Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Pagi itu, sinar matahari telah menembus jendela kaca besar di ruang makan lantai dasar kediaman Sanjaya, menciptakan suasana hangat di meja makan yang penuh dengan hidangan sarapan. Tuan Sanjaya duduk di ujung meja, sementara Hanum dan Alvaro duduk berhadapan, didampingi oleh Aliya dan Adiba.
Suasana tenang itu mendadak pecah ketika Adiba meletakkan sendoknya dan menatap Hanum dengan senyum penuh arti.
"Bunda sama Om Al berangkat saja duluan. Kami tidak mau mengganggu waktu kebersamaan kalian, betul tidak Kak?" goda Adiba sembari menyenggol lengan Aliya.
Aliya langsung menyambut umpan adiknya. "Betul banget! Lagi pula, sepertinya di kantor nanti Bunda butuh bimbingan 'khusus' dari Om Al, kan?"
Hanum yang sedang meminum jus jeruknya hampir saja tersedak. Ia segera meletakkan gelasnya dan memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Kalian ini bicara apa sih? Masih pagi sudah mulai aneh-aneh."
"Biarkan saja, Num. Nanti biar Kakek yang antar mereka ke sekolah. Kalian fokus saja berdua ke kantor," timpal Tuan Sanjaya dengan wajah tanpa dosa, meskipun binar di matanya tidak bisa berbohong.
Alvaro yang sedari tadi diam, mulai mencium aroma persekongkolan antara sang ayah angkat dan kedua keponakannya itu. Bukannya merasa terganggu, Al justru merasa mendapatkan dukungan moral yang sangat besar. Ia melirik Tuan Sanjaya sekilas, memberikan kode terima kasih lewat tatapan matanya.
Hanum mulai mencurigai situasi ini. Ia yakin seratus persen kalau Aliya dan Adiba sudah dihasut oleh Papahnya agar dirinya bisa dekat dengan Alvaro. Hanum menarik napas panjang, baginya Alvaro adalah kakak pelindungnya, titik.
"Hemmm, ya sudah terserah kalian saja..." jawab Hanum datar, berusaha tidak terpancing.
"Kak Al, ayo kita segera berangkat ke kantor. Pagi ini ada banyak berkas penting yang ingin aku pelajari."
Hanum berdiri, lalu mencium punggung tangan Tuan Sanjaya dengan takzim. Aliya dan Adiba pun melakukan hal yang sama, berpamitan pada kakek mereka sebelum akhirnya menghampiri Alvaro.
Saat Hanum sudah berjalan lebih dulu menuju teras, Aliya dan Adiba mendekat ke telinganya Alvaro.
"Om Al, semangat!" bisik keduanya secara bersamaan dengan nada penuh dukungan.
Alvaro tertawa lebar, merasa semangatnya baru saja terisi penuh. Ia memberikan jempol kepada kedua gadis pintar itu.
"Semangat juga untuk kalian di sekolah!" balas Alvaro pelan sebelum menyusul Hanum dengan langkah ringan.
Tuan Sanjaya hanya bisa terkekeh melihat punggung Alvaro yang tampak sangat bahagia pagi itu. Di dalam mobil, Hanum sudah duduk di kursi penumpang dengan wajah cemberut, sementara Alvaro masuk ke dalam kemudi dengan senyum yang tak kunjung hilang dari bibirnya.
"Kenapa Kakak senyum-senyum begitu sih?" tanya Hanum ketus.
"Tidak apa-apa, Num, udara di pagi ini terasa sangat segar saja, bukan?" jawab Alvaro santai sembari mulai menjalankan mobil mewah itu menuju gedung Sanjaya Group.
Hanum hanya memutar bola matanya, tidak tahu bahwa di balik kemudi, pria di sampingnya itu sedang merencanakan masa depan yang jauh lebih indah daripada sekedar urusan kantor.
Perusahaan Sanjaya grup
Gedung Sanjaya Group pagi itu tampak sibuk, namun suasana di lantai eksekutif terasa lebih tenang. Hanum sudah duduk manis di ruang kerjanya Alvaro yang luas. Karena ruang pribadinya masih dalam tahap renovasi atas permintaannya sendiri yang ingin mengubah nuansa ruangannya agar lebih segar, ia terpaksa menumpang di sana.
Hanum tampak sangat fokus. Jemarinya lincah membalik lembaran berkas penting, sementara kacamatanya bertengger di hidung mancungnya.
"Num, Kakak ke ruang rapat sebentar ya. Para kepala divisi sudah menunggu hasil laporan mingguan," ujar Alvaro sembari merapikan jasnya.
"Iya, Kak. Kerjakan saja urusan Kakak, aku akan tetap di sini mempelajari skema investasi ini," jawab Hanum tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen tersebut.
Satu jam telah berlalu. Begitu pintu ruangan rapat terbuka, Alvaro yang baru saja keluar langsung menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam. Di kursi tunggu tepat di depan pintu ruangannya, duduk Johan dan Monica. Kehadiran mereka yang tanpa pemberitahuan membuat rahang Alvaro mengeras.
"Kalian? Untuk apa datang ke sini? Kenapa tidak membuat janji terlebih dahulu?" tanya Alvaro cukup lantang, suaranya menggema di koridor.
Di dalam ruangan, Hanum tersentak. Suara Alvaro yang nyaring menembus pintu kayu yang tebal.
'Sepertinya Kak Al sudah selesai rapat,' batinnya.
Namun, ia kemudian mendengar suara lain yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Tuan, maaf kedatangan saya ke sini secara mendadak. Tapi ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda mengenai draf kerja sama kemarin. Bisakah kita mengobrol di dalam ruangan Anda sebentar?" mohon Johan dengan suara rendah, berusaha mencari muka.
Hanum membelalak. "Kenapa pria tidak tahu diuntung itu bisa datang ke sini? Aku harus segera bersembunyi!"
Dengan gerakan panik namun sebisa mungkin tanpa suara, ia mencari tempat berlindung. Lemari dokumen terlalu sempit, hingga akhirnya matanya tertuju pada kolong meja kerja Alvaro yang besar dan tertutup panel kayu di bagian depannya. Ia segera merangkak masuk ke sana, memeluk lututnya dengan napas tertahan.
Alvaro menarik napas panjang. Ia berharap Hanum sudah menemukan tempat persembunyian. Dengan wajah sedingin es, ia membuka pintu ruangannya. Matanya menyapu ruangan sejenak, dan tidak ada Hanum di sana. Ia merasa sangat lega.
"Kau saja yang masuk. Istrimu tunggu di luar," perintah Alvaro tegas kepada Johan. Ia tidak sudi membiarkan Monica, yang ia anggap bidadari berhati iblis itu, menginjakkan kaki lebih jauh ke dalam wilayah pribadinya.
Johan masuk dengan sikap membungkuk hormat. Namun, perhatian Alvaro langsung tertuju pada meja kerjanya. Di sana masih tergeletak berkas yang tadi dipelajari Hanum, dan yang lebih gawat lagi, sebuah tas tangan kecil milik Hanum tergeletak begitu saja di atas meja.
Tepat saat itu, Asisten Adam masuk membawa berkas hasil meeting. Ia sempat tertegun melihat Johan sudah duduk di sana.
"Kebetulan sekali kau datang, Adam. Tolong simpan tas ini!" perintah Alvaro sembari menyambar tas Hanum dan menyerahkannya kepada Adam dengan gerakan cepat.
Johan yang melihat itu mencoba mencairkan suasana dengan nada sok akrab. "Sepertinya itu milik seorang wanita ya, Tuan Alvaro? Apakah Sekretaris Anda tertinggal barangnya?"
Alvaro menatap Johan dengan tatapan merendahkan, lalu ia tersenyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi.
"Bukan. Itu tas milik calon istriku," jawab Alvaro dengan sengaja, suaranya terdengar sangat jelas di seluruh penjuru ruangan.
Di bawah kolong meja, Hanum seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak lebar, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
'Ish! Apa maksudnya Kak Al berkata seperti itu? Calon istri?!'batin Hanum berteriak.
wajahnya kembali merona merah meski dalam kegelapan kolong meja. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, antara takut ketahuan oleh Johan dan terkejut dengan klaim berani dari Alvaro.
Johan sedikit terkejut namun kemudian tertawa kecil. "Ah, saya tidak tahu kalau pria hebat seperti Anda sudah memiliki calon istri. Pasti dia wanita yang sangat beruntung."
"Justru aku yang beruntung memilikinya," balas Alvaro dingin sembari duduk di kursinya, tepat di atas persembunyian Hanum. "Sekarang, katakan apa maumu sampai mengganggu waktuku?"
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔