NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cantik dan Tampan

Rangga pulang dengan lemas menyusuri gang, menuju mobilnya. Hatinya hancur. Kemarahan yang seharusnya dimilikinya hanya bisa menguar tanpa mampu mengendap di dalam hatinya, didesak rasa cinta berlebihan yang dia punya.

Tidak jauh dari tempat Rangga melangkah, ada sepasang mata mengamati. Mengeluarkan ponsel dari sakunya. Melaporkan apa yang dia dengar dan mengirim beberapa foto yang tadi diambilnya.

"Hmm ... baik. Awasi terus pergerakannya. Kabari segera jika ada informasi terbaru," terdengar jawaban dari seberang.

Radit memutus sambungan telponnya. Dialah penerima telpon itu. Seorang pria dengan nomor private baru saja menghubunginya.

Sebelum memanggil Ari ke kamarnya, Radit menelpon seseorang untuk mengikuti Kiran. Memintanya untuk mengawasi segala aktivitas Kiran dan segera melaporkan kegiatan yang dianggap perlu dilaporkan. Laporan itu kini baru diterimanya.

Radit menarik satu sudut bibirnya menerima laporan itu. Beberapa foto serta catatan percakapan yang dilakukan.

Pola itu sudah jelas sekarang. Sedari awal memang Kiran sudah menargetkan agar bisa masuk ke dalam keluarganya, pikir Radit.

Mengambil pengalaman selama tiga tahun lalu masuk ke perusahaan dibidang yang sama sesuai dengan pengalaman yang ia punya agar diterima.

Ada dua perusahaan besar yang sesuai dengan pengalaman Kiran, perusahaan Ari dan perusahaan Widjaja. Kiran tidak memilih perusahaan Widjaja karena tidak ada sasaran tembak untuk dinikahi di sana, maka tentunya ia memilih perusahaan Ari. Ia pasti sudah tahu sebelumnya jika Radit dan Ari belum menikah. Sudah bisa dipastikan perempuan seperti apa Kiran itu.

Perempuan mata duitan!

Radit mengangguk pelan membenarkan pemikirannya. Ketukan di pintu menyadarkannya.

"Masuk!" seru Radit.

Pintu kamar terbuka. Mama Ariana masuk dengan ragu. Dia masih merasa malu karena telah ketahuan berbohong. Sementara ia tahu benar jika Radit paling benci kebohongan.

"Bisa Mama bicara, Kak?" tanya Mama Ariana menatap Radit ragu. Radit menjawab dengan anggukan.

Mereka berdua duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar Radit. "Mama ingin memberitahukan tentang pernikahan Ari." Ariana memulai pembicaraan. Radit mendengarkan.

"Mama putuskan untuk menikahkan mereka pekan depan." Ariana terdiam sebentar. Menunggu reaksi Radit dan begitu terkejut mendapati putra sulungnya itu sama sekali tak bereaksi.

Semula Ariana mengira, pasti Radit akan terkejut mendengar berita ini. Karena Radit tidak suka dengan tindakan yang tergesa-gesa. Namun ternyata ia salah.

"Bagaimana menurutmu, Kak?" tanya Ariana.

"Lebih cepat lebih baik, Ma. Mereka kan sudah pernah tidur bersama. Radit kira tindakan Mama sudah tepat."

Ariana menaikkan satu alisnya lalu menghela nafas pelan. Ternyata Radit sudah tahu. Putra sulungnya ini ternyata sudah memata-matai adiknya.

Pantas saja ia tidak terkejut.

"Tapi pernikahan mereka akan kita rahasiakan dulu. Ari bilang, Papa Marissa sudah memberikan sinyal akan memutuskan kerjasama jika sampai Ari menikah dengan wanita lain ketika meeting terakhir mereka. Sementara Kakak tahu sendiri kan, pasokan bahan baku perusahaan Ari bergantung pada perusahaan Papa Marissa." Ariana melanjutkan.

"Mama tidak perlu khawatir. Radit sedang memikirkan jalan lain. Laksanakan saja pernikahan Ari. Beri Radit waktu tiga bulan. Setelah itu kita akan umumkan ke publik tentang pernikahan mereka." Mama terkesiap mendengar penuturan Radit. Wajahnya berubah sumringah namun ia mencoba tidak menunjukkannya di depan Radit.

"Kiran sudah tidak masalah jika pernikahan mereka dirahasiakan, Nak. Jadi tidak perlu menambah pekerjaanmu dengan hal ini. Meskipun sebenarnya Mama senang sekali jika bisa menyiarkan pernikahan mereka. Mama bisa pamer sama teman-teman Mama."

Masih membayangkannya saja Ariana sudah bahagia. Selama ini Ariana hanya bisa mendengarkan teman-temannya pamer menantu di depannya. Meskipun sebenarnya Ariana sendiri pasti risih jika melakukannya.

"Radit sama sekali tidak terbebani, Ma. Kebahagiaan Ari juga kebahagiaan Radit. Lagian Radit hanya tidak ingin apa yang terjadi dengan Kiran nanti bisa menjadi karma buat kita. Kita juga punya anak perempuan, Ma. Bagaimana jika Raisa diperlakukan seperti itu. Apa kita rela?!"

Ariana tersentak seketika, kemudian ia mengangguk setuju. Tepat sekali apa yang dikatakan anak sulungnya ini.

"Baiklah jika memang Kakak tidak keberatan. Mama bisa tenang sekarang. Mama akan menghubungi beberapa keluarga dekat kita agar datang menyaksikan pernikahan mereka." Radit mengangguk setuju.

"Baiklah kalau begitu. Mama keluar dulu, ya Nak," pamit Ariana. Radit mengangguk. Namun ia teringat sesuatu.

"Ma...," panggil Radit pelan saat Ariana beranjak ingin pergi. Ariana menghentikan langkahnya lalu menatap Radit.

"Apapun yang ingin diraih Ari kedepannya, jangan lagi membantunya dengan kebohongan. Jika Mama selalu membantunya dengan kebohongan maka ia tidak akan pernah belajar untuk jujur dalam meraih sesuatu. Ari tidak akan pernah dewasa, Ma." Radit berkata dengan pelan. Takut menyinggung perasaan Ariana.

Ariana tercekat. Ia merasa malu. Tapi ia membenarkan apa yang Radit katakan. "Baiklah. Maafkan Mama sudah mengecewakanmu." sahut Ariana lirih. Ariana kembali berjalan keluar kamar.

Radit menghela nafas pelan begitu Ariana keluar kamar. Kemudian bergegas mengambil air wudhu saat azan isya berkumandang. Selesai sholat, ia segera tidur. Hari ini ia merasa sangat lelah.

Sementara itu di kamar Ari ....

Ari tersenyum senang di kamarnya. Binar-binar bahagia memancar dari kedua matanya. Membayangkan sebentar lagi ia akan menikah dengan Kiran.

Ia tidak sabar menanti hari esok. Ia ingin segera berjumpa dengan Kiran. Padahal baru saja bertemu namun dirinya sudah merindukan gadis itu.

Ia mengambil ponselnya dari atas nakas. Kemudian mengetikkan beberapa kata di sana.

Mimpi bersama kejoraku

Kau bagai udara

Yang ingin ku hirup tiap masa

Sesaat kau tiada

Sesaknya nafas ku rasa

Kau bagai tetesan hujan

Membasahi hatiku yang gersang

Walau dinginmu merasuk sampai ke tulang

Tapi nyata sendumu yang selalu terngiang

Jadilah matahariku

Dengan sinarmu

Hangatkan dan indah kan hari hariku

Dengan ada dirimu di sisiku

Malam kini menjelang

Rembulan berpancar terang

Biarkanlah mimpiku datang

Menjemputmu, kejoraku yang cemerlang

Tapi cinta

Ku mohon janganlah kau berubah rupa

Menjadi taufan yang membawa petaka

Hingga semua kasih dan setia

Terhempas bagai badai yang mengila

Kini kau lah segala rasa

Kau labuhkan hatiku pada dermaga cinta

Cinta satu, dan untuk selama

Kejoraku, cintaku, duniaku, yang telah menjadi nyata

Send.

Ari berdebar menunggu balasan. Bunga di hatinya merekah menebarkan wangi semerbak yang membuainya. Hingga tanpa sadar ia sudah tertidur sembari memegang ponsel di dadanya. Akibat terlalu lama menunggu balasan pesan yang ternyata tidak pernah dibalas.

❇❇❇

Kiran mengerjap menatap ponselnya. Ia baru saja membaca pesan dari Ari. Pesan itu isinya puisi. Puisi itu Kiran baca dengan seksama. Ini kali pertama ia menerima kata-kata seperti itu dari seorang pria. Rangga sendiri tak pernah mengiriminya.

Hatinya menghangat. Namun kesedihan menyergap seketika ia ingat akan Rangga. Ia menata hatinya. Mencoba menerima perubahan yang tiba-tiba ini. Untaian doa mengalir dari bibirnya seirama dengan matanya yang mulai tertutup.

Malam semakin merangkak naik. Menciptakan keheningan dan kesyahduan yang membuai setiap orang untuk mengistirahatkan tubuhnya dari rutinitas. Mimpi menjadi bunga tidur yang menambah kelenaan setiap orang. Tak terkecuali Radit, Kiran dan Ari. Ketiganya memimpikan pernikahan pada malam itu.

Ari memimpikan pernikahan dengan seorang gadis. Ari belum bisa memastikan wajah gadis itu karena wajah gadis tersebut sangat buram. Ia hanya meyakini bahwa gadis itu adalah Kiran, sebab gadis itu menggunakan hijab, sama seperti Kiran. Ketika terbangun, Ari merasa senang sekali. Mimpi pernikahan itu membayang dalam ingatannya. Membuatnya tak sabar ingin mewujudkannya.

Kiran juga memimpikan pernikahan dengan seorang pria. Namun anehnya, ia malah bermimpi menikah dengan Radit. Pria yang jelas sekali sangat membencinya. Setiap bertemu selalu saja ada tragedi tidak mengenakkan yang terjadi. Pernikahan aneh itu teringat jelas dalam ingatannya hingga ia merasa malu sendiri telah bermimpi seperti itu.

Sementara Radit juga bermimpi menikahi seorang gadis. Dan anehnya gadis itu dikenalinya sebagai Kiran. Ia menggerutu kesal ketika bangun karena sudah memimpikan gadis yang sangat dibencinya. Si Perempuan Mata Duitan!

❇❇❇

Kiran masih fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya. Tangannya dengan lincah menari di atas keyboard. Sementara matanya sibuk memperhatikan draft yang telah dibuat. Sesekali melirik data yang telah dimintanya pada divisi yang berkaitan.

Kiran baru saja menjelaskan panjang lebar pada Ari yang sedari tadi tersenyum menatapnya tentang data yang harus diberikan pada Radit sebagai laporan pertanggungjawaban kegiatan Ari selama menjadi Direktur perusahaan.

Kiran sudah membagi tugas yang akan mereka kerjakan. Lebih tepatnya, Kiran kerjakan. Karena Ari hanya sedikit ambil bagian dalam mengolah data tersebut.

Mata Ari sesekali melirik Kiran yang masih sibuk dengan laptopnya. Dadanya bergemuruh. Ia berdehem. Gadis yang ada di ruangannya itu tak acuh.

Ari meminta Kiran untuk mengerjakannya di dalam ruangannya. Ari beralasan agar jika ada yang kurang dimengerti, ia akan gampang bertanya pada Kiran. Padahal alasan sebenarnya ia hanya ingin berdua di ruangan yang sama dengan Kiran.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ari sudah lapar. Namun ia lebih tidak tahan lagi untuk tidak mendekati Kiran. Ia berpikir keras. Mencari ide agar bisa berdekatan dengan gadis itu. Satu ruangan yang sama namun tidak bisa berdekatan ternyata sangat menyiksa.

"Kiran ...," panggil Ari pelan.

"Hemm ...," jawab Kiran

"Kiran ...," panggilnya lagi. Usahanya tak sia-sia, Kiran menoleh. "Ada apa?"

"Lihat sini, deh. Ini tadi bagaimana maksudnya?" Ari menunjuk laptopnya.

Kiran beranjak dari sofa yang ada di ruangan Ari. Sofa yang difungsikan Ari menjadi kursi kerja Kiran.

"Mana?" Kiran mendekati Ari. Melihat laptop Ari.

"Ini maksudnya tadi gimana Kiran? Aku lupa." Ari nyengir.

Kiran menarik satu kursi yang ada di depan meja Ari lalu meletakkannya di samping kursi Ari. Kiran pun duduk di situ kemudian mengambil kertas dan pena yang ada di atas meja. Ia menjelaskan kembali semuanya pada Ari.

Ari memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Bukan, Ari bukan sibuk memperhatikan catatan yang Kiran berikan dan mendengarkan apa yang Kiran sampaikan. Ia sibuk memperhatikan wajah Kiran ketika menjelaskan. Perhatian itu kini malah terpusat pada bibir Kiran.

Sebuah ide terbersit. Ari bertanya lagi pada Kiran sembari menarik kursi gadis itu lebih dekat. Bahu mereka bersentuhan.

"Kalau yang ini maksudnya bagaimana?" tanya Ari lagi. Kiran menjelaskan dengan lebih detail.

"Udah paham?" tanya Kiran memutus tatapan Ari. Ari berdehem.

"Iya, udah. Aku udah paham."

"Paham apanya?"

"Paham kalo kamu tuh, cantik." Berbicara dengan wajah tanpa dosa. Kiran membeliakkan matanya kemudian mendengkus kesal. Ia merasa sia-sia.

"Tau begini, aku biarin aja kamu menyiapkan semuanya sendiri." Kiran merengut kesal, namun bagi Ari, wajah kesal itu malah tampak menggemaskan.

Kiran bangkit, beranjak pergi dari kursinya menuju sofa. Ia duduk kembali di sofa.

Terdengar lagi panggilan dari Ari. "Kiran ...,"

Kiran menoleh, menatap kesal Ari. "Ada apa?"

"Puisinya bagaimana?? Bagus, kan?! Kamu suka?" tanya Ari.

"Hemm ...," Kiran malas menjawab

"Hemm apanya?" tanya Ari tak puas.

"Aku tidak terlalu mengerti puisi." Mengalihkan pandangan ke depan. Mencoba fokus kembali pada laptop.

"Kalau perasaanku, kamu sudah mengerti, kan?" Kiran menoleh menatap Ari yang menaikkan kedua alisnya.

"Please, Ari. Fokus!" Menatap tajam Ari.

"Iya. Kan ini aku lagi fokus." Nyengir tanpa dosa.

"Fokus ngerayu kamu ... hahhaa," lanjutnya lagi sambil terbahak.

Kiran melototkan kedua matanya menatap Ari yang seakan tidak peduli. Malah ia merasa gemas melihat Kiran.

Kiran merapikan peralatannya dari atas meja dan mematikan laptopnya.

"Hei, kenapa?" Ari mulai merasa curiga melihat gelagat Kiran karena mengemasi semua barangnya.

"Aku mau kembali ke mejaku. Kalau kuteruskan di sini, kerjaanku tidak akan siap."

"Jangan! Aku janji gak akan ganggu kamu lagi. Kamu tetap kerja di sini aja, ya." Ari bangkit dari kursinya mendekati Kiran. Kiran hanya menatap Ari datar, meneruskan mengemasi barang.

Kiran bangkit dari sofa hendak beranjak pergi. Ari merentangkan kedua tangannya menghalangi Kiran.

"Sebentar lagi jam makan siang. Kamu di sini aja. Aku butuh teman. Gak enak makan sendirian," ucap Ari memelas.

Kiran bergeming. "Menyingkirlah atau kakiku ini bisa mengenai wajah tampanmu itu," kata Kiran datar.

Ari bergidik ngeri. Membayangkan kemarin, kaki Radit juga hampir mengenai wajahnya. Eh, apa tadi? Tampan?

"Hei, apa kau bilang tadi?? Tampan??" Kiran melirik tajam tak peduli dengan pertanyaan Ari.

"Menyingkir!" kata Kiran tajam.

"Bilang dulu, tadi kau mengatakan aku apa?" masih penasaran. Sebab ini kali pertama Kiran mengatakan kalau dirinya tampan.

"Iya. Kau tampan. Puas?!" seru Kiran sebal. Wajah Ari merona. Ia puas dan bahagia.

"Iya cantik ... terima kasih," goda Ari sembari menurunkan tangannya.

"Bentar lagi kita akan menikah. Setidaknya kau berikan aku cicilan. Jangan terlalu pelit."

Kiran mengernyitkan alisnya. "Cicilan?" tanya Kiran tak paham.

"Iya cicilan. Minimal sebelum nikah biarkan aku mencicil untuk menyentuhmu. Entah pegangan tangan dulu, kasi kiss-kiss dulu ...." Ari memonyongkan bibirnya, mengisyaratkan ciuman.

Kiran membelakkan matanya. Pria di hadapannya ini memang benar-benar tidak mengenal kondisi. Padahal dia sendiri yang bilang deadlinenya hanya sebentar tapi masih sempat-sempatnya dia berpikir begitu.

"Baiklah Ari, Aku mau ...," Kiran belum menyelesaikan kalimatnya. Ari berbinar.

"Beneran?" tanyanya tak percaya.

"Iya. Aku mau ..., mau muntah denger kata cicilan menyentuh tadi. Bisa gak sih, Ri, fokus." Kiran mendengkus kesal kemudian beranjak pergi. Ari nyengir sedikit kecewa.

"Hei, jadi kau mau kemana?" teriak Ari melihat Kiran sudah di depan pintu.

"Aku akan mengerjakannya di mejaku."

"Kan sudah kubilang ...," Ari belum menyelesaikan ucapannya, Kiran sudah berjalan terus tanpa peduli ucapan Ari.

"Berhenti. Aku bilang berhenti. Kalau tidak akan kupecat kau nanti!" teriak Ari kesal.

"Hei, Kiran ..., hei, berhenti!"

Kiran tak peduli.

❤❤❤💖

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!