NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: DETAK JANTUNG KECIL KITA

POV Siska

"Bu Siska, silakan berbaring ya. Kita mulai USG pertama."

Tanganku dingin. Keringat dingin malah. Arga genggam tanganku erat di samping ranjang periksa. Arka duduk di kursi, dititipin ke suster, tapi matanya gak lepas dari aku, bibirnya manyun karena gak boleh ikut naik ranjang.

Dokter Winda senyum, olesin gel dingin ke perutku yang masih rata. "Santai aja ya, Bu. Kita lihat dedenya sekarang. Tarik napas... buang pelan-pelan."

Layar USG menyala. Hitam putih. Bunyi... sret... sret...

Aku tahan napas. Arga juga. Ruangan hening cuma ada suara AC mendesis dan detak jantungku sendiri yang kenceng banget, kayak mau loncat dari dada.

Terus...

Tuk. Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.

Cepat. Kecil. Tapi jelas. Konsisten.

"Nah, itu dia," kata Dokter Winda sambil nunjuk titik kedip kecil di layar dengan stylus. "Detak jantung janinnya. Kuat banget. Aktif. Usia 6 minggu 3 hari. Selamat ya, Pak, Bu. Semuanya normal."

Dunia kayak berhenti muter sedetik.

Aku noleh ke Arga. Matanya... matanya suamiku yang selalu datar, selalu dingin kayak es kutub itu... basah. Benar-benar basah. Ada air menggenang di pelupuknya, gak jatoh tapi jelas ada.

Dia gak ngomong. Cuma nunduk, nempelin keningnya ke punggung tanganku yang dia genggam dari tadi. Bahunya getar halus. Aku bisa ngerasain.

"Mas..." aku bisik, suaraku ikut serak.

Arga angkat kepala pelan. Air mata jantan itu akhirnya jatoh satu. Jatoh ke tanganku yang dia genggam. Panas. "Ada... ada nyawanya, Siska. Anak kita... hidup. Beneran hidup di sini."

Aku nangis. Nangis pecah. Bukan karena sedih. Karena lega. Karena bahagia. Karena semua takutku selama ini ternyata gak kejadian. Dia nerima. Dia senang.

"Pa, itu adek?" Arka tiba-tiba udah di samping ranjang, jinjit-jinjit mau liat layar, tangan kecilnya narik-narik jas Arga.

Arga langsung angkat Arka, dudukin di pangkuannya biar bisa liat jelas ke arah monitor. "Iya, Nak. Itu adek. Denger suaranya? Tuk tuk tuk. Kenceng, kan? Kayak suara sepatu kuda."

Arka melongo, matanya bulet. Terus dia nempelin telinganya ke perutku, pipinya nempel ke baju. "Adek, ini Kakak Arka. Kakak sayang adek. Jangan nakal ya di perut Mama. Nanti Mama capek."

Dokter Winda ketawa kecil sambil print hasil USG. "Aduh, calon kakak siaga satu nih. Pinter banget."

Keluar dari ruang dokter, Arga diem sepanjang jalan ke parkiran. Cuma tangannya gak lepas dari genggam tanganku, sesekali ibu jarinya ngusap punggung tanganku. Sampai di mobil, dia gak langsung nyetir.

Dia narik aku ke pelukannya. Di parkiran rumah sakit yang rame. Di depan banyak orang. Arga Mahendra yang paling jaim, paling jaga image, itu meluk istrinya erat banget sambil nangis diem-diem, bahunya naik turun.

"Mas janji, Siska," bisiknya di rambutku, suaranya masih bergetar. "Mas bakal jaga kalian. Mas bakal mati-matian biar kalian gak kekurangan apapun. Gak bakal Mas biarin kalian ngerasain susah lagi. Mas... Mas takut gak bisa jadi ayah yang baik. Takut gagal."

Aku bales peluk dia, lebih erat. "Mas udah jadi ayah terbaik sejak Arka manggil Mas 'Papa' pertama kali. Arka gak pernah salah manggil orang, Mas."

POV Arga

Foto hasil USG itu gak lepas dari tanganku sejak tadi. Di ruang kerja, kuletakkan di atas meja tepat di samping laptop. Di dompet, kuselipin di bagian paling depan. Benda hitam putih kecil itu isinya nyawa. Nyawa anakku sama Siska. Bukti kalau aku beneran punya keluarga.

"Mom, udah lihat fotonya?" teleponku sore itu ke Mama.

"Udah! Mom print segede gaban terus tempel di kulkas! Bingkai emas! Mom juga udah pesen box bayi ukir nama dari Jepara, kasur, stroller! Semuanya!" Mom hebohnya ngalahin orang kampanye mau jadi gubernur. "Eh, Siska mana? Siska ngidam apa? Mom beliin sekarang juga! Mau rujak? Mau mangga muda?"

Aku lirik Siska yang lagi tidur di sofa ruang kerjaku, selimut tebal sampai dagu. Sejak hamil, dia gampang capek dan mualnya parah banget. "Tidur, Mom. Mualnya parah dari pagi. Baru bisa makan biskuit dua keping."

"Ya Allah anak Mom... Bawa sini ke rumah Mom biar Mom suapin bubur! Biar Mom pijitin! Eh bentar, Arga, Papa kamu mau ngomong. Dari tadi ngoceh aja."

Hening sebentar. Terus suara berat Papa masuk, lebih pelan dari biasanya.

"Arga."

"Iya, Pa."

"Jaga istri sama anak-anak lo. Harta bisa dicari, jabatan bisa dikejar. Tapi kepercayaan istri sekali hilang, selamanya lo gak bakal dipercaya lagi. Jangan ulangi kesalahan Papa dulu."

Dadaku sesak. Papa yang dulu nyuruh aku nikahin Siska karena utang 5 M, yang dulu bilang 'perempuan cuma aset', sekarang ngomong gini.

"Paham, Pa," jawabku, suara tercekat.

"Dan satu lagi," suara Papa lebih pelan, hampir gak kedengeran, "Makasih udah bikin Papa ngerasain punya cucu. Dua malah. Papa bangga sama kamu, Nak."

Telepon mati. Aku diem lama, megangin HP. Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun, aku merasa... diterima sebagai anak. Bukan sebagai penerus perusahaan.

Malem-malem, aku kebangun karena Siska bolak-balik ke kamar mandi. Muntah lagi. Udah gelas keempat.

Aku duduk di pinggir ranjang, ngusap punggungnya pas dia muntah di wastafel, rambutnya kuikat biar gak kena. "Mau Mas buatin teh anget sama jahe? Atau roti bakar?"

Siska geleng lemes, keringat dingin di jidatnya. "Mas tidur aja. Gak enak ganggu... Mas besok rapat penting kan..."

Aku angkat dia, gendong balik ke kasur kayak anak kecil, kayak bawa Arka kalau ketiduran di sofa. "Siska Anastasya, kamu itu istri saya. Kamu itu lagi mengandung anak saya. Ngerti gak sih kalo kamu itu prioritas saya? Rapat bisa ditunda. Kamu gak bisa."

Siska ketawa kecil, tapi malah nangis. "Mas, aku takut... takut gak bisa jadi ibu yang baik. Arka aja aku rawat masih berantakan, masih sering kehabisan susu..."

Aku kecup keningnya yang basah, hidungnya, bibirnya yang pucat. "Kamu itu ibu terbaik buat Arka. Liat dia? Dia sayang kamu setengah mati. Dia belain kamu di depan Amel kemarin. Anak kita nanti juga bakal sayang kamu setengah mati. Karena kamu, Siska... kamu punya hati paling tulus yang pernah Mas temuin seumur hidup Mas."

Arka yang kebangun karena ribut ikutan manjat ke kasur, nyelip di antara kami dengan mata masih kriyep-kriyep. "Mama kenapa nangis? Adek nakal ya di perut? Arka marahin adek ya?"

Aku sama Siska ketawa, air mata jadi tawa. Aku peluk mereka berdua. Satu di kiri, satu di kanan. Lengkap. Anget. Rumah.

Tapi kebahagiaan emang gak pernah lama, ya?

Tiga hari setelah USG, pas aku lagi rapat direksi bahas batalnya investor Singapura, HP pribadiku getar. Nomor tidak dikenal. +44.

"Arga Mahendra?" Suara perempuan. Dingin. Logat British.

"Saya. Ini siapa?"

"Lo gak kenal gue. Tapi bini lo kenal gue nanti. Gue Jessica. Mantan pacar lo waktu di London. Dan gue baru tau dari temen lo udah nikah sama babu. Selamat ya."

Darahku mendadak dingin sedingin AC ruangan. "Mau lo apa, Jess?"

"Gue cuma mau bilang. Lo pikir lo bisa bahagia sama cewek miskin itu? Lo pikir utang 5 M lo lunas dengan nikahin dia? Enggak, Arga." Dia ketawa, melengking. "Gue pegang video lo sama gue di London dulu. Di hotel. Di club. Mesra banget. Mau gue kirim ke bini lo yang lagi hamil itu? Biar dia keguguran karena stress? Biar lo nyesel seumur hidup?"

Tanganku ngepal sampai buku-buku jariku putih, pulpen di tanganku patah. "Kalau lo berani sentuh istri gue, sentuh anak gue..."

"Tinggal transfer 5 M ke rekening ini, Arga. Hari ini. Atau video lo sama gue, plus foto-foto lo mabuk, teler, jadi konsumsi publik. Bini lo pasti ninggalin lo. Anak di perutnya bakal lo sesalin seumur hidup karena udah lahir tanpa ayah."

Telepon mati. Tut. Tut.

Ruang rapat mendadak pengap. 2 triliun dari Singapura batal tadi siang udah bikin saham goyang 8%. Sekarang ini. Semuanya datang bersamaan.

Aku lihat foto USG di dompet yang kupegang. Detak jantung kecil itu. Tuk. Tuk. Tuk. Masih kedengeran jelas di kepalaku.

Gak. Siapapun gak boleh ngancurin keluargaku. Gak lagi. Gak setelah aku dapet mereka.

Aku pencet tombol interkom, suaraku datar tapi semua direksi di ruangan tahu itu nada paling bahaya. "Rini, panggil Pak Bram, kepala legal. Suruh lacak nomor +44 barusan. Dan siapin aku pengacara terbaik, tim cyber crime juga. Ada tikus yang mau main-main sama singa dan anaknya."

Kututup mata. Siska, maaf. Badai kayaknya belum selesai. Tapi Mas janji, Mas bakal pasang badan di depan. Kamu, Arka, sama dede di perut... kalian gak bakal kena hujannya. Gak bakal kena anginnya.

Karena kalian adalah rumah yang harus Mas lindungi. Apapun harganya. Bahkan nyawa Mas sendiri.

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!