No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nada yang Tertinggal
Angin di luar Kota Fengyu masih membawa sisa-sisa bau asap.
Namun langkah Yi Ling tidak melambat.
Ia berjalan di jalan tanah yang membelah perbukitan, seruling giok ungu tergantung tenang di pinggangnya. Di belakangnya, Xiān Yǔ menguap tanpa malu, sementara Zhui Hai tetap diam seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar ada.
“Kita benar-benar pergi begitu saja?” Xiān Yǔ akhirnya bertanya, nada suaranya setengah kecewa. “Aku kira bakal ada lanjutan. Minimal… satu dua orang lagi buat pemanasan.”
Zhui Hai melirik sekilas.
“Kau sudah membunuh cukup banyak untuk disebut bencana alam.”
Xiān Yǔ menyeringai.
“Bencana alam itu keren.”
Yi Ling tidak ikut dalam percakapan itu.
Matanya menatap lurus ke depan.
Namun pikirannya… tidak di sini.
—
Nada terakhir yang ia mainkan semalam masih tertinggal.
Bukan di udara.
Tapi di dalam dirinya.
Ia bisa merasakannya—sebuah getaran halus yang tidak seharusnya ada.
Seperti… sesuatu yang menjawab.
Langkah Yi Ling berhenti.
Xiān Yǔ hampir menabraknya dari belakang.
“Eh? Kenapa—”
“Diam,” ucap Yi Ling pelan.
Nada suaranya berubah.
Zhui Hai langsung waspada.
“Ada apa?”
Yi Ling tidak langsung menjawab.
Ia menutup matanya.
Perlahan.
—
Angin berhenti.
Burung di kejauhan tidak lagi bersuara.
Bahkan dedaunan… seolah menahan napas.
Lalu—
Fiu…
Nada sangat pelan keluar dari udara.
Bukan dari seruling.
Bukan dari Yi Ling.
—
Xiān Yǔ merinding.
“Itu… bukan kau, kan?”
Yi Ling membuka mata.
Tatapannya tajam.
“Bukan.”
—
Nada itu muncul lagi.
Kali ini lebih jelas.
Seperti… seseorang sedang menirukan.
Namun tidak sempurna.
Nada itu sumbang.
Patah.
Dan… dingin.
—
Zhui Hai melangkah maju sedikit.
“Ini bukan teknik manusia.”
Xiān Yǔ langsung berubah serius.
“Kalau bukan manusia… berarti menarik.”
Yi Ling akhirnya mengangkat tangannya.
Pelan.
Seruling giok ungu muncul di genggamannya.
Ia tidak langsung bermain.
Ia hanya… menunggu.
—
Nada itu datang lagi.
Lebih dekat.
Lebih berani.
Seolah menantang.
—
Yi Ling tersenyum tipis.
“Akhirnya muncul juga.”
“Siapa?” tanya Xiān Yǔ.
Yi Ling mengangkat serulingnya.
“Kesalahan.”
—
Nada pertama dimainkan.
Fiuuu—
Lembut.
Bersih.
Sempurna.
—
Dan dunia… merespons.
Nada sumbang itu langsung bergetar.
Seperti sesuatu yang dipaksa keluar dari persembunyian.
Udara di depan mereka retak.
Bukan secara fisik.
Tapi seperti ilusi yang pecah.
—
Sesosok bayangan muncul.
Tidak memiliki bentuk tetap.
Kadang menyerupai manusia.
Kadang hanya kabut.
Namun satu hal pasti—
Ia memancarkan aura yang sama seperti nada tadi.
Salah.
—
Xiān Yǔ langsung menyeringai lebar.
“Oho… ini baru menarik.”
Zhui Hai menyipitkan mata.
“Makhluk resonansi…”
Yi Ling tidak menurunkan serulingnya.
“Bukan.”
Ia melangkah maju satu langkah.
“Itu… sisa.”
—
Bayangan itu bergerak.
Cepat.
Langsung menuju Yi Ling.
—
Namun sebelum menyentuh—
Fiuuuuu—
Nada kedua keluar.
Lebih dalam.
Lebih berat.
—
Bayangan itu terhenti di udara.
Tubuhnya bergetar.
Seolah setiap bagian dari dirinya tidak sinkron.
—
“Aku pernah melihat ini…” gumam Zhui Hai.
“Sisa teknik yang tidak selesai… bisa berkembang sendiri jika diberi waktu.”
Xiān Yǔ mengangkat alis.
“Jadi… ini semacam ‘gema’?”
Yi Ling mengangguk tipis.
“Gema… yang belajar.”
—
Bayangan itu mengeluarkan suara.
Bukan suara manusia.
Bukan juga suara makhluk.
Tapi…
tiruan.
—
“...mati…”
“...bunuh…”
“...jatuh…”
—
Xiān Yǔ meringis.
“Bahasanya jelek.”
—
Bayangan itu tiba-tiba menyerang lagi.
Kali ini lebih cepat.
Lebih agresif.
—
Yi Ling tidak mundur.
Ia justru memainkan nada ketiga.
—
Nada itu… berbeda.
Tidak indah.
Tidak lembut.
—
Tapi tajam.
—
Seperti pisau.
—
BOOM!
Bayangan itu langsung terbelah.
Namun—
tidak hilang.
Ia menyatu kembali.
—
Yi Ling berhenti.
Matanya menyipit.
“Menarik…”
Zhui Hai langsung bicara,
“Kalau dia terus menyerap nada, dia akan berkembang.”
Xiān Yǔ tertawa pelan.
“Berarti kita harus bunuh sebelum dia jadi masalah.”
Yi Ling terdiam.
Sejenak.
—
Lalu ia menurunkan serulingnya.
“Aku tidak akan menghancurkannya.”
Xiān Yǔ: “Hah?”
Zhui Hai: “Alasan?”
Yi Ling menatap bayangan itu.
“Karena… ini bukan musuh.”
—
Bayangan itu berhenti bergerak.
Seolah mendengar.
—
“Itu adalah bukti,” lanjut Yi Ling.
“Bahwa nadaku… bisa meninggalkan sesuatu.”
Xiān Yǔ mengangkat bahu.
“Dan itu hal bagus?”
Yi Ling tersenyum tipis.
“Bisa jadi.”
—
Ia melangkah lebih dekat.
Bayangan itu tidak menyerang.
—
Untuk pertama kalinya—
ia… ragu.
—
Yi Ling mengangkat tangan.
Bukan menyerang.
—
Mengundang.
—
“Nada yang salah… tetap bisa diselaraskan,” ucapnya pelan.
“Jika ia mau belajar.”
—
Sunyi.
—
Lalu—
bayangan itu perlahan mengecil.
Bentuknya tidak lagi liar.
Tidak lagi pecah.
—
Ia menjadi satu titik gelap kecil.
Mengambang.
—
Xiān Yǔ bersiul.
“Wah… kau pelihara?”
Zhui Hai menambahkan datar,
“Risiko tinggi.”
Yi Ling menatap titik itu.
“Semua kekuatan besar… dimulai dari sesuatu yang tidak stabil.”
—
Ia menjentikkan jari.
Titik itu menghilang.
Masuk… ke dalam serulingnya.
—
Sunyi kembali.
—
Angin berhembus lagi.
Dunia kembali normal.
—
Xiān Yǔ menghela napas panjang.
“Oke… perjalanan kita makin aneh.”
Zhui Hai berbalik.
“Dan makin berbahaya.”
Yi Ling kembali berjalan.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
—
Namun di dalam serulingnya—
sesuatu… berdenyut pelan.
—
Dan untuk pertama kalinya—
Yi Ling merasa…
ia tidak lagi berjalan sendirian.