NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Dingin yang Sebenarnya

...

Malam merayap semakin larut setelah pintu depan berdentum pelan. Di dalam ruang makan mewah itu, keheningan sempat bertahan selama beberapa detik sebelum akhirnya Mama melangkah maju dengan dengusan sinis. Tangan keriputnya yang dipenuhi perhiasan emas meraih kotak beludru hitam yang ditinggalkan Pamela di atas meja jati.

"Sok dramatis sekali perempuan itu," cibir Mama mertua sambil membuka tutup kotak dengan kasar. "Paling isinya cuma tulisan tangan jelek buat cari perhatian kamu, Zidan."

Namun, begitu kotak itu terbuka, senyum mengejek di wajah Mama perlahan memudar. Lembar pertama yang ditariknya adalah kertas putih tebal dengan kop surat resmi dari sebuah firma hukum. Di bagian bawahnya, tanda tangan Pamela sudah tertera jelas di atas meterai, lengkap dengan coretan pena yang tegas seolah tidak ada keraguan sedikit pun saat goresan itu dibuat.

"Dia... dia beneran menyiapkan surat cerai?" gumam Mama, suaranya sedikit meninggi karena terkejut. Matanya beralih membaca poin-poin di dalamnya. "Bahkan dia tidak menuntut harta gono-gini sepeser pun? Benar-benar keras kepala. Dia pikir dia bisa hidup di kota ini tanpa sepeser pun uang dari keluarga kita?"

Keysha ikut mengintip dari balik bahu ibunya, wajahnya berkerut masam. "Halah, Ma, paling itu cuma taktik biar Kak Zidan merasa bersalah terus mengejar dia. Perempuan miskin kayak dia mana punya harga diri setinggi itu. Nanti kalau tabungannya habis buat bayar angkot, juga bakal balik sambil sujud-sujud di kaki Kak Zid."

Zidan masih berdiri mematung di tempatnya. Matanya menatap lurus ke arah tumpukan kertas yang kini dipegang ibunya. Ada lembaran lain di bawah surat cerai itu kertas-kertas dengan cap stempel dari sebuah klinik kesehatan.

"Apa lagi itu di bawahnya, Ma?" tanya Zidan, suaranya terdengar datar dan dingin, namun ada riak kegelisahan samar yang tersembunyi di balik nadanya yang angkuh.

Mama menarik lembaran-lembaran catatan medis tersebut, memandangnya sekilas dengan tatapan malas sebelum melemparkannya kembali ke dalam kotak. "Cuma surat keterangan sakit. Katanya kelelahan kronis sama stres psikologis. Hmph, manja sekali. Cuma mengurus rumah besar begini saja pakai drama sakit segala. Dulu zaman Mama muda, mengurus bisnis sambil mengurus kamu dan Keysha juga tidak pernah mengeluh sampai bawa-bawa surat dokter."

Karina, yang sejak tadi mengamati situasi, kembali mendekati Zidan dan mengusap lengan pria itu dengan lembut. "Sudahlah, Sayang. Gak usah dipikirin. Perempuan kalau sudah berani mengancam cerai dan mengabaikan anak-anaknya sendiri, berarti dia memang sudah gak punya hati. Mendingan sekarang kamu istirahat, nemenin aku dan calon anak kita. Aku agak pusing dari tadi."

Zidan menoleh ke arah Karina, mencoba mengulas senyum narsisnya yang biasa, namun wajahnya terasa kaku. "Kamu naik ke kamar duluan saja sama Mama, Rin. Kamar utama di atas sudah rapi. Aku masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di ruang kerja."

"Lho, Kak, kamar utama kan belum diganti sprei dan dibersihin setelah Kak Zid pulang?" seru Keysha tiba-tiba, memotong pembicaraan. "Biasanya kan si Pamela yang beresin kamar setiap malam sebelum Kak Zid tidur. Mana pembantu di rumah ini dilarang Mama buat nyentuh area atas lagi."

Pertanyaan Keysha membuat suasana ruang makan mendadak hening untuk kedua kalinya. Mama berdeham pelan, mencoba mencairkan kecanggungan. "Ah, gampang itu. Besok pagi Mama suruh Bi Sumi yang beresin. Malam ini Karina tidur saja dulu, kalau agak berdebu sedikit tidak apa-apa lah ya untuk darurat."

Karina mengangguk agak terpaksa, meski sudut matanya memperlihatkan rasa tidak suka karena harus tidur di kamar yang belum dibersihkan secara khusus untuk menyambutnya. Setelah berpamitan manja pada Zidan, Karina berjalan naik ke lantai atas didampingi oleh Mama dan Keysha yang terus menghujaninya dengan perhatian berlebihan.

Kini, Zidan tinggal sendirian di ruang makan yang luas. Langkah kakinya bergerak mendekati meja, lalu tangannya mengambil kotak beludru hitam itu. Dia mengeluarkan lembaran surat cerai milik Pamela, menatap nama istrinya yang tertulis rapi di sana.

Zidan mendengus pelan, melempar kertas itu kembali ke atas meja dengan gerakan kasar. Ego tingginya menolak untuk peduli. Selama tujuh tahun ini, Pamela selalu berada di bawah kendalinya. Pamela adalah wanita yang akan selalu memaafkannya sebanyak apa pun dia berselingkuh, wanita yang akan selalu menyambutnya dengan senyuman tulus meski dia pulang menjelang fajar dengan aroma alkohol. Zidan sangat yakin, pelarian Pamela malam ini hanyalah bentuk protes emosional sesaat yang akan berakhir dalam satu atau dua hari.

Pria itu membalikkan badan, melangkah naik ke lantai atas menuju ruang kerjanya. Namun, saat melewati lorong lantai dua yang biasanya terasa hangat dan wangi karena lilin aromaterapi yang selalu dinyalakan Pamela, malam ini lorong itu terasa begitu sunyi dan dingin. Udara di dalam rumah mewah itu perlahan-lahan mulai kehilangan kehangatan alaminya, menyisakan hawa hampa yang mencekam.

Keesokan paginya, matahari terbit dengan sinarnya yang terik, menembus jendela-jendela kaca besar di rumah mewah keluarga Zidan. Biasanya, sebelum jam enam pagi, rumah ini sudah dipenuhi oleh aroma masakan yang menggugah selera dari dapur entah itu nasi goreng kampung kesukaan Zidan, sup iga untuk Papa mertua, atau pancake lembut pesanan Keysha. Suara gemercik air dan langkah kaki Pamela yang gesit selalu menjadi latar belakang mulainya hari di rumah tersebut.

Namun, pagi ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, dan suasana rumah masih sepi senyap bagai tak berpenghuni.

Zidan berjalan turun dengan setelan jas kerjanya yang rapi, namun wajah tampannya tampak agak kusut. Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak karena bantal di kamar kerjanya terasa keras dan tidak senyaman biasanya. Begitu tiba di ruang makan, meja makan kayu jati yang panjang itu tampak kosong melompong. Tidak ada piring-piring makanan, tidak ada cangkir kopi hitam kesukaannya yang biasa tersaji dalam keadaan panas pas di sebelah laptopnya.

"Bi Sumi! Bi Inah!" panggil Zidan dengan nada suara yang meninggi dan tidak sabaran.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan bergegas berlari dari arah dapur dengan wajah ketakutan. "I-iya, Tuan Zidan? Ada apa?"

"Mana sarapan saya? Kenapa mejanya masih kosong jam segini? Saya ada rapat penting satu jam lagi!" bentak Zidan, sifat dingin dan tidak mau tahunya langsung keluar.

Bi Sumi menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar. "Ma-maaf, Tuan. Biasanya kan Non Pamela yang memasak untuk keperluan sarapan keluarga besar. Saya dan Bi Inah dilarang oleh Nyonya Besar untuk menyentuh peralatan dapur utama sejak dua tahun lalu. Kami cuma ditugaskan cuci baju dan menyapu halaman belakang."

Zidan menggeram kesal. Dia baru teringat akan aturan konyol yang dibuat ibunya untuk mempersulit hidup Pamela. "Ya sudah, cepat buatkan saya kopi hitam sekarang! Gak usah pakai gula!"

"Baik, Tuan, baik," Bi Sumi buru-buru kembali ke dapur dengan langkah tergesa-gesa.

Tak lama kemudian, Mama turun dengan langkah gontai, diikuti oleh Keysha yang masih menggunakan piyama sutranya sambil sibuk mengeluh.

"Duh, laper banget sih. Si Pamela mana sih, Ma? Kok belum masak? Perut Keysha udah bunyi dari tadi, jam segini biasanya kan jus alpukat sama roti bakar udah siap di meja," gerutu Keysha sambil mengempaskan tubuhnya ke kursi makan dengan kasar.

Mama duduk di kursi utama dengan wajah masam. "Perempuan itu benar-benar keterlaluan. Ternyata dia beneran gak pulang semalaman. Sengaja mau mogok kerja biar kita kelaparan dan memohon dia balik. Licik sekali pikirannya."

Tepat saat itu, pintu kamar anak-anak di lantai dua terbuka, dan terdengar suara tangisan melengking dari si kembar, Ryan dan Riana. Kedua anak berusia lima tahun itu berjalan turun tangga sambil mengucek mata mereka yang sembap, air mata membasahi pipi mereka yang tembam.

"Mama... Mama di mana? Ryan mau pakai baju sekolah yang gambar dinosaurus, tapi gak ada di lemari!" tangis anak laki-laki itu sambil menghampiri neneknya.

"Riana juga mau diiket rambutnya kayak biasanya... pusing, rambut Riana kusut, sakit..." rengek anak perempuannya ikut-ikutan, menarik-narik ujung jubah tidur Mama.

Mama yang sedang pusing karena lapar langsung merasa risih dengan tangisan cucunya. "Aduh, Ryan, Riana, jangan nangis pagi-pagi begini, Nenek pusing! Keysha, cepat itu urus keponakan kamu, cari bajunya di kamar mereka!"

Keysha mendengus kesal, matanya tidak lepas dari layar ponsel. "Ih, ogah ah, Ma. Keysha mana tahu urusan baju anak-anak. Kan biasanya si Pamela yang nyiapin dari malam. Lagian Keysha mau siap-siap pergi kuliah, ada kelas pagi nih."

Zidan yang melihat kekacauan di pagi hari itu mulai merasa pelipisnya berdenyut tegang. Suasana riuh dan penuh keluhan ini sangat mengganggu ketenangannya sebagai seorang pria narsis yang terbiasa mendapati segala sesuatunya berjalan sempurna tanpa dia harus turun tangan.

"Bi Sumi!" teriak Zidan lagi. "Cepat mandikan anak-anak dan siapkan baju sekolah mereka! Setelah itu buatkan sarapan instan apa saja untuk mereka!"

"Ta-tapi Tuan, baju-baju sekolah Non dan Den kembar belum disetrika. Kemarin Non Pamela belum sempat menyelesaikan setrikaan atas karena dipanggil Nyonya Besar ke ruang tengah..." jawab Bi Sumi dari balik sekat dapur dengan suara lirih.

"Gak usah disetrika! Pakai saja yang ada!" bentak Zidan, emosinya mulai tersulut.

Kekacauan kecil di pagi hari itu seperti riak pertama dari ombak besar yang siap menggulung rumah megah tersebut. Zidan mengabaikan tangisan anak-anaknya, memilih meminum kopi hitam yang baru disajikan Bi Sumi dengan terburu-buru. Namun, begitu sesapan pertama menyentuh lidahnya, Zidan langsung menyemburkan kopi itu kembali ke dalam cangkir dengan wajah masam.

"Kopi apa ini?! Pahitnya gak karuan, gosong, dan airnya kurang panas!" protes Zidan berang.

Bi Sumi yang berdiri di dekatnya langsung pucat pasi. "Ma-maaf, Tuan... biasanya Non Pamela yang tahu takaran suhu air dan jumlah sendok kopi yang pas buat lidah Tuan Zidan. Saya... saya cuma menyeduh seperti biasa."

Zidan melempar sendok ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentangan yang nyaring, membuat si kembar semakin menangis ketakutan. Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, Zidan bangkit dari kursinya, menyambar tas kerjanya, dan berjalan keluar rumah tanpa berpamitan pada ibu atau adiknya.

Saat dia melangkah keluar menuju mobil sport-nya, matanya sempat melirik ke arah taman depan. Rumput-rumput hias di sana tampak sedikit layu karena kemarin sore tidak disiram pekerjaan yang biasanya dilakukan Pamela sambil menggendong salah satu anaknya yang manja.

Zidan masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dengan kasar, dan menginjak gas dalam-dalam. Di dalam benaknya, rasa amarahnya kepada Pamela semakin menumpuk. 'Lihat saja, Pamela. Baru setengah hari kamu pergi, kamu sudah membuat rumahku berantakan seperti ini karena kelalaianmu. Begitu kamu kembali merangkak meminta maaf nanti, aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah,' batin Zidan dengan penuh keangkuhan dingin.

Pria itu melaju membelah jalanan kota, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita manis yang selalu menantinya di rumah kini telah melangkah sangat jauh, menuju sebuah tempat di mana nama Zidan dan seluruh keluarganya tidak akan pernah diizinkan masuk lagi untuk merusak kehidupannya.

...

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!