Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ghazali yang Mulai Membela
Tetesan darah segar berwarna merah pekat jatuh menghantam lantai porselen putih ruang Intensive Care Unit (ICU) dengan ritme yang mengerikan. Setiap tetesnya terasa seperti dentuman palu godam yang menghancurkan dinding kewarasanku.
Ghazali mencengkeram pinggangku dengan lengan kirinya yang baru saja ia cabut paksa dari jarum infus. Darah mengalir dari punggung tangannya, menetes melewati sela-sela jarinya, menodai kemeja rumah sakit yang ia kenakan dan ujung jas lab-ku. Di latar belakang, monitor elektrokardiogram (EKG) merespons lonjakan adrenalin suamiku dengan menjeritkan bunyi bip yang semakin cepat dan rapat—sebuah indikator takikardia yang sangat berbahaya bagi jantung yang baru saja pulih dari henti fatal.
"Ghazali! Lepaskan aku! Kau mengalami pendarahan vena!" teriakku histeris. Aku mencoba menekan punggung tangannya dengan telapak tanganku, menggunakan tubuhku untuk mendorongnya kembali ke atas ranjang. "Kau bisa memicu syok hipovolemik! Jantungmu belum stabil!"
"Aku tidak peduli pada jantungku, Keana!" Ghazali membalas raunganku, baritonnya yang serak bergetar oleh amarah dan keputusasaan yang melebur menjadi satu.
Ia menolak untuk mundur. Otot-otot di rahangnya mengetat, dan napasnya yang panas menyapu wajahku. Cengkeramannya di pinggangku tidak mengendur satu milimeter pun, seolah-olah aku adalah satu-satunya jangkar yang menahannya dari kejatuhan ke dasar jurang.
"Katakan padaku apa yang ibuku racuni di dalam kepalamu!" tuntut Ghazali, sepasang mata elangnya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api yang menyala-nyala. "Katakan, sebelum aku benar-benar menghancurkan sisa hidupku karena kehilanganmu!"
Aku terengah-engah, terjebak di antara cengkeraman tangannya dan tatapan matanya yang menelanjangi jiwaku. Pertahanan klinisku yang selalu kubanggakan akhirnya hancur lebur berkeping-keping.
"Dia bilang kau menggunakan luka bakar di tangan kananmu ini untuk memenangkan opini publik!" isakku meledak, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, membasahi pipiku yang dingin. Aku memukul dada kirinya pelan, merutuki kelemahanku sendiri. "Dia bilang kau sengaja membakar tanganmu di bunker itu agar statusmu berubah dari tersangka menjadi korban tragis! Dia bilang, setelah brankas warisan itu terbuka dan Nyonya Ratna dipenjara, kau akan membuangku kembali ke ruang mayat karena seorang Mahendra tidak akan pernah mencintai wanita yang berbau formalin sepertiku!"
Keheningan yang mematikan turun seketika menyelimuti ruang ICU. Bunyi monitor EKG seolah menjadi satu-satunya entitas yang bernapas di dalam ruangan ini.
Cengkeraman Ghazali di pinggangku perlahan mengendur. Matanya melebar, merekam setiap jejak air mata dan kepedihan yang terpampang nyata di wajahku. Rahangnya sedikit terjatuh, memperlihatkan keterkejutan yang absolut.
Perlahan, sebuah tawa getir yang terdengar sangat hampa dan menyayat hati meluncur dari bibir suamiku. Ia mundur selangkah, melepaskanku seutuhnya, lalu merosot duduk di tepi ranjang.
"Simpati publik..." gumam Ghazali, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangan kirinya yang berlumuran darah naik untuk mengusap wajahnya yang pucat pasi. "Ibuku benar-benar tahu bagaimana cara mengoyak luka yang paling tak kasatmata, bukan?"
Ia mengangkat wajahnya, menatapku dengan sorot mata yang begitu rapuh hingga rasanya jantungku ikut teriris.
"Dua jam yang lalu, saat kau sibuk mengurus sisa-sisa bukti di ruang otopsi, Komisaris Herman menerima salinan faksimili dari Komisi Kejaksaan," ucap Ghazali dengan suara rendah yang terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Komisi Kejaksaan baru saja mengeluarkan rekomendasi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) untukku. Aku dituduh melakukan pelanggaran kode etik berat karena menyembunyikan bukti pembunuhan Kakek dan menutupi jejak tersangka selama bertahun-tahun."
Napas tertahan di rongga dadaku. "Diberhentikan? Tapi kau adalah whistleblower! Kau membantu membongkar kejahatan ini!"
Ghazali tersenyum miris. "Di mata hukum administrasi negara, aku adalah seorang penegak hukum yang diam saat kejahatan terjadi di depan matanya. Simpati publik tidak bisa menyelamatkan karier seorang jaksa yang melanggar sumpahnya, Keana."
Ia mengangkat lengan kanannya yang dibungkus perban tebal, memperlihatkannya padaku seperti sebuah piala kekalahan.
"Ibuku mengira aku memotong tanganku untuk menyelamatkan jubah jaksaku? Tidak, Keana," bisik Ghazali, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang gelap. "Aku sudah tahu bahwa karierku akan tamat sejak detik pertama aku memutuskan untuk masuk ke dalam bunker beracun itu bersamamu. Aku tidak menghancurkan tanganku untuk memenangkan opini publik. Aku menghancurkan tanganku karena aku lebih memilih menjadi pria cacat yang tidak punya apa-apa, daripada harus menjadi Jaksa Agung yang pulang ke rumah tanpa dirimu."
Kata-kata itu menghantamku layaknya gelombang pasang. Rasa sesak yang ditanamkan oleh Nyonya Ratna di ruang interogasi tadi menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa bersalah yang luar biasa besar karena aku sempat meragukan ketulusan pria ini.
"Maafkan aku," isakku, jatuh berlutut di lantai tepat di depan kaki ranjangnya. Aku meraih punggung tangan kirinya yang masih mengeluarkan darah, menempelkannya ke pipiku yang basah. "Maafkan aku karena aku sempat mempercayai wanita iblis itu, Mas."
Ghazali turun dari ranjang, ikut berlutut di atas lantai porselen yang dingin, mengabaikan segala protokol medis. Ia menggunakan lengan kirinya untuk merengkuhku ke dalam pelukannya. Kami berdua berlutut di tengah genangan darahnya sendiri, saling memeluk dengan keputusasaan dua orang manusia yang baru saja selamat dari kiamat.
"Jangan pernah meragukanku lagi, Istriku," bisiknya di ceruk leherku, menghirup aroma sabun antiseptikku dalam-dalam seolah itu adalah oksigen murni. "Bau formalin ini... adalah satu-satunya rumah yang kuinginkan."
Pintu kaca ICU tiba-tiba bergeser terbuka dengan suara bising.
"Astaga! Dokter Keana, apa yang terjadi?!"
Seorang perawat senior dan dokter jaga menerobos masuk dengan wajah panik melihat genangan darah dan posisi kami. Di belakang mereka, Komisaris Herman menyusul masuk, namun ia tidak sendirian. Dua orang pria berjas rapi dengan wajah kaku berdiri mengekor di belakang Herman. Salah satu dari mereka memegang sebuah map berlogo Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Aku segera bangkit berdiri, membantu Ghazali kembali duduk di atas ranjang. Dengan cepat dan cekatan, aku mengambil kasa steril dan plester dari troli medis di sudut ruangan, lalu mulai menekan dan membalut luka di punggung tangan kiri Ghazali. Refleks profesionalku langsung mengambil alih, mengesampingkan emosi pribadiku sejenak.
"Maaf atas kekacauannya, Dokter," ucapku pada dokter jaga tersebut sambil terus membalut tangan suamiku. "Pasien mengalami agitasi sesaat. Pendarahan venanya sudah terkontrol."
Namun, dua pria berjas rapi di belakang Herman tidak memberikan ruang untuk bernapas. Pria yang memegang map itu melangkah maju, menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan otoritas birokrasi.
"Dokter Keana Elvaretta," sapa pria itu dingin. "Saya Dr. Surya, perwakilan dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia wilayah DKI Jakarta."
Tanganku yang sedang memasang plester di tangan Ghazali terhenti seketika. MKEK adalah institusi penjaga moral tertinggi bagi profesi dokter. Jika mereka turun tangan secara langsung seperti ini, ini bukanlah kunjungan simpati.
Dr. Surya membuka map di tangannya. "Berdasarkan laporan darurat dari manajemen Rumah Sakit Bhayangkara dan temuan dari pihak kepolisian, Anda diduga kuat telah melakukan pelanggaran berat terhadap Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Anda melakukan otopsi secara diam-diam, melakukan ekshumasi tanpa rantai komando yang utuh, dan mengambil sampel biologis tulang tanpa mematuhi standar prosedur medikolegal yang berlaku."
"Sampel itu adalah bukti pembunuhan berencana!" bantahku tajam, berbalik menghadap pria itu. "Jika saya tidak mengambilnya, bukti itu sudah dilarutkan dalam Asam Hidrofluorik oleh pelaku!"
"Apapun alasannya, seorang dokter tidak dibenarkan mengambil tindakan medis investigatif di luar batas wewenang institusionalnya," balas Dr. Surya tanpa ekspresi. "Lebih jauh lagi, tindakan Anda menyiarkan data rekam medis dan hasil laboratorium forensik ke ranah publik melalui media massa di Bundaran HI adalah pelanggaran absolut terhadap kerahasiaan medis."
Dr. Surya menutup map tersebut dan menatapku lurus-lurus. "Menindaklanjuti hal tersebut, MKEK telah berkoordinasi dengan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Mulai siang hari ini, KKI secara resmi akan membekukan Surat Tanda Registrasi (STR) Anda, dan Dinas Kesehatan akan mencabut Surat Izin Praktik (SIP) Anda untuk sementara waktu hingga sidang etik selesai digelar."
Duniaku serasa diruntuhkan kembali. Pencabutan STR dan SIP adalah sanksi administratif tertinggi dalam profesi kedokteran di Indonesia. Tanpa kedua surat itu, aku bukan lagi seorang dokter forensik. Aku tidak diizinkan menyentuh meja operasi, tidak diizinkan mengeluarkan Visum et Repertum, dan kehilangan seluruh identitas yang mendefinisikan hidupku selama ini.
"Anda tidak bisa melakukan ini," suaraku bergetar, rasa sesak yang mengerikan kembali mencekik leherku. "Kalian membunuh karierku hanya karena aku berusaha menegakkan keadilan?!"
"Kami hanya menegakkan etika profesi, Dokter Keana. Institusi kedokteran tidak boleh diseret ke dalam sirkus hukum keluarga Anda," jawab Dr. Surya tajam.
"Sirkus hukum?"
Sebuah suara bariton yang berat, menggema, dan sangat mengintimidasi membelah ketegangan di ruangan itu.
Ghazali Mahendra.
Pria yang baru saja terbaring lemah itu tiba-tiba menegakkan postur tubuhnya di atas ranjang. Aura kedinginannya yang mematikan kembali meledak, memenuhi setiap sudut ruang ICU. Ia tidak lagi terlihat seperti pasien yang sekarat; ia telah bermutasi kembali menjadi sang Jaksa Penuntut Umum yang ditakuti di seluruh ruang sidang Pengadilan Negeri.
Ghazali menatap Dr. Surya dengan tatapan yang sanggup membuat logam membeku.
"Anda berbicara tentang etika profesi di hadapan seorang saksi mahkota yang baru saja membongkar skandal kejahatan terbesar dekade ini?" Ghazali berbicara dengan artikulasi yang sangat presisi, merendahkan pria di depannya tanpa perlu meninggikan suara.
"Suami Anda mungkin berstatus mantan jaksa, Dokter Keana. Tapi ini adalah urusan internal ikatan profesi medis—"
"Saya belum dipecat secara resmi, Dokter Surya," potong Ghazali tajam, matanya menyipit berbahaya. "Dan selama SK pemecatan saya belum ditandatangani oleh Presiden, saya masih memiliki otoritas penuh untuk menyeret Anda ke meja hijau atas tuduhan perintangan penyidikan."
Dr. Surya tampak sedikit tersentak. "Anda mengancam saya? Kami hanya menjalankan prosedur KKI!"
Ghazali tersenyum sinis. Sebuah senyum predator yang membuat Komisaris Herman di sudut ruangan menahan napas.
"Tahukah Anda doktrin Fiat justitia ruat caelum?" Ghazali menyebutkan adagium hukum Romawi klasik itu dengan fasih. "Hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh. Dalam hukum pidana Indonesia, terdapat apa yang disebut sebagai Noodtoestand atau keadaan darurat, yang diatur dalam Pasal 48 KUHP."
Ghazali mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap perwakilan MKEK itu dengan pandangan menguliti. "Istri saya mengambil sampel tulang itu dalam keadaan overmacht (daya paksa). Jika dia menunggu surat izin prosedural dari birokrat lamban seperti Anda, bukti itu akan musnah dan dua orang pembunuh berantai akan bebas berkeliaran! Tindakannya dilindungi oleh undang-undang pidana sebagai upaya mencegah kejahatan yang lebih besar!"
"Tapi secara etika medis—"
"Secara etika medis, istri saya telah mencegah jatuhnya korban jiwa baru!" bentak Ghazali, suaranya kini menggelegar menghantam dinding kaca ruangan. "Jika KKI dan MKEK berani menerbitkan surat pembekuan SIP dan STR istri saya hari ini, saya jamin, besok pagi seluruh jajaran direksi KKI akan menerima surat panggilan dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas gugatan perbuatan melawan hukum oleh penguasa (onrechtmatige overheidsdaad)!"
Ghazali tidak berhenti di sana. Ia memberikan pukulan pamungkasnya dengan kelicikan seorang manipulator ruang sidang.
"Bukan hanya itu," tambah Ghazali dengan nada sibilan yang merendahkan. "Media massa sedang memuja istri saya. Apa pendapat jutaan netizen jika mereka tahu bahwa IDI dan KKI justru menghukum dokter yang membongkar kejahatan? Kalian akan dicap sebagai pelindung koruptor. Reputasi institusi medis di negara ini akan hancur lebur dalam hitungan jam. Apakah Anda siap menanggung akibat dari sirkus yang Anda ciptakan sendiri ini, Dr. Surya?"
Wajah Dr. Surya berubah menjadi abu-abu. Pria berjas rapi itu menelan ludah dengan susah payah. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang dokter perempuan yang kelelahan, melainkan sedang berhadapan dengan salah satu otak hukum paling berbahaya di republik ini.
Ghazali bersandar kembali ke bantalnya, melipat tangan kirinya di depan dada dengan gerakan santai yang sangat kontras dengan ketegangan di ruangan.
"Bawa keluar map itu dari ruang perawatan saya. Jika Anda ingin memeriksa istri saya, kirimkan surat panggilan resmi setelah dia selesai menyelamatkan nyawa saya. Sekarang, keluar."
Dr. Surya dan rekannya saling pandang dengan raut wajah serba salah, sebelum akhirnya menundukkan kepala dengan kaku dan berjalan keluar dari ruang ICU tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Keheningan kembali mengambil alih. Komisaris Herman dan dokter jaga yang sedari tadi terdiam karena terintimidasi oleh pertunjukan kekuasaan Ghazali, perlahan ikut pamit keluar untuk memberikan kami ruang privasi.
Aku berdiri mematung di samping ranjang. Jantungku berdegup dengan irama yang benar-benar baru.
Seumur hidupku, aku selalu berjuang sendirian. Saat keluarga menolakku, saat di ruang otopsi yang dingin, aku selalu menjadi tameng bagi diriku sendiri. Namun hari ini, untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun kehidupanku, seseorang berdiri di depanku, menggunakan seluruh kekuasaan dan kecerdasannya untuk membelaku dari kehancuran.
"Kau..." bisikku, mataku tak bisa lepas dari wajahnya yang pucat namun memancarkan wibawa. "Kau baru saja mengancam dewan kehormatan medis nasional demi diriku."
Ghazali menoleh padaku. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman lembut yang sangat nyata.
"Itu baru permulaan, Istriku," ucapnya pelan, mengulurkan tangan kirinya ke arahku. "Aku sudah berjanji, bukan? Tidak akan ada lagi yang berani menyebut pekerjaanmu menjijikkan, dan tidak akan ada lagi yang berani menyingkirkanmu selama aku masih bernapas."
Aku menyambut uluran tangannya, membiarkan jemarinya yang besar dan hangat menggenggam erat telapak tanganku yang gemetar. Sebuah perasaan hangat yang meluap-luap memenuhi rongga dadaku, menyapu bersih sisa-sisa kesalahpahaman dan keraguan yang sempat ditanamkan oleh Nyonya Ratna.
"Terima kasih, Mas," bisikku, meremas tangannya dengan penuh syukur.
Namun, kedamaian sekilas ini mendadak terhenti oleh getaran keras dari ponsel di dalam saku jas lab-ku.
Aku melepaskan genggaman Ghazali dengan enggan dan merogoh ponselku. Sebuah panggilan masuk dari Adrian.
"Halo, Adrian? Ada apa?" tanyaku.
"Dokter Keana," suara Adrian di seberang sana tidak terdengar lega seperti seorang asisten yang baru saja memenangkan kasus. Sebaliknya, suaranya bergetar dipenuhi horor absolut. "Aku sedang memeriksa arsip data pasien Koh Bong yang disita polisi pagi ini. Ada sebuah rekam medis tersembunyi yang baru saja kudekripsi."
Aku mengerutkan dahi, melirik ke arah Ghazali yang mulai tampak waspada. "Rekam medis siapa?"
"Dok," napas Adrian memburu, "Satu bulan sebelum kakek Ghazali dibunuh, ada satu nama pasien lagi yang meninggal dengan gejala hipoksia mendadak. Pasien itu adalah seorang balita berusia enam tahun di panti asuhan yang didanai oleh Yayasan Mahendra."
Darahku mendadak berhenti mengalir.
"Panti asuhan?"
"Ya. Dan catatan di server Koh Bong menunjukkan bahwa Maia membeli racun itu dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang kita duga. Kakek dan Bi Inah bukanlah korban pertamanya, Keana," suara Adrian berubah menjadi bisikan ngeri. "Ini adalah kasus pembunuhan berantai. Dan Maia bukan sekadar pengacara korup... dia adalah monster yang sedang bereksperimen dengan nyawa anak-anak."
Aku menatap mata Ghazali yang membelalak. Di balik ranjang rumah sakit yang baru saja menyatukan hati kami ini, sebuah jurang misteri yang jauh lebih gelap, lebih sadis, dan lebih mengerikan baru saja terbuka dan siap menelan kami hidup-hidup.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍