NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menulis Untuk Pertama Kalinya

Sepanjang malam itu, aku tak bisa memejamkan mata sedikit pun.

Bukan karena rasa cemas yang berlebihan atau rasa takut yang mencekam—setidaknya tidak sepenuhnya begitu. Namun lebih karena kepalaku terasa terlalu penuh, dipenuhi oleh berbagai bayangan yang terus berputar tanpa henti: gambaran tentang novel yang akan segera aku tulis, tokoh-tokoh yang harus aku hidupkan lewat kata-kata, serta rangkaian kalimat yang harus aku susun menjadi sebuah kisah yang utuh dan bermakna.

Sebuah novel. Aku benar-benar akan menulis sebuah novel.

Mimpi yang sudah kupendam sejak masih kecil, yang dulu hanya sempat aku ceritakan dengan berbisik kepada Mama sebelum terlelap tidur, kini perlahan mulai berubah menjadi kenyataan. Rasanya seperti sedang melamun di siang bolong—sebuah mimpi indah yang akhirnya turun ke dunia nyata dan bisa aku genggam.

Aku membalikkan tubuh di atas kasur, lalu memeluk guling erat-erat seolah ia bisa menjadi tempat menampung segala rasa yang meluap di dadaku. Mataku menatap langit-langit kamar apartemen yang terlihat putih bersih dan mulus. Berbeda dengan langit-langit kamar kosanku dulu di Depok yang penuh retakan halus dan bercak jamur di sudut-sudutnya. Namun meski tampilannya berbeda, rasanya tetap sama: terasa dingin, sunyi, dan dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang terus muncul tanpa diminta.

“Bagaimana jadinya jika tulisanku nanti ternyata buruk dan tidak memuaskan?”

“Bagaimana jika para pembaca tidak menyukai cerita yang aku buat?”

“Bagaimana jika aku mengecewakan Ibu Ratna dan tim penerbit yang sudah percaya padaku?”

“Dan yang paling berat… bagaimana jika aku mengecewakan Aldo?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku tanpa henti, seperti kaset pita yang rusak dan tak mau berhenti berputar, membuat pikiranku semakin tak tenang hingga pagi tiba.

***

Pukul tepat enam pagi, suara alarm di ponselku berbunyi memecah keheningan malam yang masih tersisa.

Aku membuka mata dengan perasaan yang sangat berat, seolah kelopak mataku terbebani oleh sesuatu yang sulit diangkat. Di balik tirai jendela, langit perlahan mulai memudar dari kegelapan menjadi warna biru pucat. Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk lewat celah tirai, membentuk garis-garis cahaya tipis yang terlihat indah melintang di atas lantai kayu kamar.

“Bangunlah, Tari. Hari ini adalah hari di mana kamu benar-benar mulai menulis kisahmu sendiri,” bisikku pada diri sendiri, mencoba mengumpulkan semangat yang tersisa.

Aku menghela napas panjang, perlahan melepas selimut hangat yang menyelimuti tubuhku, lalu duduk di tepi kasur. Saat telapak kakiku menyentuh permukaan lantai kayu yang sedingin es, aku langsung menggigil hebat.

“Aku benar-benar harus segera membeli karpet untuk menghangatkan lantai ini,” gumamku pelan.

Namun hari ini, aku sadar tidak punya waktu untuk berbelanja atau memikirkan hal-hal sepele itu. Hari ini, waktuku harus dipakai untuk menulis.

***

Pukul tujuh pagi, aku sudah berdiri siap di depan cermin.

Aku mengenakan jaket berbahan tipis berwarna abu-abu—mungkin terasa terlalu hangat untuk dipakai di dalam ruangan yang sudah cukup nyaman suhunya, namun aku tetap memakainya karena rasanya sangat pas dan membuatku merasa aman. Di leherku terikat syal abu-abu pemberian Mama, dan di dadaku tergantung kalung dengan liontin berbentuk buku kecil—hadiah dari Aldo yang selalu menjadi pengingat bahwa aku tidak sendirian.

Aku menatap pantulanku di cermin kecil itu dengan pandangan yang tegas.

“Kamu pasti bisa melakukannya, Tari. Kamu punya kekuatan untuk mewujudkan apa yang sudah kamu impikan selama ini,” ucapku dalam hati, menyemangati diri sendiri.

Aku segera mengambil laptop, meletakkannya di atas meja kerja kecil yang berada tepat di samping jendela, lalu duduk di kursi kayu yang terasa sedikit goyah dan berdecit setiap kali digerakkan.

Melalui kaca jendela, aku bisa melihat suasana luar yang mulai sibuk. Jalanan di kawasan Carlton perlahan dipenuhi orang-orang yang beraktivitas: para mahasiswa berjalan tergesa dengan ransel di punggungnya, para pekerja kantoran yang berpakaian rapi bergegas menuju tempat kerja, serta beberapa ibu yang berjalan santai sambil mendorong kereta bayi di trotoar.

Aku membuka layar laptop, menciptakan dokumen kosong baru, lalu menatap kursor yang berkedip-kedip perlahan di pojok kiri atas layar.

“Dari mana sebaiknya aku memulai?” pikirku bingung.

***

Pukul delapan pagi, aku masih duduk diam di depan layar yang sama.

Jari-jariku terasa kaku dan tak mau bergerak sedikit pun. Kata-kata yang biasanya dengan mudah mengalir begitu saja kini seolah menghilang entah ke mana. Yang terlihat hanyalah lembaran kosong yang menatapku dengan tatapan dingin dan hampa.

“Mulai hari pertama saja sudah mengalami hambatan menulis. Sungguh awal yang tidak menyenangkan,” keluhku dalam hati.

Aku menghela napas panjang, lalu menutup laptop sejenak. Aku berjalan menuju dapur kecil yang tersedia di sudut ruangan untuk membuat secangkir teh bunga chamomile yang biasa aku minum saat merasa pikiran sedang kacau.

Air di dalam ketel listrik mulai mendidih dan mengeluarkan uap panas yang mengepul. Aku menuangkannya ke dalam cangkir keramik berwarna putih, lalu mencelupkan kantong teh ke dalamnya sambil menunggu rasanya meresap sempurna.

Sambil berdiri menunggu, aku meraih ponsel yang tergeletak di meja makan, lalu membuka percakapan pesan dengan Aldo.

“Aldo, hari ini aku mencoba menulis, tapi tidak bisa. Kata-kata seolah menghilang begitu saja.”

Tak butuh waktu lama, balasan darinya segera muncul.

“Kenapa bisa begitu? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Sepertinya aku mengalami hambatan menulis. Otakku terasa kosong, tidak ada satu pun kalimat yang mau keluar.”

“Kalau begitu, jangan dipaksakan. Istirahatlah sejenak, rilekskan pikiranmu. Tulisan tidak akan datang jika dipaksa dengan tekanan.”

“Tapi aku harus mulai menulis. Batas waktunya enam bulan lagi. Aku takut tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu.”

“Enam bulan itu waktu yang sangat panjang, Tari. Jangan terburu-buru. Kamu punya cukup waktu untuk menyusun semuanya dengan baik. Aku yakin kamu bisa menyelesaikannya dengan sempurna.”

Senyum tipis mengembang di bibirku membaca pesannya.

“Aldo, kamu selalu saja mengatakan bahwa kamu percaya padaku.”

“Karena itu bukan sekadar kata-kata, Tari. Aku benar-benar percaya pada kemampuanmu.”

“Terima kasih banyak, Aldo. Pesanmu selalu membuatku merasa lebih tenang.”

“Sama-sama. Sekarang segera minum teh buatanmu itu sebelum menjadi dingin dan rasanya berubah.”

Aku tertawa kecil membaca kalimat terakhirnya. Benar saja, Aldo selalu tahu apa yang sebenarnya aku butuhkan, bahkan sebelum aku sempat mengucapkannya dengan lantang.

***

Pukul sembilan pagi, setelah selesai menikmati teh hangat itu, aku kembali membuka laptop di atas meja.

Kali ini aku mencoba cara yang berbeda. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan sambil membayangkan sosok Aldo di dalam pikiranku.

Aku membayangkan wajahnya yang tenang, senyumnya yang selalu membuat hatiku merasa damai, serta sepasang matanya yang berwarna cokelat gelap yang terlihat semakin dalam saat dia memakai kacamata bingkai tipisnya.

Aku mengingat suaranya yang lembut dan rendah, terdengar seperti bisikan halus yang hanya bisa didengar oleh orang yang benar-benar mau mendengarkan dengan sepenuh hati.

Aku juga mengingat genggamannya yang hangat dan kuat setiap kali tangannya memegang tanganku, memberikan rasa aman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Tulislah tentang dia. Tulislah tentang kisah yang kamu jalani bersamanya. Dari sanalah segalanya akan mengalir,” bisikku pada diriku sendiri.

Aku perlahan membuka mata, lalu jari-jariku mulai bergerak lincah menari di atas papan ketik, seolah sudah memiliki jalannya sendiri.

Bab 1: Luka yang Tak Terucap

Hujan deras belum juga reda sejak dua jam yang lalu. Aku duduk meringkuk di sudut kamar, memeluk kedua lutut rapat-rapat ke arah dada, sambil menatap layar ponsel yang mulai redup karena baterai yang hampir habis. Di layar itu masih tertera pesan terakhir yang dikirimkan oleh Mas Edo—atau lebih tepatnya, mantan kekasihku yang baru saja aku putuskan hubungan dua jam sebelumnya.

‘Kamu itu orang yang egois, Ayu. Selalu saja memikirkan dirimu sendiri.’

Itulah kalimat terakhir yang dia kirimkan sebelum aku mematikan ponselku. Namun tak lama kemudian, rasa penasaran dan harapan yang sia-sia membuatku menyalakannya kembali. Lalu mematikan lagi. Menyalakan lagi. Berulang kali, seolah aku sudah menjadi orang gila yang berharap keajaiban terjadi, padahal aku tahu betul bahwa keadaannya takkan pernah berubah lagi…

Aku berhenti sejenak mengetik, lalu membaca ulang kalimat-kalimat yang baru saja terbentuk di layar.

“Bagus. Rasanya mulai terasa pas dan mengalir,” gumamku puas. “Lanjutkan saja, Tari.”

Jari-jariku kembali bergerak tanpa henti. Kata-kata seolah keluar begitu saja dari dalam hatiku, mengalir deras seperti air sungai yang meluap saat musim hujan—kuat, deras, dan tak bisa dibendung lagi.

***

Pukul dua belas siang, aku sudah berhasil menuliskan sekitar seribu lima ratus kata.

Aku meregangkan kedua tanganku yang terasa kaku, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pandangan, lalu menghela napas panjang yang terasa sangat melegakan.

“Akhirnya. Ada juga yang berhasil keluar dari dalam kepalaku,” ucapku lega.

Aku segera menyimpan dokumen tulisan itu dengan hati-hati, lalu menutup laptop sejenak untuk beristirahat dan mencari sesuatu untuk dimakan.

Isi lemari esku saat itu hanya terbatas pada botol susu, beberapa butir telur, dan tumpukan lembaran roti tawar. Aku memutuskan untuk membuat makanan sederhana saja: roti yang dipanggang sebentar, lalu disajikan dengan telur yang digoreng setengah matang. Makanan yang sama yang sering aku buat sendiri saat masih tinggal di kamar kos dulu.

Sambil menunggu telur matang di atas penggorengan, aku membuka ponsel lagi. Ada satu pesan masuk dari Sarah yang dikirimkan beberapa menit yang lalu.

“Hai Tari, bagaimana perkembangan tulisanmu hari ini?”

“Sudah berhasil menulis sekitar 1.500 kata. Masih jauh dari target yang ingin aku capai, tapi setidaknya sudah ada hasilnya.”

“Itu pencapaian yang luar biasa untuk hari pertamamu! Jangan memaksakan diri terlalu keras, ya. Istirahatlah secukupnya.”

“Terima kasih, Sarah. Aku akan mengingatnya.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Temui aku di kantin kampus jam satu siang nanti.”

“Baiklah, aku akan segera datang.”

***

Pukul satu siang, aku sudah sampai di kantin kampus Universitas Melbourne.

Sarah sudah menungguku di meja yang biasa kami duduki, dekat jendela besar yang menghadap ke halaman kampus. Di depannya sudah terhidang sepiring pasta karbonara dan segelas jus jeruk segar. Aku mengambil pesananku sendiri: sepotong roti lapis isi ayam dan secangkir teh chamomile hangat, lalu segera duduk di sampingnya.

“Tari, kamu terlihat lelah sekali hari ini,” kata Sarah begitu melihat wajahku.

“Aku begadang semalaman. Sulit sekali untuk memejamkan mata,” jawabku jujur.

“Karena memikirkan novel yang akan kamu tulis itu?”

“Bukan hanya itu saja. Ada banyak hal yang terus berputar di dalam kepalaku.”

Sarah menatapku lekat-lekat, seolah sedang mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik pandanganku.

“Dan salah satunya adalah Aldo, bukan?” tanyanya lembut.

Aku hanya mengangguk perlahan, merasa tidak perlu berbohong padanya.

“Kamu sedang sangat merindukannya, ya?”

“Sangat. Rindu yang terasa sampai ke tulang sumsum,” jawabku pelan.

Sarah menghela napas panjang, lalu menepuk pundakku dengan lembut. “Aku tahu ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Tapi kamu harus tetap percaya bahwa kalian berdua sanggup melewatinya bersama.”

“Aku memang percaya padanya dan pada hubungan kami. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi kadang rasa rindu itu datang tanpa diundang, terutama saat malam tiba. Ia menyelinap masuk dan membuatku terjaga sepanjang malam tanpa bisa tidur.”

Sarah tersenyum mengerti. “Aku sangat paham perasaan itu.”

“Kamu juga pernah menjalin hubungan jarak jauh seperti kami?” tanyaku penasaran.

“Pernah. Waktu aku masih menempuh pendidikan sarjana di Sydney, kekasihku saat itu tinggal dan bekerja di Melbourne. Kami harus menjalani hubungan jarak jauh selama empat tahun penuh.”

“Empat tahun? Itu waktu yang sangat lama,” seruku terkejut.

“Benar. Dan sekarang, laki-laki itu adalah suamiku,” jawab Sarah dengan senyum bahagia.

Aku tertegun mendengarnya. “Benarkah? Itu sungguh luar biasa, Sarah.”

“Hubungan jarak jauh memang terasa berat dan melelahkan, Tari. Tapi bukan berarti mustahil untuk dijalani. Kuncinya ada tiga hal: komunikasi yang baik, rasa percaya yang tulus, dan komitmen yang kuat untuk saling menjaga.”

“Aldo dan aku sudah memiliki ketiga hal itu, Sarah. Kami saling percaya dan selalu berusaha menjaga komunikasi sebaik mungkin.”

“Kalau begitu, pertahankanlah hal itu. Itu adalah modal terbesar yang kalian miliki untuk bertahan sampai hari pertemuan tiba nanti.”

***

Pukul dua siang, aku kembali melangkah masuk ke dalam apartemenku.

Aku melepas jaket dan syal yang menempel di tubuh, menggantungnya rapi di belakang pintu, lalu langsung merebahkan diri sejenak di atas kasur empuk.

“Rasanya sangat lelah…” gumamku pelan.

Namun rasa lelah ini bukanlah sekadar kelelahan fisik akibat berjalan atau belajar. Ini adalah kelelahan batin—akibat harus terus memikirkan isi cerita yang akan ditulis, menyelesaikan tugas-tugas kuliah, beradaptasi dengan lingkungan yang asing, dan yang paling berat: menahan rasa rindu yang terus tumbuh dan berkembang pada Aldo.

Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ada satu pesan masuk yang dikirimkan Aldo sekitar pukul dua belas siang waktu Melbourne—berarti pukul delapan pagi di Jakarta.

“Selamat pagi, Tari. Semoga harimu berjalan lancar dan menyenangkan. Aku sangat menyayangimu.”

Senyumku langsung mengembang begitu membaca kalimat itu. Aku segera mengetik balasan dengan jari yang terasa ringan.

“Selamat pagi juga, Aldo. Hariku berjalan cukup baik. Hari ini aku sudah berhasil menulis sekitar 1.500 kata untuk novel itu.”

Balasan darinya datang dengan sangat cepat.

“Wah, hebat sekali! Teruskan saja dengan ritmemu sendiri, jangan terburu-buru.”

“Aku akan berusaha melakukannya. Kamu juga jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, ya.”

“Sudah makan kok. Kamu jangan terlalu cemas memikirkanku.”

“Aku akan selalu merasa cemas memikirkanmu. Itu adalah hakku sebagai orang yang menyayangimu,” tulisku sambil tersenyum geli.

“Kamu ini suka sekali berlebihan bicaramu.”

“Memang begitu, tapi aku tahu kamu tetap menyukainya, bukan?”

“Ya, tentu saja aku menyukainya.”

Aku meletakkan kembali ponsel di sampingku, lalu menatap langit-langit kamar yang sama seperti tadi malam.

“Aku sungguh merindukanmu, Aldo…” bisikku pelan dalam hati.

***

Pukul delapan malam, langit di luar jendela sudah benar-benar gelap.

Aku berdiri di balkon sempit apartemenku—tempat favoritku untuk melepas segala rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Udara malam itu terasa lebih hangat dari biasanya, tanda bahwa musim dingin akan segera berlalu dan musim semi sebentar lagi akan tiba.

Di kejauhan, lampu-lampu di seluruh penjuru kota mulai menyala satu per satu. Gedung-gedung tinggi berkilauan terang di tengah kegelapan malam, seolah ribuan bintang telah turun dan menghiasi permukaan bumi.

“Sungguh pemandangan yang sangat indah,” gumamku kagum.

Aku segera meraih ponsel, membuka fitur kamera, lalu memotret keindahan malam kota Melbourne itu. Tak lama kemudian, foto itu sudah kukirimkan ke nomor Aldo dengan pesan singkat:

“Lihatlah, Aldo… begini rupa kota Melbourne saat malam tiba.”

Balasan darinya datang secepat kilat.

“Sangat indah sekali pemandangannya. Tapi percayalah, tak ada satu pun keindahan di dunia ini yang bisa menandingi kecantikanmu di mataku.”

Aku tertawa sendiri membaca kalimat rayuannya.

“Dasar kamu, pandai sekali merayu dengan kata-kata yang manis.”

“Aku tidak sedang merayu, Tari. Aku hanya menyampaikan apa yang sebenarnya ada di dalam hatiku.”

“Baiklah, baiklah… aku percaya padamu kali ini,” jawabku santai.

Tak lama kemudian, pesan lain masuk darinya.

“Tari… aku sangat merindukanmu.”

Aku menggigit bibir bawahku pelan, menahan rasa haru yang tiba-tiba meluap di dada.

“Aku pun merindukanmu juga, Aldo. Sangat dalam dan tak terlukiskan.”

“Masih ada waktu dua tahun lagi… nanti kita pasti bisa bertemu kembali dan takkan terpisah lagi.”

“Dua tahun itu terasa sangat lama jika dijalani, Aldo,” keluhku pelan.

“Tidak akan terasa lama kalau kita hitung satu per satu. Dua tahun itu hanya sama dengan tujuh ratus tiga puluh hari. Atau tujuh belas ribu lima ratus dua puluh jam. Atau lebih dari satu juta lima puluh satu ribu dua ratus menit. Dan di setiap detik yang berlalu itu, aku akan selalu mengingat dan memikirkanmu tanpa henti.”

Air mataku jatuh membasahi pipiku tanpa sadar, terharu mendengar janji dan keyakinannya itu.

“Aldo… jangan buat aku menangis begini, ya.”

“Tidak apa-apa kalau menangis. Kamu tetap terlihat cantik meski sedang meneteskan air mata sekalipun.”

“Dasar Aldo yang tak pernah kehabisan kata-kata manisnya,” balasku sambil tertawa di sela tangis.

“Tari, aku harus segera tidur sekarang. Besok pagi-pagi sekali aku sudah harus bangun untuk mengikuti kuliah dan kegiatan lainnya.”

“Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Aldo.”

“Selamat malam, Tari. Aku sangat menyayangimu, sekarang dan selamanya.”

“Aku pun sangat menyayangimu, lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.”

Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaketku, menatap langit malam Melbourne sekali lagi dalam keheningan, lalu perlahan berbalik masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu balkon rapat-rapat.

Di luar sana, angin malam kota Melbourne terus berhembus lembut, berbisik melewati celah-celah jendela dan sela-sela bangunan.

Namun di dalam hatiku, hanya ada satu nama yang terus berulang kali disebut, berirama dengan setiap detak jantungku…

Aldo.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!