Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Yang Kembali
POV Kanaya
Sore itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Langkahku keluar dari gedung kantor terasa pelan, seolah kakiku ikut menanggung beban yang selama ini hanya kupendam di dada. Kepalaku berat. Bukan karena pekerjaan… tapi karena pikiranku sendiri yang tak pernah berhenti bertanya.
Aku ingin pulang.
Atau mungkin… aku hanya ingin bersembunyi.
Namun langkahku terhenti.
“Hai… gadis pendiam.”
Suara itu.
Aku mengenalnya.
Bahkan sebelum aku benar-benar berani menoleh.
Perlahan, aku membalikkan tubuh.
Dan di sana
dia berdiri.
Viktor Aditama
Wajahnya berubah.
Lebih kurus.
Lebih lelah.
Namun matanya… masih sama.
Tatapan yang dulu membuatku merasa diperhatikan
dan sekaligus… terjebak.
“Viktor…” suaraku nyaris hilang.
“Mengapa kamu ada di sini?”
Ia tersenyum tipis.
“Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja,” katanya tanpa basa-basi.
“Aku dengar ayahmu meninggal.aku turut berdukacita ”
Dadaku mengencang.
“Terima kasih.”
Hanya itu yang bisa kukatakan.
Keheningan menggantung.
Canggung.
Berat.
Dan entah kenapa… menyesakkan.
Matanya jatuh pada tanganku.
Pada cincin yang melingkar di jari manisku.
Cincin yang dulu terasa asing
dan kini terasa… berat.
“Kamu bahagia?” tanyanya.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun menghantamku… tanpa ampun.
“Aku sudah menikah,” jawabku pelan.
Aku tidak menatapnya.
“Kebahagiaan bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan.”
Aku tahu jawabanku terdengar seperti dinding.
Bukan jawaban.
Viktor tersenyum.
Pahit.
“Jawabanmu tidak terdengar seperti orang yang bahagia.”
Aku menarik napas dalam.
“Viktor… aku tidak ingin membicarakan ini.”
“Karena kamu takut?” potongnya cepat.
Aku menatapnya.
“Takut apa?”
“Takut mengakui bahwa kamu tidak baik-baik saja,” katanya pelan.
“Atau karena kamu sendiri tidak tahu jawabannya?”
Aku terdiam.
Karena untuk pertama kalinya
aku tidak bisa menyangkalnya.
“Aku melihatmu berubah,” lanjutnya.
Suaranya melembut.
“Dulu kamu diam karena tenang. Sekarang… kamu diam karena menahan.”
Tanganku mengepal.
Aku ingin membantah.
Namun aku tidak punya kekuatan untuk berbohong.
“Aku memilih bertahan,” kataku akhirnya.
“Itu keputusanku.”
“Bertahan tidak selalu berarti bahagia,” balasnya.
“Kadang itu hanya berarti… kamu sedang mengorbankan dirimu sendiri.”
Mataku memanas.
Aku memalingkan wajah.
Menahan sesuatu yang hampir runtuh.
“Aku tidak meminta kamu menyelamatkanku,” bisikku.
“Aku hanya ingin hidupku tidak semakin rumit.”
Viktor mengangguk.
“Aku tidak datang untuk merusak,” katanya.
“Aku datang… karena aku peduli.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya.
Dengan mata yang mulai basah.
“Pedulimu datang terlambat, Viktor.”
Ia tidak menyangkal.
“Aku tahu,” jawabnya jujur.
Tatapannya… terlalu dalam.
“Namun melihatmu seperti ini… aku tidak bisa diam.”
Aku tersenyum tipis.
Namun rasanya lebih seperti luka.
“Kalau kamu benar-benar peduli,” kataku pelan,
“biarkan aku menyelesaikan hidupku… dengan caraku sendiri.”
Ia menatapku lama.
Lalu mengangguk.
“Aku akan mundur.”
Langkahnya mundur setengah.
“Namun ingat satu hal…”
Ia berhenti.
“Kalau suatu hari kamu tidak sanggup lagi menahan semuanya… kamu tidak sendirian.”
Seharusnya… itu menenangkanku.
Namun justru sebaliknya.
Kehadirannya
membuka kembali sesuatu yang selama ini aku kubur.
Kenangan.
Tentang seorang pria yang dulu… hampir membawaku pergi.
Bukan karena aku ingin.
Tapi karena cintanya… berubah menjadi obsesi.
Dan aku… hampir kehilangan kendali atas hidupku sendiri.
“Apa yang sebenarnya aku pertahankan…?”
Pertanyaan itu muncul tanpa bisa kutahan.
Namun sebelum aku sempat menjawabnya
suara lain memecah udara.
“Kanaya.”
Aku membeku.
Fatan.
Aku menoleh.
Dan melihatnya berdiri beberapa meter dari kami.
Wajahnya tegang.
Matanya… penuh sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Amarah.
Yang tidak disaring.
“Fatan?” suaraku pelan.
Namun ia tidak menatapku.
Tatapannya tajam… pada Viktor.
“Apa urusanmu mendekati istriku?”
Aku terkejut.
Nada suaranya… berbeda.
Lebih keras.
Lebih dingin.
Viktor tersenyum tipis.
Senyum yang tidak ramah.
“Aku hanya bertanya kabar,” katanya santai.
“Wajar untuk teman lama, bukan?”
“Kau bukan temannya,” balas Fatan dingin.
“Dan ini bukan tempatmu.”
Aku melangkah maju.
“Fatan, tidak ada apa-apa. Kami hanya berbicara sebentar.”
Namun ia tidak mendengarkanku.
“Sejak kapan ka.u membiarkan orang lain masuk ke urusan kita?” suaranya meninggi.
Dadaku sesak.
“Kamu marah padaku?” tanyaku lirih.
“Mengapa?”
Ia terdiam.
Sejenak.
Seolah ia sendiri… tidak tahu jawabannya.
Viktor menyilangkan tangan.
“Tenang saja,” katanya santai.
“Aku tidak menculiknya kali ini.”
Kalimat itu
seperti percikan api.
“Jangan berani menyebut masa lalu di hadapanku!” bentak Fatan.
“Lalu mengapa kau terganggu?” Viktor melangkah sedikit mendekat.
“Atau kau takut kehilangan sesuatu… yang sebenarnya tidak pernah kau jaga dengan baik?”
Aku menoleh pada Fatan.
Hatiku bergetar.
“Fatan… kenapa kamu seperti ini?” tanyaku.
“Dulu kamu tidak pernah semarah ini,tolong jangan dengarkan Viktor”
Ia tertawa.
Pendek.
Pahit.
“Karena dulu aku tidak peduli.”
Kalimat itu… menusuk.
“Sekarang kamu istriku,” lanjutnya.
“Dan kamu hampir kehilangan nyawa karena dia.”
Aku menatapnya.
Lama.
“Istri yang kau sakiti dengan kemarahanmu?” tanyaku.
Suaraku bergetar.
Namun aku tidak mundur.
Hening.
Viktor menghela napas.
“Aku mengerti sekarang,” katanya pelan.
“Bukan aku yang mengganggumu, Fatan.”
Ia menatapnya lurus.
“Kau terganggu oleh dirimu sendiri.”
Fatan melangkah maju.
Hampir kehilangan kendali.
“Pergi,” katanya tegas.
“Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”
Viktor menatapku sekali lagi.
Tatapan yang… sulit aku artikan.
“Jaga dirimu,” katanya pelan.
“Jangan terus meyakinkan dirimu bahwa kemarahan adalah bentuk kepedulian.”
Ia pergi.
Dan aku… hanya bisa berdiri diam.
Aku menatap Fatan.
Dadaku naik turun.
“Aku tidak mengerti,” kataku lirih.
“Mengapa kamu begitu marah pada orang lain… sementara padaku kamu begitu dingin?”
Ia memalingkan wajah.
“Ayo pulang.”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya
aku menolak.
Aku berdiri tegak.
“Aku ingin tahu,” kataku.
“Apa yang sebenarnya kamu pertahankan dengan kemarahanmu?”
Ia tidak menjawab.
Tidak menatapku.
Ia hanya… pergi.
Meninggalkanku.
Dengan pertanyaan yang kini tidak bisa lagi aku abaikan.
Dan di sanalah
aku mulai melihat kebenaran yang selama ini aku hindari.
Bahwa ancaman terbesar dalam pernikahanku…
bukan Viktor.
Bukan masa lalu.
Bukan orang lain.
Melainkan rahasia.
Dan ketidakjujuran…
yang tumbuh di antara kami.
Malam itu
aku tidak menangis.
Tidak ada air mata.
Tidak ada isak.
Aku hanya… lelah.
Sangat lelah.
Dan untuk pertama kalinya
aku bertanya pada diriku sendiri:
Berapa lama lagi aku harus bertahan…
dalam kebahagiaan
yang bahkan tidak pernah diizinkan untuk tumbuh?
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?