NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana tegang di koridor rumah sakit mendadak pecah saat pintu gawat darurat terbuka lebar.

Beberapa perawat keluar dengan terburu-buru, mendorong ranjang Aliya yang kini dikelilingi oleh berbagai peralatan medis portabel.

Dokter kepala menyeka keringat di keningnya, menatap Emirhan dan Maria dengan raut wajah yang sangat berat.

"Kondisinya kritis. Racun itu sudah mulai menyerang fungsi paru-paru dan jantungnya. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU segera untuk pengawasan intensif."

Maria menahan napas saat ranjang itu lewat di hadapannya.

Ia melihat putri bungsunya yang malang kini tampak begitu rapuh.

Tubuh Aliya hampir tak terlihat di balik berbagai alat medis yang menempel.

Sebuah selang ventilator terpasang di mulutnya, membantu paru-parunya yang mulai lumpuh untuk tetap bernapas.

Suara detak monitor jantung yang tidak stabil terdengar memekakkan telinga di tengah kesunyian lorong.

"Aliya..." rintih Maria.

Melihat putrinya yang dulu begitu ceria kini harus bergantung pada mesin untuk bertahan hidup, dunia Maria terasa berputar hebat.

Oksigen di sekitarnya seolah menghilang. Kakinya lemas, dan sebelum Zartan sempat menangkapnya, Maria sudah jatuh jatuh pingsan di lantai rumah sakit yang dingin.

"Ibu!" seru Zartan panik, segera mengangkat tubuh ibunya ke kursi tunggu.

Emirhan berdiri mematung, matanya tidak lepas dari sosok Aliya yang perlahan menghilang di balik pintu kaca ganda ruang ICU.

Pemandangan selang yang masuk ke mulut Aliya dan kabel-kabel yang menjalar di tubuhnya bagaikan sembilu yang menyayat jantungnya.

Ia membalikkan badan, menatap Onur dan Hakan yang masih berdiri tak jauh darinya dengan tatapan yang kini kosong namun mematikan.

"Lihat itu," suara Emirhan terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan iblis.

"Keluarga kita telah mengubah gadis yang sehat menjadi mayat hidup dalam semalam. Jika dia tidak bangun dari ruangan itu, aku bersumpah, aku sendiri yang akan menghancurkan mansion Karadağ berkeping-keping."

Onur terdiam, menatap pintu ICU dengan perasaan bersalah yang mulai merayapi hatinya, sementara Hakan hanya bisa membuang muka, tak berani menatap mata kakaknya yang kini telah kehilangan seluruh rasa kemanusiaannya.

Di dalam ruangan kedap suara itu, Aliya berjuang sendirian melawan maut yang dikirimkan oleh tangan-tangan yang membencinya.

Kabar mengenai Aliya yang kritis di ruang ICU dengan selang ventilator yang menopang hidupnya sampai ke telinga penghuni mansion Karadağ lebih cepat dari yang dibayangkan.

Di dalam kamar pribadinya yang luas namun terasa mencekam, Zaenab duduk dengan tangan yang gemetar hebat.

Berita tentang "cairan bunga beracun" yang ditemukan dokter membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Ia tahu persis itu adalah jejak yang sangat spesifik, jejak yang bisa mengarah langsung kepada dukun kepercayaannya jika polisi mulai terlibat.

Zaenab mengangkat wajahnya, menatap Laura yang berdiri di dekat jendela.

Gadis itu tampak gelisah, terus-menerus memilin ujung gaunnya, namun matanya memancarkan kegilaan yang tidak stabil.

"Laura..." suara Zaenab parau, hampir tidak terdengar.

"Dokter menemukan racun itu. Mereka tahu, Laura. Dan sekarang Emirhan sudah seperti orang kesurupan di rumah sakit. Apa yang sebenarnya kamu lakukan?"

Laura berbalik, wajahnya pucat namun ia malah tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar mengerikan.

"Aku melakukannya, Bibi. Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menyingkirkan pengganggu itu."

Zaenab berdiri dan mencengkeram lengan Laura dengan keras.

"Dukun itu bilang hanya dua tetes! Dia bilang hanya untuk membuatnya lemah agar dia pergi dari sini! Kenapa kondisinya bisa sampai kritis seperti itu?"

Laura menyentakkan tangannya, matanya berkilat penuh kebencian.

"Karena dua tetes tidak cukup untuk membunuh cinta Emir padanya! Aku melihat mereka tertawa di sekolah, aku melihat betapa bahagianya dia tanpa beban! Jadi, aku memasukkan semuanya, Ibu. Semuanya! Satu botol penuh aku tuangkan ke dalam air minumnya."

Napas Zaenab tercekat. Ia mundur beberapa langkah hingga terduduk kembali di kursi.

"Satu botol? Kamu sudah gila, Laura. Itu dosis untuk membunuh, bukan untuk mengusir! Jika Aliya mati, Emirhan tidak akan diam. Dia akan memburu siapa pun pelakunya, dan dia tidak akan segan-segan menghancurkan kita berdua!"

"Biarkan saja!" teriak Laura frustrasi.

"Lebih baik dia mati daripada aku harus melihatnya bersanding dengan Emir!"

Zaenab memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.

Ketakutan kini benar-benar menyelimutinya. Ia yang dulu merasa ahli dalam memisahkan Onur dan Maria, kini menyadari bahwa kecerobohan Laura telah menciptakan lubang kubur bagi mereka sendiri.

Di luar, suara sirine ambulans yang lalu-lalang di kejauhan terdengar seperti lonceng kematian yang sedang menghitung mundur waktu mereka.

Lampu koridor rumah sakit yang dingin memantul di lantai marmer, menciptakan suasana sunyi yang mencekam.

Emirhan duduk sendirian di depan kaca besar ruang ICU, tubuhnya membungkuk dengan wajah yang disembunyikan di balik telapak tangan.

Pakaiannya masih sama—kemeja yang kusut dan noda darah kering milik Aliya yang tertinggal di lengannya.

Ia tidak bergerak, matanya hanya terpaku pada tubuh kecil di balik kaca yang kini dikelilingi kabel dan mesin yang berbunyi teratur.

Pip... pip... pip...

Tiba-tiba, suara mesin itu berubah menjadi cepat dan melengking.

Emirhan mendongak dan terbelalak. Di dalam sana, tubuh Aliya yang tadinya kaku mendadak tersentak hebat.

Ia mengalami kejang yang sangat kuat, membuat alat-alat medis di sekitarnya berguncang.

"Aliya!" Emirhan bangkit dan menggedor kaca dengan keras.

"Dokter!! Cepat lakukan sesuatu!! Dokter!!"

Tim medis berlarian masuk. Suasana di dalam ruang ICU berubah menjadi kekacauan yang terorganisir.

Emirhan dipaksa menjauh dari pintu, namun ia tetap bisa melihat melalui celah kaca saat dokter mencoba memberikan kompresi dada pada Aliya.

"Tolong, Aliya. Jangan sekarang. Jangan tinggalkan aku!" teriak Emirhan, suaranya parau hingga hampir hilang.

Namun, monitor yang tadinya menunjukkan garis gelombang kini perlahan melandai.

Garis itu menjadi lurus sempurna, diikuti oleh suara berdenging panjang yang mematikan.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...

Dokter menghentikan gerakannya. Ia memeriksa pupil mata Aliya, lalu melihat ke arah jam di dinding dengan bahu yang merosot lesu.

Di dalam ruangan itu, keheningan menyelimuti segalanya.

Dokter keluar dari ruangan dengan langkah gontai.

Ia melepas maskernya dan menatap Emirhan dengan pandangan yang penuh rasa duka. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.

"Maafkan kami, Tuan Emirhan. Racun itu sudah merusak saraf pusatnya terlalu dalam. Kami sudah melakukan segalanya, tapi jantungnya tidak bisa bertahan lagi. Aliya sudah tiada."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Emirhan. Suara di sekitarnya mendadak menjadi senyap, hanya menyisakan dengungan di telinganya.

Ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan kaki yang terasa seperti timah.

Di atas ranjang, seorang perawat perlahan menarik kain putih ke atas, menutupi wajah cantik yang kini telah tenang selamanya.

Emirhan berdiri mematung di samping ranjang, menatap kain putih yang kini menyembunyikan senyum Aliya untuk selamanya.

Di bawah cahaya lampu rumah sakit yang pucat, Emirhan menyadari bahwa separuh dari jiwanya telah ikut mati bersama gadis yang gagal ia lindungi.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!