NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|20|Singa Jinak

Suasana angin malam yang berhembus di balkon serta pemandangan lautan bintang yang dapat di saksikan malam hari itu, disana Aruna berdiri menghadap arah langit hitam yang nampak bersinar karena kerumunan tata surya yang berkedip.

"Apa yang ingin dokter katakan" Tanya Aruna di sela-sela keheningan mereka setelah beberapa saat.

"Waktu kita gak banyak Run, tapi aku udah janji mau nyelametin kamu dari dia" Ujar Bayu lirih, Ia tak peduli lagi dengan sekitar, matanya selalu tertuju kepada Aruna yang ada di hadapannya.

Aruna masih membelakangi Bayu, cengkraman tangannya di pagar balkon makin mengencang, bahkan bisa Ia rasakan kuku-nya menancap keras pada pagar besi itu, sakit, namun sudah tak terasa apapun.

"Bagaimana kalau tante Marisa dan Alana tau tentang hubungan kita" Aruna menggigit bibir bawahnya, takut. Matanya tak mampu lagi memandang kagum kearah gemerlap bintang di ujung sana.

Bayu menghela napas, Ia meraih pergelangan tangan Aruna pelan. "Run, liat aku. Aku udah lama kenal sama kamu sejak kamu masih sekolah. Kenapa kamu gak percaya sama aku sih Run"

"Mereka bakal percaya, karena aku dokter keluarga Mahesa sekarang, mereka cuma tau hubungan kita sekedar dokter dan pasien" Lanjut Bayu.

Aruna melepaskan genggaman tangan Bayu. Ia beralih menatap Bayu. "Aku gak pernah ragu, tapi kamu pernah membuatku ragu dulu" Balas Aruna, matanya menopang ombak yang akan segera meluap dengan sekuat tenaga ditahan.

"Run, sekali lagi kasih aku kesempatan" Bayu kembali memegang tangan Aruna, matanya terus menatap dengan penuh keyakinan dan permohonan.

Aruna melepaskan kembali tangan Bayu, "Maaf dok, aku gak mau dokter terlibat dalam masalahku" Aruna kembali membelakangi Bayu, matanya tak sanggup melihat lelaki yang Ia sukai menatapnya dengan penuh simpati. Aruna membenci tatapan itu, Ia tak ingin Bayu menolongnya karena kasihan. Gadis itu masih terus teringat kejadian beberapa tahun lalu saat Bayu menolak cintanya.

Bayu segera menarik tangan Aruna agar gadis itu mau menatapnya, tapi... Bughh.... Satu pukulan keras mengenai Bayu hingga jatuh tersungkur.

Devara berdiri dengan tegap membelakangi Aruna, nafas ngos-ngosan karena berlari. Mata menatap tajam kearah Bayu yang masih jatuh tersungkur, tangannya masih mengepal kencang seperti menahan emosi yang tak tertahankan, akhirnya saat itu juga emosinya bisa Ia keluarkan setelah menahan begitu lama.

"Pak.. K-kenapa..?" Ujar Bayu dengan suara gemetar, ujung bibirnya berdarah dan memar.

Aruna hanya diam mematung sambil menutup mulutnya, matanya tak bisa menahan bendungan yang hendak lolos tadi, ingin berteriak tapi disana bukan orang lain, melainkan Devara. Aruna menangis bukan karena ketahun berduaan dengan Bayu, melainkan melihat Bayu terluka akibat perbuatannya.

Devara mendekati Bayu yang mencoba berdiri. Tangannya meraih kerah baju Bayu, lalu menepuk-nepuk pelan. "Jangan pernah menyentuh istri saya" Bisik Devara tepat ditelinga Bayu sambil melirik singkat kearah Aruna.

"Pak, Anda salah faham saya disin...."

"Saya tidak bodoh, kalau Anda masih mau hidup. Ingat apa yang saya katakan tadi" Potong Devara dengan cepat.

Devara mengambil foto dari saku-nya. Foto Aruna dan Bayu, waktu Aruna masih mengenakan baju sekolah. Senyuman merekah Aruna terpancar bak sinar mentari, cerah dan membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum. Aruna berdiri disamping Bayu sambil tersenyum bahagia, tidak satu foto saja. Banyak sekali bahkan foto Bayu yang dicoreti dengan pensil warna penuh gambar hati dan ungkapan cinta.

Aruna tak mampu diam lagi, "Dapat dari mana kamu Dev..." Aruna mencoba mengambil foto-foto yang Devara lempar kearah Bayu. Namun segera mungkin Devara mendorong Aruna hingga terjatuh agar tak bisa mengambil foto tersebut.

"Detik ini juga, anda bukan lagi dokter pribadi Mahesa" Ujar Devara datar.

Bayu hanya diam, mengusap darah diujung bibirnya, lalu menatap Aruna beberapa detik dan akhirnya dia memilih pergi keluar tanpa berani bicara apapun lagi.

"DEVARA!!" Pekik Aruna lantang dengan sedikit suara yang tersisa karena tangisannya yang tak kunjung mereda, bukan karena takut, tapi karena Bayu yang menjadi korban Devara karena dirinya.

Devara tersenyum, bukan senyum bahagia melainkan senyum kemenangan. Ia menundukan wajahnya menghadap Aruna. "Bangun" suruhnya dengan nada lirih.

"Dia gak salah, disini yang paling salah itu aku. Kamu seharusnya menghukumku bukan menghilangkan pekerjaan orang" Teriak Aruna dengan suara serak, Aruna mulai berontak.

Diatas balkon dan hembusan angin yang mulai terasa dingin menusuk kulit, Devara membuang pandangannya kearah langit-langit penuh cahaya itu, tak menikmati pemandangannya, justru mengutuk suasana rumit disana. Ikut campur perasaan dalam hal balas dendam sulit disatukan. Devara menghela nafas beratnya, Ia berjongkok menghadap gadis itu.

"Bangun, hukumanmu bertambah dua kali lipat, Sebelum kamu m*ti disini" bisik Devara.

Aruna tak bergerak, dia masih belum bangun. Bahkan tangisannya tak kunjung reda. Devara menggendongnya dengan paksa. Walaupun Aruna terus berontak.

Sesaat sebelum kejadian..

"Tante pasti bakal kagum sama apa yang aku kasih lihat" Ujar Alana sambil tersenyum menyodorkan ponselnya kearah Marisa.

Marisa mengerutkan alisanya. "Itu.. Aruna?" tanya-nya penasaran.

"Kebetulan banget dia pergi sama orang itu keatas" Ujar Alana kembali sambil menyilangkan tangannya.

"Itu foto masalalu, kalau masa depan dia Devara kamu mau ngapain Al.." Balas Marisa sambil membuang pandangannya.

Alana melongo, mendengar ucapan Marisa yang tidak sesuai dengan apa yang Ia harapkan.

"Tan, dia itu miskin, gak ada nama di perusahaan manapun. Bahkan bapaknya koma, toh bentar lagi jadi gelandangan kalau gak dipungut sama Devara" Ujar Alana dengan santai, sambil tertawa pelan.

Marisa menghela napas, berusaha untuk terus tersenyum dihadapan Alana. "Al, saya pulang duluan. Bersihin lemari di kamar Aruna ya, dia alergi sama baju bekas" bisik Marisa sambil berlalu pergi meninggalkan Alana yang dipenuhi emosi.

Lemari dikamar Aruna masih terdapat beberapa baju Alana, baju yang sengaja perempuan itu taruh untuk persiapan menginap, namun kenyataannya Devara tak pernah mengijinkannya menginap disana dengan alasan apapun, bahkan Alana sampai dibelikan apartemen agar dirinya tak ada niat lagi untuk menginap di penthouse.

...----------------...

Devara menjatuhkan badan Aruna diranjang, tubuhnya masih menindih Aruna, bahkan gadis itu sudah berontak dan memukuli dada bidang Devara. Lelaki itu menatap Aruna beberapa detik, lalu beralih.

"Tidur, saya tidak mau membahas apapun malam ini" Ujar Devara sambil berjalan pergi.

Namun,.. Pranggg... Lampu tidur di lemparkan kearah Devara. Sengaja, agar lelaki itu segera menghukumnya.

Devara menghentikan langkahnya, lalu menunduk satu detik, dua detik setelahnya berbalik badan, mendatangi Aruna. Langkahnya pelan, namun membuat Aruna memejamkan matanya, seperti bersiap menghadapi hukuman Devara selanjutnya.

Namun, beberapa detik Aruna kembali membuka matanya. Devara sedang membersihkan pecahan kaca dari lampu tidur itu, dengan perlahan. Sampai Aruna mencoba mencubit tangannya, berharap apa yang Ia lihat itu bukan Devara melainkan sebuah mimpi, namun, "Aww.." gumam Aruna merasakan sakit akibat cubitan dari jarinya sendiri.

'Devara, singa itu apa sudah jinak?' -batin Aruna.

Matanya mengawasi setiap gerakan Devara, mencoba waspada disetiap detiknya. Namun, dia terlalu tenang untuk diwaspadai.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!