Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Memilih Aluna
Suasana ruang konferensi pers Asmara Group pagi itu benar-benar penuh sesak. Kamera dari berbagai media berdiri rapat di depan panggung kecil yang biasanya dipakai untuk acara perusahaan. Flash terus menyala tanpa berhenti sejak Arsen dan Aluna masuk bersama.
Aluna hampir nggak bisa bernapas normal.
Tangannya dingin.
Jantungnya juga berdetak terlalu cepat.
Seumur hidup, dia nggak pernah membayangkan bakal duduk di tengah puluhan wartawan seperti ini. Apalagi dengan status sebagai tunangan CEO paling terkenal se-Indonesia.
Dan yang bikin lebih parah...
semua orang sekarang sedang menunggu penjelasan tentang kontrak nikah mereka.
Di sampingnya, Arsen duduk tenang seperti biasa. Setelan hitam mahalnya rapi tanpa cela, wajah dinginnya kembali muncul sempurna seperti CEO yang biasa dilihat publik.
Namun bedanya...
hari ini tangan kiri laki-laki itu berada di dekat kursi Aluna.
Dekat sekali.
Seolah diam-diam ngasih tahu kalau dia nggak sendirian.
“Saya cuma akan bicara sekali.”
Suara Arsen langsung bikin seluruh ruangan hening.
Tatapan para wartawan fokus penuh ke arah mereka.
“Hubungan saya dengan Aluna bukan urusan publik,” lanjut Arsen tenang. “Tapi karena nama tunangan saya mulai diseret dengan cara murahan, saya akan jelaskan satu hal.”
Aluna refleks menoleh sedikit.
Tatapan Arsen tetap lurus ke depan.
“Tidak ada perempuan yang bisa dibayar untuk tinggal bersama saya kalau saya tidak menginginkannya.”
Deg.
Jantung Aluna langsung berdegup keras.
Wartawan mulai ribut lagi. Flash kamera makin brutal. Beberapa orang langsung mengangkat tangan ingin bertanya, tapi Arsen kembali bicara sebelum suasana makin kacau.
“Saya memilih Aluna.”
Sunyi.
Kalimat itu sederhana.
Pendek.
Namun entah kenapa bikin ruangan langsung diam beberapa detik.
Bahkan Aluna sendiri membeku.
Karena cara Arsen mengatakannya terdengar terlalu serius.
Terlalu nyata.
Dan itu bahaya banget buat jantungnya.
“Pak Arsen!” salah satu wartawan perempuan langsung berdiri. “Kalau hubungan ini bukan kontrak, lalu bagaimana dengan rumor uang lima miliar?”
Tatapan Arsen langsung berubah dingin.
“Saya tidak punya kewajiban menjelaskan isi rekening pribadi saya.”
“Tapi publik curiga Nona Aluna hanya dijadikan pencitraan setelah pertunangan Anda dengan Jessica gagal!”
Suasana mendadak makin tegang.
Nama Jessica bikin beberapa wartawan lain langsung ikut ribut bertanya bersamaan.
“Apakah Nona Jessica mengetahui hubungan ini sejak awal?”
“Apakah benar Anda masih berhubungan dengan mantan tunangan Anda?”
“Apakah Nona Aluna hanya pelarian?”
Aluna mulai nggak nyaman.
Tangannya perlahan mengepal di atas paha.
Namun detik berikutnya...
Arsen tiba-tiba menggenggam tangan itu di bawah meja.
Hangat.
Erat.
Dan langsung bikin Aluna kaget.
Tatapannya refleks naik ke wajah Arsen.
Namun laki-laki itu masih terlihat tenang sambil menatap para wartawan.
“Saya tidak pernah membawa perempuan ke rumah keluarga saya setelah pertunangan saya gagal.”
Ruangan langsung sunyi lagi.
“Aluna perempuan pertama.”
Deg.
Kali ini bukan cuma Aluna yang membeku.
Beberapa wartawan bahkan terlihat saling melirik karena terkejut.
Karena semua orang tahu satu hal.
Arsen Asmara terkenal sangat tertutup soal kehidupan pribadinya.
Dan sekarang laki-laki itu justru bicara sejauh ini demi melindungi Aluna.
“Jadi Anda serius akan menikahi Nona Aluna?” tanya wartawan lain cepat.
“Iya.”
Jawaban Arsen tanpa ragu.
“Secepat itu?”
Tatapan Arsen tajam. “Kalau saya sudah memilih seseorang, saya tidak suka menunggu lama.”
Kalimat itu sukses bikin suasana makin heboh.
Bahkan beberapa wartawan perempuan mulai saling bisik sambil menahan teriak histeris kecil.
Sementara Aluna?
Dia malah makin nggak bisa mikir.
Karena semua ucapan Arsen terdengar terlalu nyata untuk disebut akting.
Dan masalahnya...
sekarang dia mulai takut dirinya benar-benar percaya.
---
Konferensi pers selesai hampir satu jam kemudian.
Begitu Arsen berdiri dari kursinya, para wartawan langsung kembali menyerbu pertanyaan. Security buru-buru membuka jalan supaya mereka bisa keluar dari ruangan dengan aman.
Flash kamera terus menyala sepanjang jalan.
“Pak Arsen! Kapan tanggal pernikahannya?!”
“Apakah sudah ada persiapan resepsi?!”
“Nona Aluna! Apa yang membuat Anda jatuh cinta pada Pak Arsen?!”
Wajah Aluna langsung merah brutal.
Dia bahkan nggak tahu harus jawab apa.
Untungnya Arsen langsung menarik pelan tangannya sambil membawa Aluna masuk ke lift privat sebelum wartawan makin ganas.
Begitu pintu lift tertutup...
sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak konferensi dimulai, Aluna bisa bernapas normal lagi.
Dia langsung nyender ke dinding lift sambil megang dada sendiri.
“Saya hampir mati tadi.”
Arsen melirik santai. “Lebay.”
“Saya nggak biasa dikejar kamera segitu banyak!”
“Itu baru sedikit.”
“Sedikit apanya?! Mereka kayak mau makan saya hidup-hidup!”
Sudut bibir Arsen sedikit naik.
Dan sialnya...
Aluna mulai hafal sekarang.
Kalau laki-laki itu senyum kecil kayak gitu, berarti dia lagi nahan ketawa.
“Kok Anda bisa tenang sih?” protes Aluna.
“Saya sudah biasa.”
“Ya beda lah! Anda kan emang hidup di dunia begitu.”
Tatapan Arsen perlahan berhenti di wajah Aluna.
“Kamu juga akan terbiasa.”
Deg.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi entah kenapa bikin Aluna mendadak sadar satu hal.
Arsen ngomong seolah dia bakal terus ada di sisi laki-laki itu.
Bukan cuma sementara.
Lift akhirnya berhenti di lantai paling atas.
Namun baru beberapa langkah keluar lift, sekretaris Arsen datang buru-buru dengan wajah pucat.
“Pak... ada masalah lagi.”
Ekspresi Arsen langsung berubah datar.
“Apa?”
Pria itu menelan ludah pelan sebelum menyerahkan tablet.
Dan begitu layar itu diputar...
wajah Aluna langsung kosong.
Di sana muncul foto dirinya.
Foto lama.
Foto saat dia masih pacaran sama Bima.
Sedang berpelukan.
Judul beritanya lebih parah lagi.
CALON ISTRI CEO ARSEN ASMARA TERNYATA MASIH BERHUBUNGAN DENGAN MANTAN?
Darah Aluna langsung dingin.
Karena dia tahu...
kali ini yang mulai menyerang bukan netizen biasa lagi.