(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menstruasi pertama
“Ya Tuhan. Aku datang bulan untuk pertama kalinya atau ini penyakitku?” ucap Hopipah was-was.
Hopipah menghembuskan nafas kasar, keluar dari kamarnya dan menyeret langkahnya ke kamar mandi pembantu. Membersihkan diri di sana, mencoba meyakinkan diri, jika dirinya sudah dewasa.
Kembali ke kamarnya, sekarang satu hal yang dia cemaskan.
“Kata teman-teman seorang gadis datang bulan seminggu dalam sebulan. Teman-teman dulu sering bocor. Lalu bagaimana dengan ku? Aku harus membalut dengan apa. Minggu ini, sedangkan uang ku habis, ada juga uang buat belanja dagang donat,” ucap Hopipah jadi panik memikirkan bagaimana di sekolah nantinya.
“Aduh, mau pinjam ke Simbok. Kalau ketahuan, Simbok akan kena marah. Aku harus meminjam dengan siapa?” gumam Hopipah bingung harus melakukan apa.
Ini pertama kalinya baginya, dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Ingin bertanya pada wanita tua yang telah merawatnya saat kecil dulu, ia takut jika ada yang melihat dan mengadu dan si Mboknya akan dimarahi.
Semenjak menginjak sekolah dasar, mamanya mulai membatasi bicara dengan wanita paruh baya itu, dengan dalih ia harus mandiri.
“Apa aku telepon Papa saja? Papa mungkin dalam perjalanan pulang,” ucap Hopipah teringat dengan ayahnya.
Ia mengangguk, mencoba meyakinkan diri, dan berharap papanya sedang sendiri di sana.
Hopipah meraih ponselnya, menekan tombol hingga mengarahkan pada nomor sang ayah. Hopipah menekannya dan terdengarlah suara operator yang menyatakan ia tidak memiliki pulsa.
Bibir Hopipah mencebik mendengarnya, berharap sambungannya terhubung dan ayahnya kembali menelepon.
“Papa, hanya Papa harapan ku. Tolong kali ini bantu aku,” ucap Hopipah menunggu ponsel jadulnya berdering.
Dan harapannya nyata, sang ayah kembali meneleponnya.
(Hallo, Nak. Ada apa? Kau sehat?) tanya Freddy dengan tergesa-gesa. Karena kesempatan bicara dengan Hopipah sangatlah mustahil didapatkan.
Hopipah yang mendengarnya, ingin sekali mengatakan bahwa ia sekarang sakit namun ia tak bisa.
“Pa, uangku habis buat beli seragam. Dan sekarang sepertinya aku sudah dewasa. Aku datang bulan pertama kalinya. Tapi, aku tidak tahu harus melakukan apa,” ucap Hopipah antara senang dan sedih mendengar suara lembut ayahnya.
Freddy tidak langsung menjawab. Tapi, terdengar dari seberang sana nafas pria itu memberat, dan sedikit terisak.
“Maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu,” ucap Freddy dengan suara bergetar.
“Papa akan atur cara mengirim kebutuhanmu, tanpa ketahuan Mama Elisya dan kakak-kakakmu. Tapi, tidak sekarang ya Nak, setidaknya tunggu hingga pagi, apakah bisa?”
“Bisa, Pa, bisa,” jawab Hopipah cepat.
“Ya sudah, tunggu di sana ya Nak. Kamu anak hebat, pasti bisa cepat belajar. Mulai sekarang, kamu harus menjaga diri dari pergaulan pria,” tutur Freddy pada putri satu-satunya. Yang sayangnya tidak bisa ia peluk dan dibesarkan dengan kasih sayang.
Obrolan mereka pun hanya sesingkat itu. Freddy tidak bisa lama-lama menelepon putrinya, sebelum ketahuan oleh siapa pun walau ia dalam mobil sendiri. Takutnya tanpa dia tahu ada yang mengintainya dari anak sulungnya, takutnya Hopipah dihajar dan diamuk habis-habisan.
Di sana Hopipah menahan tangisnya, dan untungnya ia memiliki satu bungkus roti. Ia pun memakannya untuk mengganjal perut.
*
Malam semakin gelap, rasa tidak nyaman pada bagian kewanitaannya membuat tidur Hopipah tidak bisa nyenyak, ditambah tubuhnya yang sakit, membuatnya hampir tidak bisa tidur semalaman.
Waktu subuh telah tiba, beruntung subuh-subuh ayahnya sudah mengirim pesan, jika ia sudah mengirim kebutuhannya.
Kini Hopipah membuka isi bungkus kardus minuman, dan ia cukup senang melihat puluhan bungkus pembalut dengan berbagai merek.
Sebuah pesan tersemat di sana. Yang Hopipah yakini itu bukan tulisan ayahnya.
'Gunakan ini, ganti maksimal 4 jam sekali. Jika salah satu merek terjadi iritasi hentikan penggunaan. Dan ini uang satu juta. Gunakan dengan baik. Pak Freddy tidak bisa mengirim banyak uang karena takut ketahuan.'
“Alhamdulillah, makasih Pa, semoga tidak ada siapa pun yang tahu,” ucap Hopipah. Ia meraih salah satu bungkus merek pembalut dan membaca cara penggunaannya.
Dengan belajar dari tata cara yang ada, kini Hopipah sudah memasangnya di celananya.
“Bismillah,” ucap Hopipah yang tubuhnya masih sakit, mungkin hari ini ia tidak masuk sekolah.
*
Di sekolah, absen sudah dilakukan. Raka yang tidak melihat Hopipah datang, menghubungi Saga. Ia menyeringai karena dipastikan kakaknya akan datang pada Hopipah dan minimal memberi satu pukulan pada wanita yang baginya adalah penghancur itu.
Sama dengan Ringgo. Saga dan Arlan menaruh dendam besar pada Hopipah. Karena mereka pun sudah cukup besar, dan melihat orang tuanya bertengkar karena kehadiran Hopipah.
“Tunggu saja kau gadis bodoh. Kak Saga pasti akan menghajarmu,” ucap Raka tersenyum senang.
Di sebuah perusahaan besar New BS Grup, Saga melemparkan sebuah dokumen ke lantai.
“Bodoh! Apa kalian semua bodoh! Pekerjaan begitu saja tidak ada yang benar! Kerjakan ulang!” hardik Saga pada karyawannya.
Tiing....
Suara notifikasi pesan masuk terdengar. Dengan nafas yang memburu kesal, ia membaca pesan tersebut.
Saga menyeringai. Memperbaiki letak posisi dasinya.
“Kebetulan aku butuh pelampiasan,” ucap Saga tanpa menunggu lagi, ia melangkahkan kaki panjangnya keluar gedung dan berpapasan dengan sang papanya.
“Saga mau ke mana, Nak?” tanya Freddy menatap putra sulungnya.
“Menghajar putrimu yang bolos sekolah,” ucap Saga jujur dengan senyum sinisnya.
Freddy melebarkan matanya. Ia melihat sekitar lalu menatap Saga. “Nak, bagaimana juga dia adikmu. Papa juga hanya menemuinya, sekedar memberinya uang jajan yang tidak seberapa,” ucap Freddy merasa tidak tega membayangkan putrinya menderita.
Saga mengangkat sebelah alisnya, terlihat tidak ada rasa peduli sama sekali. “Jangan menghalangi gue, jangan mengikuti gue dan jangan membantunya, atau gue akan membawa Mamaku dan adik-adikku pergi darimu,” ancam Saga yang bukan sekedar gertakan, karena sudah pernah melakukannya, membuat Freddy hanya menghela nafas, membiarkan Saga pergi.
“Ya Allah, aku bukan ayah yang baik untuk putriku. Tolong, lindungi putriku,” batin Freddy merasa cemas, namun hanya bisa diam demi keutuhan keluarga.
*
Benar-benar tidak ada yang membantu Hopipah. Sekedar berdiri pun gadis itu tidak mampu. Hingga membuatnya meringis menahan rasa laparnya.
“Tuhan, jika aku mati. Aku ingin bereinkarnasi menjadi burung, di masa depan nanti,” ucap gadis itu mulai mengeluh dan menghibur diri.
Wajah Hopipah sudah pucat. Sekedar meminta obat saja, dia tidak bisa mendapatkannya kecuali berusaha sendiri.
Hopipah memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Jika ia bangun, berharap kondisinya sudah lebih baik, dan jika tidak, itu jauh lebih baik.
Di depan sana, Saga dibiarkan masuk. Pria itu lewat di samping rumah dan berjalan ke halaman belakang. Tentu ia tahu di mana tempat adiknya berada. Dan ia justru senang dengan itu.
*
*
Jangan lupa kasih like di setiap bab, komen dan Vote serta hadiah juga ya.
Terima kasih Sayangku 😘.