Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Matahari sore menggantung rendah di cakrawala, menyemburkan warna jingga kemerahan yang menyapu halaman belakang mansion Mahendra. Di sana, di tengah taman mawar yang luas, Adelard sedang berlutut. Meski statusnya kini adalah "keponakan jauh", kebiasaan lamanya untuk bekerja tidak bisa hilang begitu saja. Baginya, menyentuh tanah dan merawat tanaman jauh lebih menenangkan daripada terjebak di dalam rumah yang penuh dengan tatapan sinis.
Adel mengenakan kaos putih tipis yang sedikit longgar. Karena cuaca yang gerah dan keringat yang mulai bercucuran, ia menarik rambutnya ke atas, menyanggulnya asal-asalan. Tanpa ia sadari, kerah kaosnya merosot ke bawah, mengekspos bagian atas punggungnya yang biasanya tertutup rapat.
Di balkon lantai dua, Nyonya Siska berdiri dengan segelas jus jeruk di tangannya. Matanya yang dingin biasanya hanya menatap Adel dengan kebencian, namun sore ini, sesuatu menghentikan napasnya.
Cahaya matahari sore menyinari kulit punggung Adel yang putih. Di sana, tepat di bawah tulang belikat kiri, terdapat sebuah tanda lahir berwarna cokelat terang berbentuk menyerupai kelopak bunga melati yang tidak sempurna.
*Prang!*
Gelas di tangan Nyonya Siska jatuh menghantam lantai balkon, pecah berkeping-keping. Cairan jingga itu merembes di antara serpihan kaca, namun Siska tidak peduli. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.
"Tanda itu..." bisik Siska dengan suara yang gemetar hebat.
Ia mengingatnya. Sangat mengingatnya. Itu adalah *The Mahendra’s Mark*. Tanda lahir genetik yang dimiliki oleh almarhum ayah mertuanya, juga dimiliki oleh Hendra di pinggangnya. Hendra pernah bercerita bahwa tanda itu hanya muncul sekali dalam setiap generasi keluarga inti Mahendra. Dan saat Clarissa lahir tujuh belas tahun lalu, Siska sempat bingung kenapa bayinya memiliki kulit yang bersih tanpa tanda apa pun. Saat itu, dokter meyakinkannya bahwa tanda lahir tidak selalu menurun.
Siska mencengkeram pagar balkon hingga buku jarinya memutih. Ia memperhatikan Adel dari kejauhan. Gadis itu sedang tertawa kecil sambil menyeka keringatnya—sebuah tawa yang mendadak terlihat sangat mirip dengan foto masa muda Siska sendiri.
"Tidak mungkin... apakah aku benar-benar sekejam itu pada darah dagingku sendiri?" gumam Siska. Air mata yang selama ini ia tahan demi egonya, kini luruh tanpa permisi.
Setiap tamparan yang ia berikan pada Adel, setiap kata 'sampah' yang ia lontarkan, kini berbalik menghantam dadanya seperti palu godam. Siska terduduk lemas di kursi balkon, menutupi wajahnya dengan tangan. Ia menangis diam-diam, sebuah isakan sesak yang penuh dengan penyesalan yang terlambat.
---
Namun, di balik bayangan tirai pintu balkon yang tertutup rapat, sepasang mata lain telah menyaksikan segalanya.
Clarissa berdiri mematung di dalam kamar ibunya. Ia melihat gelas yang pecah, ia melihat ibunya yang menangis tersedu-sedu sambil menatap Adel di bawah sana, dan ia mendengar bisikan penyesalan itu.
"Ibu... Ibu mulai goyah?" bisik Clarissa. Suaranya terdengar hampa, namun matanya berkilat dengan kegilaan yang murni.
Ketakutan terbesar Clarissa kini menjadi nyata. Selama ini, satu-satunya pelindungnya adalah penolakan ibunya terhadap Adel. Jika ibunya berbalik memihak Adel, maka Clarissa benar-benar tidak akan punya tempat lagi. Ia akan kembali menjadi bukan siapa-siapa. Ia akan dibuang kembali ke dunia kemiskinan yang sangat ia jijiki.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," geram Clarissa. Jemarinya mencengkeram kain gorden hingga robek. "Jika kau ingin menjadi putri Mahendra, Adel... maka kau harus menjadi putri yang cacat. Mari kita lihat apakah mereka tetap menginginkanmu jika wajah cantikmu itu hancur."
---
Malam harinya, suasana di mansion terasa sangat tegang. Tuan Mahendra sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis, meninggalkan Adel dalam posisi yang rentan.
Adel sedang berada di dapur belakang, bermaksud mengambil air minum sebelum tidur. Keadaan sangat sepi karena para pelayan sudah kembali ke asrama mereka di paviliun. Tiba-tiba, lampu dapur padam.
*Klik.*
Adel tersentak. "Siapa di sana? Pak Dirman?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah kaki yang pelan di atas lantai marmer. Adel mencoba meraba dinding, mencari sakelar lampu cadangan. Namun, sebelum ia menemukannya, sebuah tarikan kasar di rambutnya membuat ia terjerembab ke lantai.
"Akh!" Adel mengerang kesakitan.
Cahaya senter ponsel menyala, menyorot langsung ke wajah Adel. Di balik cahaya itu, Clarissa berdiri dengan seringai yang mengerikan. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening yang mengepulkan uap tipis.
"Kau tahu apa ini, Adel?" suara Clarissa terdengar tenang, namun nadanya sangat tidak stabil. "Ini adalah pembersih porselen dosis tinggi. Ayah membelinya untuk membersihkan patung-patung antiknya. Tapi kupikir, ini akan bekerja lebih baik di kulitmu."
Adel membelalak. Ia tahu itu adalah cairan asam kuat. "Clarissa, kau sudah gila! Letakkan botol itu! Jika kau melakukannya, kau akan masuk penjara!"
"Penjara?" Clarissa tertawa histeris. "Keluarga Mahendra akan melindungiku! Ayah akan menyogok siapa pun agar aku tetap bebas. Tapi kau... kau akan menghabiskan sisa hidupmu bersembunyi di balik topeng karena wajahmu meleleh!"
Clarissa menerjang Adel, mencoba menyiramkan cairan itu. Adel berguling ke samping, menghindari kucuran cairan yang seketika membuat lantai marmer mengeluarkan suara mendesis dan berasap.
"Tolong! Siapa pun tolong!" teriak Adel sekuat tenaga.
"Tidak akan ada yang mendengarmu, Jalang! Semua pelayan sudah kusuruh pergi ke asrama luar!" Clarissa menjambak rambut Adel lagi, menekan tubuh Adel ke meja konter dapur yang dingin. Ia mengangkat botol itu tepat di atas wajah Adel.
"Selamat tinggal, Nona Muda yang asli," bisik Clarissa dengan mata yang melotot lebar.
Tepat saat botol itu hampir miring, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Clarissa. Dengan satu sentakan kuat, botol itu terlempar ke arah wastafel baja, pecah dan melarutkan sisa makanan di sana dengan suara mengerikan.
"Cukup, Clarissa."
Suara itu dingin, berat, dan penuh dengan kebencian.
Devan Dirgantara berdiri di sana. Wajahnya yang biasanya tenang kini tertutup oleh amarah yang bisa meledakkan ruangan itu. Ia memelintir tangan Clarissa hingga gadis itu memekik kesakitan dan melepaskan jambakannya pada Adel.
"Devan? K-kenapa kau bisa ada di sini?" Clarissa gemetar, wajahnya mendadak pucat pasi.
"Aku meninggalkan dokumen yang tertinggal tadi siang, dan aku melihatmu mengendap-endap ke dapur seperti tikus," Devan mendorong Clarissa hingga jatuh terduduk di lantai. Ia tidak memedulikan tunangannya itu, melainkan langsung berlutut di samping Adel.
"Kau tidak apa-apa?" suara Devan melembut secara drastis saat ia membantu Adel berdiri. Matanya memeriksa wajah Adel dengan teliti, memastikan tidak ada setetes pun cairan asam yang mengenainya.
Adel gemetar hebat, napasnya tersengal. "Dia... dia mencoba menghancurkanku, Devan..."
Devan berdiri kembali, menatap Clarissa yang kini mulai menangis—akting yang biasanya berhasil, namun tidak kali ini. "Aku sudah merekam semuanya, Clarissa. Suaramu, ancamanmu, dan niatmu untuk mencelakai Adel."
"Devan, tolong... aku hanya emosi! Dia ingin merebut segalanya dariku!" isak Clarissa sambil memeluk kaki Devan.
Devan menyentakkan kakinya dengan jijik. "Kau bukan hanya palsu secara identitas, Clarissa. Kau juga busuk di dalam. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku lagi. Dan jika aku melihatmu mendekati Adel sejauh satu meter saja... aku sendiri yang akan memastikan kau berakhir di balik jeruji besi tanpa bantuan pengacara mana pun."
Di saat yang sama, lampu dapur menyala terang. Nyonya Siska berdiri di ambang pintu dengan wajah yang hancur. Ia telah melihat dan mendengar semuanya dari balik bayangan koridor.
"Ibu... Ibu, tolong aku!" Clarissa merangkak ke arah Siska.
Nyonya Siska tidak bergerak untuk memeluk Clarissa seperti biasanya. Ia menatap Clarissa dengan pandangan asing, lalu beralih pada Adel yang sedang bersandar di pelukan Devan. Siska melangkah maju, tangannya gemetar.
"Bawa dia pergi dari hadapanku, Dirman," ucap Siska pada kepala pelayan yang baru saja muncul di belakangnya.
"Ibu? Apa maksudmu?" Clarissa berteriak saat Pak Dirman dan dua satpam menariknya paksa. "Aku anakmu! Aku Clarissa!"
"Anakku tidak akan memiliki jiwa sekejam itu," bisik Siska, suaranya pecah.
Setelah Clarissa diseret pergi, suasana dapur menjadi sunyi. Nyonya Siska mendekati Adel. Devan memberikan ruang, namun tetap berdiri cukup dekat untuk berjaga-jaga.
Siska menatap Adel dengan mata yang sembab. "Adelard..."
Adel menatap wanita itu dengan waspada. Ia masih ingat tamparan tempo hari. "Nyonya Mahendra?"
"Panggil aku... Ibu," isak Siska. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan Adel, memegang tangan gadis itu yang gemetar. "Aku melihat tanda di punggungmu sore tadi. Maafkan aku... maafkan ibu yang sudah buta dan tuli ini. Maafkan aku karena telah menyiksamu selama ini."
Adel terpaku. Tamparan kenyataan itu akhirnya datang. Bukan dalam bentuk kekerasan, tapi dalam bentuk pengakuan yang selama ini ia mimpikan. Namun, hati Adel terasa hampa. Ia melihat wanita di depannya menangis, tapi rasa sakit selama tujuh belas tahun tidak bisa hilang hanya dengan satu kata 'maaf'.
"Aku butuh waktu," ucap Adel pelan, menarik tangannya dari genggaman Siska. Ia menatap Devan, memberikan isyarat bahwa ia ingin pergi dari sana.
Devan mengangguk, ia merangkul bahu Adel dan menuntunnya keluar dari dapur, melewati Nyonya Siska yang masih terisak di lantai marmer yang dingin.
Malam itu, takhta Clarissa benar-benar runtuh. Namun bagi Adel, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Karena di dalam kegelapan mansion, ia menyadari satu hal: pengakuan tanpa pembalasan hanyalah setengah dari kemenangan.