NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4| Si Manipulatif

Senggolan di lengannya membuat Aluna tersentak dari lamunan, kerutan halus di dahi Karina terlihat jelas. Kedua alis mata Aluna ditarik tinggi ke atas seakan bertanya pada Karina, Karina mendesah berat.

"Lo kenapa?" tanya Karina merendahkan intonasi suaranya, sembari melirik ke depan kelas sesekali.

Guru matematika terlihat fokus menuliskan rumus di papan tulis, sementara siswa menyalin rumus ke buku tulis masing-masing.

"Gue baik-baik aja kok," jawab Aluna tak kalah pelannya.

Kedua pasang mata Karina menyipit menatap curiga ke arah Aluna—sahabatnya bagaimana tidak, saat Aluna masuk ke kelas pagi ini gadis remaja di sampingnya itu terlihat linglung dengan mata memerah. Seakan ada masalah berat yang tengah menimpanya, dalam satu jam sesudah berapa kali Karina mendapati tatapan kosong Aluna.

"Apa ada masalah di rumah lo," tebak Karina, "lo berantem lagi sama Bokap lo, huh?"

Kepala Aluna menggeleng, "Mana ada, Bokap gue nggak banyak omong gimana bisa berantem."

Karina membuka kembali mulutnya, suara guru di depan kelas membuat ia menelan kata-kata yang akan ia keluarkan. Mau tak mau Karina fokus kembali ke depan bersama Aluna, meskipun keduanya terbilang cukup nakal. Untuk pelajaran kedua tidak mau main-main, semuanya paham betul pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka masing-masing.

...***...

Nyaringnya suara bell istirahat menggema di seluruh penjuru gedung sekolah, riuh dari suara siswa-siswi bersatu dengan suara guru. Orang-orang mulai berbondong-bondong menuju kantin sekolah, sementara para guru menuju ruangan khusus guru. Aluna berbelok ke arah toilet sekolah, membiarkan Karina menuju kantin sekolah dengan teman sekelas mereka.

"Oi banteng!" seruan bariton dari arah tak terduga.

Langkah kaki Aluna berhenti mendadak ia melotot menatap Kai—si manipulatif, Kai bergerak mendekat ke arahnya. Pria jangkung dengan senyum nakal itu terkekeh kecil melirik ekspresi kesal di wajah Aluna, Aluna memang dibebaskan dari ruangan itu tadi pagi. Hanya saja, ia tak bisa lepas dari mereka semua. Tidak mudah membujuk ketiganya, pada akhirnya Aluna dibebaskan bersyarat.

"Lo ngomong apa barusan?" Aluna melototi Kai.

"Banteng," sahut Kai, "benar 'kan? Lo banteng nakal yang udah nyeruduk si Jayden kemarin."

Jari jemari tangan Alunan menunjuk-nunjuk ke arah Kai yang kini semakin menyeringai, Aluna mendesah kasar. Ia menurunkan tangannya tak ada gunanya ia berdebat dengan Kai, niat awalnya menghindar dari semua tokoh pria. Tampaknya tidak ada jalan lain, selain menghadapi mereka semua.

"Bikin gue jengkel aja," gumam Aluna.

Aluna melanjutkan langkahnya kakinya kembali, memilih mengabaikan Kai yang tampaknya menyukai kemarahannya.

"Hei! Lo mau kemana? Lo nggak mau lolos dari kematian, huh? Gue bisa bantuin lo buat ngebujuk Jayden. Lo yakin nih, nggak butuh bantuan gue?" Kai mengejar langkah kaki Aluna yang terburu-buru menghindari dirinya, menggoda Aluna dengan tawaran menggiurkan.

Benar saja, langkah kaki Aluna berhenti mendadak ia menoleh ke samping dengan mata memicing curiga. Tawaran Kai sulit untuk Aluna tolak, Aluna memang tak akan mampu menghadapi si red flag Jayden. Kai menarik-turun alis mata tebalnya, tersenyum ganjil.

"Gimana caranya?" desak Aluna tanpa basa-basi.

Jari jemari panjang Kai mengusap dagunya, sebelum ia menunduk dengan posisi tubuh condong ke depan. Mau tak mau Aluna memundurkan kepalanya ke belakang, embusan napas hangat Kai menyembur di wajahnya.

"Nggak ada yang gratis di dunia ini, Aluna. So, apa yang bisa lo kasih ke gue kalo gue bisa bantuin lo buat menghindar dari kematian, hm?" Kai menatap lurus ke iris mata Aluna.

Aluna mendorong dada bidang Kai ke depan, agar jarak yang tadinya dipersempit kembali terbentang lebar. Kai berdiri tegap kembali, senyum di bibirnya tak pernah pudar.

"Apa yang lo mau dari gue," balas Aluna serius.

Tatapan mata mereka berdua bersirobok, Aluna paham bagaimana karakter Kai. Pria yang terlihat begitu ramah, mudah bergaul dengan siapa pun. Kesan yang orang-orang rasa saat berinteraksi dengan Kai adalah nyaman, dan menyenangkan. Banyak yang mengikuti kata-kata Kai, pria remaja satu ini seakan mampu memanipulasi siapa pun yang ia dekati. Aluna tak ingin menjadi salah satu dari sekian boneka Kai, ia tak akan masuk ke dalam perangkap Kai.

"First, kasih gue ponsel lo."

Tangan Kai terulur ke arah Aluna, kerutan halus di dahi Aluna terlihat. Tatapan mata waspada terlihat jelas di kedua mata indahnya, Kai masih tersenyum seakan tak ada niat buruk apapun di otaknya.

"Gue mau simpan nomor whatsApp gue ke ponsel lo, cuma itu dong kok. Lo takut amat sama gue," lanjut Kai seakan tahu apa yang saat ini dipikirkan oleh Aluna.

Aluna merogoh saku seragam sekolahnya mengeluarkan smartphone, memberikan pada Kai. Pria itu menerimanya, jari jemari tangannya bergerak sangat cepat di layar. Ponsel Aluna dikembalikan, Kai tersenyum kembali.

"Oke, gue cabut duluan. Lo hubungi aja nomor gue nanti sore, bye!"

Kai meninggalkan Aluna di lorong, Aluna melirik ke arah layar ponselnya. Nama Kai dan nomor ponselnya telah tersimpan, desahan berat mengalun.

"Dasar rubah," gumam Aluna, "mari kita liat, apa yang sebenernya lagi lo rencanain Kai. Gue nggak sebego yang lo pikir, lo jelas nggak suka sama gue. Eh, nggak sama si tokoh Aluna. Tapi, dia seakan-akan ingin bikin gue yang pintar ini terjebak di bawah kendali lo, huh? Mimpi aja lo sono!"

Aluna menyimpan ponselnya kembali, melangkah menuju toilet kembali. Aluna mendesah berat, pikiran sedikit kacau saat ini. Namun, ia tak mungkin memperlihatkan seberapa kacaunya dirinya saat ini, niat hati ingin bersenang-senang di dunia fiksi malah terjebak pada alur cerita yang rumit. Tak akan mudah berurusan dengan keempat tokoh pria, masing-masing punya sisi gelap yang membuat Aluna pribadi merasa ngeri.

...***...

Jari jemari lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja, kelas telah bubar tiga menit yang lalu. Hanya tersisa Aluna di dalam kelas, embusan napas gusar mengalun. Aluna membawa atensinya ke arah jendela kelas transparan yang terbuka, langit sore membentang luas dengan warna kuning keemasan. Biru pucat yang mulai dihiasi semburat merah muda, udara sore teras sejuk menyelinap di celah jendela yang terbuka membawa aroma melati yang berada tepat di bawah jendela memasuki indera penciuman Aluna.

Derap langkah kaki mengalun ketukan kasar di pintu membuat kepala Aluna perpindahan dari luar jendela langsung tertuju ke arah pintu kelas yang terbuka lebar. Sosok gadis yang dia hindari malah melangkah memasuki kelasnya, alis mata Aluna mengkerut. Suara benda diletakkan kasar di atas meja, membuat Aluna menunduk dan kembali mendongak menatap Zea dengan ekspresi tak paham.

"Obat," tuturnya di saat kantong kresek berisikan salep dan beberapa obat dibuka. "Lain kali jangan lakuin hal kayak kemarin, kalo lo nggak mau celaka. Lo jelas nggak bisa berenang, dan kalo bisa jangan menempel sama Karina lagi."

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali. 'Eh, apa-apaan ini. Kenapa si Zea malah kasih obat dan seperhatian ini sama gue. Apakah ada cerita di balik cerita yang nggak gue tau?' Aluna menatap Zea dengan tatapan mata rumit.

"Gu—gue nggak butuh obat dari lo, gue udah baik-baik aja!" seru Aluna tergagap sebelum Zea membalikkan tubuhnya, meninggalkan kelas.

Zea berdecak, ekspresi polos dan naif yang terbiasa ditujukan pada orang-orang tak terlihat di mata Aluna hari ini. Zea berkacak pinggang melirik Aluna, tatapan matanya terlihat asing.

"Lo masih kesal sama gue? Sedari awal gue udah ngomong kalo gue nggak sengaja. Toh, hidup lo jauh lebih enak ketimbang gue. Apa yang bikin lo masih marah sama gue, huh? Lo sekarang udah punya segalanya. Punya Nyokap dan Bokap kaya, kita nggak lagi bersaing Aluna. Lupain semua yang terjadi di panti asuhan," kata Zea menasihati Aluna blak-blakan.

"Hah? Lo ngomong apa sih? Gue nggak paham," tukas Aluna terkekeh dibuat-buat setelahnya.

Zea menggeleng tak berdaya, dan berkata, "Aluna oh Aluna, gue tau anak panti kayak kita harus selalu terlihat kuat dan punya banyak topeng biar dikasihani. Ngehindar dari pembicaraan sensitif ini tapi, gue  udah muak banget sama tingkah lo. Gue nggak bisa jamin bakalan toleran lagi sama tingkah lo ke depannya. Kalo lo nggak mau sampek gue sebarin siapa lo sebenarnya, tolong dengan sangat jangan hasut si Karina lagi. Dan jangan bikin Gavino sampek bertindak jahat ke lo, karena perbuatan lo yang nggak banget itu."

Senyum di bibir Aluna mendadak kaku, Zea membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kelas. Aluna terdiam mencerna kata-kata yang baru saja Zea katakan, 'anak panti asuhan'. Siapa yang menyangka jika ada fakta tak ia ketahui di balik kebencian tokoh Aluna. Dia dan Zea adalah anak panti asuhan, jadi Sonya dan Fandi bukan orang tua biologis tokoh Aluna.

"Plot twist," monolog Aluna, "ja—jadi gue anak adopsi, dia dan gue sama-sama anak panti yang diadopsi. Plot gila apalagi ini?"

Aluna berbicara sendiri dan menjawab sendiri, ia syok bukan main saat ini. Aluna melirik kembali ke arah pintu yang dilewati oleh Zea, sekilas author memang menjelaskan kehidupan pahit yang dialami oleh Zea—protagonis wanita. Namun, ia tidak tahu-menahu detail tentang kehidupan tokoh Aluna—figuran, yang ia ketahui adalah ia kaya dengan otak yang picik yang berakhir tragis.

Kepala Aluna menggeleng. "Nggak! Cerita ini nggak seterang yang gue tau. Bisa jadi lebih gelap lagi, ada banyak plot twist di dalam kisah cerita ini. Gimana bisa gue lupa kalo genrenya thriller, Author sialan. Kenapa pulak dari sekian banyak cerita novel online yang gue baca, gue malah kejebak di cerita sadis satu ini. Oke, gue seneng awalnya karena gue kaya, tapi...."

Aluna bahkan tak mampu melanjutkan kata-katanya, ia mengeluh saat ini. Kedua tangannya bergerak mengacak-acak helaian rambutnya yang tertata rapi menjadi kusut seketika, teriakan tertahan di kerongkongan mengalun.

Bersambung....

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!