NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Ambang Harapan

Di lantai tiga, sebuah ruangan luas dan terang menyambut siapa pun dengan aroma mint yang menenangkan. Seorang laki-laki duduk menghadap laptop, satu tangan menopang dagu—menandakan betapa fokus dan sibuknya ia.

Di depannya duduk asisten pribadinya, Darrel, yang sejak pagi menangani klien-klien yang ingin meminta bantuan sebelum semuanya di-acc oleh atasannya, Revan Alistair, pemilik Alistair Intel Agency.

“Bagaimana pelayanan kamu ke klien tadi siang, Darrel?” tanya Revan. Tatapannya tajam, namun tetap tenang.

“Maaf, Tuan Muda. Klien siang tadi dilayani langsung oleh Bapak Bos...bukan saya.”

Revan sedikit membelalak. Sulit percaya. Untuk pertama kalinya ayahnya turun tangan, padahal biasanya hanya sebatas mengetahui siapa klien yang datang.

“Kenapa kamu izinin? Kamu kan tahu saya selalu melarang Daddy ikut campur,” suara Revan meninggi tanpa sadar.

Darrel menunduk. “Saya sudah melarangnya, Tuan. Tapi Bapak Bos memaksa. Saya malah diancam dipecat kalau tidak menurut.”

Revan mendengus pelan, rahangnya mengeras. “Yang berhak memecat kamu itu saya, bukan Daddy.”

“Maaf, Tuan.”

“Kapan klien itu datang lagi?”

“Besok siang.”

Revan mengangguk, lalu bangkit dari kursi kerjanya. “Nanti kamu yang urus. Jangan ada campur tangan Daddy lagi.”

Ia melangkah keluar ruangan dengan sikap tegas yang sudah menjadi ciri khasnya. Didikan keras sejak kecil membuatnya tak pernah manja—bahkan tangga tiga lantai lebih ia pilih daripada lift.

Di ruang makan, Irwan sudah duduk menunggu makan malam yang terhidang. Revan ikut duduk di hadapannya.

“Kerja keras boleh, tapi jangan lupa makan, Nak,” ujar Irwan.

“Ini juga mau makan, Dad.”

Setiap jam makan, tiga maid selalu membantu: memasak, menghidangkan, dan membereskan. Salah satunya, Arin, tersenyum sopan saat meletakkan piring di depan Revan.

“Terima kasih, Mbak Arin.”

“Sama-sama, Tuan.” Mereka pun kembali ke dapur, meninggalkan tuan rumah makan bersama.

Revan menatap ayahnya sebelum menyentuh makanannya. Ada sesuatu di matanya—lembut, tapi jelas mendesak.

“Kenapa Daddy melayani klien Revan? Daddy kan sudah Revan bilang...ini tanggung jawab Revan. Daddy nggak perlu membantu.”

Irwan menyuap nasi dengan santai sebelum menjawab, seolah persoalan itu bukan apa-apa.

“Kamu aja sering bantu pabrik Daddy desain-desain tanpa dibayar. Masa Daddy nggak boleh bantu kamu sedikit?”

“Karena itu hal kecil, Dad.” Revan menirukan gerakan tangan ayahnya. “Dan itu memang ranah Revan.”

Irwan mengangkat bahu. “Justru karena kamu anak Daddy. Nggak ada salahnya, kan?”

Revan mengatur napas panjang. Jawaban itu terdengar seperti alasan yang dibuat-buat.

“Ini bukan karena kliennya perempuan, kan?”

Irwan tetap makan, sengaja tidak terpancing. Ia tahu betul, jika Revan sudah masuk mode interogasi, pembicaraan ini tak akan cepat selesai.

“Daddy...?” Revan menyipit.

“Enggak. Daddy cuma lagi pengen aja. Kebetulan di rumah.”

Tetap saja Revan tidak sepenuhnya percaya, tapi ia memilih tidak memperpanjang.

“Ini terakhir kalinya Daddy ikut campur. Sia-sia aku bayar Darrel nanti.”

Irwan cuek. “Daddy nggak janji.”

Ekspresi Revan berubah memelas. “Dad, please. Biarkan Revan urus pekerjaan Revan sendiri. Daddy fokus ke pabrik saja.”

Senyum pelan terbit di bibir Irwan—pertanda rencananya berjalan.

“Oke. Daddy nggak akan ikut campur lagi...tapi ada syaratnya.”

Sudut alis Revan naik. “Sudah kuduga...apa?”

“Buka lagi butikmu yang sudah lima tahun ini tutup.”

Sendok dan garpu Revan terlepas. Napasnya tersendat, dadanya seperti ditarik ke masa lalu yang paling ingin ia lupakan.

“Dad...Revan rela melakukan apa pun. Tapi jangan itu,” ucapnya pelan.

Irwan menatap lekat, lembut namun tegas.

“Sampai kapan kamu menutup diri? Lupakan masa lalumu. Kamu berhak bahagia.”

“Revan sudah bahagia, Dad.” Ia tersenyum tipis, meski Irwan tahu itu hanya tameng.

Irwan perlahan menggeleng.

“Setiap malam kamu rela nggak tidur hanya untuk lihat fotonya. Kamu nangis. Kamu kuat di luar...tapi di sini—” ia menunjuk dadanya, “kamu masih terluka. Luka itu nggak pernah kering, karena kamu sendiri yang membiarkannya tetap basah.”

Mendengar itu, mata Revan melebar, namun tetap diam tanpa menyela. Ia tidak menyangka bahwa selama ini ayahnya mengetahui hal yang paling tak ingin ia perlihatkan.

Irwan berhenti sejenak, mengelap sudut bibir sebelum melanjutkan.

“Kembalikan putra Daddy lima tahun lalu. Revan yang suka menggambar, mendesain fashion, sampai punya butik besar karena kerja kerasnya. Revan yang menyalurkan sedihnya ke tinta dan kertas, bukan memendamnya sendiri. Daddy nggak kenal Revan yang sekarang.”

Kepala Revan tertunduk. Air mata menggenang, sekali berkedip akan jatuh. Ia tak ingin terlihat rapuh.

“Kamu mau sehebat apa pun,” lanjut Irwan, suaranya lebih pelan, “kamu tetap putra kecil Daddy yang boleh menangis kapan saja di depannya.”

Revan mendongak. Air mata itu akhirnya jatuh. Ia memeluk ayahnya erat. Irwan membalas pelukan itu, mengelus punggung putranya berulang kali.

“Ini air mata terakhir kamu untuk gadis itu,” tegas Irwan. Bukan sekadar perintah, tapi janji.

Revan mengangguk, mempererat pelukan itu.

Sementara itu, di sisi lain...

Di sebuah kamar sederhana—hanya ada meja rias, satu lemari, meja belajar besar buatan ayahnya sejak ia masuk sekolah, serta tempat tidur dengan kasur lama namun tetap nyaman. Tak ada AC, hanya dua jendela, salah satunya dibiarkan terbuka.

Zaskia duduk di depan meja, mengisi map berisi persyaratan dari agency yang kemarin ia kunjungi. Tangannya menulis dengan hati-hati, sesekali matanya berpindah ke layar ponsel yang terhubung dengan Nadine lewat video call.

“Sumpah, Kia...aku syok dengernya,” ujar Nadine. “Aku nggak tahu kalau itu alamat rumahnya Pak Irwan.”

“Kamu aja kaget,” jawab Zaskia pelan. “Apalagi aku yang ngalamin sendiri.”

Ia kembali menunduk, melanjutkan tulisannya.

“Aku harus minta maaf yang bagaimana lagi sama kamu,” suara Nadine melemah. “Aku sahabat yang nggak bisa diandalkan pas kamu butuh.”

Zaskia langsung mengangkat kepala.

“Ngomong gitu lagi, aku matiin HP-nya,” ancamnya ringan.

Nadine terkekeh. “Ya jangan. Hidupku pahit banget kalau nggak lihat kamu.”

Zaskia menghela napas, meletakkan bolpoin. Tatapannya melembut.

“Justru aku yang minta maaf. Karena aku, kamu jadi ikut ngalamin ini.”

“Udah,” potong Nadine cepat. “Dalam persahabatan nggak ada kata minta maaf. Yang ada saling memaafkan tanpa diminta.” Ia terdiam sejenak. “Sebagai anak, aku tetap harus hormat sama orang tua. Seburuk apa pun, cukup jangan meniru yang salah.”

Senyum kecil muncul di wajah Zaskia.

“Aku nggak salah pilih sahabat. Udah cantik, baik, apalagi hatinya.”

Nadine tertawa. “Iya, iya. Jadi pengen acak-acak itu rambut bikin gemes. Kan jadi kangen.”

Tawa Zaskia pun tak kalah dengannya. Di momen sesederhana itu, ia merasa tidak sendirian. Ia lalu kembali merapikan berkas di dalam map.

“Udah beres?” tanya Nadine kembali serius.

Zaskia mengangguk. “Udah. Doain ya...semoga ada petunjuk. Semoga berhasil.”

“Tanpa kamu minta pun aku selalu doain kamu,” jawab Nadine mantap. “Semoga kamu segera bertemu dengan ibumu.”

Zaskia mengatupkan tangan.

“Aamiin...”

“Sekarang istirahat. Biar besok lebih siap.”

“Aku juga nggak sabar nunggu besok cepat siang,” ucap Zaskia jujur.

Senyum Zaskia di layar membuat hati Nadine tenang.

“Semangat dan sukses, Zaskiaku.”

“Kamu juga. Kuliah yang bener.”

“Nggih, Ndoro.”

Mereka tertawa kecil sebelum panggilan terputus.

Zaskia meletakkan ponsel, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Sebelum terlelap, bayangan wajah ibunya muncul—kali ini tanpa kesedihan, hanya senyum hangat, seolah siap menyambutnya mulai besok.

Pikiran itu membuat Zaskia tersenyum kecil sebelum matanya terpejam.

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!