NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - Rasa Bersalah

"Ada ruang hening di antara benar dan salah, dan aku terjebak di sana."

"Aku mencoba memaafkan diriku, tapi setiap kali hampir berhasil, bayangan masa lalu datang mengetuk lagi."

"Mungkin memang begitu hukumnya: kita belajar dari rasa bersalah yang tak kunjung reda."

...***...

Ben terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya. Tatapannya kosong, seolah melihat kejadian mengerikan itu berputar kembali di benaknya. Dengan suara bergetar, ia mulai mengisahkan hari nahas yang mengubah hidupnya selamanya.

"Waktu itu... gue lagi belajar bawa motor," Ben memulai, suaranya bergetar. "Orang tua gue ngelarang, gue tau itu bahaya, tapi gue bandel. Gue pengen nyoba aja."

Ia menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca. "Ken lagi lari sore waktu itu. Gue nggak tau kenapa dia lari di jalan itu, biasanya kan di komplek. Gue... gue kaget pas liat dia."

"Gue panik, Ray. Gue berusaha ngerem, tapi gue belum terlalu lancar. Gue... gue malah hampir nabrak dia. Ken menghindar, dia lari ke depan... dan disaat yang sama, ada mobil ngebut dari arah berlawanan."

Ben terdiam, air mata mulai menetes. Rayna menggenggam tangannya erat.

"Ken... Ken ketabrak, Ray. Dia terpental, kepalanya kebentur batu. Gue... gue langsung lari nyamperin dia. Dia udah nggak sadarkan diri."

Suara Ben tercekat. "Gue bawa dia ke rumah sakit, Ray. Gue berharap dia baik-baik aja. Tapi... tapi nggak selamat. Ken meninggal."

Ben terisak. "Sejak saat itu, gue ngerasa bersalah banget. Gue ngerasa gue yang bunuh Ken. Kalo aja gue nggak bandel bawa motor, kalo aja gue lebih hati-hati, Ken pasti masih ada."

Rayna memeluk Ben erat. Ia bisa merasakan betapa besar penyesalan yang menghantuinya. Ia tahu, kata-kata tidak akan bisa menghapus rasa sakitnya. Tapi, ia ingin Ben tahu bahwa ia ada di sisinya.

"Orang tua gue... mereka kecewa banget sama gue. Mereka nggak pernah bilang secara langsung, tapi gue bisa ngerasain itu. Mereka selalu bandingin gue sama Ken. Ken yang baik, Ken yang penurut, Ken yang selalu bikin mereka bangga."

Ben melepaskan pelukan Rayna dan menatapnya dengan tatapan kosong. "Gue capek, Ray. Gue capek hidup kayak gini. Gue capek ngerasa bersalah terus. Gue capek jadi orang yang nggak pernah bisa bikin mereka bangga."

Rayna menggenggam kedua tangan Ben dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih. "Ben, gue ngerti lo pasti berat banget. Tapi, lo nggak boleh nyerah. Lo nggak boleh biarin rasa bersalah ngehancurin lo."

"Ken pasti nggak mau lo terus-terusan nyalahin diri lo sendiri. Dia pasti pengen lo bahagia. Lo harus maafin diri lo sendiri, Ben. Lo berhak bahagia," kata Rayna dengan lembut.

Ia mengusap air mata di pipi Ben. "Gue ada di sini buat lo, Ben. Gue akan selalu ada di sisi lo. Kita akan hadapi ini bersama-sama."

Ben menatap Rayna dengan tatapan penuh harap. Mungkin, dengan bantuan Rayna, ia bisa mulai memaafkan dirinya sendiri. Mungkin, suatu saat nanti, ia bisa menemukan kedamaian.

Rayna, yang sedari tadi mendengarkan dengan seksama, memberanikan diri bertanya, "Kok Mama gue nggak pernah cerita soal ini ya ke gue? Apa mungkin Mama belum tahu juga?"

Ben menghela napas, "Sepertinya begitu. Nyokap gue selalu nyeritain anaknya yang baik, penurut, rajin belajar, juara kelas, pokoknya semua yang positif ada di Ken, bukan gue. Bukan gue yang selalu ia banggakan, bukan gue juga yang selalu ia ceritakan ke nyokap lo."

Terdiam sejenak, Ben melanjutkan dengan nada getir, "Dari situ gue sadar, mungkin gue harus berubah seolah-olah menjadi Ken, supaya gue bisa ngerasain rasanya dihargai, disayang, diperhatikan, dipuji, dan semua hal positif lainnya."

"Gue lakuin semua yang orang tua gue minta, tanpa bantahan sedikit pun. Gue belajar mati-matian biar dapat nilai bagus, gue ikut semua kegiatan yang mereka suruh, gue berusaha jadi anak yang penurut dan nggak pernah bikin masalah. Tapi lama kelamaan, gue muak juga pura-pura jadi orang lain. Gue pengen jadi diri gue sendiri lagi," ungkap Ben, dengan nada lelah dan putus asa.

Rayna menatap Ben dengan rasa ingin tahu, "Terus soal perjodohan ini?" tanyanya dengan hati-hati.

Ben menghela napas panjang sebelum menjawab, "Ya, awalnya gue terpaksa ngelakuin ini. Gue pikir, dengan menerima perjodohan ini, gue bisa sedikit 'menyenangkan' orang tua gue. Tapi sekarang, enggak. Gue lihat lo orangnya tulus dan baik, walaupun lo selalu nyolot sama gue," Ben tersenyum tipis. "Gue nggak mau masalah di diri gue dibawa ke orang lain, apalagi ke lo."

Rayna hanya fokus mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ben, mencoba memahami semua beban yang selama ini ia tanggung.

Ben melanjutkan, suaranya lirih, "Sorry ya, Rayna. Seharusnya lo nggak tau semua ini lebih cepat, tapi... tapi gue... capek mendem ini sendirian."

Rayna mengangguk pelan, masih berusaha mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar. "It's okay, Ben. Harusnya lo cerita ini dari dulu, biar..."

Ben memotong ucapan Rayna dengan nada sinis, "Biar lo punya alasan buat nggak nerima perjodohan ini? Wajar sih, Ray. Gue ini pembunuh, wajar kalau nggak ada yang mau deket sama gue."

"B... bukan itu maksud gue, Ben," Rayna berusaha membela diri, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"Gapapa kok kalo lo mau bilang gitu," kata Ben lirih, kemudian sedikit mengangkat lututnya dan memeluknya erat, menunduk menyembunyikan wajahnya di antara lengannya.

Tiba-tiba hujan gerimis mulai turun, membuat Rayna terkejut. "Eh, hujan! Barang-barang gue, lukisan gue!" serunya panik sambil berlari menuju tempat ia meninggalkan barang-barangnya tadi.

Melihat Rayna panik, Ben segera bangkit dan ikut berlari menyusulnya. Dengan sigap, ia membantu Rayna membawa barang-barang dan lukisannya ke tempat yang lebih teduh, melindungi mereka dari rintik hujan yang mulai membasahi.

Tak terasa langit sedikit demi sedikit berubah menjadi gelap, pertanda senja mulai tiba. "Ben, mendingan lo pulang sekarang, gue juga ini mau pulang pesen ojek online," kata Rayna khawatir.

"Apaan sih kok pesen ojek online, kan ada gue. Lagian gue kayaknya nggak akan balik ke rumah malam ini," jawab Ben.

"Hah? Terus lo mau kemana?" tanya Rayna bingung.

"Nggak tahu, mungkin balik lagi ke sini setelah nganter lo," jawab Ben acuh.

Rayna terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang. "Yaudah, lo pulang ke rumah gue dulu aja," ajaknya tiba-tiba.

"Nggak ah, gue nggak enak," tolak Ben.

"Nggak enak sama siapa? Mama? Mama kayaknya bakal kesenengan aja tuh ada lo," goda Rayna.

Ben malah melamun, tampak ragu.

"Udah ayo, pulang ke rumah gue aja, mumpung hujannya juga reda," Rayna menarik tangan Ben, berusaha meyakinkannya.

"Oke deh, lo yang paksa ya," jawab Ben akhirnya mengalah.

"Ben.. Ben. Lagi gini masih aja gengsi lo," ledek Rayna sambil tertawa kecil.

"Tapi nanti kalau nyokap lo tanya, gue harus jawab apa? Gue nggak mau dia tahu soal semuanya ini," Ben tampak khawatir.

"Udah gampang, bilang aja ada tugas sekolah yang harus dikerjain hari ini juga," jawab Rayna santai.

"Oke juga, tapi kan gue nggak bawa apa-apa ini, keliatan banget dong bohongnya," Ben masih ragu.

"Udah ah, nggak papa. Ntar gue bilang semua perlengkapannya udah ada di rumah gue," Rayna meyakinkan Ben.

Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah Rayna, meninggalkan taman yang mulai gelap di belakang mereka.

Bersambung...

1
Nuri_cha
aiishhh... mimpi! kirain beneran!
Nuri_cha
iih .. kamu yg ke mana. kok malah marah sama Rayna? Bukannya kalian pernah berhubungan saat pertama kali Rayna pindah ke jakarta
Nuri_cha
Ya ampuuuun, Vandooo kamu ke manaaaaa ajaaa?
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
🦋RosseRoo🦋
julid amat jadi temen, tp terlalu kepo juga bikin kesel tau. 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!