Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16
Malam harinya, setelah pertemuan yang melelahkan, Alicia berdiri di balkon vila, menatap laut Mediterania yang tenang. Angin laut membelai wajahnya, terasa jauh lebih bersahabat daripada saat di kapal.
Dante melangkah ke belakangnya, memeluk pinggangnya dan meletakkan tangan besarnya di perut Alicia. "Kau melakukannya dengan sangat baik hari ini, Cara Mia."
"Aku tidak pernah membayangkan akan memerintahkan seseorang untuk dibuang ke laut," bisik Alicia, bersandar pada dada bidang Dante.
"Itu adalah harga dari keselamatan kita," jawab Dante. "Surya sudah berangkat kembali ke Jakarta. Dia akan mengurus 'pembersihan' di sana. Dia meninggalkan satu tim pelindung untukmu, tapi aku sudah memulangkan mereka. Kau tidak butuh perlindungan ayahmu lagi."
Alicia berbalik, menatap mata gelap Dante. "Lalu sekarang apa?"
"Sekarang," Dante mengangkat tubuh Alicia, membawanya menuju tempat tidur yang ditaburi kelopak mawar putih. "Kita akan memastikan pewaris ini mendapatkan istirahat yang cukup. Dan besok, kita akan mulai merencanakan pernikahan yang akan membuat seluruh Eropa dan Asia gemetar."
Alicia tersenyum, melingkarkan lengannya di leher sang raja mafia. "Pastikan ada banyak bunga lili di pernikahannya. Aku ingin Bianca tahu bahwa aroma favoritnya sekarang adalah simbol kemenanganku."
Dante tertawa, mencium Alicia dengan seluruh gairah yang ia miliki.
Vila Vallo di Danau Como telah disulap menjadi sebuah benteng kecantikan yang mustahil. Bagi Alicia Atmadja atau sekarang secara resmi menjadi Alicia Vallo pernikahan bukan sekadar penyatuan dua jiwa itu adalah ajang pembuktian bahwa dirinya adalah pusat semesta. Meskipun ia tahu bahwa di luar pagar vila, ratusan penjaga bersenjata lengkap sedang bersiaga menghadapi kemungkinan serangan klan Moretti, Alicia lebih peduli pada satu hal, gradasi warna bunga peony di pelaminan.
"Marcello! Aku bilang champagne pink, bukan dusty rose! Apa kau buta warna?" teriak Alicia dari balkon lantai dua, masih mengenakan jubah sutra putihnya.
Marcello, pria yang biasanya menangani penyelundupan senjata lintas negara, kini berdiri memegang buket bunga dengan wajah frustrasi yang tertahan. "Signorina... maksud saya, Nyonya... ini adalah bunga terbaik yang bisa diterbangkan dari Belanda pagi ini."
"Aku tidak peduli mereka terbang dari bulan sekalipun! Jika warnanya tidak sesuai dengan palet moodboard-ku, buang semuanya!" Alicia menghentakkan kakinya, membuat pelayan di belakangnya gemetar saat mencoba memakaikan sepatu kaca pesanan khususnya.
Dante melangkah masuk ke kamar, sudah mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat seperti dewa kematian yang sangat elegan. Ia memberi isyarat agar Marcello pergi.
"Kau membuat anak buahku ingin menembak kepala mereka sendiri bahkan sebelum musuh datang, Alicia," ucap Dante, suaranya rendah namun mengandung senyum tipis.
Alicia berbalik, bibirnya mengerucut manja. "Dante! Lihat ini! Marcello tidak becus. Bagaimana aku bisa menikah jika dekorasinya terlihat seperti pesta ulang tahun remaja kelas dua? Ini pernikahan Vallo! Aku ingin semuanya sempurna!"
Dante mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Alicia yang mulai sedikit lebih padat meskipun belum terlihat secara kasat mata. "Semua orang di bawah sana takut padaku, tapi mereka jauh lebih takut padamu dan tuntutan estetikamu. Kau adalah satu-satunya orang yang berani memarahi tangan kananku karena masalah warna bunga."
Alicia menyandarkan kepalanya di dada Dante, menghirup aroma maskulin suaminya. "Itu karena aku ingin kau bangga memilikiku, Dante. Dan karena aku bosan. Di sini terlalu banyak pria berjas hitam yang membosankan."
Upacara pernikahan berlangsung di dermaga pribadi yang menghadap langsung ke hamparan air Danau Como yang biru tenang. Alicia berjalan di atas karpet beludru putih sepanjang seratus meter, mengenakan gaun pengantin dengan ekor sepanjang lima meter yang bertabur kristal Swarovski.
Surya Atmadja berdiri di sana, memberikan tangan putrinya kepada Dante. Wajah Surya tampak campur aduk, ada rasa lega melihat Alicia aman, namun ada ketakutan melihat siapa menantunya sekarang.
Di barisan tamu, para bos mafia dari berbagai negara duduk dengan kaku. Mereka tidak terbiasa dengan pesta yang begitu glamor dan berisik dengan selera Alicia. Namun, saat Dante mencium Alicia di bawah guyuran kelopak mawar yang dijatuhkan dari helikopter, semua orang tahu, Alicia adalah kelemahan sekaligus kekuatan terbesar Dante.
"Mulai detik ini," Dante berbisik di tengah hiruk pikuk tepuk tangan, "seluruh dunia harus merangkak di kakimu jika mereka ingin bicara denganku."
Alicia tersenyum kemenangan. "Bagus. Mulailah dengan memerintahkan mereka untuk tidak merokok di dekatku. Bau cerutu mereka membuatku pusing."
Resepsi pernikahan berlangsung hingga larut malam. Musik klasik berganti menjadi dentuman musik modern yang dipesan Alicia khusus dari DJ internasional. Alicia tampak sangat menikmati perannya sebagai ratu malam itu, mencicipi caviar paling mahal dan mengeluh tentang tekstur truffle yang menurutnya kurang "berkarakter".
Namun, saat ia sedang memegang gelas kristal berisi jus anggur non-alkohol (karena Dante melarangnya menyentuh sampanye), Alicia tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh.
Aroma salmon panggang yang baru saja lewat di depannya mendadak tercium seperti bau bangkai yang membusuk.
"Ugh..." Alicia menutup hidungnya dengan punggung tangan.
"Ada apa?" Dante yang selalu waspada langsung menoleh.
"Baunya... bau makanannya menjijikkan, Dante. Siapa koki yang memasak itu? Pecat dia sekarang juga!" Alicia mulai merasa keringat dingin membasahi keningnya.
"Itu koki bintang tiga dari Paris, Alicia. Kau sendiri yang memilihnya minggu lalu," Dante menyipitkan mata, mulai menyadari perubahan warna kulit Alicia yang menjadi pucat.
Alicia tidak sempat menjawab. Perutnya terasa seperti diaduk oleh tangan raksasa. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya. Tanpa mempedulikan gaun mahalnya atau para tamu VIP yang sedang menatapnya, Alicia berlari sekencang mungkin menuju toilet terdekat.
Dante menyusul masuk ke toilet wanita, mengabaikan teriakan kaget beberapa tamu. Ia menemukan Alicia sedang berlutut di lantai marmer, muntah hebat di depan kloset.
"Alicia!" Dante memegang rambut panjang Alicia agar tidak kotor.
"Dante... ugh... keluarkan aku dari sini! Baunya... bau bunga-bunga itu... aku benci baunya!" Alicia menangis tersedu-sedu. Sisi manjanya meledak menjadi kemarahan yang dipicu hormon. "Pesta ini buruk! Aku ingin tidur! Kenapa bayimu membuatku merasa seperti mau mati?!"
Dante menggendong Alicia keluar melalui jalur belakang, menghindari sorot kamera dan tatapan tamu. Malam pernikahan yang seharusnya berakhir panas di tempat tidur, justru berakhir di kamar medis dengan Alicia yang terus mengeluh tentang segalanya.
"Aku benci tempat tidur ini, terlalu empuk! Aku ingin bantal dari bulu angsa kutub utara! Dan kenapa kau bau sekali, Dante? Mandi sana! Bau parfum-mu membuatku mual!" Alicia melempar bantal ke arah Dante.
Dante, pria yang bisa menghabisi musuh tanpa berkedip, hanya bisa berdiri terpaku di tengah kamar. "Aku baru saja mandi sebelum resepsi, Alicia."
"Mandi lagi! Pakai sabun bayi! Jangan pakai parfum itu!" Alicia menutupi wajahnya dengan selimut dan mulai terisak. "Aku ingin pulang ke Jakarta... aku ingin makan bubur ayam di depan kompleks rumahku... aku benci Italia!"
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣