Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Pergi Meninggalkanmu
Malam setelah waktu Isya, di ruang makan, Bella bersama kedua orang tuanya menyantap makan malam bersama sambil berbincang ringan tentang perusahaan yang dirintis Bella di Amerika.
Bella sangat antusias menceritakan usaha yang ia rintis bersama sahabatnya di sana, walaupun perusahaan bersama itu tidak ada apa-apanya dibanding perusahaan besar milik sang papa.
"Ngomong-ngomong, mumpung kamu ada di sini, Papih ingin kenalkan kamu sama laki-laki kenalan Papih." Tak melewatkan kesempatan, Pak Satria mulai menyinggung rencananya yang ingin menjodohkan Bella dengan Gilang.
"Please, deh, Pih! Jangan mulai lagi, deh!" Bella memutar bola matanya, karena Pak Satria mulai membicarakan soal perjodohan.
"Tapi, Papih sudah menemukan pria yang cocok untuk kamu. Papih baru bertemu dengan dia, tapi, feeling Papih mengatakan, dia adalah calon pendamping yang cocok untukmu, Sayang. Masih muda, pekerja kertas, tampan juga. Makanya Papih berencana menjodohkan kamu dengan pria itu dan dia menyetujuinya." Pak Satria terus membujuk agar keinginannya melihat Bella menikah cepat terlaksana.
"What!?" Bella memekik. Papanya tidak sekedar berencana mengenalkan, tapi sudah sangat serius, sampai pria yang ingin dijodohkan dengannya menyetujui perjodohan mereka. "Pih, Bella udah bilang, kalau Bella belum ingin dipusingkan dengan urusan rumah tangga saat ini! Lagi pula Papih ceroboh banget, sih!? Menerima laki-laki untuk jadi menantu tanpa seizin Bella dulu! Pria mana coba yang akan menolak ditawari jadi menantu Satria Wijaya? Pengusaha kaya raya, punya banyak harta, asset dan perusahaan?" Suasana hangat di meja makan seketika menegang. Bella yang biasanya santai menanggapi keinginan sang papa untuk berumah tangga, kini mulai melakukan protes keras.
"Bagaimana kalau laki-laki yang Papih ingin jodohkan dengan Bella itu bukan orang baik-baik? Bukan orang yang punya niat jahat pada keluarga kita? Bagaimana Papih yakin, kalau dia itu bukan laki-laki tukang selingkuh? Bukan laki-laki yang hanya memandang harta Papih saja!? Papih tega sih, menjerumuskan anak sendiri!?" Setiap kalimat yang terucap dari bibir Bella menyiratkan kekecewaan atas sikap papanya.
"Astagfirullahaladzim, Bella! Jaga ucapannya!" Ibu Hani yang semula hanya mendengarkan perdebatan suami dan anaknya kini mulai ikut berbicara dan menegur Bella yang mulai berbicara cukup keras pada papanya.
"Suami Mamih ini yang bikin Bella lepas kendali!" Tak ingin disalahkan, Bella justru menuduh sang papa yang membuatnya melawan.
"Papih itu hanya ingin membuat kamu bahagia, Bella. Kamu jangan salah paham, Sayang." Meski kata-kata Bella terdengar menyentak, Pak Satria tak memarahi Bella karena ia sangat menyayangi putrinya.
"Kalau Papih ingin membuat Bella bahagia, biarkan Bella menentukan masa depan Bella sendiri!" Bella mengambil napkin, mengelap sisa makanan yang mungkin tertinggal di bibir lalu bangkit dari duduknya. "Bella nggak ingin Papih jodoh-jodohin lagi, titik!" Sekejap kemudian, Bella pergi meninggalkan makan malam bersama keluarganya.
"Bella, kamu mau ke mana?" Ibu Hani mencoba menahan Bella agar tetap berada di meja makan. Namun, langkah Bella tak terbendung meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Pak Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang keras kepala.
"Tuh, kan, Pih. Mamih bilang juga apa!? Anak itu pasti nggak mau dijodoh-jodohin." Ibu Hani sudah dapat menebak akhir dialog suami dan anaknya. "Jadi ngambek, kan!?" Ibu Hani mendengus putus asa.
"Sekarang tugas Mamih yang membujuk Bella, siapa tahu kalau Mamih yang bujuk, dia mau terima." Kini Pak Satria menyerahkan kepada sang istri untuk meluluhkan hati Bella.
"Mamih takut kalau Bella lagi ngambek gitu, Pih." Ibu Hani tak mau mengganggu Bella, saat Bella dalam keadaan dipengaruhi emosi.
"Bella nggak akan marah sama Mamih. Mamih 'kan punya hipertensi, mana mungkin Bella bikin hipertensi Mamih kambuh." Satria memanfaatkan penyakit yang diderita istrinya untuk melemahkan kekerasan hati Bella, karena Bella sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan mamanya.
Ibu Hani menghempas nafas panjang. Dia tidak bisa menolak permintaan suaminya lagi dan harus melaksanakan apa yang diminta oleh sang suami.
"Ya sudah, nanti Mamih bicara dengan Bella." Ibu Hani pasrah, mau tak mau ia harus menerima tugas untuk membujuk Bella.
***
Pukul 09. 00 malam, saat suaminya masih berada di ruang kerja, ibu Hani menghampiri kamar Bella. Dia mendapat tugas untuk berbicara dan membujuk Bella. Dia berharap usahanya kali ini akan berhasil.
"Bella, kamu sudah tidur, Nak?" Ibu Hani membuka pintu kamar Bella yang tak terkunci. Terlihat putrinya berbaring santai dengan posisi telungkup menatap laptop di hadapannya.
"Kalau Mamih mau bujuk Bella, sebaiknya Mamih kembali saja ke kamar!" Seperti tahu maksud kedatangan sang mama ke kamarnya, Bella mengusir halus Ibu Hani, karena ia akan tetap pada pendirian, tak ingin dijodohkan oleh papanya.
Ibu Hani melangkah mendekat dan duduk di tepi tidur Bella. Tak perduli dengan pengusiran Bella tadi. Hempasan nafasnya terdengar kencang, seperti ada beban berat yang sedang ditanggungnya.
"Mamih sudah menduga, ujung-ujungnya pasti akan ribut waktu papih bilang akan menjodohkan kamu sama pengusaha muda yang baru saja dibantu papih," ucap Ibu Hani kemudian.
Bella menoleh pada sang mama saat mamanya itu menceritakan tentang calon pria yang ingin dijodohkan dengannya.
"Orang itu dibantu papih? Memangnya papih bantu apa?" tanya Bella penasaran.
"Katanya sih, Papih menanamkan modal, tiga puluh persen dari jumlah saham dari perusahaan orang itu dan Papih langsung menawarkan dia untuk menjadi calon menantu Papih." Sebelumnya Ibu Hani sudah mendapat informasi dari suaminya soal rencana perjodohan itu, sehingga ia bisa menceritakannya pada Bella. "Mamih juga sebenarnya khawatir orang itu nggak sesuai harapan Mamih. Tapi, Papih percaya sama feeling Papih katanya, sambung Ibu Hani.
"Oh Gosh, bisa-bisanya Papih melakukan hal itu! Gimana Kalau pria itu ternyata berniat jahat pada Papih? Pada keluarga kita? Udah dapat modal, mau dijodohkan sama Bella. Keenakkan banget!" Bella masih tak habis pikir dengan papanya. Selama ini Papanya selalu merahasiakan tentang kehidupan pribadi keluarga dari publik. Tapi dalam memilihkan jodoh untuknya, ia menilai papanya sangat teledor.
Ibu Hani membelai kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Bella, apapun yang dilakukan papih, Mamih yakin itu semua untuk kebaikan kamu. Sejatinya setiap orang tua itu ingin anaknya bahagia, begitu juga dengan papih dan Mamih. Sekarang ini papih dan Mamih sudah tua. Papih dan Mamih berharap, kamu sudah menemukan pendamping yang bisa menjaga kamu jika papih dan Mamih sudah tidak ada, supaya papih dan Mamih bisa tenang saat pergi meninggalkan kamu nanti." Ibu Hani berpikir secara realistis. Bella pasti akan membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya, meskipun Bella bukanlah wanita yang manja. Dengan menikah dan mendapatkan pendamping yang benar, itu akan membuat pikiran mereka menjadi tenang dan lega.
Bella bangkit dari posisi tidurnya lalu duduk di samping sang mama.
"Mamih bicara apa, sih!? Bella nggak suka ya, Mami bicara seperti itu! Papih dan Mamih akan terus bersama Bella akan selalu menjaga Bella." Bella memeluk sang Mama, menyandarkan kepala di pundak ringkih Ibu Hani. Kata-kata Ibu Hani sangat mengusik hatinya. Hal yang paling ditakutkan olehnya adalah, kerja ia harus kehilangan orang-orang yang ia cintai yaitu kedua orang tuanya.
❤️❤️❤️
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.