"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Baiklah tapi jangan salahkan saya jika anda tidak enak badan nantinya karena kurang istirahat"ucap Dian.
"Aku tidak akan menyalahkan mu nona, tapi kau harus bertanggung jawab dan merawat ku saat aku sakit"ucap Alex dengan cueknya.
"Sudah biar saya saja yang mengemudi, nanti kalau saya harus merawat dan menjaga anda kapan saya bisa bekerja?"ucap Dian yang kini kembali keluar dari dalam mobil, dan berjalan mengitari mobil lalu meminta Alex untuk berpindah posisi.
Akhirnya Alex pun mengalah dan membiarkan Dian yang kini mengemudi.
"Tuan, saya baru pertama kali mengemudikan mobil mewah seperti milik anda, tapi anda jangan khawatir mobilnya aman"ujar Dian yang kini menunjukkan skill nya dalam mengemudi.
"Diandra apa kamu punya SIM?"tanya Alex.
"Tidak,"ucap Dian jujur.
"Oh my God, lalu bagaimana bisa kamu lolos mengemudi sampai ketempat saya? Bukankah selalu ada pemeriksaan di jalan?"ucap Alex yang baru menyadari keteledoran Dian.
"Bukankah anda tau sendiri bagaimana cara kami bermain, saat melewati pemerintahan maka SIM Dito atau Fandi yang diberikan karena kami selalu pindah posisi. Tapi untuk mobil truk milik tuan sepanjang perjalanan kami aman dan tidak pernah ada penilangan, seharusnya saya yang bertanya pada anda?"ucap Dian yang kini menambah kecepatan mobilnya.
"Diandra hati-hati kamu baru mengemudikan mobilnya bukan?"ucap Alex yang kini terlihat sangat khawatir.
"Tenanglah tuan, mobil ini terlalu ringan untuk saya, dan tidak mungkin tidak bisa dikendalikan. Yang bebannya berat saja saya bisa kemudikan meskipun tidak sama"ucap Dian yang kini membuat Alex menatap lekat wajah cantik yang kini tertutup topi dan masker itu.
"Diandra kenapa saya tidak bertemu kamu lebih dulu? Mungkin sampai saat ini saya akan menjadi pria yang paling berbahagia di dunia ini, "ucap gadis cantik itu lirih.
"Hm... Itu belum tentu tuan, dan itu hanya khayalan anda saja. Pada kenyataannya yang lebih dulu bertemu dengan saya telah menjadi mantan saya. Dan yang lebih dahulu bertemu dengan anda juga, maaf sudah berpulang, kita hanya manusia yang suka berandai-andai tuan, tapi tuhan yang menentukan nya"ucap Dian.
"Ya, kamu benar tapi kenapa tuhan menumbuhkan rasa cinta ini dihati saya untuk mu?"ucap Alex yang kini membuat Dian mengerem mendadak dan hampir saja Alex terbentur dasbor mobil nya itu.
"Dian, ada apa?"tanya Alex.
"Tuan Alex anda mengejutkan saya."ucap Dian.
"Semua yang saya katakan itu kenyataannya Diandra,"ucap Alex yang kini menatap lekat mata Dian.
"Apa anda sadar bahwa apa yang anda rasakan itu bukanlah cinta? Anda hanya merasa kasihan terhadap saya tuan, karena saya tidak seberuntung gadis lainnya"ucap Dian yang kini kembali melajukan mobilnya.
"Kasihan katamu? setelah hampir satu tahun lebih aku kesulitan menghilangkan rasa ini. Dan lagi masih banyak di luaran sana yang lebih malang darimu yang pernah aku temui tapi aku tidak tidak pernah jatuh cinta terhadap mereka selain rasa iba dan berusaha untuk membantu terbebas dari kesulitannya"ucap Alex yang kini membuat Dian terdiam tapi terus fokus pada jalanan.
"Tuan, apa yang bisa membuat anda jatuh cinta terhadap saya yang bahkan tidak memiliki apa-apa, wajah pas-pasan dan dompet kering yang mungkin hanya akan menyusahkan anda?"ucap Dian pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Semua yang ada padamu Diandra"balas Alex.
"Hm...."lirih Diandra.
"Lalu?"tanya Alex lagi.
"Lalu apa tuan?"tanya Dian tanpa menoleh kearah Alex.
"Saya tau kamu tau apa yang saya maksud Diandra, tapi kamu terus menutup pintu hatimu..... Tapi satu hal yang harus kamu tau Diandra, mulai detik ini aku tidak akan pernah menyerah."ucap Alex.
"Terserah tuan saja, karena saya pun akan tetap dengan pendirian saya"ucap Diandra.
"Kita akan lihat seberapa lama kamu menutup pintu hatimu itu"ucap Alex yang akhirnya terlelap dalam tidurnya, Dian pun melirik kearah kaca spion dalam mobilnya yang kini memperlihatkan wajah tampan Alex yang sangat sempurna.
Dian pun akhirnya menghela nafas berat dan menghembuskan nafasnya pelan, dia tidak mungkin bisa menghindar dari cinta dalam diam nya untuk selamanya. Tapi dia juga tidak mungkin menerima pria yang memiliki kehidupan yang jauh berbeda dengan dirinya.
Dian tidak ingin hidup seperti Cinderella yang bahagia karena terbebas dari siksa dan kemiskinan. Karena pada kenyataannya dunia tidak pernah tidur meskipun ada waktu malam. Dian tidak ingin menjadi sorotan dunia karena beruntung dinikahi oleh pangeran tampan dan mapan, dia ingin dikenal dunia sebagai wanita yang apa adanya dan bahagia dalam kesederhanaan dengan cinta sejatinya.
Tidak sampai tiga jam kemudian mereka tiba di depan rumah Diandra yang sudah berubah banyak sejak kepergian Alex hari itu.
Rumah yang tampak minimalis namun sangat asri dengan taman kecil dan kolam kecil yang ada di depan teras rumah, dan si Optimus yang tetap terawat seperti saat pertama kali dia diservis oleh pak Hasan hari itu.
"Kenapa tidak bangunkan saya jika kita sudah sampai nona?"ucap Alex yang kini terjaga karena sudah bisa merasakan suasana yang sejuk khas pedesaan tempat yang dulu menjadi tempat dia bersembunyi dari musuh terbesarnya yang tidak lain adalah keluarganya sendiri.
Ya, ibu tiri dan kakak tiri Alex juga paman dan bibinya yang selama ini berusaha merebut warisan keluarga yang sepenuhnya telah diserahkan kepada Alex hari itu.
Termasuk mereka yang telah memberikan obat-obatan berbahaya pada kakeknya yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Dan Anggun melahirkan bayi yang cacat yang kini harus Alex besarkan sendiri.
Sementara untuk ibu tiri dan saudara tiri juga paman dan bibinya kini sudah resmi dicoret dari daftar keluarga Tama.
Yang tersisa saat ini adalah ayahnya yang sedang stroke parah dan ibunya yang kembali ke rumah setelah sekian lama tersingkirkan oleh orang-orang jahat itu.
Tapi masih ada satu orang lagi yang saat ini berada di dalam pengawasan Alex, dia adalah adik satu ayah yang telah dicampakkan oleh ibu kandung nya. Meskipun Alex tau rencana dibalik itu semua.
Ya, namanya Eliza, dia adik perempuan Alex satu ayah lain ibu yang kini menempati rumah keluarga besarnya. Sementara rumah yang semalam Dian singgahi adalah rumah tuan Tama, ayah dari tuan Alex ayah Gideon Alexander Tama.
Ya, nama Alexander adalah nama sang ayah, dan Tama adalah nama kakeknya.
Nama aslinya adalah Gideon, tapi karena kedua nama itu juga sudah melekat pada dirinya Alex membiarkan Dian dan yang lainnya memanggil nama itu.
...*****...
"Kamarnya sudah dirapihkan tuan, istirahat lah, saya ada di kamar itu jika anda ada butuh apa-apa"ujar Dian.
"Hm... saya hanya butuh kamu,"ucap Alex sambil tersenyum manis dan itu membuat Dian geleng-geleng kepala lalu bergegas pergi setelah mengantar koper Alex kedalam kamar tamu tersebut.
"Hm... Sangat nyaman, kamu memang wanita terbaik Diandra"ucap Alex yang kini membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu, meskipun tidak se empuk yang ada di rumah nya tapi bisa hidup bersama orang yang sangat dicintai akan tetap nyaman meskipun berada di tempat kumuh sekalipun.
Sementara Dian kini menatap foto sang ayah."Ayah Diandra rindu. oh iya tuan Alex kembali ke rumah ini meskipun hanya singgah"ucap nya lirih sambil mengecup foto sang ayah.
Dian pun akhirnya kembali terlelap hingga pukul sepuluh pagi, disaat semua orang telah bersibuk di rumah nya begitu juga dengan teman-temannya yang menjadi pemandu untuk menyiapkan semuanya termasuk menyembelih hewan yang diniatkan untuk akikah pak Hasan.
Semua itu adalah hasil kerja keras Dian setiap hari tanpa mengenal lelah. "Mau sampai kapan putri tidur itu bermimpi. Apa dia tidak ingat hari ini hari apa?"ucap Afandi yang kini hendak membangunkan Dian.
"Tidak usah, biarkan saja dia bangun dengan sendirinya lagipula saat ini belum puncak acara bukan? Jika ada yang diperlukan silahkan bicara dengan saya"ucap Alex yang sejak pagi tadi sudah membantu Afandi dan teman-temannya yang lain, dan juga ibu yang sejak tadi pagi menggoda dirinya.
Salah satu dari mereka meminta Alex untuk segera menghalalkan Dian, setelah Alex bilang bahwa dia single father.
Alex hanya tersenyum lalu berkata "Do'akan saja.
Sampai akhir Dian terjaga dari tidurnya dan dia begitu kaget saat mendengar orang-orang tertawa terbahak-bahak dan suara mereka yang sedang berkegiatan.
Diandra buru-buru mandi dan berpakaian, dan saat ini Diandra tidak menggunakan pakaian dinas, atau pakaian miliknya.
Diandra menggunakan daster peninggalan ibunya yang kini membuat Alex pangling karena kecantikannya yang semakin terpancar saat melihat Dian menggunakan pakaian santai ala wanita bersuami itu.
Rambut nya di gerai dan masih setengah basah setelah keramas, dia meminta maaf kepada semuanya dengan alasan lelah setelah perjalanan jauh dan semua orang pun mengerti dengan itu.
Diandra tidak ikut memasak dengan ibu-ibu yang lainnya yang ada di depan rumah nya, dan tengah masak besar, tapi dia pergi ke dapur dan membuat nasi liwet untuk semua orang berikut ikan bakar yang telah di bumbui kemarin pagi dan disimpan dalam kulkas.
Diandra sedang sibuk berkutat dengan peralatan masak, saat Alex datang dan berkata.
"Calon istri yang baik hati sedang masak rupanya. Boleh minta kopi nona, sejak pagi saya belum sarapan" ucap Alex yang kini mendapat tatapan malas dari Dian.
"Tuan Alex silahkan tunggu, hanya kopi bukan?"balas Dian.
"Hm... Kopi saja lagipula sarapan kamu itu tidak mungkin untuk saat ini" ucap Alex yang kini membuat Dian geleng-geleng kepala.
Dian pun langsung membuat kopi untuk Alex, kemudian menyuguhkan nya bersama sandwich yang sudah dia buat sebelum membuat nasi liwet tersebut.
"Thanks honey,"ucap Alex yang kini membuat Dian kesal.
"Diandra, kamu masak apa?"ujar Fandi yang kini nyelonong masuk.
" Nasi liwet untuk makan bersama nanti, oh iya bisa bantu aku bakar ayam dan ikan, sepertinya disini tidak muat"ucap Dian.
"Itu masalah gampang, minta uang buat beli rokok sepertinya di depan banyak bala bantuan"ucap Fandi.
"Tuh dompetnya ambil sendiri tangan ku kotor"ucap Dian.
"Berapa yang kamu butuhkan?"ucap Alex menghentikan pergerakan tangan Fandi.
"Eh, anda disini tuan, tidak banyak kok hanya dua ratus ribu saja"ucap Fandi yang kini kembali bergerak hendak mengambil uang dari dompet Dian.
"Ini ambilah"ucap Alex yang menyodorkan satu gepok uang dari saku celana cargo nya itu.
"Ah itu kebanyakan,"ucap Afandi yang kini dilirik Dian.
"Ambil seperlunya saja nanti aku ganti"ucap Dian pada Afandi.
"Terimakasih tuan,"ucap Afandi yang kini pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sayang sepertinya peralatan masak masih kurang, disini harusnya ada oven listrik untuk memanggang atau yang lainnya"ucap Alex yang kini mendapat lirikan dari Dian.
"Disini tidak butuh itu tuan, lagipula boros listrik, disini ada banyak kayu bakar dan juga tempurung kelapa yang bisa memberikan rasa yang sempurna khas ikan atau daging bakar, dibelakang ada tungku khusus untuk bakar ikan"ucap Dian yang kini dibalas anggukan kepala oleh Alex.
Dian pun sibuk memotong sayuran, untuk lalapan dan juga tumis, dia juga tidak lupa mengulek sambal dalam jumlah banyak.
Tidak sampai satu jam gadis cantik yang kini berkeringat di bagian kening dan wajahnya karena kepanasan itu pun selesai dengan nasi liwet ayam bakar yang berjumlah lima ekor ayam, dan tiga jenis ikan yang berjumlah banyak itu pun kini sudah ditata diatas daun pisang yang di tata memanjang untuk makan bersama.
Alex membawa tisu dan menyeka keringat di wajah dia yang kini membuat Dian mematung sementara yang lain baper dan bersiul khas untuk menggoda keduanya.
"Tuan," lirih Dian yang tidak ingin orang lain salah faham.
"Kenapa apa salahnya dengan itu?"ucap Alex yang kini membantu Dian menata makanan bersama anak-anak lainnya yang kini sudah tidak sabar untuk makan besar.
"Semua sudah siap, ayo makan dulu"ucap Dian yang kini duduk di apit oleh Alex dan Fandi.
"Ayo dimakan, setelah ini akan ada saweran,"ucap Alex yang membuat semua orang bersorak gembira.
"Ah yang begini ni yang benar-benar rejeki nomplok"ucap Dito.
Akhirnya semua orang pun menikmati makanan tersebut, termasuk Dian yang lagi-lagi terdiam saat Alex membersihkan sudut bibir dengan tisu saat Dian menoleh kearah Alex.
"Makanan nya sungguh lezat dan teristimewa honey, terimakasih"ucap Alex dengan sengaja saat melihat kearah pria yang baru saja datang dengan beberapa paper bag ditangan nya.
Ya, Alex masih sangat ingat siapa pria itu.
"Diandra, maaf sedikit terlambat ini ada sedikit oleh-oleh untuk acara tahlilan nanti"ucap pria tampan itu.
"Makasih kak, padahal tidak perlu repot-repot kalo mau datang"ucap Diandra yang kini menerima semua pemberian pria itu.
"Tidak repot kok Diandra, kamu bisa bilang sama aku jika ada yang kurang."ucap pria itu.
"Tidak kak, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih banyak ya, istrinya enggak diajak?"ujar Dian.