Cinta pertama, semua orang pasti pernah merasakan, itulah yang di rasakan Briana gadis cantik yang baru saja menginjakkan kakinya di sekolah menengah atas atau SMA.
Briana dia mengagumi kakak kelasnya yang merupakan ketua team basket, hanya saja sampai si pria lulus sekolah Briana tidak pernah mengungkapkan perasannya dia hanya menyimpan rasa suka itu di hatinya.
Hari-hari di sekolah Briana lewati dengan santai walau permasalahan mulai muncul namun dia tidak pernah ambil pusing.
Tiga tahun sudah dia sekolah disana dan saat masuk universitas Briana di pertemukan lagi dengan sang pujaan hati.
Apakah Briana mengambil kesempatan ini untuk mendekati sang pujaan hati?....
Yu baca kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nomor tak dikenal.
Sepulang sekolah bang Indra sudah menunggu ku di parkiran dan aku pun berjalan ke arah mobil milik bang Indra.
"Briana, " panggil Dwi dan aku pun langsung berbalik melihat ke arah Dwi.
"Balik bareng gue yu, " ajak Dwi setelah mendekat.
"Sorry gue gak bisa, gue udah di tunggu sama abang gue, " tolak ku sambil menunjuk mobil bang Indra.
"Oh, ya sudah kalau begitu gue duluan, " pamit Dwi dan aku pun melanjutkan langkah ku menuju mobil bang Indra.
Aku pun membuka pintu mobil dan langsung naik. Bang Indra pun langsung menjalankan mobilnya.
"Abang lihat kamu lebih banyak temen cowok di bandingkan cewek, " ucap bang Indra.
"Ya karena aku gak gampang gaul sama cewek, kalau cowok berawal dari bercanda dan akhirnya dekat, " beritahu Briana.
"Dwi itu anak dari pemilik restoran terkenal di kota ini dan orang tuanya merupakan salah satu donatur sekolah dan itu yang membuat dia bisa jadi salah satu anak cowok berpengaruh di sekolah, " beritahu bang Indra membuat aku kaget.
"Yudistira dia pun sama bahkan dia lebih unggul dari Dwi karena ayahnya merupakan rekan bisnis papa ku, " lanjut bang Indra.
"Aku memeng tidak tau dan aku gak pernah melihat tan dari status sosialnya, " ucap ku.
"Abang senang kamu bisa bergaul dengan mereka namun dengan identitas kamu sebagai adik ipar ku bukan siswa biasa agar kamu terlihat setara dengan mereka, "balas bang Indra.
Kamu pun tiba di rumah dan aku langsung turun dari mobil dan berjalan menuju rumah, tapi aku melihat mama dan kak Kanaya sedang menonton sesuatu.
" Kalian lagi lihat apa serius banget, "tanya ku setelah menyalami mereka berdua.
" Mama gak percaya kamu bisa seberani itu, "ucap mama bukannya menjawab
Aku pun langsung merebut ponsel kak Kanaya dan ternyata itu vidio kejadian tadi di sekolah.
" Kalian ngapain lihatin vidio aku? "tanya ku dengan kesal.
" Biar mama dan kakak kamu tau, "jawab bang Indra yang baru masuk.
"Ya tapi gak harus dengan memperlihatkan Vidionya juga, "ucap ku kesal.
" Kakak mu yang minta, "jawab bang Indra.
" Terserah deh ah, "ucap ku kesal lalu masuk ke kamar.
Namun saat aku sedang rebahan tiba-tiba ponselku berdering dan itu pesan masuk dari Rio yang meminta aku keluar rumah. Aku pun segera keluar dan masih menggunakan seragam sekolah.
" Ada apa? "tanya ku setelah di luar gerbang menemui Rio.
"Gimana hari minggu jadi? "tanya Rio menanyakan rencana nonton sama Zahara.
" Jadi dong, gue udah bilang sama dia dan dian setuju, "jawab ku.
" Oke makasih, tadi gue ke sekolah tapi lihat lo naik ke mobil dan gue gak kenal sama orang yang bawa mobilnya, "ucap Rio.
" Kaka ipar gue dia, "jawab ku.
" Oh, ya udah gue pamit, gue cuman mau ngasih ini tar lo kasih sama Zahara, "ucap Rio memberiku sebuah kotak entah apa isinya.
Rio pun langsung pergi dan aku masuk namun di depan rumah aku melihat kak Kanaya berdiri memperhatikan ku. Aku pun mempercepat jalan ku agar segera menghampiri kak Kanaya.
" Siapa, pacar lo? "tanya kak Kanaya.
" Bukan, cuman temen, "jawab ku sambil terus melangkah masuk.
"Terus ngapain dia ngasih lo kado? " tanya lagi.
Aku menghentikan langkah ku lalu berbalik.
"Emang kalau cowok ngasih kado sama cewek itu berati dia pacar nya gitu? " tanya ku.
"Ya biasanya gitu, " jawab Kak Kanaya.
Aku pun terdiam dan emang ada benarnya juga toh Rio suka sama Zahara ya wajar dia ngasih kado.
"Kenapa bengong? " tanya kakak Kanaya pada ku.
"Bener juga ya kak, ini kan kado dari Rio buat Zahara dan Rio memang suka sama Zahara, " ucap ku.
"Dih lo mau aja jadi mak comblang, " ujar kak Kanaya lalu masuk ke dalam.
Aku pun masuk kamar dan menyimpan kado itu di tempat aman karena gak mau orang rumah membukanya. Aku pun masuk kamar mandi karena hari sudah sore juga. Selesai mandi aku keluar kamar dan ikut gabung sama kak Kanaya yang sedang nonton TV.
"Bang Rian belum pulang? " tanya ku pada kak Kanaya.
"Belum, gak taun kemana, " jawab kak Kanaya tanpa melirik ku.
Aku pun fokus nonton walau yang di tonton entah apa. Makan malam pun siap dan kami semua langsung ke meja makan dan mulai makan namun bang Rian dia belum pulang juga. Sampai jam sebelas malam tiba-tiba pintu rumah di ketuk dan entah siapa. Tidak lama kak Kanaya teriak manggil mama. Aku pun keluar kamar dan melihat apa yang terjadi.
"Ada apa kak? " tanya ku.
"Rian kecelakaan, sekarang dia di rumah sakit, " jawab kak Kanaya.
Aku pun kaget dan hanya bisa diam. Aku melihat jaket kak Ryan yang dipakai pagi tadi berlumuran darah.
"Mari pak bu ikut kami ke rumah sakit, " ucap polisi yang datang memberitahu.
kami semua ke rumah sakit dan hati ku gak karuan saat polisi membawa kami ke ruang mayat untuk melihat keadaan mayat dan memastikan itu kakak Rian.
Papa membuka penutup mayat dan kami kaget saat melihat keadaan wajahnya yang hancur. Mama dia sudah histeris dan langsung di bawa keluar.
"Pa, itu bukan bang Rian, " lirih ku.
"Tapi kami menemukan jaket dan identitas anak bapak bahkan motornya pun sama, " ucap polisi.
"Tapi bang Rian gak punya tato di pundaknya, " teriak ku.
"Kamu tau dari mana?, abang kamu gak pernah membuka baju di depan kita dan papa gak tau dia punya tato atau tidak, " ucap papa.
" Tapi aku yakin dia bukan bang Rian, "teriak ku lalu lari ke luar ruangan dan pergi dari tempat itu dengan air mata sudah membasahi wajah ku.
Namun karena aku tidak fokus tiba-tiba aku menabrak seseorang membuat aku kehilangan keseimbangan namun aku bersyukur karena aku tidak jatuh ke tanah karena orang yang menabrak ku membantuku membuat aku menara dadanya. Aku pun langsung mundur dan menunduk berterimakasih. Aku tidak berani melihat wajahnya karena aku sedang menangis.
"Maaf aku gak sengaja, " ucap ku.
"Gak apa-apa, " jawab nya dan suara itu sepertinya aku mengenalnya.
Aku pun mengangkat kepalaku namun orang itu sudah pergi dan saat aku berbalik aku sepertinya mengenal orang itu namun siapa. Tiba-tiba ponselku berdering ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal aku pun langsung mematikan ponselku. Aku melanjutkan jalan ku dan mencoba menghapus air mata ku. Namun ponsel ku terus berdering dan dengan nomor yang sama membuat aku kesal akhirnya aku mengangkatnya. Aku kaget saat mendengar suara orang di telepon itu.