguasa Aula Naga Leluhur dalam potongan memori masa depanmu itu, Bocah Reinkarnasi? Baiklah... jika kau begitu merindukan sebuah kepastian taktis, aku akan dengan senang hati masuk ke dalam papan permainanmu.'*
"Kakak Xiao Xuan, saya sangat yakin dan tidak sedang bergurau," Nie Li menegaskan sekali lagi, suaranya berbobot, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya baru saja sembuh dari memar fisik. "Aku ingin menguji batas kemampuan batin yang kumiliki di hadapan Anda."
"Baiklah, jika itu adalah keteguhan yang kau pilih, aku menerima tantangan latihan ini," Xiao Xuan mengangguk dengan senyum tipis yang kembali menghiasi wajahnya, nada suaranya berubah menjadi lebih protektif namun tegas khas pria dewasa. "Namun, aku harus mengingatkanmu terlebih dahulu: berhati-hatilah menjaga pertahanan jiwamu. Jika kelak kau mendapati dirimu tersungkur kalah, jangan pernah berlari menuju paviliun ayahmu sambil menangis dan menuduh bahwa aku menggunakan pengaruh besar untuk menindas yang lemah. Kakakmu ini memiliki harga diri yang terlalu tinggi untuk menanggung reputasi sekotor itu."
"Jangan khawatir, Kakak Xiao Xuan, saya bukan anak kecil yang akan mengeluh. Mari kita bergerak dengan cepat," Nie Li menyahut dengan binar kegembiraan yang tak mampu disembunyikannya.
"Lewat sini, ikuti langkahku menuju Lapangan Seni Bela Diri sayap barat," Xiao Xuan berujar lambat, melangkah di depan memimpin jalan dengan postur tubuh yang tegak dan penuh wibawa.
Sembari tumit sepatunya mengetuk lantai pualam menuju arena pertarungan, bayangan giok spiritual di dalam lautan jiwa Xiao Xuan berputar dengan pendaran keemasan yang semakin intens, siap menyambut mangsanya yang dengan sukarela melangkah masuk ke dalam sangkar pembantaian takdir.
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 🎰 🎭 Wah, wah... Tuan Rumahku yang teramat licik! Lihatlah bagaimana domba muda ini berjalan dengan riang menuju altar pengorbanan batin Anda! Bersiaplah, karena Lapangan Seni Bela Diri ini akan segera berubah menjadi mesin ATM Poin Penjahat pribadi yang paling menguntungkan bagi Anda! Hehehe... Let's rock his world! 💢 🃏* ]