Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Kau Mempermalukanku
"Atlas, aku akan menemui temanku di sana, kau bisa menyusul nanti. Selamat menikmati makanannya," kata Tuan Benjamin sambil menepuk bahu Atlas sebelum pergi bersama salah satu pengawalnya. Atlas mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Stevan yang semakin mendekat.
Alicia terlihat memegang lengan kakaknya, diliputi rasa gugup dan takut. Atlas menyadari kecemasannya. "Tenang, Alicia. Apa yang kau takutkan dari dua orang bodoh itu? Mereka tidak akan berani menyentuhmu. Percayalah padaku."
"Yah, yah, pantas saja aku mencium bau busuk yang menyengat. Ternyata ada sampah yang dibawa oleh seorang pelacur kesini," Stevan melambaikan tangannya di depan hidungnya. Bianca yang berdiri di sampingnya melakukan hal yang sama.
"Siapa yang kau sebut sampah dan pelacur? Sepertinya kau akan pulang dengan kaki patah sekarang," Atlas mengepalkan tangannya. Alicia yang melihat situasi itu segera menarik Atlas menjauh.
Namun, Atlas menggenggam tangan adiknya dan tetap di posisinya. Ia tidak menunjukkan rasa takut terhadap kata-kata Stevan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Atlas? Dari mana kau mendapatkan pakaian itu? Apa kau mencurinya?" tanya Bianca sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sayangnya, aku tidak sepertimu, Bianca. Aku tidak bertindak bodoh demi berada di hadapan kelas atas. Aku tidak akan menjual harga diriku untuk duduk dan bergabung dengan para elit. Adikku tidak semurah dirimu, yang rela tubuhmu disentuh oleh orang tidak berguna seperti Stevan. Kehadiran kami di sini jelas lebih terhormat daripada dirimu."
"Kau!" geram Stevan, meraih kerah baju Atlas. "Sampah sepertimu tidak pantas berada di sini! Kau hanyalah sampah!"
Stevan melepaskan kerah Atlas dan mendorongnya, lalu melambaikan tangannya ke arah seorang petugas keamanan. Atlas tetap tidak melawan, ia masih mengamati apa yang akan dilakukan Stevan.
"Atlas, tolong, jangan pedulikan dia. Mari kita temui Tuan Benjamin dan menjauh dari mereka!" Alicia kembali menarik tangan Atlas.
"Aku sudah bilang, Alicia. Percayalah padaku, aku bisa menangani semua ini. Kita perlu melihat sejauh mana mereka akan mempermalukan kita."
"Hei, petugas keamanan! Bawa dua orang ini pergi. Mereka pencuri. Lebih baik bawa mereka ke kantor polisi terdekat."
Bianca menyeringai sinis dan berkata, "Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan kami, Atlas. Ingat, kau hanyalah seorang sampah, tidak ada yang bisa kau banggakan."
Petugas keamanan yang bertubuh tegap itu tampak bingung karena ia tahu Atlas datang bersama Benjamin. Ia tidak bisa sembarangan membawa Atlas keluar kecuali ia ingin mempertaruhkan hidupnya.
"Apa yang kau tunggu? Kau ingin dipecat? Biar kuberitahu, ayahku adalah teman penyelenggara acara ini. Aku bisa menyuruhnya berbicara dengan Tuan Darius dan membuatmu dipecat serta diblokir agar kau tidak pernah bisa bekerja lagi! Apa kau mau itu terjadi?"
Petugas keamanan itu bergantian melihat antara Atlas dan Stevan. Ancaman Stevan terasa lebih menakutkan, karena kehilangan pekerjaan jelas merupakan pilihan terburuk.
"Aku mengerti, Tuan Stevan," kata petugas keamanan itu lalu memegang tangan Atlas dan Alicia untuk membawa mereka keluar dari ruang jamuan.
"Selamat tinggal, Atlas bodoh! Ingat, kau tidak akan pernah berada di atasku!" teriak Stevan. Ia dan Bianca tampak tersenyum lebar saat melihat Atlas dibawa pergi oleh petugas keamanan.
Namun, kegembiraan mereka berakhir ketika pengawal Tuan Benjamin muncul dan menghentikan langkah petugas keamanan tersebut.
"Hei, apa yang kau lakukan pada Tuan Atlas?! Apa kau tidak tahu bahwa Tuan Atlas adalah rekan Tuan Benjamin? Apa kau ingin hidupmu berakhir?" pengawal Tuan Benjamin menatap tajam petugas keamanan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke Atlas. "Apa kau baik-baik saja, Tuan Atlas? Apa yang terjadi?"
"Hei! Kau di sana! Siapa kau!" Stevan mendekat, melepas kacamata hitamnya, matanya masih bengkak akibat pukulan Atlas pagi tadi. "Kenapa kau menghentikan mereka? Apa kau salah satu kaki tangan pencuri ini?"
"Tuan Stevan, aku cukup yakin kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tuan Atlas bukan pencuri, ia datang ke sini bersama Tuan Benjamin. Jika boleh aku tahu, apa sebenarnya yang terjadi?"
"Diam! Siapa sih Benjamin itu? Aku terus mendengar namanya! Aku ingin tahu siapa orang bodoh yang melindungi bajingan ini! Aku tidak peduli kalau dia presiden, Atlas tidak seharusnya berada di sini!" teriak Stevan sambil menunjuk tajam ke arah pengawal Tuan Benjamin. "Hei, petugas keamanan! Apa kau tuli? Cepat bawa sampah ini pergi!"
Merasa terpojok, petugas keamanan itu kembali mencoba membawa Atlas dan Alicia pergi. Namun, saat tangannya hendak menyentuh mereka, pengawal Tuan Benjamin berbicara lagi. "Kau akan menderita jika berani menyentuh mereka. Biarkan mereka disini!"
Petugas keamanan yang ketakutan itu langsung mundur, tidak lagi menghiraukan Stevan yang terus berteriak padanya.
"Apa yang kau lakukan, bodoh? Baiklah, kau juga ingin merasakan hidupmu menjadi seburuk Atlas! Bagus, aku akan menelepon ayahku dan menyuruhnya menendangmu keluar! Menurutmu kau siapa? Kalian hanya tikus yang menipu orang untuk bisa masuk ke sini!"
Atlas terlihat dengan senyum miring, mendengar kata-kata Stevan dan melihat kepanikannya. Tak bisa dipungkiri, tangan Stevan gemetar saat menekan layar ponselnya.
"Tuan Atlas, biar aku yang menangani masalah ini. Lebih baik kau dan Nona Alicia menemui Tuan Benjamin yang sedang menunggu di ruang VVIP."
Atlas menjawab dengan tenang, "Tidak masalah, aku ingin melihat tindakan selanjutnya yang akan dilakukan Stevan."
"Stevan, apa yang kau lakukan? Aku mencarimu. Direktur utama dari salah satu mitra bisnis kita ingin bertemu denganmu.”
Seorang pria bertubuh gemuk, yang ternyata adalah ayah Stevan, tiba-tiba muncul. Stevan tersenyum kepada Atlas dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Bersiaplah, kalian binatang! Kalian akan diusir dari sini dengan memalukan!"
"Ayah, aku yang meneleponmu. Aku ingin kau memberitahu Tuan Darius bahwa ada pencuri yang datang bersama tikus-tikus bodoh ini! Mereka tidak pantas berada di sini! Kau masih ingat Atlas? Dia yang mencuri dataku!" rengek Stevan kepada ayahnya.
Tuan Roger, pria paruh baya itu, mengerutkan kening dan menatap Atlas dengan bingung. "Atlas, apa yang kau lakukan di sini?"
"Tuan Roger, lama tidak bertemu. Aku datang ke sini karena diundang oleh Tuan Benjamin. Kebetulan, Stevan terus mengusirku dan mencoba mempermalukanku. Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya padanya, pengawal Tuan Benjamin," kata Atlas sambil menunjuk ke arah pengawal yang berdiri di sampingnya.
Perkataan Atlas membuat mata Tuan Roger melebar. Ia menelan ludah dan menampar kepala Stevan sambil berkata, "Apa yang telah kau lakukan, Stevan?! Kau telah mempermalukanku!”
"Aku minta maaf atas apa yang dilakukan Stevan padamu. Dia masih sangat labil dan melakukan kesalahan dalam bertindak! Aku yakin apa yang terjadi tadi hanyalah sebuah kesalahpahaman!" Tuan Roger membungkuk, memaksa Stevan melakukan hal yang sama.
"Ayah! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau meminta maaf kepada seseorang yang mencuri dataku?! Apa kau tidak ingat dia hanya seorang karyawan—"
"Diam, Stevan! Cepat minta maaf kepada Atlas!" bentak Tuan Roger kepada Stevan, dengan senyum puas di wajahnya saat menatap Atlas.
Stevan menatap Atlas dengan tatapan meremehkan dan segera menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Terima kasih, Tuan Roger, karena telah mengajarkan putramu dasar-dasar sopan santun. Dan bagaimana denganmu? Pacar Stevan, apakah kau tidak ingin menunjukkan sikap yang sama? Apa kau yakin ingin menjadikannya menantumu di masa depan, Tuan Roger? Perilakunya sebagai seorang wanita sangat memalukan, dia menyebut adikku pelacur." Atlas kini menyinggung Bianca, dan dia tampak panik dengan mata membelalak, menggelengkan kepalanya.
Tuan Roger menyipitkan matanya ke arah Bianca, kemarahan jelas terlihat di wajahnya. Bianca tetap tidak berdaya, memasang ekspresi memohon dan menghindari kontak mata.
"Baiklah, urusan kita selesai. Sampai jumpa, Tuan Roger."
Atlas merangkul adiknya dan berjalan pergi, meninggalkan mereka. Tuan Roger, yang tampak ingin mengatakan sesuatu, kemudian mengejar Atlas.
"Atlas, Atlas, bisa kita bicara sebentar?"
"Ya, Tuan Roger, ada apa?"
"Aku sangat menyesal atas perilaku buruk Stevan terhadapmu. Tolong sampaikan ini kepada Tuan Benjamin, kumohon, aku mohon padamu." Tuan Roger menangkupkan kedua tangannya, melirik ke arah Stevan dan pengawal Tuan Benjamin.
"Sebenarnya, Tuan Benjamin memintaku untuk mengawasi Tuan Atlas dan melapor kepadanya jika terjadi sesuatu yang buruk."
Ucapan pengawal itu membuat Tuan Roger semakin cemas. Ia menundukkan kepalanya lebih dalam.
Atlas tersenyum dan berkata, "Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apa pun kepada Tuan Benjamin. Namun, ada satu syarat yang harus kau penuhi."
"Apa itu, Atlas? Katakan padaku!"
"Aku ingin kau merilis pernyataan kepada media bahwa perusahaanmu telah melakukan kesalahan besar dengan menuduhku secara palsu, yang semuanya adalah rekayasa Stevan, seorang direktur berbakat, putramu. Aku tidak pernah memiliki video dewasa atau mencuri data Stevan. Itu semua adalah drama yang dibuat oleh Stevan. Reputasiku telah hancur di mata para karyawan, dan Stevan juga menghina adikku secara verbal. Putramu telah melakukan banyak kesalahan. Mengakui kesalahan secara publik adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka tentu saja, aku akan memberitahu Tuan Benjamin tentang tindakanmu."
Hati Atlas membara dengan kepuasan saat melihat Tuan Roger panik dan ketakutan.
Sejujurnya, ia merasa sedikit kasihan kepada pria paruh baya di hadapannya. Bagaimanapun, Tuan Roger pernah menjadi atasan yang baik baginya.
Namun, ini adalah cara yang menarik untuk membalas sedikit dendam.
"Ide yang bagus, Tuan Atlas," sahut pengawal itu.
Tuan Roger menelan ludah dan mengangguk.
"Baiklah, Atlas. Aku akan melakukannya secepat mungkin. Tolong maafkan semua kesalahan Stevan, dan jika kau ingin kembali bekerja, aku akan memberimu posisi terbaik."
"Tawaran yang menggiurkan, Tuan Roger. Tapi maaf, aku tidak akan kembali. Aku akan menunggu selama 24 jam, dan jika aku tidak melihat permintaan maaf dari perusahaanmu, maka... seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, Tuan Benjamin akan mengetahui semuanya."
Atlas segera berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju Benjamin.
Sementara itu, Tuan Roger mengepalkan tangannya dan menggeram, lalu berbalik ke arah Stevan. "Kau, dasar anak bajingan!"
Tuan Roger segera mendekati Stevan dan menariknya ke sudut yang sepi, jauh dari para tamu yang sibuk menikmati hidangan mereka.
"Stevan! Apa yang telah kau lakukan? Kau menyebarkan berita palsu dan merugikan tentang Atlas?! Apa kau tidak tahu konsekuensi yang akan dia berikan kepada kita?! Dia ingin kita merilis semua hal memalukan itu ke media, atau dia akan melaporkannya kepada Tuan Benjamin! Kau anak yang tidak berguna!"
Sebuah tamparan mendarat di wajah Stevan. Tuan Roger sangat marah. Ia belum pernah semarah ini kepada Stevan sebelumnya.
"Ayah, apa—"
Tuan Roger meraih kerah Stevan, memotong ucapannya, dan berkata, "Diam! Aku tidak ingin mendengar alasanmu! Kau sudah membuatku gila! Aku akan menyita semua asetmu setelah kita pulang! Dan kau, Bianca, aku harap kau menjauh dari putraku!"
Stevan tidak melawan, ia takut pada kemarahan dan ancaman ayahnya. Ia hanya bisa pasrah menerima keadaan. Hal yang sama juga terjadi pada Bianca, ia merasa terpukul karena hubungannya dengan Stevan bisa berakhir, sementara ia masih bergantung pada warisan keluarga Stevan.
Mata Bianca memerah dan dipenuhi air mata saat Tuan Roger pergi. "Sayang, bagaimana ini? Aku tidak ingin putus denganmu! Kau tahu, aku benar-benar mencintaimu, sayang!"
"Tenang, Bianca. Kita tidak akan berpisah. Kita harus mencari tahu siapa sebenarnya Atlas dan kenapa dia terlibat dengan seseorang bernama Tuan Benjamin. Kita belum kalah, Bianca, dan kita tidak akan pernah kalah. Percayalah, kita akan menghancurkan babi itu!”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗