( DALAM TAHAP REVISI)
Bibit, bebet dan bobot seringkali menjadi tolak ukur pernikahan di kalangan Ningrat tanah Jawa. Tapi, apa jadinya jika cewek metal pegawai laundry menjadi istri seorang Ningrat? Akankah dia diterima menjadi bagian dari keluarga darah biru dan sanggup mengenyahkan sifat liarnya demi sang suami tercinta? Ataukah dia hanyalah wanita dengan status yang di pertanyakan?
“Bahkan jika kakiku sampai berdarah-darah, aku tetap akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Mas!” ~ Rinjani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12* [ Miliki Aku Semampumu ]
Kurasa duduk dalam mobil yang dikemudikan Kaysan menindas kenyamanan yang aku dapatkan dari kesederhanaan yang mengelilingiku setiap waktu. Aku juga tidak tahu mengapa bersamanya menumbuhkan rasa cemas berlebih. Mana lagu itu, lagu Dea Mirella tahun 2001—Miliki Aku—diputar di radio dan membawaku pada penghayatan.
"Biasanya kalau ada lagu ini kamu suka nyanyi. Kenapa sekarang diam aja, Jan?" ucap Nina dengan nada bercanda.
Aku meliriknya dari bangku disebelah pengemudi. Mataku mendelik. 'Gak bisa apa diam dulu, Nin?' ucapku dalam hati, dan oh ya Nina mengerti arti mataku yang mendelik itu.
Nina menyeringai. "Bukannya lagu ini lagi mewakili perasaanmu?"
Aku melirik Kaysan, oh astaga dia tersenyum-senyum mirip orang paham saja dengan perasaanku. Aku mendengus, Nina lagi mulutnya asal njeplak.
"Udahlah, Nin. Bukan topik yang perlu di bahas, capek deh."
Nina tergelak dengan puas. Aku tak peduli karena pada akhirnya pemandangan di luar jendela menjadi perhatianku selama perjalanan yang terbilang lancar tanpa hambatan dan kedatangan kami membuat anak-anak berlarian mengejar mobil Kaysan setelah laki-laki itu dengan sengaja menurunkan seluruh kaca mobil.
Mereka tersenyum lebar, terlebih-lebih ada aku dan Nina yang mereka kenali.
"Banyak juga anak didik kalian. Bagus. Mereka butuh lebih banyak anak muda seperti kalian." ucap Kaysan, pujiannya membuat Nina cekikikan.
"Tenang, Mas. Kerahkan saja anak muda bersahaja yang Mas Kay kenali ke sini, hehe."
Kaysan membuka pintu mobil, diikuti Nina. Aku terpaksa berdamai dengan diri sendiri untuk memuliakan misi hari ini. Toh aku butuh oksigen murni dari perbukitan yang menghijau saat musim hujan, oksigen yang tidak perlu berbagi dengan Kaysan!
"Mbak Jani..., Mbak Nina..."
Mereka berebut mencium tanganku dan Nina. Aku dan Nina tersenyum dan mengelus kepala mereka satu-persatu. Jumlahnya tidak banyak, bisa dihitung dengan jari. Sementara Kaysan membuka pintu bagasi untuk memamerkan barang bawaan kami yang bertambah banyak karena dia mampir ke minimarket lokal untuk belanja.
Aku juga tidak tahu mengapa Kaysan yang bersahaja, kaya raya serta ningrat itu mampu dengan mudah berbaur dengan rakyat kurang beruntung ini.
"Kita bawa ini ke dalam, ada yang bisa bantu?"
Anak-anak itu berebut mengambil barang yang Kaysan ulurkan. Tapi waktu giliranku mengambil tas ranselku di bagasi, Kaysan menghalangi.
"Minggir kali, Kay. Kita sudah telat sejam lho gara-gara belanja tadi."
"Tetapi mereka terlihat senang dengan jajanan tambahannya." Kaysan mengambil tas ranselku, "Kamu baiknya tidak perlu repot-repot membawanya, ini giliran saya."
"Terserah kamulah." Aku melengos pergi, Nina menyeringai waktu menyambutku di dalam rumah sederhana dari kayu.
"Kayaknya pada mau kenalan sama Mas-mas yang bawa mobil, Jan. Boleh?"
"Boleh, kita santai-santai dulu saja sekalian pembukaan."
"Terus nanti kita boleh naik mobil masnya gak, Mbak?" sahut Tuan dengan lantang. Bahkan bocah itu berdiri di antara kami bertiga.
Kaysan menyunggingkan senyum tulus, "Boleh saja, asal hari ini nurut sama Mbak Jani dan Mbak Nina."
Tian bersorak gembira, pun yang lain, sepertinya mereka mulai tidak sabar naik mobil.
Aku menatap Kaysan sekilas seraya memperkenalkannya. Selesai anak-anak bersalaman dengan Kaysan, mereka sepertinya malah asyik bertanya-tanya siapakah sosok sebenarnya pria itu. Kenapa bisa bersama aku dan Nina, jenaka tidak dari kemarin-kemarin saja datang bersama kami berdua.
Aku mendengar Kaysan menyebutnya sebagai teman baikku, baru kenal dan baru mengerti kegiatan ini. Anak-anak itu hanya ah-oh sambil manggut-manggut. Dan di ruangan yang tak cukup besar ini, kami duduk dilantai semen beralas tikar untuk memulai acara inti.
Aku cukup grogi menjadi guru sampingan karena Kaysan membuatku kehilangan fokus dan Nina menyadarinya. Cewek itu dengan iseng malah bersorak-sorai menyebutku sedang tidak fokus mengajar karena ada 'Mas Kaysan' dan memperbolehkan aku duduk saja.
Aku menghela napas panjang, dengan lemas aku berbaur dengan anak-anak paling depan, menghindari Kaysan yang duduk di tikar paling belakang. Senyumnya mengembang seperti biasanya, benar-benar mengacaukan hatiku. Tapi aku juga kasian, biasanya dia mendapatkan kursi terhormat, sekarang dia harus duduk sama rata dengan rakyat biasa.
Aku memperhatikan Nina yang mulai memberi materi hingga pelajaran bahasa Inggris berlangsung seperti biasanya. Nina dengan senang hati mengajari mereka satu persatu membiarkan aku bercengkerama dengan suka duka pertemuanku dengan Kaysan lagi.
•••
Pelajaran berakhir tepat adzan Ashar berkumandang. Kami berbondong-bondong ke mushola karena ini peraturan dari Nina, tidak boleh meninggalkan sholat lima waktu.
Kaysan berjalan mendahuluiku dan Nina karena nampaknya dia mulai akrab dengan anak-anak yang mulai mempertanyakan kesediaannya untuk jalan-jalan dengan mobilnya.
Aku bisa memastikan Kaysan tidak ingkar, dan itu terbukti setelah salat ashar, dia bergantian membawa anak-anak jalan-jalan dan menghadiahi uang jajan.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Nina yang empuk.
"Tidak perlu dipaksakan, jika memang jodoh pasti ada jalannya. Jika tidak, berteman pun sudah cukup. Tidak perlu takut!" Nina menasihati dengan santun.
Aku mengangguk, "Tapi dia kayaknya laki-laki misterius, Nin. Kayak jelangkung tau enggak, datang tak diundang, pulang seenaknya sendiri!"
Nina meringis geli, sementara Kaysan kembali dari acaranya. Dia tersenyum lepas, senyumnya bersaing dengan mendung yang menyelimuti langit sore ini. Kecepatan angin yang berhembus mulai tidak nyaman, mengubah suasana segar menjadi dingin. Berulang kali aku mengusap lenganku, aku lupa membawa jaket karena pagi tadi aku sudah kacau dan terburu-buru.
Kaysan melihatku sebelum berjalan ke mobilnya dan mengambil sesuatu. Sesuatu berwarna hitam yang kemudian dia berikan padaku. "Pakai ini biar kamu tidak sakit."
Aku bingung karena Nina sudah di dalam ruangan sedangkan aku hanya duduk di luar, di bangku kayu sepanjang satu meter. Tidak cukup untuk memisahkan jarak di antara kami berdua.
"Kayaknya gak perlu, Kay. Gak perlu khawatir."
Tapi Kaysan tidak peduli dengan ucapanku, dia meletakan jaketnya ke punggungku seolah-olah itu sudah cukup menahan hawa dingin yang berhembus.
"Aku mengkhawatirkanmu akhir-akhir ini." ucap Kaysan. "Tetapi melihat gestur yang kamu tunjukkan, kamu tidak nyaman di sampingku?"
Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokanku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, aku hanya diam. Harap-harap cemas dengan dua kemungkinan. Ambrolnya pertahananku siang ini, atau ambrolnya atap peneduh ruangan ini yang harus menahan derasnya air hujan.
*
Jangan lupa like ya, terimakasih juga untuk komentar positifnya 💚