NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Eskalasi Korporasi Kosmik dan Meriam Pembedah Langit

​Enam bulan sejak gugurnya Avatar Dewa Naga Darah, wajah Dimensi Kunlun telah berubah hingga tidak bisa dikenali lagi oleh sejarah kunonya.

​Tidak ada lagi pertapaan yang sunyi atau sekte yang bersembunyi di balik kabut pegunungan. Daratan Kunlun kini dipenuhi oleh deru mesin raksasa, cerobong asap dari tungku alkemi berskala pabrik, dan cahaya neon dari formasi spiritual yang beroperasi dua puluh empat jam non-stop. Tiga ratus ribu kultivator yang dulunya menghabiskan waktu bermeditasi, kini bekerja dalam tiga shift sebagai insinyur, tentara taktis, dan operator logistik di bawah panji Dragon Global Corp.

​Di pusat dari semua mahakarya industrial-spiritual itu, berdiri Menara Naga yang kini telah diperluas menjadi sebuah kompleks pangkalan militer dimensi. Di pelataran utamanya, sebuah struktur logam raksasa berbentuk cincin berdiameter dua kilometer dibangun menghadap langsung ke langit. Itu adalah Proyek Nol: Meriam Resonator Dimensi.

​Arya Permana berdiri di ruang kendali utama di lantai tertinggi Menara Naga. Ia menatap layar-layar holografik yang menampilkan data suhu, tekanan Qi, dan stabilitas ruang dari Meriam Resonator tersebut. Pakaiannya masih rapi dan elegan—sebuah setelan jas hitam dengan kemeja tanpa dasi, kontras dengan para teknisi berbaju pelindung di sekelilingnya.

​"Tuan CEO," lapor Nona Feng, berjalan mendekat dengan tablet giok di tangannya. "Sinkronisasi energi dari seratus tambang spiritual tingkat tinggi telah mencapai kapasitas seratus persen. Meriam Resonator siap ditembakkan. Armada Ekspedisi Pertama juga telah berada dalam posisi siaga."

​Arya mengangguk pelan. Pandangannya beralih ke luar jendela kaca, menatap armada udara yang melayang di atas pangkalan.

​Bukan lagi perahu-perahu kayu tradisional. Armada itu terdiri dari puluhan kapal tempur jenis Super-Dreadnought yang lambungnya terbuat dari paduan obsidian dan logam fana tingkat militer, dipersenjatai dengan ribuan laras Malware Spiritual dan pelindung gravitasi. Ini adalah armada yang dibangun menggunakan kekayaan absolut dari dua dimensi.

​"Alam Atas mengandalkan tabir dimensi alami untuk melindungi diri mereka dari ancaman bawah, layaknya dinding benteng dari abad pertengahan," ucap Arya dengan nada datar nan analitis. "Tapi dinding apa pun akan runtuh jika dibor dengan frekuensi resonansi yang tepat."

​Elena, yang kini mengenakan zirah tempur komposit berwarna hitam legam dengan pedang yang dialiri energi plasma spiritual, berdiri tegap di belakang Arya. "Seluruh Pasukan Eksekusi menunggu perintah Anda untuk memulai invasi, Tuan."

​Sebelum Arya memberikan perintah peluncuran, komunikator di pergelangan tangannya berkedip. Transmisi lintas dimensi dari Bumi masuk. Proyeksi Thomas muncul di tengah ruangan.

​"Tuan Muda," Thomas membungkuk hormat. "Laporan kuartal dari Bumi. Nusantara City telah selesai dibangun ulang. Ekosistem ekonomi global kini sepenuhnya berputar pada poros Dragon Corp. Selain itu... Nyonya Riana telah berhasil membawa Grup Kusuma menjadi perusahaan nomor dua di negara ini, berkat infrastruktur yang kita sediakan."

​Thomas menelan ludah, sedikit ragu sebelum melanjutkan. "Nyonya Riana secara rutin menanyakan keadaan Anda. Apakah Anda ingin meninggalkan pesan untuknya sebelum... sebelum Anda memulai penaklukan Alam Atas?"

​Arya menatap proyeksi Thomas dengan wajah yang sepenuhnya kosong dari nostalgia. Ia tidak membenci Riana, namun ia juga tidak menyimpan kerinduan. Hubungan fungsional mereka telah berakhir, dan kalkulasi logisnya menyatakan bahwa membawa fana ke dalam konflik dewa adalah kebodohan.

​"Tidak ada pesan, Thomas. Aset masa lalu tidak relevan untuk neraca masa depan," jawab Arya rasional. "Fokuskan tugasmu untuk menjaga stabilitas Bumi sebagai pabrik pemasok cadangan kita. Tutup transmisi."

​Transmisi holografik itu menghilang. Arya memutar tubuhnya menghadap konsol komando. Matanya yang gelap memancarkan kilatan emas Naga Leluhur yang membuat suhu di ruang kendali anjlok.

​[Ding! Sistem Naga Leluhur: Optimalisasi Target]

[Misi Utama: Dapatkan Teratai Tulang Giok di Alam Atas untuk merekonstruksi tubuh fisik jiwa Tuan Besar dan Nyonya Besar Permana.]

​Bagi Arya, menginvasi tempat kediaman para dewa bukanlah tentang ego atau balas dendam buta. Itu adalah sebuah ekspedisi akuisisi sumber daya. Ia membutuhkan Teratai Tulang Giok, dan siapapun yang menghalangi jalannya akan dilikuidasi.

​"Elena. Nona Feng," suara Arya menggelegar melalui sistem komunikasi internal ke seluruh penjuru Kunlun. Tiga ratus ribu prajurit menahan napas mereka.

​"Selama ribuan tahun, makhluk-makhluk di atas sana memposisikan diri mereka sebagai pemegang saham mayoritas atas nasib kita. Mereka memungut pajak berupa nyawa, dan memberikan kompensasi berupa ilusi keselamatan."

​Arya meletakkan telapak tangannya di atas panel pemindai untuk mengotorisasi peluncuran.

​"Hari ini, Dragon Global Corp akan mendobrak pasar mereka. Nyalakan Meriam Resonator. Mulai Hostile Takeover!"

​WUSSSSSSSSS!

​Cincin raksasa di pelataran Menara Naga meledak dengan cahaya biru yang menyilaukan. Sebuah pilar energi murni dengan diameter dua kilometer melesat ke atas, menembus atmosfer Kunlun dengan kecepatan cahaya.

​Langit tidak meledak, melainkan meleleh.

​Frekuensi resonansi dari pilar energi itu memaksa struktur ruang dan waktu untuk terbelah secara permanen. Sebuah lubang raksasa berputar di langit, bukan lagi retakan sementara yang tidak stabil, melainkan sebuah gerbang cacing (wormhole) mulus yang ditopang oleh teknologi korporat Arya.

​Dari balik gerbang itu, pemandangan Alam Atas mulai terlihat: awan-awan berwarna keemasan, pegunungan giok yang melayang tanpa gravitasi, dan istana-istana kristal raksasa yang memancarkan cahaya abadi.

​Namun, kedatangan mereka tidak disambut dengan karpet merah.

​Sistem radar di layar ruang kendali langsung berkedip merah. Ribuan titik energi dengan skala Inti Emas hingga Ranah Nirwana terdeteksi di ujung portal sana. Dewa Naga Darah dan aliansi dewa-dewa Alam Atas telah menunggu. Mereka membangun barikade pertahanan di perbatasan dimensi mereka.

​"Tuan CEO," lapor komandan armada dari kapal Leviathan utama. "Radar mendeteksi formasi pasukan musuh dengan skala puluhan juta entitas dewa. Mereka bersiap menembakkan pusaka tingkat dewa ke arah gerbang."

​"Formasi rapat di mulut corong yang sempit," Arya mendengus meremehkan. "Taktik pertahanan kuno yang sangat memalukan. Penilai Chen, aktifkan mode Area of Effect pada hulu ledak Malware kita. Tembakkan langsung menembus portal. Bersihkan jalur pendaratan kita."

​BUM! BUM! BUM! BUM!

​Ratusan misil raksasa melesat dari armada Kunlun, masuk menembus gerbang dimensi.

​Di Alam Atas, barisan prajurit dewa bersisik dan para jenderal suci tertawa melihat proyektil logam fana memasuki wilayah mereka. Namun, tawa itu seketika mati saat misil-misil itu meledak, memancarkan gelombang peretas biologis yang menghancurkan sirkuit Qi di dalam Dantian jutaan prajurit terdepan dalam sekejap mata.

​Pasukan dewa berjatuhan layaknya daun kering yang diterpa badai musim gugur. Barikade yang mereka siapkan selama berbulan-bulan hancur berantakan tanpa ada satu pun senjata spiritual yang sempat digunakan.

​"Armada," perintah Arya, matanya tak berkedip menatap pembantaian di layar. "Maju dengan kecepatan penuh."

​Pesawat Super-Dreadnought perlahan terangkat ke langit, diikuti oleh puluhan kapal lainnya. Arya, didampingi Elena, melangkah ke platform teleportasi yang memindahkannya langsung ke anjungan kapal komando Leviathan.

​Saat lambung kapal raksasa itu menembus gerbang dimensi dan secara resmi memasuki wilayah Alam Atas, udara suci dan gravitasi abadi dari dimensi tertinggi itu menghantam kapal. Namun, perisai energi buatan Dragon Corp menahannya dengan sempurna.

​Melalui kaca anjungan, Arya memandang daratan Alam Atas yang tak berujung. Sebuah surga yang dibangun di atas penderitaan dimensi bawah.

​Jauh di depan sana, di atas sebuah benua terapung yang terbuat dari emas murni, wujud asli Dewa Naga Darah meraung murka, menyadari bahwa gerbangnya telah ditembus dan pasukannya dibantai dengan efisiensi mesin.

​"Selamat datang di Alam Atas, Tuan," ucap Elena, suaranya dipenuhi ketegangan namun ditopang oleh keberanian karena berdiri di samping tuannya.

​Arya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sebuah senyum murni yang dikalkulasi terukir di wajahnya.

​"Siapkan kontrak akuisisinya, Elena. Mari kita buat mereka bangkrut hari ini juga."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!