Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Terjerat rayuan manismu
Resa menatap Hari dengan tatapan penuh kecewa, sebelum Hari menjelaskan, Resa mengangkat tangan, seolah enggan bicara. Dia hanya berkata, "Aku lelah, ingin istirahat. Di mana kamar yang bisa ku tempati?" ujarnya dengan suara yang tercekat.
Hari tak bisa berkutik, dia memahami perasaan istri nya saat ini. Tanpa sepatah katapun, Hari menunjukan kamar yang akan mereka tempati. Dengan tergesa, Resa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Tubuhnya runtuh seketika, menangis sejadi-jadinya. Tangannya terangkat membekap mulutnya agar tak bersuara. Air mata Resa mengalir deras, mencuci perasaan sakit dan kecewa yang telah menumpuk di dalam hatinya.
Resa merasa seperti telah dihantam oleh badai emosi yang tidak terduga. Dia tidak bisa memahami mengapa suaminya tidak pernah memberitahukannya tentang anak itu sebelumnya. Apakah ini sebuah rahasia yang telah disembunyikan dari dirinya?
Resa merasa seperti telah kehilangan kepercayaan pada suaminya, dan dia tidak tahu bagaimana cara untuk memulihkan kepercayaan itu.lelah menahan luka sendirian, Beratnya bagai beban tanpa ujung jalan. Air mata jatuh tanpa pernah tertahan, Sementara dunia hanya diam dan berlalu pelan.
Dalam sepi,Dia berteriak namun tak terdengar, Hanya gema hati yang kembali menyambar. jiwa yang rapuh di balik senyum yang bersandar, Menanti pelipur yang tak kunjung mengakar.
Berjalan sendiri di lorong penuh duka, Menyusuri gelap tanpa arah yang nyata. Harapan kadang datang namun segera sirna, Seakan cahaya enggan singgah di jiwa.
Luka itu terbungkus oleh waktu yang beku, Menanti sembuh dari rasa yang pilu. Namun tiap hembusan membawa rasa kelu, Seolah hidup menulis takdir yang keliru.
Dia hanya ingin bebannya terurai, Hilang bersama angin yang lembut menerpa. Agar luka itu tak lagi dirasakan perihnya, Dan jiwa yang lelah bisa kembali bernyawa.
Sedangkan di ruangan lain, Hari duduk dengan perasaan khawatir, tangan yang di angkat untuk menutupi mata yang memanas,sesekali menjawab pertanyaan anaknya yang berceloteh. Tak lama kemudian, ibunya keluar dari dapur.
"Eh, mana Resa nya, Har? Ini ibu udah siapin makan malam buat kalian," tanya Ibu Tika yang tak melihat keberadaan menantunya.
Sang adik, Yeni, yang ikut sibuk di dapur sejak tadi ikut menyusul ibunya. Hari hanya diam dengan perasaan yang tak karuan menatap kedua wanita di hadapannya bergantian.
"Dia sudah istirahat di kamar, mah," jawab Hari dengan nada yang pelan.
"Panggilkan dulu, Har, jangan tidur dalam keadaan perut kosong," kata Ibu Tika dengan nada yang khawatir.
"Gak usah mah, nanti kalau dia bangun akan aku ambilkan. Kalian makan duluan saja. Lagian dia sudah terlalu ngantuk karena tak biasa bergadang," kata Hari beralasan.
Yeni yang menyadari kegusaran dari wajah kakanya mengangkat alis seolah bertanya ada apa. Namun, Hari membalas dengan gelengan kecil agar adiknya tak banyak bertanya. Yeni memahami isyarat kakaknya dan tidak bertanya lebih lanjut.
Dengan perasaan kalut, Hari memutuskan untuk menghampiri sang istri setelah anaknya tertidur. Hari membuka pintu kamar perlahan, pandangannya tertuju pada sang istri yang sudah meringkuk di atas kasur.
Dengan langkah yang pelan, dia menghampiri Resa, kemudian duduk di samping istrinya. Resa yang menyadari kehadiran suaminya semakin memejamkan mata dengan erat. Hari membaringkan tubuh di samping Resa, kemudian memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
Meskipun matanya terpejam, ternyata masih terdengar sisa pilu dari isak tangis yang tertahan. Hari menyandarkan kepalanya di bahu sang istri, merasa tak kuasa melihat keadaan istrinya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali memberikan kekuatan lewat dekapan hangat yang ia berikan, Dia hanya bisa berharap semoga Resa bisa ikhlas menerima keadaan saat ini.
Tak ada perlawanan dari Resa. Gadis itu tak memiliki kekuatan untuk berontak, apa lagi di rumah itu ada Paman, Ibu, dan juga adik iparnya, yang kemungkinan besar akan mendengar jika dia bertengkar dengan suaminya. Resa merasa terjebak dalam situasi yang tidak bisa dia kendalikan. Dia hanya bisa menerima keadaan saat ini, dan berharap bahwa suaminya akan memberikan penjelasan yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Hari hanya mampu mengucapkan satu kata "Maaf.."
Dengan mata terpejam dan pikiran yang berkecamuk, akhirnya Resa mengeluarkan suara, "Mengapa om tega berulang kali buat aku kecewa lagi dan lagi?"
Hari mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Aku tak bermaksud untuk melukai perasaanmu, Ai. Aku tak mengatakan keberadaan Humaira karena, dulu ibunya tak pernah mengijinkan dia untuk tinggal atau bertemu dengan aku. Tapi entah kenapa, sehari sebelum pernikahan kita, kakeknya datang menyerahkan hak asuh Ira kepadaku."
"Jika ada yang Om tutup-tutupi lagi, lalu aku mengetahuinya sendiri, percayalah hati ini bukan milikmu lagi. Sekecil apapun kebohongan yang kau sembunyikan pasti suatu saat akan terbongkar. Walaupun kau tutupi dengan sumpahmu," kata Resa dengan nada yang tegas dan penuh emosi.
"Sudah ku katakan berulang kali untuk mengganti panggilanku Ai. Mengapa kamu mengulang lagi dan lagi?" tanya Hari dengan nada yang kesal.
Resa tertawa sumbang diiringi derai air mata yang masih menetes tak tertahan. "Kau marah hanya karena aku terus mengulang panggilanmu dengan sebutan Om. Lalu bagaimana aku tak lebih marah dengan semua kesalahan yang kau ulang berkali-kali?"
Hari yang diliputi emosi yang menguasai dirinya, merasa takut akan ditinggal pergi oleh istri tercintanya itu. Dengan gerakan yang kasar, dia membekam bibir Resa dengan ciuman yang brutal. Dia menggauli istrinya dengan perasan emosi yang menyulut hati dan pikirannya.
Resa yang tak bisa melawan hanya bisa pasrah dengan perlakuan suaminya. Dia merasa seperti telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri, dan hanya bisa menyerah pada emosi yang menguasai suaminya.
****
Keesokan harinya, di pagi yang cerah, matahari bersinar terang memberi kehangatan pada gadis yang sedang duduk di samping jendela dengan pandangan yang kosong. Raut wajah yang sendu seolah menggambarkan banyak luka yang sedang dirasakannya. Semua ingatan tentang hal buruk yang menimpa dirinya menguasai pikiran.
Gadis itu meringis merasakan sakit kepala yang berdenyut.tubuhnya gemetar. Ia menenggelamkan kepala di atas lutut, memeluk erat tubuh yang terasa remuk. Seolah memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.
Namun, sekuat apapun dia berusaha, dia tak bisa menyembunyikan hatinya yang hancur. Seakan kebahagiaan yang ia harapkan dari pernikahan nya kini hilang meluap bersama luka yang ditorehkan oleh laki-laki yang dia sangka akan menjadi rumah tempatnya berlindung.Ternyata dugaannya salah besar.
Luka yang ia rasakan saat ini menimbulkan rasa trauma baru yang mendalam dari pada luka lama di masa lalunya. Resa merasa seperti telah kehilangan dirinya sendiri, dan tidak tahu bagaimana cara untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan kebahagiaan yang telah hilang.
Di ruangan yang hening,tak ada canda tawa mengiringi,Seperti malam kelam tanpa suara, sunyi, sepi, tanpa kata.Dan logika harusnya mencegah luka datang mendera,Namun nyatanya dia tak bisa,
Semua masuk dalam relung jiwa yang tak bisa lagi disembunyikan.Hingga luka kembali menganga,Raga yang tak berdaya, jiwa terkoyak oleh dusta yang Hari titipkan.
Gadis itu menjerit dalam hati,merutuki sang suami yang tega mengecewakan kepercayaannya. Resa merasa seperti telah dihancurkan oleh kebohongan dan pengkhianatan suaminya. Dia tidak bisa memahami mengapa Hari bisa melakukan hal seperti itu, dan mengapa dia tidak pernah memberitahukannya tentang anaknya.
Diamnya Resa bukanlah tanda bahwa dia telah memaafkan Hari, tapi lebih seperti tanda bahwa dia masih terlalu terluka untuk berbicara. Dia merasa seperti telah kehilangan suara dan kekuatan untuk melawan, dan hanya bisa menyerah pada perasaan sakit dan kecewa yang menguasai hatinya.
"Hei Om!! pembawa bidak cinta,Takkah kau sadar bahwa permainanmu telah mengikat diriku?
Kenapa kau tega membawaku dalam permainan cintamu?
Bukankah telah kukatakan aku ini hanya kepingan luka yang tak sempurna?
Mungkin kah kau sengaja,
Karena kau tahu aku lemah, mudah untuk kau kalahkan dalam permainan ini,
Entahlah, yang pasti kini kau telah berhasil memperdaya, Menoreh luka saat aku telah menyerahkan segala lelahku padamu,
Kau jatuhkan aku, dalam luka tanpa iba, tanpa kasihan.