Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PION PERTAMA
Rasa sakit adalah bahan bakar yang paling murni jika diletakkan di tangan yang tepat. Bagi Kirana, air mata yang tumpah di sudut restoran malam itu tidak menguap menjadi penyesalan, melainkan membeku menjadi belati yang siap di hujamkan tepat ke jantung kehidupan Aris.
Ketika taksi yang membawanya membelah kemacetan jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan, Kirana menatap layar ponselnya yang meredup. Di sana, deretan angka mutasi rekening dan foto-foto perselingkuhan Aris tersimpan rapi dalam sebuah folder tersembunyi yang ia namai “The Blueprint”. Nama yang sarkas, mengingat ia adalah seorang arsitek yang kini sedang merancang cetak biru kehancuran rumah tangganya sendiri.
Kirana tahu betul watak suaminya. Aris adalah pria yang dibentuk oleh ambisi dan pemujaan terhadap status sosial. Jika Kirana mendatangi firma hukum besok pagi, menggugat cerai dengan drama perselingkuhan standar, Aris memang akan mengalami sedikit guncangan reputasi. Namun, hukum pernikahan akan membagi harta gono-gini mereka menjadi dua. Aris akan tetap kaya, tetap memegang kendali penuh atas PT Utama Karya Propertindo, dan dalam hitungan bulan, pria itu akan melenggang ke pelaminan bersama Sarah menggunakan setengah dari harta yang dikumpulkan lewat peluh dan air mata Kirana selama enam tahun ini.
“Itu terlalu mudah untukmu, Aris,” bisik Kirana dalam hati. Matanya memantulkan kilatan lampu jalanan metropolis. “Kamu ingin bebas? Aku akan memberimu kebebasan, tapi dalam keadaan telanjang kaki, tanpa sepeser pun uang, dan tanpa kehormatan yang tersisa.”
Untuk menjatuhkan seorang raja yang bertakhta di atas menara ego yang tinggi, Kirana tidak bisa menyerang dari depan. Ia harus meruntuhkan fondasi menara itu dari dalam. Dan fondasi terkuat yang menopang seluruh aspek hukum, bisnis, dan rahasia pribadi Aris hanya ada di tangan satu orang: Bimo.
Bimo Nugroho bukan sekadar kepala tim hukum di perusahaan Aris. Dia adalah jangkar rasionalitas di balik setiap keputusan nekat yang diambil Aris sejak mereka masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum dan Arsitektur Universitas Indonesia. Di mana ada Aris yang bersinar dengan karismanya yang meledak-ledak, di situ ada Bimo yang berdiri di dalam bayang-bayang, merapikan kekacauan, membaca kontrak dengan kacamata minusnya, dan memastikan sang sahabat tidak menginjak ranjau hukum.
Bimo adalah orang yang paling dipercaya Aris. Dia tahu struktur saham perusahaan, dia tahu celah-celah pajak yang dimanipulasi untuk mengamankan likuiditas proyek, dan dia memegang kuasa hukum penuh atas aset-aset pribadi Aris. Namun, ada satu hal yang tidak pernah disadari Aris selama enam tahun ini—sebuah celah kecil yang terkunci rapat di sudut hati Bimo yang paling dalam.
Kirana mengingat kembali hari pernikahannya enam tahun lalu. Malam itu, di tengah riuh rendah ucapan selamat, Bimo datang menyalaminya. Pria itu menatap Kirana dengan sepasang mata yang menyiratkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ucapan selamat berbahagia antara sahabat. Ada getaran halus saat jemari mereka bersentuhan, sebuah tatapan yang langsung dipalingkan Bimo begitu Aris merangkul pundaknya dengan tawa bising.
Selama bertahun-tahun, Kirana menjaga jarak yang sangat terhormat dengan Bimo. Ia menghormati batasan sebagai seorang istri. Bimo pun demikian dia selalu bersikap profesional, sopan, dan menjaga jarak aman. Dia adalah pilar yang kokoh, tidak pernah menunjukkan riak. Namun, Kirana yang jeli tahu bahwa batasan yang paling kokoh sekalipun bisa runtuh jika diguncang oleh badai moral yang tepat.