Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Keheningan di dalam ruang perawatan itu terasa begitu pekat, hanya dipicu oleh bunyi teratur dari monitor jantung di samping tempat tidur.
Fathan menarik kursi, hendak duduk di dekat Humairah untuk memastikan kenyamanannya, namun gerakan itu terhenti saat Humairah membuka matanya kembali.
Pandangan Humairah tidak lagi kosong, melainkan penuh dengan ketetapan hati yang dingin.
Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit, menghindari tatapan Fathan yang kini berada tepat di sampingnya.
"Ustadz," panggil Humairah, suaranya kering dan bergetar.
"Iya, Humairah? Apa ada yang sakit? Perlu aku panggilkan suster?" tanya Fathan dengan nada yang jauh lebih lembut, penuh dengan kekhawatiran yang tulus.
Humairah menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa sesak di dadanya yang masih lemah.
"Aku ingin kita bercerai."
Fathan yang mendengarnya langsung terdiam. Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Fathan.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia terpaku, menatap wajah pucat istrinya dengan rasa tidak percaya.
Tangannya yang hendak menyentuh selimut Humairah mendadak kaku di udara.
"Apa yang kamu katakan?" bisik Fathan, suaranya tercekat.
"Tidak, Humairah. Jangan bicara seperti itu. Kamu sedang sakit, pikiranmu sedang tidak jernih."
Fathan menggelengkan kepalanya dengan kuat, seolah dengan melakukan itu ia bisa menghapus kalimat yang baru saja keluar dari bibir Humairah.
"Kita tidak akan bercerai. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Humairah perlahan menolehkan kepalanya, menatap Fathan dengan mata yang berkaca-kaca namun menyiratkan luka yang sudah terlalu dalam untuk disembuhkan dengan sekadar kata maaf.
"Ustadz Fathan, aku mohon," rintih Humairah. Setetes air mata jatuh melewati pelipisnya, membasahi bantal.
"Lepaskan wanita murahan ini. Lepaskan aku agar Ustadz tidak perlu lagi merasa terbebani oleh kehadiranku, dan agar aku tidak perlu lagi merasa hancur setiap kali melihat wajah pria yang sangat membenciku."
"Aku tidak membencimu, Humairah! Aku hanya..." Fathan kehilangan kata-kata.
Ia ingin menjelaskan tentang traumanya, tentang Zakia, tentang ketakutannya untuk kembali percaya, namun semua itu terasa sangat remeh dibandingkan dengan darah yang mengalir dari kening istrinya dan selang infus yang kini menopang hidup wanita itu.
"Tolong, Ustadz," lanjut Humairah dengan suara yang nyaris hilang.
"Berikan aku satu-satunya kebaikan yang bisa Ustadz berikan kepadaku selama kita menikah, yaitu kebebasanku."
Fathan terduduk lemas di kursi, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Ia merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Ironis, saat ia mulai menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan mutiara berharga, mutiara itu justru memilih untuk pergi meninggalkannya dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
Keheningan kamar rumah sakit itu terasa semakin menyesakkan.
Fathan menunduk dalam, bahunya bergetar hebat.
Ia menyadari bahwa tembok es yang ia bangun selama ini tidak hanya melindungi dirinya, tetapi juga telah meruntuhkan hidup wanita tak bersalah di depannya.
"Aku, pernah sangat mencintai seorang wanita bernama Zakia," suara Fathan pecah, memulai pengakuannya dengan nada serak.
Fathan mulai menceritakan segalanya. Tentang pengkhianatan yang sistematis, tentang taruhan yang menjadikan perasaannya sebagai bahan tertawaan, hingga bagaimana Zakiya menghancurkan kepercayaannya pada setiap wanita.
Ia menumpahkan semua rasa sakit yang selama tiga tahun ini ia pendam sendiri, mencoba menjelaskan mengapa ia menjadi monster yang dingin dan kejam.
Humairah mendengarkan dalam diam, air matanya mengalir tanpa isak.
Setelah Fathan menyelesaikan ceritanya dengan napas yang memburu, Humairah perlahan menoleh.
Tatapannya tidak mengandung simpati, melainkan luka yang jauh lebih dalam.
"Jadi karena itu?" tanya Humairah lirih.
"Hanya karena luka lama itu, Ustadz menilaiku sebagai Zakia? Padahal Ustadz belum pernah mengenalku. Ustadz bahkan tidak pernah mencoba melihat siapa Humairah yang sebenarnya."
Fathan mendongak, matanya merah karena tangis.
"Aku takut, Humairah. Aku takut jika aku membuka hati, aku akan dihancurkan lagi."
"Ketakutanmu telah memakan korban, Ustadz," sahut Humairah dengan nada datar yang menyakitkan.
"Ustadz dan Abraham, kalian berdua ternyata sama saja. Abraham membuangku karena ketakutannya sendiri, dan Ustadz menyiksaku karena ketakutan masa lalu Ustadz."
Humairah memejamkan mata, seolah tak sanggup lagi melihat pria di sampingnya.
"Kalian berdua sama-sama egois. Kalian hanya memikirkan perasaan kalian sendiri tanpa peduli bagaimana aku hancur di tengah-tengah kalian. Abraham meninggalkan luka malu, tapi, Ustadz meninggalkan luka yang mematikan jiwaku."
Fathan kembali terdiam mematung saat mendengar perkataan dari istrinya.
Ia ingin meraih tangan Humairah, ingin memohon kesempatan untuk membuktikan bahwa ia bisa berubah, namun kata-kata Humairah benar—ia telah menyamakan wanita suci ini dengan seorang pengkhianat, dan itu adalah dosa yang sulit dimaafkan.
"Pergilah, Ustadz," bisik Humairah. "Biarkan aku sendiri. Jangan gunakan masa lalumu sebagai alasan untuk terus menyakitiku. Aku bukan Zakiya, dan aku tidak berhak menerima hukuman atas kesalahannya."
Suara ketukan pintu yang pelan mengalihkan perhatian Fathan.
Seorang perawat masuk dengan langkah tenang, membawa nampan berisi semangkuk bubur putih hangat, segelas air putih, dan beberapa butir obat.
"Waktunya makan siang, Bu Humairah. Harus dihabiskan ya, supaya obatnya bisa bekerja," ucap perawat itu sambil meletakkan nampan di atas meja dorong, lalu berpamitan keluar.
Fathan segera bangkit. Ia menarik meja itu mendekat ke tempat tidur Humairah.
Tangannya gemetar saat mengaduk perlahan bubur yang masih mengepulkan uap tipis itu.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih peduli, bahwa ia ingin menebus segala kekejamannya.
"Aku suapi," ucap Fathan lembut, menyodorkan sesendok kecil bubur ke depan bibir Humairah.
Humairah memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan langit mendung.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri."
"Tanganmu masih terpasang infus, Humairah. Kamu sangat lemas," bujuk Fathan, tetap bertahan dengan sendok di tangannya.
"Aku suapi, ya? Tolong, satu suapan saja."
Humairah terdiam cukup lama. Ruangan itu kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam yang seolah menghitung sisa waktu kebersamaan mereka.
Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ada, Humairah kembali menoleh ke arah Fathan.
"Baiklah," ucap Humairah pelan. Ia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan yang diberikan Fathan dengan penuh kehati-hatian—sebuah perhatian yang seharusnya ia dapatkan sejak malam pertama pernikahan mereka, namun baru datang saat hatinya sudah menjadi abu.
Namun, di sela-sela kunyahan yang terasa hambar itu, air mata Humairah kembali luruh, membasahi pipinya yang pucat.
Ia menatap mata Fathan dengan tatapan yang sangat hancur.
"Aku akan makan, tapi aku tetap minta cerai," ucap Humairah dengan suara yang bergetar hebat.
Tangan Fathan yang sedang memegang sendok seketika mematung di udara.
Kalimat itu meluncur begitu tenang namun sarat dengan keputusan yang tak bisa diganggu gugat.
"Humairah, tolong beri aku satu kesempatan..." bisik Fathan, suaranya parau menahan tangis.
"Satu kesempatan untuk apa, Ustadz?" potong Humairah dengan isak tangis yang mulai pecah.
"Untuk mengingatkanku kembali bahwa aku adalah wanita murahan? Untuk mendorongku lagi sampai keningku berdarah? Cukup, Ustadz. Menyuapiku tidak akan menghapus memori tentang bagaimana caramu memperlakukanku selama ini."
Fathan tertunduk layu. Ia tetap menyuapi Humairah dengan tangan yang terus gemetar, membiarkan setiap suapan itu menjadi saksi bisu penyesalannya yang terlambat, sementara Humairah terus terisak, memantapkan hati untuk melepaskan ikatan yang selama ini hanya memberinya luka.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭