Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
"Mulai hari ini, aku mencabut gelar Ratu Osta darimu!" seru Liam lantang di hadapan semua orang.
"Apa?"
"Tidak mungkin!"
Pekik keheranan bergema dari orang-orang yang hadir di sana, sebagian besar tampak terkejut mendengar pernyataan Sang Raja. Sebab, mencabut gelar Osta yang melekat di belakang nama Ratu berarti sama saja dengan menurunkannya dari tahta.
Namun, tidak semua menunjukkan keterkejutan. Beberapa orang sudah menduga sebelumnya, lantaran Ratu tak datang bersama Raja, bahkan sejak awal ia tidak pernah tampak duduk di singgasananya.
"Akan tetapi, karena aku sangat menghargai pengorbanan yang telah dilakukan Ratu selama ini, maka aku akan menurunkan sebuah Dekrit Raja untuk Duke Eliot!" lanjutnya, membuat orang-orang semakin terperanjat.
Grand Duke Orion, kini sadar siapa sebenarnya sasaran Sang Raja di balik dalih kepentingan umum.
"Apa maksudmu, Baginda?" tanya Eliot, masih kebingungan akan situasi yang kian menjeratnya.
"Tentu saja," jawab Sang Raja dengan nada mantap, "Karena sepupuku yang baik ini belum juga menemukan pasangan hidupnya hingga hari ini, dan untuk meredakan kecemasan rakyat di wilayahmu mengenai garis keturunan berikutnya, maka aku memutuskan untuk mengadakan pernikahan antara mantan Ratu kerajaan Nether, Davira dan Duke Eliot Lamont Orion!"
"Itu tidak mungkin terjadi, Yang Mulia!" sanggah Grand Duke Orion lantang. Tatapannya tajam, jelas ia mampu membaca tipu daya Sang Raja, dan tak sudi membiarkan putra keduanya terjerat dalam permainan licik ini.
Namun, ada keganjilan lain yang menusuk pikirannya. Ratu—perempuan yang selama dua tahun terakhir menentang habis-habisan hubungan Sang Raja dengan selingkuhannya—kini tampak terlalu tenang, bahkan pasrah, menerima keputusan sepihak dari pria yang dulu begitu ia cintai.
Ketenangannya yang tak biasa itu menimbulkan pertanyaan, apakah dia telah berubah ataukah ada sesuatu yang tidak terlihat di balik topengnya?
Jelas, tidak masuk akal. Ratu yang keras kepala itu… menyerah begitu saja? Sementara semua orang tahu, dialah yang paling banyak berkorban demi menegakkan tahta Sang Raja.
Atmosfer ruangan kian mencekam. Orang-orang mulai saling berbisik, merasakan ada sesuatu yang jauh lebih besar tersembunyi di balik keputusan mendadak itu.
"Ini keputusanku! Tidak ada seorang pun yang bisa menentang Raja. Semua ini kulakukan demi meredakan kegelisahan rakyat di wilayah Utara Duke Eliot sendiri!" ucap Sang Raja, berusaha mengambinghitamkan rakyat sebagai alasan.
Sikap sewenang-wenang Liam itu justru menambah kekecewaan banyak pihak. Mereka mulai berbisik, menilai bahwa Yang Mulia tak lagi menunjukkan kebijaksanaan seorang pemimpin sejati.
Apakah Grand Duke Orion harus menyerah pada keputusan Sang Raja? Hatinya bergejolak, sebab ia tahu—ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap pasrah Sang Ratu.
Sesuatu yang mungkin menjadi kartu tersembunyi, tapi juga berpotensi membahayakan putra keduanya sendiri.
Namun, dari pada itu, Eliot sendiri hanya diam tak bersuara. Ia masih larut dalam benaknya sendiri. Entah apa yang tengah di pikirkannya, tidak ada yang tau.
Setelah beberapa lama terdiam akhirnya, Eliot yang sejak tadi gelut dengan perasaanya sendiri membuka bersuara. "Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia. Tapi, untuk masalah ahli waris di daerah kekuasaan hamba, biar hamba tentukan sendiri. Tolong hentikan omong kosong ini!" Tegas Eliot.
Akan tetapi, pernyataan Eliot ini malah dinilai sebagai tindakan melawan dekrit Raja yang membuat Liam semakin kesal.
"Apa maksudmu Duke Eliot?? Titah Raja tidak ada yang bisa menolaknya! Menolak titah Raja sama saja menentang kedaulatanku! Apa kau ingin melakukan pemberontakan sekarang, Duke Eliot?!" Ucapa Sang Raja yang membuat publik tercengang.
Berbagai spekulasi mulai muncul di benak para hadirin yang membuat Duke Eliot dan Grand Duke Orion terdiam. Kini, apa pun yang mereka katakan akan dianggap sebagai perlawanan pada kebijakan Raja.
Di balik penderitaan Duke Eliot beserta keluarganya, Count Felix justru tersenyum puas. Baginya, kebijakan Sang Raja kali ini ibarat sekali dayung, dua pulau terlampaui.
Bagaimana tidak ia berpikir demikian, lantaran kini Putrinya berhasil menyingkirkan Davira sang ratu dan menekan pihak Duke Eliot yang saat ini kekuasaan dan kekuatan tempur mereka setara dengan Keluarga Kerajaan.
Namun, beberapa Mentri sangat menyayangkan kebijakan Sang Raja yang melepaskan Ratu Davira yang bahkan di akui oleh Kerajaan lain meski ia diberi gelar 'Si Penyihir Hitam dari Kerajaan Nether'.
"Maaf atas keegoisanku Eliot. Aku tau kau pasti bingung akan keputusan ini. Tapi, aku melakukan ini semua demi kebaikan kita bersama. Kau adalah Pahlawan yang di ramalkan, dan akulah yang akan melindungimu!"
Demikianlah yang bergema dalam batin Davira ketika melihat wajah Eliot yang diliputi kekesalan sekaligus kebingungan. Namun, ia tidak bisa begitu saja mengungkapkan rencananya secara langsung.
Tanpa sepengetahuan Davira, saat ini seluruh perhatian Eliot justru tertuju padanya—perempuan yang hanya diam membisu, tanpa sepatah kata pun menentang keputusan Sang Raja yang jelas-Jelas tak masuk akal.
"Ada apa dengan Ratu? Bukankah ia begitu mencintai Liam? Lalu mengapa kini hanya diam, bahkan saat digulingkan? Terlalu mencurigakan…" Demikian yang bergolak dalam benak Eliot.
Sang Duke terus mencoba menelaah apa sebenarnya yang sedang direncanakan oLeh dua sosok paling egois di negeri ini.
Dalam hati kecilnya, Eliot telah memberi gelar kepada Liam dan Davira sebagai dua makhluk paling egois di jagat raya. Ironisnya, keduanya tampak begitu serasi—saling melengkapi dalam keegoisan masing-masing.
Davira, wanita yang egois atas nama cinta, begitu serakah hingga tega mengorbankan seluruh anggota keluarganya demi mempertahankan perasaannya. Baginya, cinta lebih berharga daripada darah dan ikatan keluarga.
Sementara Liam, lelaki yang buta akan kekuasaan, menjadikan ambisi sebagai alasan untuk menginjak segala aturan. Ia berani melanggar perjanjian leluhur, bahkan tak segan menumpahkan darah saudara-saudaranya sendiri demi meraih tahta.
Tak heran, kursi yang diduduki Liam kini bukan sekadar simbol kekuasaan—melainkan singgasana yang dilumuri darah dari berbagai pihak, noda yang tak akan pernah bisa dicuci bersih oleh waktu.
Dengan tangan terkepal, Eliot akhirnya menunduk. Ia tahu, menentang Sang Raja berarti membinasakan keluarganya sendiri.
"Baiklah, Yang Mulia," suaranya berat, tapi tegas. "Aku akan menerimanya."
Ruangan seketika hening. Bagi semua orang, keputusan itu tampak seperti kepatuhan. Namun bagi Eliot, itu adalah bentuk pengorbanan… sekaligus awal dari rencana yang belum terungkap.
Liam bertepuk tangan, memecah keheningan. Dengan senyum puas, ia mengisyaratkan semua orang di ruangan untuk ikut bertepuk tangan.
Akhirnya, rencananya berhasil—ia telah menundukkan “anjing gila utara” kerajaan.
Setelah keheningan sesaat, Liam kembali angkat bicara. Dengan nada penuh kemenangan, ia mengusulkan agar pernikahan mereka digelar di istana, sebagai bentuk penghormatan atas jasa Ratu Davira selama memimpin kerajaan.
Namun, Davira segera memotong. Tatapannya tenang, suaranya tegas. "Tidak, Yang Mulia. Aku menghendaki pernikahan itu diadakan besok siang, di gereja, dengan pemberkatan sederhana!"
Mata Eliot sampai melotot mendengar permintaan itu. Dalam hatinya ia berteriak.
"Besok siang! Apa maksud wanita ini sebenarnya?" Kecurigaan itu kian menggerogoti pikiran Elliot.
Eliot yakin, ada maksud tersembunyi di balik ketenangan sekaligus keputusan mendadak mantan Ratu Kerajaan Nether.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️